LOGINDue to her larger body size and her inability to transform, she endured bullying, sexual assault, and rejection from her intended partner. With her belief in finding love shattered, particularly after being expelled from her family residence, the Moon goddess presents her with a final chance—a second opportunity to find a compatible partner. Yet, why did fate decree that it would be the merciless Lycan King from the rival pack?
View MoreSeorang wanita sedang sibuk menderas Al-Quran di kamarnya yang berada di bagian pojok. Gadis itu berusia dua puluh lima tahun. Dia adalah anak angkat Bu Nyai Khomsah dan Kyai Baihaki. Mereka adalah pengasuh di sebuah pondok di daerah Kebumen dengan nama Pondok Al Kautsar.
Meski menjadi anak angkat seorang kyai dan bu nyai yang cukup ternama di daerah Kebumen, Galuh tak pernah membanggakan diri. Dia tetap rendah hati namun tidak pernah merasa rendah diri. Bagi Galuh, semua manusia sama yang membedakan adalah ketakwaan. Catat ketakwaan.Galuh masih sibuk menderas Al Quran hingga deresannya terhenti ketika mendengar pintu kamarnya diketuk.“Wa'alaikumsalam, masuk,” titah Galuh.Pintu terbuka dan tampaklah seorang santri berusia delapan belas tahun bernama, Husna.“Ada apa Mbak Husna?”“Ditimbali Umi, Mbak.”“Oooo. Bentar ya, rampungin beberapa ayat lagi.”“Nggih.”Husna pun pergi dan menutup pintu, Galuh sendiri kembali melanjutkan ngajinya hingga berganti ke akhir surat Al-Maidah. Galuh pun segera menaruh mushafnya di nakas, mencopot mukena, dan menutupi kepalanya dengan kerudung instan dari bahan cerruty. Galuh bergegas menemui ibu angkatnya.Sampai di samping pintu rumah, Galuh mengucap salam dan menggunakan kedua lututnya untuk mencapai ke arah sang ibu angkat yang duduk di sofa ruang tengah,. Galuh langsung mencium tangan sang ibu angkat dengan takdim. Bu Nyai Khomsah tersenyum melihat kedatangan sang anak angkat. Di samping beliau ada orang lain. Seorang wanita seusia Bu Nyai Khomsah.“Nduk, kenalin ini Bu Nyai Khofifah dari Tegal.”Galuh tersenyum lalu menyalami Bu Nyai Khofifah. Bu Nyai Khofifah tampak memperhatikan Galuh dari atas hingga bawah. Ada binar kekaguman di mata wanita usia setengah abad itu. Bu Nyai Khomsah tersenyum, dia berharap kali ini akan berhasil.“Namamu siapa?”“Galuh Anjani, Bu Nyai.”“Wah nama yang bagus. Sudah lulus kuliah?”“Sampun Bu Nyai.”“Lulusan apa?” “Pendidikan matematika.”“Oooo, tapi sudah khatam tiga puluh jus, kan?”“Nyuwun pandonganipun, Bu Nyai.”“Dia sudah khatam sejak lulus Aliyah, tinggal istikhomahnya aja,” celetuk Bu Nyai Khomsah. Bu Nyai Khofifah manggut-manggut. Lalu dia kembali bertanya banyak hal pada Galuh membuat sang gadis hanya bisa menjawab dengan menunduk sambil menata hatinya. Sejauh ini, semua pertanyaan dari Bu Nyai Khofifah berhasil dia jawab dengan cukup baik. Entah nanti jika pertanyaan paling sakral terucap dari mulut sang bu nyai asal Tegal itu apakah Galuh masih bisa menjawab atau tidak.“Kamu Asli mana?”Deg. Galuh diam, tak bisa menjawab. Bu Nyai Khomsah yang paham akhirnya bersuara.“Galuh saya temukan di depan gerbang pondok, dua puluh lima tahun yang lalu. Kami sudah mencari info siapa kedua orang tuanya tapi … hingga saat ini kami belum menemukan hasil. Namun Bu Nyai jangan khawatir, saya jamin Galuh itu sangat baik, kok.”Setelah menyelesaikan kalimatnya, Bu Nyai Khomsah mencoba mengamati raut wajah salah satu kenalannya. Dan raut wajah Bu Nyai Khofifah ternyata sama saja dengan raut wajah yang lain. Para kandidat calon ibu mertua Galuh yang rata-rata akan menolak Galuh gara-gara asal usul Galuh.“Jadi Galuh anak terbuang? Bibit, bobot dan bebetnya gak ketahuan?” celetuk Bu Nyai Khofifah.“Insya Allah anaknya baik, kok Bu Nyai. Saya jamin, saestu. Bu Nyai kan minta yang pinter ngaji, tawadu, baik, sopan, ya makanya saya sarankan Galuh.” Bu Nyai Khomsah berkata dengan suara yang lembut dan sopan.“Lah ya mana bisa gitu, Bu Nyai. Anakku si Farid kan anak kyai, kita dari keluarga pesantren turun temurun, masa nyari istri yang gak jelas bibit, bobot dan bebetnya? Ya gak mau aku, emoh. Mending aku nikahkan anakku sama mantan ta'arufan anakku yang katanya calon bidan. Meski bukan santri tapi jelas siapa orang taunya.” Bu Nyai Khofifah tampak kesal dengan Bu Nyai Khomsah, dalam hati dia merutuki bagaimana bisa Bu Nyai Khomsah menawarkan gadis tanpa nasab yang jelas pada putranya. Meski sang putra mengatakan kalau dia kesengsem dengan foto Galuh tetap saja dia tak akan asal mengiyakan calon mantu yang gak jelas asal-usulnya.“Ya sudahlah, gak usah dicariin lagi, Bu Nyai. Saya tak nyari yang lain saja. Itu calon bidan kenalannya Farid tak jadikan cadangan sebelum saya menemukan calon lain yang lebih baik.” Bu Nyai Khomsah hanya bisa tersenyum. Meski begitu, terlihat sekali matanya menyiratkan kesedihan. Galuh sendiri hanya menunduk dan diam. Dia tak bersuara. Dia hanya bersuara dan bergerak ketika Bu Nyai Khofifah pamitan. Farid yang melihat Galuh menemani sang ibu angkat melakukan aksi lirik-lirik dan tebar senyum yang langsung mendapat pelototan dari sang ibu. Farid ingin sekali mengatakan pada ibunya jika dia mau minta nomer ponsel Galuh. Namun lagi-lagi pelototan sang ibu membuat Farid urung. Dia pun mau tak mau ikutan masuk mobil bersama kedua orang tuanya. Begitu mobil keluarga kyai dari Tegal itu sudah tak ada, Bu Nyai Khomsah terlihat menghembuskan napas dengan keras. Dia memijat dahinya. Sang suami tersenyum menenangkan.“Masuk aja yuk, kita ngobrol sambil duduk aja di dalam biar gak capek dan spaneng.”Ketiganya lalu masuk. Galuh segera mengambil minyak rempah-rempah dengan botol warna hijau dan mengoleskan pada leher sang ibu angkat. Dengan telaten Galuh memijatnya. Sepuluh menit kemudian, Galuh menanyakan keadaan sang ibu angkat.“Sudah enakan, Umi?” tanya Galuh dengan terus memijat. “Lumayan, tapi umi sedih, Nduk.” “Sedih kenapa Umi? Sedih karena Galuh ditolak lagi?” “Iya, dan ini sudah yang kelima kali, Nduk. Umi stress kepikiran kamu. Teman-teman seangkatanmu sudah nikah semua, bahkan di bawahmu juga, lah kamu kapan?”“Kapan-kapan kalau Allah menakdirkan, Umi. Lagian gak ketemu di dunia ya akhirat, Umi. Gitu aja repot.”Bu Nyai Khomsah menimpuk bahu putri angkatnya dengan cukup keras membuat sang gadis mengaduh lalu terkikik. “Ngomongmu, Nduk. Bisa jadi doa.” “Lah setidaknya di surga, jodohnya Galuh gak mandeng bibit, bebet, sama bobotnya Galuh, Umi," ucap sang gadis. Meski dengan cengengesan tapi kedua orang tua di dekatnya tahu, jika Galuh sama-sama stress seperti Bu Nyai Khomsah. “Mungkin belum jodoh, sabar. Galuh masih muda, baru dua lima. Siapa tahu ya Nduk ya, ketemu jodoh di perempatan.” Kyai Baihaki mencoba sedikit mencairkan ketegangan.“Nggih, Bah. Amin, jodoh till jannah ya Bah.”“Amin.”Lalu ayah dan anak angkat sama-sama tertawa sementara Bu Nyai Khomsah memilih memijat pelipisnya. Kepalanya terasa pening, lehernya kaku dan perutnya bergejolak karena rasa mual. “Gak usah bercanda deh, Abah. Ini sudah berkali-kali loh. Mau dari orang biasa, orang kaya hingga gak punya, pada nolak Galuh terus. Umi jadi sedih.”“Ya berarti emang bukan jodohnya Galuh ya Luh.”“Nggih, Bah. Umi santai saja dong, Galuh saja santai, sabar. Umi jangan kepikiran ya? Mending Umi mikirin nyariin jodohnya Gus Alfa saja. Sudah dua delapan, sudah pantes, nikah.” Bu Nyai Khomsah kembali memijit pelipisnya sementara Kyai Baihaki dan Galuh tersenyum. Jelas jika berurusan dengan putra semata wayang mereka, maka akan jauh lebih njlimet. Putra mereka masih menempuh pendidikan di Kairo untuk program S3. Dan selama ini, putranya juga jarang ada kabar dekat dengan cewek. Sekalinya akan dijodohkan, sang putra langsung menolak mentah-mentah. “Gak kamu, gak si Alfa. Pada bae angele nek urusan jodoh (sama saja susahnya kalau urusan jodoh).” Bu Nyai Khomsah kembali memijat pelipisnya sementara Kyai Baihaki dan Galuh berusaha menahan tawa. Galuh pun kembali memijat leher sang ibu angkat, membawanya pada banyak cerita agar sang ibu melupakan sejenak perihal upaya perjodohan yang kembali gagal.Gigi’s povA week later.It was a narrow escape, I’m glad the surgery was a success and I didn’t lose my baby.My pregnancy would be due in a week time, but unfortunately they have to be conceived now….I’m proudly a mother of two bouncy twins.“You still need to relax, daughter.” I tilted my chin, as my eyes landed on my aunt’s.“Yeah Mum, I will.” I gave her a smile.She’s been by my side since the couple of days I’ve been admitted. No one wanted her to come near me since my previous pack mate wasn’t believed to have nice intentions toward me.There’s two guards in my ward, keeping a close watch on everything going on in my ward.“I’m sorry mum.” I said to her.“No honey, you don’t need to be sorry. I’m the one who hurts you and made you went through a lot of shit back then….please forgive me daughter, you mean the world to me now.” She said, tears rolling down my cheeks.We pulled into a tight hug and max had no other choice than to join us.“Awnnn, a family reunion.” Jade blushed h
Leo’s povI got back to my pack house after the meeting with the councils. We had been discussing about the enlargement of the pack, how to construct new buildings and all. It wasn’t a serious issue since it wasn’t a merge but an enslavement.Pushing the door opened, I found a man in my bed.“What the hell!” I growled, storming to my bed.Why would Gigi cheat on me? I tried my fucking best to be the best man she would ever have.“Jerk!” I smacked him the briefcase I was clutching to. He noticed my presence then froze.He rose to his feet, pulling up his trouser while Gigi was there doing nothing, not feeling remorse.I gave him a punch on his face, which turned hot red.“Guess you messed with the wrong male. Guards!” I called out, turning the alarm button.In the twinkle of an eye, the pack house guards were alarmed and troops of them matched in.A lady presence was felt, she had been hiding behind the curtain.“Can you just tell me what’s going on, are you trying to get a threesome o
Gigi’s povIt’s been couple of weeks since I have been been the mother of the pack and also as expecting mother.“I need to rest now honey.” Leo said, placing a peck of my little bump.“I wish you the best in the competition.” I whispered into his ears, even though he was asleep.It was unease for me to get a sound sleep, I’m scared of him being injured. Tomorrow happens to be the day he would be fighting against Onix.After several thought, I whispered into the thin air. “Leo shall win.”It’s a beautiful morning, I woke up before him and I had to get his hot bathe ready.“Good morning my lord.” I said, serving him his cup of coffee.“Good morning my Luna.”He said, gulping down his coffee.“Your bath is ready.” I said then he smiled. “You don’t have to stress yourself, not even in this condition of yours.” He said but anything for my man.Minutes later, he walked into the restroom while I wait patiently for him. My thought was conflicting, filled with anxiety, unease and anticipation.
LEO'S POVI stood in front of the mirror, glaring hard as I grumpily adjusted my attire. I huffed and puffed and I knew that it wouldn't be long before I blow the whole castle down. That silly mate of mine is very stubborn, she just wouldn't listen to me no matter how hard I tried to persuade her from doing this stupid challenge. She doesn't need to fight with Angel, I'm already hers. I'm sure I can find a way to convince the elders that this isn't necessary but those greedy fools already have their eyes set on Angel. They know that she'll help them a lot and Angel knows that Gigi isn't a shifter, it'll be easy to defeat her.That sly woman is trying to use this to her advantage and it was pissing me off. I wish I could have stabbed her in the middle of the night to stop this stupid competition from happening but all the blame would fall on my dear Gigi, my hard-headed mate. Everyone would think she was cowardly and decided to kill Angel to escape the competition. Against my wishe
Jade’s povI took her arms, she leaned softly on me as we head up the stairs.“Glad it wasn’t something serious.” I muttered.Getting to her room, I helped her get her back laid on the bed gently.“How are you feeling now?” I questioned.“I’m feeling better.” She said and I placed a soft kiss on her fore
LEO’s povMy mate was stressed out yesterday, she slept off on my chest after our conversation. I had to lay her on the bed, and I couldn’t help it but stare at her pretty face which filled my heart with love and hope.She rolled closer to me, running deeply into my arms. I placed a kiss on her forehe
Gigi’s povI wasn’t only heartbroken by Leo’s words but he made me set a goal. I put in more energy to my training, trained morning and night till I was completely exhausted.“Glad you’ve known one of the defending skill.” Braindon said and I nodded.My back was slightly bent and my hands were crossed,
LEO’S POVGetting to the meeting room, I met the elders seated with a not too good look.“Welcome our king.” They bowed in unison.“You called for me, here I am.” I responded, sinking my butt on my golden chair.“Yes my lord and we’re glad you honored our call.” The oldest elder started.“Can I get to kn












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews