LOGINSa bawat panlabas na anyo may nakatagong baho. Sa bawat magagandang ngiti, may pagkakamaling nakakubli. Kahit pilit na takasan, wala pa ring mapupuntahan, dahil ang isang kasinungalingan nagbunga ng isang malaking kasalanan. Franceska Aurelia nagtatrabaho bilang isang dancer sa isang high-end bar — maganda at sexy. Patuloy na nagmamahal sa isang lalaki na nakatali na sa iba, si Sebastian Montellon. Ang lihim na pagtingin ay nagbunga ng isang pagnanasa na parehong hindi nila magawang pigilan kahit na patuloy nila itong labanan. Ngunit paano kung ang isang bawal na pagmamahalan ay itinago at ikinubli para matakasan? Patuloy kaya nilang matakasan ang pag-iibigan na alam nilang mali na sa umpisa palang?
View More“Aku tidak mencintaimu. Kau memahaminya sejak awal pernikahan, bukan begitu?”
Lillian menggigit bibir bawahnya, lalu mengalihkan pandangan saat mendengar suaminya mengatakan hal tersebut. Sekalipun ia sudah tahu sejak lama bahwa pria itu membencinya, tapi mendengar Jayde Foster mengatakan hal itu kembali tetap saja membuat Lillian sakit hati.
“Maaf,” gumam Lillian, sendirinya bingung karena apa ia mengatakan itu.
“Kenapa kau meminta maaf padaku, Sayang?” Jayde bertanya balik. Berbanding terbalik dengan panggilan tersebut, tatapan dan suara Jayde terdengar dingin. Pria itu mendekati Lillian dan memojokkan wanita itu ke dinding. “Karena menjebakku dalam pernikahan ini? Atau karena kau berusaha menghalangi aku untuk bertemu wanita yang kucintai?”
Lillian menggeleng. Tidak bisa berkata-kata.
Sudah dua tahun Lillian menikah dengan Jayde Foster, cinta pertamanya, sekaligus pria yang dijodohkan dengannya sejak kecil. Lillian mencintai pria itu sepenuh hati, bahkan ketika pria itu bersikap dingin padanya dan tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada Lillian. Ia berpikir, setelah menikah, Jayde akan berubah.
Namun, ternyata tidak.
Pria itu justru menuduh Lillian licik, memanfaatkan posisinya untuk menikah dengan Jayde, padahal suaminya tersebut mencintai wanita lain. Bahkan hingga detik ini.
Awalnya, Lillian berpikir bahwa ia bisa membuat Jayde membalas perasaannya. Mungkin Jayde akan berubah kembali menjadi sosok yang membuat Lillian jatuh cinta.
Akan tetapi, setelah dua tahun, ternyata pernikahan ini melelahkan.
“Lillian. Sayang.” Jayde memerangkap Lillian dengan dua tangannya. Pria itu memaksa Lillian balas menatapnya dengan mencengkeram rahang sang istri.
Lalu, tiba-tiba, Jayde mencium Lillian dengan paksa, membuat wanita itu kehabisan napas tanpa membalas lumatan sang suami. Lillian justru mencoba mendorong pria itu untuk melepaskannya, tapi tenaganya tidak berarti apa-apa di hadapan Jayde.
“Kau memang istriku.” Jayde berkata saat akhirnya ia melepaskan Lillian yang sudah meluruh di lantai. “Tubuh ini milikmu. Aku tetap akan menjalankan kewajibanku, Istriku. Tapi cukup sampai di sana. Kau tidak bisa memaksaku mencintaimu.”
“Aku mengerti,” gumam Lillian lirih. Sudut mata Lillian mulai basah, tapi dengan sekuat tenaga menahannya untuk tidak meleleh, setidaknya sampai Jayde berbalik pergi. “Maaf.”
Jayde mendengus, lalu pergi dari sana.
Sepeninggal Jayde, Lillian perlahan bangkit berdiri dan melihat bayangannya di cermin. Rambutnya tampak acak-acakan dan lipstick di bibirnya sudah berantakan, seperti ia habis bercinta hebat.
Namun, Lillian tahu. Jayde pun tahu. Bukan itu yang terjadi. Bukan itu yang ia inginkan.
Dengan pemikiran itu, tangis Lillian pecah.
***
“Apa yang sedang kau pikirkan, Lilly?”
Perhatian Lillian teralihkan saat telinganya menangkap suara berat dari sisinya, membuat wanita itu menoleh dari pemandangan di luar mobil yang sejak tadi ia lihat sepanjang perjalanan pulang.
Noam Turner, sahabat sekaligus rekan kerjanya, tampak tengah menatapnya sekilas, sebelum kembali menjalankan mobil. Lillian bisa melihat sorot mata khawatir dari pria itu.
“Tidak ada,” jawab Lillian. “Aku hanya sedang lelah.”
Bohong.
Lillian sedang memikirkan kejadian siang tadi bersama dengan suaminya di ruangan kantor, begitu juga dengan semua hal yang telah mereka lalui selama berjalannya pernikahan. Mengingat itu semua menimbulkan perasaan sesak di dadanya.
Sebenarnya, Jayde dulu tidak seperti itu. Ia sendiri heran bagaimana pria yang dulu ia kenal bisa berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan, suami yang membencinya dan menyiksa Lillian di setiap kesempatan. Ingatan mengenai betapa mereka pernah dekat dan akrab lebih kuat dibandingkan perbuatan buruk Jayde.
Sehingga, sekalipun Lillian merasa ingin menyerah beberapa kali, ia tetap menguatkan diri. Ia percaya bahwa ia akan bisa meluluhkan sikap dingin Jayde.
“Apa kau mau tidur dulu?” tawar Noam kemudian. “Akan kubangunkan saat sudah sampai rumahmu.”
“Tidak.” Lillian menolak. Ia menegakkan tubuhnya. “Maaf. Kau sudah bersedia mengantarku pulang, tapi aku justru mengabaikanmu.”
Noam menghela napas. Pria melirik sekilas dari sudut matanya. “Aku tidak keberatan,” ucapnya.
Hening sejenak.
“Tadi aku lihat Jayde keluar dari ruanganmu.” Noam kembali berkata. “Semua baik-baik saja?”
Senyum tipis terukir di wajah Lillian. Kadang, ia mengagumi bagaimana sang sahabat selalu peka dan memperhatikannya. Noam juga satu-satunya orang yang tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangganya.
“Aku sendiri baik-baik saja, Noam.” Lillian menoleh, menunjukkan senyumnya yang jelas terlihat dipaksakan, tidak sampai ke matanya. “Jangan khawatir.”
Lillian tahu bahwa Noam tidak akan memercayainya begitu saja. Terlihat dari helaan napas pria itu.
“Lilly, jangan terlalu memaksakan diri. Ada hal yang memang tidak bisa diubah,” ucap Noam kemudian. “Kau berhak bahagia. Kau tahu itu, kan?”
Berhak bahagia? Namun bagaimana jika ternyata sumber kebahagiaan Lillian masih berada pada Jayde?
“Ya, Noam,” gumam Lillian. “Tapi aku belum mau menyerah. Kau tahu aku mencintai Jayde. Dia–”
“Aku tahu,” potong Noam. Kali ini tampak gusar. “Dia cinta pertamamu. Kau sudah mengatakan itu padaku ribuan kali.”
Hening. Lillian tidak menyahuti ucapan Noam.
“Kau tahu aku akan selalu di sampingmu.” Noam kemudian menambahkan. Kali ini dengan suara lebih lembut. “Apa pun yang kau lakukan. Namun, aku tidak suka melihat pria itu menyakitimu terus-menerus.”
Mobil masuk ke dalam wilayah perumahan milik Lillian. Noam menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Lillian sebelum tubuhnya menghadap wanita itu.
“Aku serius. Pikirkan baik-baik.” ucap Noam. Tatapan matanya tajam, menusuk ke dalam fokus Lillian. “Kau berhak bahagia. Dengan atau tanpa suamimu itu.”
Kali ini, Lillian sama sekali tidak mengenali sahabatnya. Apakah memang Noam setegas ini?
Namun, ia tidak sempat memikirkannya lebih lanjut karena ia melihat mobil Jayde ada di halaman.
Jayde ada di rumah? Sedikit aneh karena biasanya jam segini pria itu pasti akan sibuk di luar dengan sejuta alasan dan baru akan pulang saat Lillian sudah terlelap.
“Terima kasih, Noam. Aku akan masuk dulu,” ucap Lillian pada akhirnya. “Terima kasih telah mengantarku.”
Setelah Noam pergi, Lillian bergegas masuk ke rumahnya.
“Jay?” sapa Lillian setelah menutup pintu.
Tidak ada sahutan. Suasana masih hening, bahkan lampu tidak ada yang dinyalakan. Sampai Lillian mendengar desahan pelan yang tertahan. Dadanya berdesir, pikirannya sontak menuduh, terlebih ketika melihat hanya lampu di kamarnya saja yang menyala redup.
Lillian mendekat ke arah kamar. Satu situasi yang seharusnya tidak terjadi di rumahnya sendiri. Desahan kembali terdengar, kali ini beriringan dengan rintihan dan racauan kasar yang membuat lutut Lillian melemas.
Dengan menahan tangannya yang mulai gemetar, Lillian memberanikan diri untuk mendorong pintu kamar yang tak menutup sempurna. Sontak, kedua matanya membelalak lebar, dengan sebelah tangan yang membekap mulutnya sendiri.
Di dalam sana, Jayde sedang bercinta dengan seorang wanita!
CESKATatlong araw kaming nag stay sa kaniyang rest house. Wala kaming sinayang na oras. We enjoyed every second that passed. Kung p'wede lang siguro na manatili na lang kami roon, gagawin namin. Kaya lang may responsibilities pa rin kami na kailangan naming harapin.Nevertheless, what we have right now is better than before."Naghuhubad ba sa harapan mo yang selpon mo?" Nakuha ni Belle ang atensyon ko. "Kung makangiti ka kasi, parang nag i-strip dance yang ka-chat mo." Napairap ako. "Kapag inggit, pikit," panunuya ko."Hindi ako inggit. Aanhin ko naman ang lalaki sa mundo kung masaya ako sa single life ko, di ba?""So you're still single."Pareho kaming napatingin sa nagsalita. Agad namang nagsalubong ang kilay ni Belle. Ako? Pasimpleng napangiti na lang."So?" Napakamot ng batok si Ren. "Bakit single ka pa?"Tanong ko rin iyan. Simula kasi nang maghiwalay sila naging man hater na ang gaga. Na tingin niya sa mga lalaki lolokohin at ipagpapalit lang siya. Hindi ko rin naman kasi siy
CESKAHindi ko alam kung saan ibabaling ang aking ulo habang patuloy sa pagkain sa akin si Sebastian. The way his tongue licks me — I swear it's hella heaven."Ohhhhh..." Napaliyad ako dala ng sarap ng ginagawa niya.Hindi lang niya ako basta dinidilaan, sinisigurado rin niya na makakakain niya ako ng buong-buo. Tipong wala na siyang ititira pa sa akin."Ahhhh...." Nanginig ang buo kong katawan... kasabay ng paglabas ng mainit na likido mula sa akin.But he didn't stop... not even a second — he continued eating the whole of me... enjoying every inch."S-Seb... ahhhhhhh...." Napahigpit ang hawak ko sa comforter. "Ahhhhhhh..."Puro ungol na ang lumalabas sa aking bibig. He bit my clit. He licked me again. Seconds after — he sat between my legs as he hold his hard big dick."Naughty," I muttered giggling when he tries to brush his dick against me — teasing. "Seb, stop it."He is really making fun of me. He chuckled."Why, Babe? Want it get inside you now?"My eyes rolled again. Damn it.
SEBASTIAN When she told me I can pick her up, I already know something is wrong.The moment I heard that she had an argument with Rances, I already know — she's hurt. That even though, she keeps telling me she's fine, her eyes says otherwise.She could even smile if she wanted to.But I had spent years memorizing every version of her silence.Akala ko, ako lang ang pagod — pero mas pagod pala siya.I tightened my grip on the steering wheel as we drove through the quiet highway.Neither of us spoke. The radio remained off.The only sound inside the car was the occasional hum of the engine and the rain that had begun to lightly tap against the windshield.I glanced at her.She was leaning against the window, absentmindedly watching the passing lights. I saw how she keep sighing, but instead asking her again — I chose not to.I hate seeing her acting this way But if there was one thing I wanted to do for the rest of my life... it was to try. To keep on trying for the both of us.Almost
CESKA Tuloy-tuloy pa rin ang palihim na pagkikita namin ni Seb. Kulang na nga lang ay tumira siya sa bahay o di kaya naman mag stay kami sa kaniyang rest house. He became more vocal too — he always told me everything... every detail. Para bang natatakot siya na hindi niya masabi sa akin lahat. Way too honest.Kakauwi ko lang galing sa hospice, binisita ko si Lola. Kahit papaano ay bumubuti ang lagay niya, siguro dahil tuloy-tuloy na rin ang gamutan niya. Well, it all thanks to Seb. Ayoko mang tanggapin ang tulong niya, wala naman akong magawa. He's too persistent.Kaya mas natatakot ako na baka sa huli, ang maging tingin talaga nila sa akin ay pera lang ang habol ko sa kaniya. Of course not. What I feel towards him didn't change at all. I like him. I really do. O goodness gracious! What am I even thinking?"Kumusta si Lola?" Napatigil ako sa aking ginagawa. Tumingin ako kay Rances na ngayon ay nakaupo na sa tapat ko. Nakatingin sa akin na para bang hinihintay niya ang sasabihin ko.
CESKA Lately, nakakaramdam ako ng kakaiba sa aking katawan. Madalas akong mapagod kahit wala pa naman akong masyadong ginagawa. Yung pagkahilo ko hindi na rin normal. Kulang na nga lang ay humilata lang ako sa aking kama at walang gawin ngunit kailangan ko namang magtrabaho. Hindi puwedeng tumi
CESKA"Girl, tiba-tiba ka naman ngayong gabi ah," puna ni Mira sa akin habang abala ito sa pag re-retouch. "Dapat hindi Princess ang pangalan mo eh, Reyna dapat."Natawa ako dahil sa sinabi niya, ngunit tawa ito na walang saya."Sira.""Totoo naman kasi. Kung may award lang na darling of the crowd
CESKA After what happened that night, I thought that was the last time I would see him again, but I was wrong, because right now I'm glaring at him right in front of me — and I swear... even without trying, he is getting into my nerves already. Ugh! Damn it! "What do you want again?" I asked, stil
CESKAGanito siguro talaga ang mangyayari sa buhay mo kung isa ka lamang mahirap at desperada na magkaroon ng magandang buhay. Yung tipong handa mong gawin ang lahat kahit na alam mo na ang magiging kapalit nito ay sarili o dignidad mo.Hindi ko alam kung kailan nag-umpisa ito.Hindi ko alam kung k












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.