MasukDeg
Ratu Estelle merasakan dadanya terasa panas. Dengan nyeri yang seakan menghambatnya untuk bernafas. Untunglah Ana menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke lantai. Dia tertegun dengan ucapan Kaisar Raymond yang menyuruh istrinya meninggal hanya demi wanita lain. Tidak pernah ia melihat pria sekejam Kaisar Raymond. "Ada apa ini? sakit ini lagi. Pasti Ratu Estelle yang asli merasakan sakit ini setiap harinya. Kaisar Raymond aku sangat ingin menghajar wajah mu." Geramnya. Ana menghapus air matanya. Hanya kali ini Ratu Estelle tidak mengamuk di ruangannya. Biasanya dia akan melampiaskan pada barang-barangnya. "Yang Mulia Ratu sebaiknya kita pergi. Yang Mulia butuh udara segar." Ajak Ana. Setidaknya suasana hati dan perasaannya bisa tenang. "Kasihan sekali Yang Mulia. Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang Yang Mulia Kaisar," ucap seorang dayang. "Yang Mulia Kaisar tau bahwa Yang Mulia Ratu tidak menarik." Ana yang mendengarnya pun hendak berdiri dan memberikan hukuman. "Tidak Ana, biarkan saja." Ratu Estelle menahan lengan Ana agar tidak membuat keributan. Dengan begini ia bisa memahami situasi bahwa kehidupan Ratu Estelle di istana di penuhi dengan orang yang membencinya. Kehidupan yang kejam ini, pantas saja Ratu Estelle meninggal karena kesedihan yang mendalam. Kali ini, ia hidup di tubuh Ratu Estelle. Ia tidak akan meninggal seperti Ratu Estelle. .... Duke Alerix sampai dengan cepat. Dia melihat istrinya hendak menyantap sebuah kue di taman dengan di temani oleh pelayannya. "Tunggu," ucap Duke Alerix. Dia mengambil kue di tangan Duchess Arabella. "Duke ada apa?" Tanya Duchess Arabella terlihat bingung. Duke Alerix memerintahkan pengawal pribadinya Edwin untuk mengecek semua makanan di hadapan Duchess Arabella. Duke Alerix duduk di samping Duchess Arabella. Tidak mungkin ia mengatakan hal konyol tadi. "Aku hanya berjaga-jaga saja. Musuh kita sangat banyak. Siapa tau ada yang menyusup." "Tuan Duke di makanan Nyonya Duchess memang ada racun. Dan racun ini merupakan racun es." Duke Alerix mengepalkan kedua tangannya. Ucapan Estelle memang bener. Ia menebak Estelle bisa melihat masa depan. Tapi ia tidak akan percaya terlalu mudah. Ia harus kembali mengetesnya lagi. Duchess Arabella dan pelayan di sampingnya juga terkejut. Entah mengapa racun di makanan itu bisa lolos. Padahal penjagaan mereka begitu ketat. "Duke aku tidak tau kalau seperti ini. Lalu bagaimana dengan Ratu Estelle. Apa dia baik-baik saja? Musuh di sini saja bisa lolos dengan mudah." Duke Alerix tersenyum. "Kau tidak perlu khawatir. Istana tidak mudah di lalui." Ia harus menemui Kaisar Raymond "Aku ke istana dulu." Duchess Arabella mengangguk. Dia menatap punggung Duke Alerix yang perlahan jauh dengan langkah tergesa-gesa. Sementara itu, Ratu Estelle sedang menuju di sebuah rumah sederhana di hutan. Dia menatap rumah sederhana yang begitu sejuk. "Jadi di sini tempat dia tinggal." Ratu Estelle turun dari sebuah kereta. Dia melangkah dengan di ekori oleh Pelayan Ana. Seorang pria berumur 12 tahun. Dia tersenyum dan membungkuk hormat. "Salam hormat Ratu." Ratu Estelle membantu Asher berdiri. "Jangan seperti ini. Sudah berapa kali aku katakan." Estelle mengusap pucuk kepala Asher. Suatu saat nanti Asher menjadi pengawal bayangannya. Asher aku tidak ingin kau meninggal karena aku. Kelak kita menjalani hidup berdua saja. Kita tidak perlu berada di dekat istana, dekat dengan orang istana. Asher mengerutkan keningnya. Dia akan meninggal, tapi anehnya wanita di hadapannya tidak membuka mulutnya dan ia bisa mendengarkan suara hatinya. "Kakak sebaiknya istirahat dulu. Aku akan membuatkan kue kesukaan Kakak," ucap Asher. Ia ingin berbicara dengan Ana. Ratu Estelle mencubit pipi Asher. "Kau memang adik yang baik." Ratu Estelle pun pergi. Dia menuju ke dalam rumah itu. Asher menatap Ana dengan wajah serius. "Ana apa kau bisa mendengarkan sebuah suara?" Ana mengerutkan keningnya dan ia mengangguk. Ia bisa menebak bahwa Asher juga mendengarkan isi hati Ratu Estelle. "Iya Asher. Aku juga mendengarkannya. Sejak bangun Ratu Estelle berbicara di dalam hatinya aku bisa mendengarkannya. Hanya saja aku berharap Baginda Kaisar tidak mengetahuinya atau tidak mendengarkannya." Ia sangat takut karena ucapan Estelle memaki Kaisar Raymond. "Dan kau percaya suara itu?" "Aku masih bingung. Tadi Duke Alerix menemui Baginda Kaisar dan Ratu Estelle mengatakan di dalam hatinya bahwa akan ada orang yang meracuni istrinya. Jadi Duke Alerix buru-buru mengeceknya sendiri. Kalau benar berarti Ratu Estelle bisa melihat masa depan." Asher mengangguk, ia paham ucapan Ana. "Baiklah, tugas kita hanya menjaga Ratu Estelle." "Kau harus berhati-hati. Aku takut ucapan Ratu Estelle benar. Dia hanya memiliki mu." Asher tersenyum. "Baik, ayo kita masuk." Ratu Estelle membaca buku dan sudah sekian menitnya ia menunggu kue buatan Asher. Dan yang di tunggu-tunggu pun tiba. Harum aroma kue itu menyerbu masuk ke dalam hidungnya. Ia langsung menyantap kue itu. "Asher, Ana ayo duduk kita makan bersama. Ana jangan sungkan." Ana tersenyum, mereka pun makan dengan nikmat di selangi dengan obrolan hangat. Sementara itu, dari jauh seorang pengawal bayangan menatap kehangatan mereka. Ratu Estelle justru terlihat beda, lebih ceria, lebih hangat dan wajahnya tidak lagi ada kesedihan. Biasanya Ratu Estelle berbagi kesedihan dengan Asher dengan menceritakan Kaisar Raymond dan kali ini tidak lagi. "Apa itu Ratu Estelle?" Pria itu langsung menghilang bagaikan angin. Dia kembali menuju istana untuk Tuannya. Ratu Estelle kembali tepat sore harinya, dia menatap Duke Alerix dan Kaisar Raymond yang berpapasan dengannya. Dia merasa sial karena selalu berpapasan dengan mereka. Pasti dia sedang mau menemui Helena. Oh iya malam ini pasti terjadi sesuatu pada Helena. Karena Helena dekat dengan Kaisar Raymond sudah pasti dia yang menjadi target musuh Kaisar Kulkas ini. Untunglah aku tidak terlalu dekat dengan mereka. "Ratu Estelle datang dariman saja kamu? Lihat, ini jam berapa. Kau bahkan keluyuran di luar istana dan meninggalkan pekerjaan mu." Ratu Estelle tertawa lepas. "Anda pikir saya badut anda. Saya tidak akan melakukannya. Suruh Helena saja. Saya tidak mau melakukannya." Dulu aku mencintai mu, mengemis kasih sayang semua orang, tapi tidak kali ini. Aku membenci kalian batin Ratu Estelle. Duke Alerix tertegun. Seperti inilah kehidupan putrinya di istana. Di abaikan oleh Kaisar Raymond. Ia kira Kaisar Raymond sedikit saja berbuat baik pada Ratu Estelle.Duchess Arabella begitu kasihan pada suaminya. Ia mengerti bagaimana perasaan Ratu Estelle saat itu. Memang benar suaminya bersalah, tapi bagaimana pun juga Duke Alerix adalah ayahnya. "Ratu dia hanya ingin anda bertemu dengan ibu anda. Tidak memiliki maksud lainnya. Duke pasti ingin anda bahagia." Ratu Estelle tertawa sambil memalingkan wajahnya. "Aku tau karena dia ayah ku dan juga suami mu. Grand Duchess Arabella." Nada suaranya menekan. "Jangan karena alasan dia ayah ku lalu anda seenaknya menyuruh saya memaafkannya." Duchess Arabella dan Duke Alerix terkejut. Anak yang menunduk jika bertemu dengannya kini mengangkat wajahnya dengan dingin. Menegaskan bahwa dia tidak mudah di sentuh. "Dia tidak sudi bertemu dengan ibu ku. Jadi jangan memperlihatkan kebaikan pada ku jika memiliki niat tersembunyi." Tidak bisa ia bayangkan bagaimana menderitanya Ratu Estelle. Berusaha menjadi anak yang baik. Berusaha menjadi istri yang baik namun pengabaian yang ia dapatkan. "Ratu, ak
Kaisar Raymond memilih berdiam diri di istananya. Masalah yang datang berturut-turut membuatnya tidak ingin keluar istana. Ada beberapa tumpukan kertas yang berada di ruangannya yang belum ia selesaikan. Bahkan pengecekan wilayah yang awalnya mengajak Ratu Estelle kini ia limpahkan pada Duke, ayah mertuanya. Rasanya begitu lelah memikirkan ucapan Ratu Estelle dan tidak membuatnya semangat. "Yang mulia ,saya ingin bertemu dengan Ratu." Tutur Duke Alerix. "Baiklah, kau boleh menemui Ratu Estelle." Ratu memang ia hukum, tapi ia tidak melarang siapa pun yang ingin menemui Ratu. "Terima kasih Yang Mulia," ucap Duke Alerix. Dia bergegas menemui Ratu Estelle. Ana pun mengatakan kedatangan Duke Alerix. Dia menyuruh Duke Alerix masuk saat Ratu Estelle telah menyuruh. "Yang Muliaa Ratu." Duke Alerix memberikan hormat. Dia menatap putrinya yang begitu dingin padanya. Tidak menyangka anak yang selalu membuntutinya semenjak kecil kini melemparkan tatapan ketidaksukaannya. Pasti dia datang k
Ana masuk ke dalam ruang kerja Ratu Estelle. Dia ingin menyampaikan kedatangan budak siluman yang telah di lindungi oleh Ratu Estelle. "Yang Mulia ada yang ingin bertemu dengan anda. Dia budak yang anda lindungi." "Bawa dia masuk," ucap Ratu Estelle. Untungnya Kaisar Raymond hanya menyuruhnya di istananya tanpa keluar. Jadi ia masih bisa melakukan apa pun dan bertemu dengan siapa pun. "Yang Mulia Ratu." Ratu Estelle manatap pria di hadapannya. "Kenapa kau tidak pergi dari istana ini?" Budak cinta memang begitu. Mau di bunuh pun sama orang yang di cintainya. Dia akan memilih diam batin Ratu Estelle sambil menggelengkan kepalanya. "Yang Mulia Ratu, perlakuan saya selama ini hanya karena balas budi. Nona Helena pernah menolong saya dan saya berjanji akan mengikutinya." Ratu Estelle memutar tubuhnya. Dia menatap ke arah luar jendela. "Aku tidak ingin kau menghancurkan nyawa orang lain. Kau merelakan nyawa mu, tapi kau tidak bisa merelakan nyawa orang lain. Apa kau percaya
Kaisar Raymond membaca beberapa laporan namun pikirannya sama sekali tidak fokus. Dia membuang laporan di tangannya dengan kasar. Pikirannya tertuju pada Ratu Estelle dan ucapannya yang mengeluarkan kebencian padanya. Dia menghukum Ratu Estelle karena dia tidak suka Ratu Estelle membela budak rendahan itu. Hanya seorang budak Ratu Estelle tidak peduli dengan hukumannya. "Bawa budak itu." Geramnya sambil berteriak. Dadanya terasa panas begitu melihat Ratu Estelle membela orang lain. "Kau, budak rendahan. Kau sama sekali tidak becus. Berani sekali kau menggoda Ratu. Hukum cambuk budak sialan ini." Siluman singa itu menatap tajam Kaisar Raymond. Dia tidak akan melupakan penghinaan ini. Ia harus menjadi kuat. Suatu saat nanti ia akan membalas semuanya. Apa yang mereka lakukan akan ia bayar bekali-kali lipat. Selama ini ia diam saja karena Helena menolongnya, tapi setelah bertemu dengan Ratu Estelle yang begitu membelanya. Ia sadar, sekalipun pernah di tolong oleh Helena. Wanita itu t
Prank Dada Helena naik turun, kedua matanya menatap tajam cermin yang memperlihatkan wajahnya. Pecahan vas bunga dan kaca serta alat make up berada di lantai. "Wanita sialan." Geramnya. Seharusnya ia tidak berbaik hati pada Ratu Estelle dan mempercayai ucapannya. Helena mengambil sebuah pena lalu menulis sesuatu. "Berikan ini pada David. Dia harus membantu ku memberikan pelajaran pada wanita sialan itu." "Baik Nona." Mia bergegas pergi. Helena mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak seharusnya Kaisar Raymond menghukumnya. Seharusnya pria itu memaafkannya dan mempercayainya. Selama ini Kaisar Raymond selalu mengiyakan semua ucapannya. "Dan kau," Helena menatap pria di ujung sana. "Kau harus menerima semua kekesalan ku." Helena mengambil sebuah cambuk. Pria itu menunduk dan memberikan tubuhnya. Helena mencambuk pria itu. "Seharusnya tidak ada yang membuat ku kesal." Lima kali cambukan itu tidak membuat pria itu mengerang kesakitan. Helena pun tertawa walaupun ke
Kaisar Raymond bergegas pergi tanpa mengatakan apa pun. Dia duduk di kursinya dengan hati bimbang. Kedua netranya menatap ayahnya. Pria yang ia kira setia pada ibunya dan padanya ternyata menusuk dari belakang. Dan itu di sebabkan oleh ayahnya yang menyebabkan kehancuran. "Kalau aku tidak bisa mendengarkan isi hati Ratu. Kekaisaran ini hancur karna mu ayah." Sekelibat bayangan datang memberikan hormat padanya. "Yang Mulia." "Cari tau keberadaan saudara tiriku. Apa pun yang terjadi bawa saudara tiriku." "Baik Yang Mulia." Bayangan itu pun menghilang bagaikan di telan angin. Dengan suasana hati yang resah, sakit hati dan kecewa. Tidak ada siapa pun yang tau, ia hanya bisa memendam semuanya sendiri. "Sebaiknya aku kembali lagi ke kamar Ratu. Di sana aku pasti menemukan kedamain." Sementara itu, di tempat lain. Seorang wanita mengamuk. Tanpa di sadari darah segar keluar dari telapak tangan Helena. Dadanya begitu panas dan terbakar saat mendengarkan Kaisar Ryamond tidak menemuinya







