LOGIN"It was a cold winter's night as I walked home. A simple night, until it crossed my path: a wolf almost ten feet tall, with huge teeth and fur as black as the darkness. I never believed in fairy tales, but this was no hallucination, not even a misunderstanding. It was something I couldn't explain. And even less so when this creature turned out to be more like the man I loved than I could possibly realize. At that moment, I discovered that even in the most unlikely situations, we can feel pleasure. Even though he was a wolf, I could feel that my feelings wouldn't change, even if it meant my life would be turned upside down in a new world, involved in a war, and with creatures I didn't know existed."
View More“Apa! Kamu hamili anak orang lagi Luke?”
Tuan Robin begitu terkejut setelah mendengar cerita dari isterinya, bahwa Luke satu-satunya putra dari tuan Robin dan nyonya Margaret, kembali menimbulkan kecemasan dalam keluarga Perez Giani dengan menghamili seorang wanita. Dengan napas berat, suara tertatih, Luke mencoba menjawab pertanyaan ayahnya, “Iya pa, Luke mohon maaf.” Luke hanya bisa bersujud di depan ayahnya, agar tidak mendapatkan hukuman yang berat atas perbuatannya itu. Sedangkan tuan Robin dengan tatapan yang membara, segera melampiaskan amarahnya dengan berkata, “Kamu memang benar-benar anak yang tidak tahu diri ya Luke! Apakah kamu mau keluarga kita hancur? Apakah kamu mau mempermalukan ayah di depan umum!” Ucap tuan Robin Setahun yang lalu, Luke pernah menghamili salah satu teman wanita yang sekampus dengan dirinya. Dan hal itu membuat Luke harus dikirimkan kembali ke kota Trente, agar dirinya tidak membuat keonaran di luar negeri, dengan merusak nama baik keluar Perez Giani. Mendapatkan informasi jika latar belakang wanita yang dihamili oleh anak mereka, merupakan wanita yang tidak berasal dari keturunan orang kaya, atau yang dirasa tidak sederajat oleh keluarga Perez Giani, Luke dan kedua orang tuanya hanya memberikan uang kepada wanita itu, dan meminta wanita itu untuk menggugurkan anak yang berada di dalam kandungan, karena tidak mau menjadi aib bagi keluarga Perez Giani. Awalnya, wanita itu sempat menolak untuk mengiyakan niat dari Luke dan kedua orang tuanya yang ingin menggugurkan anak dalam kandungannya. Wanita itu memang telah jatuh hati pada tuan muda keluarga Perez Giani, dan ingin menikah dengan Luke, sehingga meminta Luke untuk bertanggung jawab. Meski Luke telah memberikan uang sebesar seratus juta agar wanita itu mau untuk menggugurkan anak dalam kandungannya itu, namun, wanita itu tetap bersikeras untuk menolak. Tetapi pada akhirnya, dengan ayah Luke yang memilki jabatan sebagai tuan walikota Trente, wanita itu mau tak mau harus mengikuti permintaan keluar Perez Giani, setelah tekanan demi tekanan yang dirinya alami melalui relasi tuan Robin yang berada satu negara dengan wanita yang di hamili oleh Luke. Awalnya, Luke mendapatkan cercaaan dari ayahnya sehubungan dengan perbuatannya yang menghamili wanita diluar nikah. Namun, pembelaan dari ibunya terhadap Luke, serta demi nama baik yang keluarga mereka miliki, pada akhirnya tuan Robin hanya memberikan hukuman kecil terhadap anaknya. Masalah benar-benar terselesaikan, saat tuan Robin bertindak dengan memberikan perintah kepada salah satu asisten, untuk berangkat ke luar negeri, agar mengancam wanita itu beserta dengan kedua orang tuanya, agar mereka mau menggugurkan anak yang berada di dalam kandungan. Dan tentu campur tangan relasi dari tuan Robin, turut menjadi jalan bagi sang asisten terhadap tugas yang diberikan. Tuan Robin juga menaikan pemberian uang sebesar tiga ratus juta untuk wanita itu dan kedua orang tuanya, agar semua bisa berjalan dengan lancar. “Pa sudahlah … Kan semua sudah terjadi. Yang harus kita lakukan sekarang adalah meminta wanita yang dihamili oleh Luke, agar mau menggugurkan anak di dalam kandungan wanita itu.” Seperti biasanya, nyonya Margareth akan memberikan pembelaan terhadap putra satu-satunya itu. Rasa sayang yang berlebih itu, membuat Luke selalu merasa diatas angin meski telah membuat masalah. “Ma, kamu terlalu memanjakan anak ini! Sudah dua kali dia menghamili anak orang, dan kedua kali ini juga dia meminta untuk menggugurkan buah dari nafsunya itu?” “Apakah mama tidak memiliki perasaan bersalah, jika harus kembali menggugurkan anak dari hasil perbuatan Luke?” Ucapan dari tuan Robin malah membuat isterinya itu menjadi geram. “Pa, apa papa mau jika keluarga kita dipermalukan dengan kejadian ini? Kejadian tahun lalu, bukannya papa juga yang mengambil semua tindakan agar perbuatan dari Luke dapat ditutupi?” “Lalu kenapa sekarang papa malah ngomong kalau mama yang gak punya perasaan! Uhuhuhu…” Nyonya Margareth mulai memainkan sandiwaranya, karena dia tahu bahwa suaminya akan luluh dengan sikapnya itu. Sedangkan Luke, hanya tersenyum kecil setelah melihat akting dari ibunya. Kejadian yang sama, yang selalu dilakukan ibunya untuk meluluhkan hatinya ayahnya. Dan benar saja, meski masih dengan raut wajah yang terlihat emosi, tuan Robin segera mengiyakan permintaan isteri dan anaknya itu, berjanji akan mengurus masalah yang dibuat oleh anak mereka. “Ayah akan membereskan masalah yang kamu buat kali ini. Tapi ingat, ini yang terakhir! Jika kamu melakukan lagi hal yang sama, maka lebih baik ayah menghapus kamu dari kartu keluarga, ketimbang terus-menerus membunuh buah dari nafsumu itu.” “Kamu juga ma, jangan lagi memanjakan anak ini! Jika kamu memang sayang sama anak kita ini, maka sudah seharusnya kamu bertindak tegas agar dia tidak selalu menfaatkan sumber daya yang kita miliki.” Seraya dengan ucapannya itu, tuan Robin segera meninggalkan anak dan isterinya itu. Dia hendak melakukan pertemuan dengan beberapa investor penting untuk kota Trente. Tentunya, pengawalan yang cukup ketat mengiringi kepergian tuan Robin dari kediaman mereka. Setelah ayahnya pergi, Luke akhirnya bisa tertawa lepas karena masalahnya akan diselesaikan oleh ayahnya. Namun tiba-tiba, "plakkkk!" Sebuah tamparan yang cukup keras melayang diwajah Luke. “Kamu dengar ya baik-baik! Mama selalu membela kamu, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya menghamili anak orang.” “Ini yang terakhir, dan kamu tidak boleh melakukannya lagi! Kamu akan segera dijodohkan dengan anak dari teman Mama. Tidak ada penolakan, harus dan harus!” Meski selalu memberikan pembelaan terhadap Luke, namun disatu sisi, nyonya Margareth tidak mau jika anaknya itu terus-menerus menghamili anak orang, dan menjadikan keluarga mereka sebagai keluarga pembunuh. Dengan menjodohkan Luke, maka nyonya Margareth berharap anaknya itu akan menjadi pria yang dewasa dan bertanggung jawab. Mengingat Luke yang merupakan satu-satunya penerus dari keluarga Perez Giani. “Tapi ma, aku kan sekarang masih melanjutkan studi, masa udah mau nikah, gimana masa depan aku nantinya.” Ucap Luke yang tidak terima dengan perjodohan itu. “Papa sama mama awalnya juga berpikir begitu waktu kami dijodohkan, gak terima dengan perjodohan diantara mama dan papa. Tapi buktinya sekarang apa, keluarga kita menjadi salah satu keluarga yang terpandang.” “Coba kamu lihat foto ini…” nyonya Margareth menyodorkan ponsel ke depan anaknya. Luke begitu terpanah ketika melihat wanita yang ditunjukan oleh ibunya. Wajahnya yang sebelumnya cemberut karena tidak mau dijodohkan, kini berseri karena terpukau dengan kecantikan wanita yang berada di foto. “Gimana… Kamu mau kan dijodohkan sama anak dari temannya mama? Mama udah lihat langsung, cantiknya minta ampun. Mereka juga keturunan orang kaya kok. Jadi kamu gak bakal menyesal, dan derajat keluarga kita akan selalu terjaga dengan pernikahan kalian nanti.” Ucap nyonya Margareth. “Kalau kayak gini sih, aku mau banget dijodohin.” Balas Luke dengan senyum, sambil mengedipkan kedua matanya. Tiba-tiba ponsel Luke bergetar karena sebuah panggilan. Ketika melihat nama yang tertera pada panggilan whatsup di ponselnya itu, wajah Luke seketika berubah masam. “Ada apa?” Tanya Luke setelah mengangkat panggilan telepon. “Kamu dimana? Katanya kemarin kamu mau ngajak aku ketemu sama papa dan mama kamu?” Suara wanita yang begitu lembut terdengar dari balik telpon. Luke segera memberikan kode kepada mamanya mengenai siapa yang sedang menghubungi dirinya. “Sini, biar mama yang bicara!” Nyonya Margareth segera mengambil ponsel yang berada di genggaman anaknya. “Halo, aku mamanya Luke. Kamu wanita yang dihamili oleh Luke ya? Siapa nama kamu?” Wanita yang berada di balik telepon segera memasang wajah serius setelah mendengar suara itu. “Ha-halo tante… Aku Veren Calista. Apa kabar tante? Salam kenal ya tante.” Balas Veren dengan suara terbata-bata. “Jawab dulu, apa kamu wanita yang dihamili oleh anak tante?” wajah yang mulai kesal terpancar dari wajah nyonya Margareth. Veren menghela nafas panjang untuk memberanikan dirinya menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh nyonya Margaret. “Mohon maaf yang tante… Benar, aku pacarnya Luke, dan aku hamil anaknya Luke.” Seketika itu juga nyonya Margaret memulai aksinya. “Oww, ternyata kamu bukan wanita yang baik ya! Gak bisa menjaga diri kamu, sehingga kamu bisa hamil di usia yang masih muda!” “Hmmmm … atau jangan-jangan kamu memang pengen hamil sama anaknya tante, karena kamu tahu kekayaan keluarga kami kan?” “Lalu setelah kamu menikah dengan Luke, nantinya anak kamu bakal punya warisan dari keluarga kami, dan tentunya kamu dapat menikmati berbagai fasilitas mewah dengan menjadi menantu dirumah kami … jangan mimpi kamu!!!” Veren begitu terkejut setelah mendengar ucapan yang dilontarkan oleh ibunya Luke. Veren tidak pernah menyangka, jika kesan pertama saat berbincang dengan ibu dari pacarnya itu, malah harus mendapatkan cercaan yang demikian menyakitkan. Tapi Veren mencoba untuk menenangkan hatinya sembari berkata, “Ya ampun tante, aku gak pernah memiliki pikiran seperti itu kok! Aku memang cinta sama Luke, dan mengenai diriku yang hamil, semua itu adalah kesalahan aku dan Luke.” Jawab Veren dengan wajah bersedih. Sedangkan nyonya Margareth yang mendengar balasan dari Veren terlihat ingin muntah. “Cinta! Kamu aja yang cinta, tapi anak tante gak cinta sama kamu!” “Asal kamu tahu ya, Luke sudah memiliki calon isteri! Dan bulan depan, dia akan segera menikah … tante gak mau kamu menghubungi lagi anak tante, yang nantinya hanya akan merusak pikiran sehatnya!” “Sedangkan mengenai janin yang ada diperutmu itu, tolong kamu gugurkan saja. Nanti kamu akan diberikan uang sebesar tiga ratus juta, dan itu cukup untuk kamu hidup berfoyah-foyah.” Setelah mengakhiri ucapannya, nyonya Margareth segera mengakhiri panggilan itu. Luke begitu senang melihat penyelesaian yang dilakukan oleh mamanya. “Mama hebat loh… Aku yakin Veren akan segera menggugurkan anak itu!” Ucap Luke yang sumringah. “Sebenarnya mama tidak tega jika wanita itu harus menggugurkan anak kalian! Tapi itu satu-satunya cara agar keluarga kita tidak dipermalukan… Jadi kamu harus segera menikah dengan anak dari teman mama, dan mama yang akan mengatur semua itu.” “Siap ma… Anak mama yang tampan ini pasti akan menuruti perintah dari ibunda ratu, hihihi…” Luke begitu bahagia, meski dirinya telah menghamili Veren, tapi dia tidak mendapatkan hukuman dari kedua orang tuanya. Malah diberikan jodoh seorang wanita yang begitu cantik dimatanya. Sedangkan di sisi Veren, air mata mulai berjatuhan ketika mendapatkan cercaan dari nyonya Margaret. Dia tidak menyangka jika kesan pertama akan seperti ini. Apa lagi orang tua Luke yang meminta dirinya untuk menggugurkan anak di dalam kandungannya. “Gak mau! Aku gak mau menggugurkan anak ini!” “Anak ini adalah darah dagingku, dan aku gak mau membunuh anakku sendiri.” Ucap Veren yang mengusap dan menatap perutnya. Kemudian, Veren segera menghubungi kedua sahabatnya. Dia ingin memberitahukan perihal apa yang dikatakan oleh orang tua Luke. Dirinya sangat membutuhkan hiburan dan penguatan untuk menghadapi semua ini. Apa lagi Veren yang belum memberitahukan perihal kehamilan dirinya, kepada ibu dan adiknya. Dia takut jika emosi ibunya meledak, dan penyakit jantung ibunya akan kambuh. Tidak lama kemudian, kedua sahabatnya yakni Prilly dan Vela tiba di rumah kosan yang Veren tinggali. Kedua sahabatnya itu menjadi geram, setelah mendengar perihal perkataan yang dilontarkan oleh mamanya Luke. “Ternyata mama sama anak sama aja ya! Sama-sama gak berprikemanusiaan! Masa calon cucu sendiri mau dibunuh? Sadis banget kan!” Jawab Prilly dengan wajah yang teramat kesal. Begitupun juga dengan Vela, dia juga mengutuk ucapan yang dilontarkan oleh nyonya Margaret. “Mungkin karena mereka adalah orang kaya, serta ayah Luke yang merupakan seorang wali kota, jadi mereka tidak mau jika anak mereka harus menikah dengan orang yang bukan memiliki latarbelakang seperti mereka.” “Tapi kamu tenang dulu ya sayang… Ada aku sama Prilly kok yang bakal selalu siap membantu kamu.” Ucap Vela yang mencoba untuk memberikan penguatan bagi sahabatnya itu. Meski begitu, Veren tetap merasa sangat sedih mengingat Luke yang telah mengingkari janjinya. Wanita mana yang dapat tersenyum, jika diperhadapkan dengan persoalan seperti yang Veren hadapi. Namun disaat mereka sedang berbincang, tiba-tiba Veren menerima pesan dari nomor yang tidak di kenal. Orang yang mengirim pesan itu meminta Veren untuk bertemu dengannya di salah satu café yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Tapi, Veren tak ingin memberitahukan perihal pesan whatsup itu, mengingat dalam pesan itu turut membicarakan mengenai keluarga Luke.NowI could feel my head getting dizzy. I tried to stand up, but my wrists felt trapped. I breathed deeply; my throat felt dry, my body felt weak, the sensation of pain was spreading, and my mind started to clear. Until a few minutes ago, I was with Lee. Was it an hour? I couldn't tell.After all, where am I? I tried to look around, but the darkness didn't allow it. I could see that it was created by something covering my head; my breathing was muffled. Furthermore, I didn't know if this was some kind of joke by Lee. The excessive heat took over my body, and I felt that my powers were weakening. When someone touched my chest, sliding their fingers slowly, I was startled, but I could suddenly feel Lee's energy, which automatically calmed me down, but I didn't understand what was going on.— Lee?I called out to him, feeling the sudden closeness. This situation was stressing me out, even more so because I couldn't remember what I was doing before I woke up here. When Lee sat on my lap,
Kyle Ambrose, whoever saw him, could clearly tell that he was just a playboy with a bad reputation, but he wasn't like that. Although Kyle seemed cold and arrogant, it wasn't like that. His bad reputation came from his countless sexual partners, but he could not escape his nature, he was a half-demon who fed on vital and sexual energy. His nature was always more reserved, even when he met Lee Ming, it might seem like he didn't have any feelings for him, but it was definitely not like that. I could still remember Kyle talking about him; that day I ended up listening by accident, but I knew that Kyle was like me; he had difficulty forming bonds with other people, and as far as I knew, he had no one other than his mother. His birth story spread to Octsiam when he was still learning about infernal magic, his story could be considered a cliché of the supernatural world. His mother, Irina Ambrose, came from an extremely religious family; her grandfather was a strict and extremist man; Irin
The more I moved, the more she writhed beneath me. I could see one of her hands reach below her. Before she reached the clitoral area, I got there first. I could see her body shaking nonstop as she massaged her clitoral region and lowered her pussy, her moans getting louder. I could feel her start to squeeze me. A loud sigh left her lips, and I thrust my cock faster and faster, watching her squirm and moan nonstop.My name left her lips. I held her waist tighter, feeling that she would soon reach her limit, but I was far from reaching my limit. I left her clitoris, asking her to suck the fingers that she had been massaging until then.— What do you think of your taste, Olivia?You can see her sigh, her tongue is touched with my fingers, sucking hard. It made me want to fuck her even more. I looked at her ass, marked by my hand. Her smooth skin glistened through the thin layer of sweat. I heard a whisper come out of her mouth. She seemed to be saying something to something, I can feel m
It had been a while since we were there, and bringing Olivia to Octsiam today was not one of my best ideas because Anna and Estela had brought a specific poison for me to take. Knowing how she liked Greek mythology, she would soon understand why the poison was called Hecate, but I could not postpone it, especially when my time was so short. I took the poison without delay; the slight bitter taste soon became present in my mouth. I left the glass aside, going to the couch that was there. It was almost always boring to do these things; I just had to sit and wait for it to take effect. No poison had any effect on me, but it was really strange that her taste had not yet left my lips. For now, it wouldn’t bother me. I hadn’t felt any effect, so I picked up the phone. It’s been a while since I joined any social network.As I scrolled the phone screen, after a few minutes, my heart seemed to want to get out of my chest. I looked at Olivia, who seemed focused when she was talking to Morga
Did I look away when that girl suddenly appeared? You can see her looking at the cover of the book she was reading,his eyes were almost as dark as mine, but his hair was light as honey, his appearance was really charming. I wondered what she would be? A fairy or a witch?— You and Logan’s precious pe
— Like yours?The truth was that I hadn't seen any other werewolf besides Logan, so it was obvious that I didn't know the difference. I even looked through various loose papers, notebooks, and notes, but there was nothing about werewolves there.— You haven't seen anything about werewolves yet. When w
— Damn, why don't you answer when people call you?I could hear her grumbling with someone, probably. I must have tested her patience in these last two days. Kyle must have told her I was in my apartment.— I've been out cold for the past two days due to the damn blessed weapon. Next time, I'll rememb
Can you feel her rummaging over my chest? That had been a long night. My head was just focused on the fact that my brother had been helping me for over a year, while my body was focused on feeling Olivia’s. That was a natural reaction, I couldn’t help but feel her, especially when she snuggled up to
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.