LOGIN"Marry me. Twelve months. No feelings. Just business." Lucas Anderson, billionaire CEO and certified cold-hearted jerk, just offered me a deal I can't afford to refuse. But here's the problem. Lucas is the man who ruined my life. He doesn’t recognize me, not as Mia, the girl he once loved and left behind. Now I’m Emma Smith, his assistant. And future fake wife. I should hate him. I promised myself I would. But every time he looks at me like I still matter, it gets harder to keep my secret… and even harder to keep my heart.
View More"Lahirkan anak untukku!" ucapnya dengan datar nan dingin. Pemuda dengan pahatan yang tampak sempurna itu menyodorkan uang merah pada perempuan di depannya.
"Apa Pak? Melahirkan?" Terdapat rona keheranan dari seorang wanita berjilbab tersebut."Maaf, Pak. Saya hanya ingin pinjam uang 200 juta untuk pengobatan ibu saya. Bukan berarti saya ingin mengorbankan keperawanan saya!" Perempuan bernama lengkap Kinara Ariana menggeleng pelan, dia menatap heran sang atasan.Kinara yang terjebak dalam masalah ekonomi membuat dia bertekad menemui sang atasan. Bukan karena apa-apa, tapi saat ini sang ibu tengah terbaring di atas kasur. Dengan rasa sakit yang dia derita membuatnya harus segera ditangani.Dokter menyarankan untuk melakukan operasi sang ibu, namun tentu ada administrasi untuk semuanya. Dan hal yang paling Kinara menyerah adalah masalah uang. Dia tidak mempunyai simpanan banyak untuk operasi Ibunya."Anggap saja ini sebuah tawaran. Saya akan memberimu uang lebih dari 200 juta kalau kau mau melahirkan anak untukku!" ucap pria tersebut tetap kukuh. Dia menatap dingin perempuan di depannya."Jika tidak, maka pintu di sana terbuka untuk kau---""Maaf, Pak. Bukannya saya enggak sopan, tapi, Bapak kan tajir, kaya raya, tampan bahkan terbilang sempurna. Tapi, apa untuk melahirkan seorang anak harus melakukan cara seperti ini? Maksud saya, Bapak kan bisa memilih wanita yang mungkin lebih cantik, seksi dan kaya dari saya. Dengan begitu, keturunan Bapak tidak akan jauh seperti itu.""Jadi, kamu menolaknya?" tanya Aarav dengan muka paling tidak mengerti Kinara. Dia menampilkan raut dingin tanpa ekspresi."Saya tidak suka basa-basi. Jadi, saya akan memberimu waktu 5 menit untuk kau berpikir," ucap Aarav. "Saya akan memberimu 500 juta jika kau bersedia melahirkan anak untuk saya. Tidak hanya itu, uang akan saya tambahkan bila mana anak itu benar-benar lahir dari rahimmu!"Kinara semakin dibuat melongo. Tidak percaya akan semua ini. 500 juta? Dilebihkan lagi?Kinara benar-benar bimbang. Antara menerima atau menolak. Jika dirinya menerima itu berarti keimanannya pula sedang diperjual belikan. Siapa yang mau melahirkan anak tanpa status pernikahan? Dan jika pun menolak, bagaimana dengan Ibu di sana yang tengah berjuang untuk tetap hidup?Bagaimana ini? Apa yang harus Kinara lakukan?'Ya Allah ... apa yang harus aku lakukan?' tanya Kinara dalam hatinya. Dia meremas jari-jemarinya dengan resah.Tidak!Kinara memejamkan matanya. Keimanan seseorang tidak bisa digantikan dengan apapun. Seberat apapun hidup, seorang muslim tidak seharusnya mengorbankan keimanannya ber-hanyakan uang."Jadi, apa pilihan mu?" tanya Aarav setelah lama dia memberikan waktu Kinara untuk berpikir."Saya--saya---"Derrtt DerrtttSuara dering ponsel terdengar. Membuat ucapan Kinara terkatup. Dia merogoh saku gamisnya kala getaran itu semakin terasa bergetar.Lusi.Ah, adiknya."Maaf, Pak. Saya izin waktu sebentar," ucap Kinara."Apa saya memberimu izin? Di sini, kau seharusnya memiliki etika ketika berbicara dengan atasan!" Ucapan dingin nan datar itu membuat nyali Kinara semakin menciut. Membuat dirinya yang hendak beranjak terurung sudah."Angkat!" Satu kata Aarav membuat Kinara dengan gemetar menekan ikon hijau. Dia menatap terlebih dahulu Aarav yang juga menatapnya tanpa ekspresi."Assalamu'alaikum? Kak? Kakak di mana? Kondisi ibu semakin memburuk kak ...." Di sebrang sana suara tangisan terdengar. "Dia dari tadi nyebut nama Kakak terus."Hati Kinara terasa menciut, tidak terasa air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja. Dia menatap Aarav sang atasan. Berharap dia mau memberikan pinjaman uang tanpa harus mengorbankan hal lain. Namun sama saja, Aarav hanya menampilkan raut cueknya tanpa ekspresi."Kakak cepat ke mari.... ""Iya, Dek. Sekarang Kakak ke sana. Kamu temenin dulu Ibu ya, Lus? Jangan sampai tinggalin Ibu. Sekarang kakak ke sana!" Tanpa menunggu lagi Kinara dengan cepat mematikan sambungan telfonnya. Rasa khawatir akan kondisi ibunya benar-benar membuatnya takut.Dengan derai air mata yang sudah jatuh Kinara menatap Aarav dengan resah."Saya menerimanya, Pak! Tapi tolong, tolong beri saya pinjaman uang. Saya mohon Pak. Hanya untuk hari ini saja, saya mohon Pak ...."Pada akhirnya Kinara menyerah, dia memohon dengan menautkan kedua tangannya di dada."Saya akan melahirkan anak untuk Bapak. Tapi saya mohon untuk Bapak kasih pinjam saya uang sekarang juga," ucapnya kembali dengan menunduk. Kemudian pelan kepala Kinara terangkat, dia menatap Aarav yang tidak ada di depannya."Ikuti saya!" ucap Aarav yang sudah berada di ambang pintu. Tanpa menoleh dia pergi dengan wajah khasnya. Tanpa ekspresi!Kinara mengusap pipinya yang basah. Tidak ada waktu lain, dia harus segera menemui sang Ibu sebelum semuanya terlambat.Kinara berlari menyusul Aarav yang sudah naik ke dalam mobil. Dengan segera dia juga ikut masuk ke dalamnya. Namun sebelum benar-benar masuk ..."Saya bukan sopirmu! Jadi duduk di depan!" perintahnya dingin.Kinara menurut, dengan segera dia berpindah duduk menjadi di depan. Belum sempat memakai pengaman, mobil itu sudah melesat cepat membelah jalan.**"Di mana Ibu?" tanya Kinara selepas dia bertemu Lusi. Sedari tadi Kinara menangis akan kondisi ibunya. Rasa takut semakin menjadi-jadi."I--ibu ada di dalam," ucap Lusi terbata-bata. Hidung merah, mata bengkak, terbukti sudah bahwa Lusi pun sedari tadi menangis."Bu?!"Kinara langsung menyerobot masuk. Menatap sang Ibu yang kini dipenuhi dengan alat-alat rumah sakit."Ibu ...." Kinara menangis, mendekap Ibunya dengan linangan air mata. Tangisnya tidak bisa dicegah, dia menangis dengan terisak."Ibu, ibu bakal sehat kok. Ya, ibu bakal sehat. Ini Kinar Bu ... Kinar di sini ...." Bibir Kinara bergetar, dia semakin memeluk Ibunya dengan rasa takut. Setelah Ayahnya pergi, Kinara tidak ingin ibunya juga cepat pergi begitu saja."Kinar ...?" Suara parau nan lemah itu terdengar, membuat Kinara semakin tidak bisa menahan tangisnya."Sekarang Ibu bakal di operasi. Ibu bakal sehat lagi. Kinar yakin bahwa Allah pasti bakal bantu kita Ibu," ucap Kinara mencium seluruh wajah Ibunya."Kinar, lihat Ibu," ucap Runi—ibunya Kinara."Kinar enggak perlu melakukan hal ini demi Ibu. Ibu tau, biaya operasi ibu enggak cukup satu atau dua juta. Butuh biaya banyak untuk operasi ibu ini ... untuk itu, Ibu tidak apa-apa jika memang harus pergi. Ibu udah ikhlas---""Enggak Ibu! Enggak. Kinara enggak mau kehilangan Ibu. Udah cukup Ayah ninggalin Kinar, sekarang Kinar enggak mau kehilangan Ibu juga. Lagipula, Kinar ada biaya kok buat Ibu operasi. Kinar dapat uangnya Bu ... dengan begitu Ibu bakal sehat lagi." Kinara menghapus air matanya, dia juga menghapus air mata Runi dengan pelan."Kinar ... ada satu hal yang sangat Ibu inginkan. Apa kamu, bisa memenuhi keinginan Ibu?" tanya Runi dengan tatapan sayu.Dengan segera Kinara mengangguk. "Apapun Ibu. Apa yang Ibu mau, Kinar akan mengabulkannya," ucap Kinara dengan mengeratkan genggaman tangan pada sang Ibu.Tangisnya yang tidak bisa berhenti semakin menangis kala sang Ibu berucap ..."Ibu ingin, Kinar menikah .... "Bola mata Kinara melebar sudah."Ibu ingin lihat Kinar menikah dengan lelaki pilihan Allah ... Kinar, keinginan satu-satunya Ibu adalah ingin melihat kamu menikah. Setiap doa yang Ibu panjatkan, setiap ingin yang selalu Ibu harapkan. Hanya itu yang Ibu inginkan. Apa Kinar, mau mengabulkan keinginan Ibu untuk yang terakhir kalinya?"Kinara mengigit bibir bawahnya. Tidak tahan dengan semua ini.Bukan, bukan karena tidak mampu dirinya untuk menikah. Tapi, sejauh ini tidak ada yang mau menikah dengan dirinya. Tidak ada lelaki yang mau menerima dirinya dengan sepenuh hati. Hingga sejauh ini, Kinara bukannya tidak ingin menikah, hanya saja ... semua lelaki justru menolaknya sebelum dirinya yang datang meminta untuk dinikahi."Kinar ...," ucap Runi dengan pelan. Dia menghela nafas panjang. Merasakan rasa sesak di paru-parunya.Kinara menunduk,bingung juga apa yang harus ia katakan. Untuk membiayai ibunya sendiri pun Kinara harus merelakan kesuciannya? Jika begitu, bagaimana Kinara akan menemukan cinta sejatinya?"Bu, Kinar-- Kinar---""Kinara akan menikah dengan saya Tante! "Mata Kinara yang semula memejam langsung terbuka lebar. Dia terdiam bagaikan patung.Several days passed and everything gradually returned to normal, Emma's hand was almost healed and all that was left was a rubber plaster over the cut.Lucas stared out the floor-to-ceiling windows of his office, eyes trained on nothing in particular, he’d spent most of his time in his office looking out through those windows, he just seemed to think better when he was staring out at nothingness, He hadn’t heard from Austin since that night. He hadn’t called, texted or given any explanations, he’d disappeared again that night soon after Emma had returned to her room.And Lucas didn't push. He knew what silence meant when it came from someone like Austin. It wasn’t an absence. He was avoiding him and for once Lucas didn’t bother to go looking for him. He was going to come on his own when he was ready.. And he had bigger problems now.The mistake in the contract at the Peelé Hotel wasn’t any small mistake, It had been deliberate, a whole page had gone missing, and the only person that
Austin leaned against the kitchen counter, a glass of something amber in his hand, the bottle uncorked beside him. He didn’t look up right away, he didn’t want Lucas to see the expression on his face.Lucas just stared at him blindly.“You’ve been gone,” he said flatly.Austin swirled the drink in his glass. “So have you.” he remarked with a questioning tone.Lucas didn’t answer. He just walked past him and headed for the sink to turn on the tap, letting the cold water run over his knuckles. Soothing the pain a little.Austin’s smirk faded as his gaze dropped to Lucas’s hand.“That’s not your blood, is it?”Lucas didn’t reply. The silence was enough, he was still angry at him for leaving the ball when he had thought that Emma was in safe hands“Josh?” Austin guessed he had seen the press release and that was one of the main reasons that he had returned, to find out what happened even though he could likely tell what had happened.“Josh’s blood, not mine.”Austin smirked, “You punche
Emma shifted awake and groaned softly as the scent of lavender and clean linen wrapped around her, filling her with warmth.Her eyelids fluttered open slowly and she blinked once, then twice trying to take in her surroundings.“Where was she? The last thing she could recall was her being in Lucas’s arms. Had he brought her here?”The ceiling above her wasn’t the sterile white of the hospital. It was dark maroon, elegant, and awfully quiet.Her eyes ran across the room for any sign of Lucas but he was nowhere to be found.A sudden jolt of pain had her holding her injured arm, she felt a throbbing in her shoulder, and a stinging trail down her back.Her arm was covered with bandages, and blood was already seeping through the gauze. She winced, using her elbows as support to try to sit up when a shadow fell over her.Lucas.He was standing at the far end of the room, back turned to her, fists clenched by his sides.“You’re awake,” he said, his voice hoarse and restrained.Emma swallowed h
Emma was starting to fidget, her hands already visibly shaking, she should have known that this was going to happen. Panic was starting to set in, they all had their eyes on her, the women giving her a look of contempt and disgust while the men stared down at her with lustful eyes. She turned her attention to the glass of wine in her hands, she tried so much to focus on it to distract herself from the stares she was getting, but she was failing miserably, the glass kept slipping and threatening to fall.Emma held the glass with both her hands to stop herself from fidgeting when the sound glass clinking turned her and everyone's attention towards the stage.Emma couldn't be grateful enough that the attention was lifted from her but the feeling of relief disappeared almost as soon as it came.Her heartbeat suddenly increased and sweat beads were starting to form under her mask. He had her eyes on her, his brown hazel soulless eyes staring deep into her blue ones. It was like looking in
Lucas and Emma had arrived at the Peele hotel where the meeting was going to be held. They were going over the documents for presentation at the meeting when Emma realized that some important pages of the document were missing.“I warned you Emma, I warned you, where are the documents!!!” Lucas was
Emma felt her heart drop as she heard the phone on her desk ring again for the umpteenth time that morning.She answered on the first ring, “Sir,” but there was no response till s
“Uhhh… how dare she!!! Carla screeched as she slammed the door behind her.”Mr Giovanni watched Carla throw a fit “What's wrong Princessa? Why are you in such a foul mood?” “Dad it's Lucas again, he went ahead and married that woman from nowhere.” Carla knew what she was doing, her dad hated to se
Lucas was already having second thoughts as he drove through the gate to his grandmother's villa, he was about to make a turn and drive out when his thoughts drifted to what had happened earlier in his office.He was in his office waiting for his assistant Jacob to come in with the status of their
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.