LOGINCalliope was a nobody. Hard working. Has dreams. She wanted to make something of herself. She wanted to beat the norms of settling down in her hometown. Everything changed when she applied at Jones Atelier Inc. and met Atlas Jones. She discovers that there’s much more to life and self discovery than she expected. Atlas introduces her to a world full of possibilities and desire. A relationship she never expected to have. And one she intends to keep, but at what cost. Will she be able to steal her bosses heart?
View MoreAlert!
Seluruh nama tokoh, alur cerita, serta latar tempat dalam kisah ini merupakan karya fiksi. Apabila terdapat kesamaan nama, karakter, peristiwa, maupun lokasi dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak disengaja. Cerita ini ditulis untuk tujuan hiburan dan imajinasi semata. Selamat membaca, dan semoga Anda menikmati setiap kisah yang tersaji di dalamnya. ---- Udara malam di pinggiran perkebunan sawit itu selalu terasa berat dan lembap, membawa aroma tanah basah dan bau menyengat buah sawit yang membusuk di pengepulan. Di dalam kamar kecil berdinding papan kayu, Tiara duduk di depan cermin rias yang kacanya sudah mulai buram di beberapa sudut. Satu per satu, jemarinya yang lentik mengusapkan minyak zaitun ke lengan dan perutnya yang rata, memberikan efek kilau sehat di bawah temaram lampu bohlam 5 watt. Malam ini, dia tidak akan membawakan tari tradisional. Malam ini, ada pesanan khusus untuk tarian belly dance di perayaan kecil di balai warga. Tiara meraih bra berbahan beledu merah marun yang dihiasi ribuan payet dan koin-koin kecil. Dengan cekatan, ia mengikat talinya kuat-kuat. Setiap gerakan tubuhnya memicu suara klinting-klinting halus dengan suara yang baginya adalah musik profesionalisme, namun bagi para pria di luar sana, itu adalah undangan. Tiara memulas matanya dengan celak hitam yang tebal, menciptakan kesan misterius ala Timur Tengah yang kontras dengan garis wajah jawanya yang ayu. Ia melilitkan hip scarf sehelai selendang pinggul yang penuh dengan koin emas imitasi. Ia berdiri, lalu melakukan satu getaran kecil di pinggulnya. Shimmy. Koin-koin itu beradu, menciptakan irama ritmik yang presisi. Di depan cermin, Tiara bukan lagi putri gadis biasa yang rumahnya nyaris roboh. Di sini, dia adalah seorang ratu. "Ingat, Tiara. Hanya menari. Jangan lebih," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri. Prinsip itu adalah satu-satunya harga diri yang ia miliki. Ia tahu banyak penari lain yang dengan senang hati menerima "uang sawer" tambahan di balik semak-semak atau di dalam truk-truk pengangkut sawit. Tapi Tiara tidak. Baginya, setiap jengkal kulitnya yang terbuka di atas panggung adalah seni yang tidak boleh disentuh. Suara pintu depan terbuka dengan kasar. Bunyi botol kaca yang beradu dan igauan tidak jelas dari ruang tamu menandakan ayahnya baru saja pulang dalam kondisi kacau. Lagi. Tiara menghela napas panjang, menekan rasa sesak di dadanya. Ia segera mengenakan kebaya panjang untuk menutupi kostumnya yang minim sebelum keluar rumah. Ia harus segera berangkat sebelum ayahnya mulai meminta uang untuk berjudi. Namun, saat ia melangkah keluar melewati pintu belakang, sepasang mata sudah mengawasinya dari kegelapan di bawah pohon beringin dekat persimpangan. Sadikin. Pria tangan kanan Bang Bonar itu berdiri bersandar pada motor besar dengan rokok yang menyala di sela jarinya. "Cantik sekali malam ini, Tiara," suara Sadikin parau, matanya menyisir sosok Tiara dari kepala hingga kaki meskipun terbungkus kebaya. "Bang Bonar pasti senang melihat laporan saya." Tiara tidak menjawab. Ia mempercepat langkahnya, mengabaikan denting koin di balik kebayanya yang seolah-olah berteriak memberi tahu posisinya. Ia tidak tahu bahwa malam ini adalah awal dari jeratan yang sudah disiapkan sang Juragan Sawit untuk merenggut satu-satunya kemerdekaan yang ia punya. Aula balai warga malam itu pengap. Bau asap rokok kretek murahan campur aduk dengan bau keringat orang-orang kampung yang berjejal di pinggir panggung beton setinggi lutut. Sebuah speaker aktif ukuran besar di pojok ruangan berdengung kencang, memutar musik ala timur tengah yang dipaksakan beritme padang pasir—palsu dan cempreng. Tiara berdiri di balik tirai lusuh. Dia buang napas panjang, lalu menyentakkan kain kebaya yang tadi menutup kostumnya. Sekarang, dia cuma pakai bra beludru merah dan rok lilit yang pinggulnya penuh koin. Telanjang kaki. Kulitnya yang sudah dipoles minyak zaitun mengilap kena lampu sorot warna-warni yang berputar tak karuan Musik intro menghentak. Tiara melangkah keluar. Matanya tajam, lurus ke depan, nggak peduli sama siulan norak dan sorakan kasar para pria yang langsung riuh. Dia mulai bergerak. Gerakannya bukan mendayu-dayu pelan. Dia menyentak. Pinggulnya bergetar kencang—shimmy—membuat ratusan koin di sabuknya beradu, suaranya gemerincing kasar, mengalahkan suara jangkrik di luar. Perutnya yang rata meliuk-liuk bak ular, otot-ototnya terlihat jelas bekerja keras menahan napas dan mengatur tempo. Satu putaran cepat, roknya mengembang, memperlihatkan betisnya yang kencang. Dia berhenti mendadak, lalu memukul pinggulnya ke kanan, lalu ke kiri. Koin-koin itu berbunyi setiap kali dia ganti posisi. Di barisan paling depan, para mandor sawit matanya melotot. Ada yang mulutnya menganga, lidahnya menjilat bibir yang pecah-pecah. Tangan mereka sudah siap dengan lembaran uang sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan yang lusuh, digulung-gulung, siap dilempar ke panggung. Tiara terus menari. Keringat mulai bercucuran dari pelipis, turun ke leher, terus ke belahan dadanya, bikin payet-payet di bajunya makin berkilau basah. Dia tancap gas, gerakan dadanya menghentak mengikuti dentuman bass kencang dari speaker. Dia profesional. Dia tahu bagaimana cara bikin mata mereka nggak bisa lepas, tanpa dia harus mengiba. Uang kertas mulai beterbangan jatuh ke panggung beton yang kotor. Tiara nggak peduli. Dia nggak akan membungkuk buat ambil uang itu. Itu tugas panitia nanti. Tapi dari semua mata yang lapar itu, ada satu pasang mata di kegelapan pojok aula yang nggak berkedip. Bukan di barisan depan yang gaduh. Tapi di belakang, bersandar di tiang kayu. Sadikin. Dia nggak ikut bersorak. Dia cuma diam, rokoknya tinggal puntung, menatap Tiara seolah dia sedang menakar berapa harga mainan baru buat tuannya. Tarian berakhir dengan satu sentakan pinggul terakhir yang keras. Tiara diam mematung, napasnya memburu, dadanya kembang kempis. Aula hening sedetik sebelum meledak dengan tepuk tangan dan siulan panjang. Tiara cuma kasih anggukan kepala dingin, lalu balik badan dan jalan cepat masuk ke balik tirai, mengabaikan teriakan "Lagi! Lagi!" dari kerumunan pria yang masih haus. Baginya, tugas malam ini selesai. Dia nggak tahu kalau tarian barusan cuma pembuka dari panggung sandiwara yang jauh lebih brutal yang sudah disiapkan Bonar buat dia.The club was quiet now, the empty hallways echoing softly under the dimmed lights. The day shift was over, and I finally had a moment to breathe. I adjusted my mask in the reflection of the small mirror in my private office, making sure every strap lay perfectly, every line precise. Even now, when no one was watching, composure mattered. I couldn’t risk a single flaw that might give away who I truly was.The day had been long but uneventful. No patrons, no distractions, just the silent pulse of the club and the faint hum of the ventilation system. I moved through the space like a shadow, checking doors, double-checking the security measures I had helped set up years ago. Every camera, every sensor, every lock was a reminder that even in this world, control was everything.I allowed myself a slow exhale, a quiet moment of reflection. Atlas was somewhere out there, undoubtedly searching, undoubtedly curious. I could feel it in my bones, even without seeing him. The pull between us—the t
The room fell into a heavy silence the moment I finished speaking. My words hung between us, thick and tangible, weaving an invisible thread of tension that neither of us dared to break. The faint thrum of music from the main club seeped through the thick velvet curtains behind us, but inside this private room, the world was reduced to the heat of the air and the unspoken understanding between us.Atlas remained still for longer than I expected, the way his hand rested on the edge of the table, the faint rise and fall of his chest betraying a flicker of emotion he refused to show openly. I studied him from behind my mask, the dim amber lighting tracing the sharp planes of his jaw and the intensity in his eyes. He was trying to read me, to grasp at something he couldn’t quite place, but there was nothing for him to see beyond what I chose to reveal.“You’ve… thought about this,” he finally said, his voice low, deliberate, carrying a mix of disbelief and intrigue. “A
The sunlight spilled through the blinds in soft golden stripes, stretching across the floors of the safehouse like warm ribbons. I stirred awake, feeling the weight of the night’s exhaustion in my bones. My body ached from the previous evening at the club, the adrenaline finally ebbing, leaving behind a lingering tension I couldn’t quite shake. For a moment, I allowed myself to linger in bed, listening to the house.Quiet. Dante must have already gotten up for his usual early breakfast routine. The twins, Dahlia and Delaney, were likely still tucked beneath their blankets, murmuring softly in the cocoon of sleep. A small smile tugged at my lips. These quiet mornings were fleeting, rare pockets of serenity in a life filled with shadows and vigilance. I had learned to savor them, to draw strength from the calm before the inevitable storm of responsibilities.Sliding out of bed, I moved silently down the hallway toward Dante’s room. The soft creak of the floorboards u
The afternoon sunlight slanted through the blinds, painting the safehouse in muted golds and warm shadows. I sat at the small dining table, finishing the last sips of my coffee, my mind running through the schedule for the evening. Dante had already left for his after-school program, Dahlia and Delaney off with their piano lessons, and the house was quiet once again. It was a luxury I allowed myself rarely—silence—but it was never truly mine. Atlas was still out there somewhere, and I knew the threads of the past could snap back into my life without warning.I reviewed the plans for the night at the club, the routes I would take, the masks I would wear, and the contingencies Eli had suggested. Every detail mattered. I couldn’t afford the slightest misstep—not with Atlas, not with anyone who might recognize me or suspect who I was. My fingers traced the edges of the floor plan I had drawn for myself, noting every exit, every camera blind spot, and every potential threat.
Calliope had hoped that working from her safe apartment would finally allow her a few days of calm. But calm was a fragile illusion, one shattered by the persistent storm that was Jessica.She sat at her desk, her laptop open, trying to focus on a report for work, when a sharp ping from
The first thing I noticed when I woke was the cold, sterile smell of the hospital room. My head throbbed, and my vision was blurred, the bright fluorescent lights above stabbing at my eyes. I blinked slowly, trying to focus, and that’s when I saw it: Atlas’ suit jacket draped neatly over the chai
The office was quiet, unusually quiet for the mid-morning bustle, and I felt every creak of the floor beneath my shoes. My nerves were taut; even with Eli’s security measures in place at home, the lingering sense of being watched gnawed at me. My phone buzzed again, a new message from an unk
The envelope was gone by morning.I checked the park bench from my kitchen window while sipping bitter coffee, scanning for any trace of it. Nothing. No paper fluttering in the breeze, no shadow of the man from last night.It should have eased my mind. Instead, it made me more unsettled.












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore