LOGIN“Reject us,” Kellen commanded. “No.” The word slipped from Daciana's lips. The murmurs in the crowd grew louder, shock spreading like wildfire. The triplets’ eyes widened in disbelief, their confident masks slipping. Kellen’s hands balled into fists, his jaw clenched tight as he glared at her. “What do you mean, no?” Axel’s voice broke through the noise, disbelief clear in his tone. “You’ve always hated us. You don’t want this. Reject us!” “I won't reject you” Daciana stood her ground, she had never had this kind of leverage over them before, For years, they had been in control, tormenting her at every turn. But now… now they were at her mercy. They were begging for rejection? That wasn't going to happen. She would make sure they paid for everything they've done. This mate bond they desperately wanted to break…. will not happen! **** When she didn't get her wolf on her eighteenth birthday, Daciana became an element of mockery in her pack. Everybody hated her and the students at school derived joy in bullying and making her life miserable. Daciana has hated the royal triplets all her life. She wanted nothing to do with them, and they equally hated and made her life hell. She wished to have nothing to do with them, but fate played a quick one on her, and she got mated to all three of them. The triplets, having no power to reject her, asked her to reject them, but Daciana, knowing the leverage she had, refused with the sole aim of making them pay for everything they did to her. But how long will she be able to play this game? Will she win, or will she be pulled into their seductive web now that they didn't want to let her go?
View More"Naya pulang!" Suara toa tersebut berasal dari arah pintu masuk.
Seorang lelaki separuh baya berusia 71 tahun yang sedang duduk di sofa ruang tengah, sambil membaca koran tampak terkejut sebelum menoleh kearah pintu.
Di sana, Tomi menemukan cucunya. Yang tersenyum ceria menenteng begitu banyak paper bag berisi belanjaan di kedua tangannya. Gadis berusia 19 tahun itu, lagi-lagi baru pulang dari kebiasaan sehari-harinya, yakni belanja. Tomi menggelengkan kepala melihat itu.
"Berapa banyak uang belanja yang kamu habiskan kali ini, Naya?" tanya Tomi, merujuk kepada kebiasaan shopping cucunya.
Naya mengecup sebelah pipi Tomi Sutedja setelah meletakkan seluruh barang belanjaannya terlebih dahulu ke atas sofa, lalu memeluk tubuh tua kakeknya itu dari arah samping dan duduk. Dengan sengaja, Naya menempelkan salah satu telinganya di dada sang kakek, mencuri dengar suara detak jantung kakeknya yang telah lanjut usia itu
Menyadari tingkah laku cucunya itu, Tomi hanya mendengkus.
"Syukurlah. Jantung kakek masih berdetak dengan normal."
Naya langsung merangkul satu lengan kakeknya, dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki tua tersebut.
"Kakek tenang aja, Naya gak akan bikin kakek bangkrut, kok."
Tomi menghela napas, sementara Naya langsung mendongak, menatap wajah kakeknya itu.
"Memang gak akan bikin kakek bangkrut. Tapi, kakek gak suka lihat kamu hambur-hamburin uang begitu. Kamu tahu, diluar sana, banyak orang yang hidupnya serba kekurangan. Mereka harus bekerja keras demi mendapatkan sepeser uang ...."
"Kakek ... hidup itu cuma sekali. Untuk apa peduli kehidupan orang lain. Cukup kita nikmati hidup ini. Toh, kita gak merugikan orang lain kan. Justru kek, aku sedang membantu toko-toko yang menjual barang branded itu secara tidak langsung. Karena berkat aku, barang-barang yang mereka jual itu laku."
Tomi memijit pelan pelipisnya. Sepertinya dia tidak akan menang jika harus berdebat dengan cucu kesayangannya itu.
"Kakek, sakit?"
Tomi menggeleng pelan. Mengulas senyum. Diusapnya lembut rambut panjang Naya sebelum kemudian meraih remote untuk mematikan televisi.
"Kakek sehat, Naya. Hanya saja, kesehatan kakek akhir-akhir ini mulai menurun. Mungkin ajal kakek sudah semakin dekat."
Naya menatap kakeknya dengan protes.
"Kakek jangan bicara begitu. Maut itu rahasia Tuhan. Lagi pula, memangnya kakek mau meninggalkan Naya sendirian di muka bumi ini. Gak kan?"Tomi tentu saja segera menggeleng.
"Maut memang rahasia Tuhan. Siapa yang tahu jika bisa saja nanti tuhan akan mengambil nyawa kakek keesokan harinya. Dan karena alasan itulah kakek telah mencarikanmu jodoh yang bisa menggantikan kakek dalam menjagamu jika kakek telah tiada nanti Naya."Naya mulai tidak nyaman dengan topik yang akan mereka bahas kali ini.
"Jika kakek ingin membahas masalah perjodohan itu lagi. Naya gak mau."
Naya langsung berdiri, melangkah untuk memunguti paper bag berisi barang-barang belanjaannya sejenak untuk ia bawa masuk kedalam kamarnya sendiri.
"Kakek butuh cicit."
Naya terdiam kaku, langkah kedua kakinya mendadak terasa berat setelah mendengar kalimat itu.
"Kakek butuh penerus yang bisa mengurus perusahaan keluarga kita, sayang. Dan hanya kamulah satu-satunya harapan kakek."
Tomi berdiri, tentu saja dengan bantuan tongkat kayu. Meski sebenarnya, lelaki separuh baya itu masih cukup mampu berjalan dengan normal tanpa bantuan tongkat kayu, migrain yang akhir-akhir ini kerap kali menyerangnya membuat Tomi mau tak mau harus menggunakan bantuan tongkat kayu dengan alasan takut jika sewaktu-waktu tubuhnya oleng lagi.
Sebab, Tomi sempat beberapa kali hampir terjatuh.
Naya masih diam membeku ditempatnya berdiri. Sementara Tomi Sutedja sudah berdiri tepat dihadapan cucu perempuannya itu.
"Jika tidak dengan menikah, maka kamulah yang harus mengambil alih posisi itu. Meneruskan perusahaan keluarga."
Naya tentu saja tidak mau. Bukannya apa. Tapi jujur saja, Naya itu bodoh. Dia hanya menyelesaikan pendidikan hingga SMA. Dan memimpin perusahaan sebesar Sutedja Company merupakan hal yang terdengar sangat mustahil.
Naya tidak mau perusahaan turun temurun itu jatuh bangkrut nanti hanya karena dirinya yang tidak becus. Namun, Naya juga enggan menerima perjodohan itu. Meski jujur saja di hati kecilnya yang paling dalam, gadis itu terenyuh dan tidak tega melihat kakeknya yang terlihat kian rapuh. Termakan usia masih harus memimpin perusahaan sebesar itu.
Naya benar-benar dilema dengan situasi yang menjeratnya saat ini.
"Kasihanilah kakek, Naya."
Tomi berlalu pergi. Meninggalkan Naya seorang diri di ruang tengah dengan ekspresi raut wajah kaku. Setelah kakeknya menghilang dari pandangannya, saat itulah Naya langsung jatuh duduk lemas di sofa. Kepalanya sakit. Lebih sakit lagi, melihat kakeknya putus asa seperti itu tadi.
***
Mabuk adalah jalan keluar paling basi ketika seseorang mengalami frustasi. Namun, Naya tidak punya pilihan lain daripada harus mengurung diri di dalam kamar lalu menangis seharian seperti gadis lemah saja. Naya juga tidak mau menyiksa diri dengan acara mogok makan.
Jadi, disinilah gadis itu terdampar saat ini.
Duduk disalah satu meja bar, dengan kepala yang sudah ia tidurkan di atas meja karena kepalanya mulai pening. Padahal Naya baru menghabiskan dua gelas alkohol dengan kadar rendah. Mungkin, karena Naya baru pertama kali mabuk-mabukan seperti ini.
"Mau kuberitahu satu solusi."
Naya mengangkat wajahnya, memandang kearah Celine, salah seorang teman yang biasa menemaninya shoping ataupun jalan-jalan. Naya memang tidak datang sendirian ke tempat laknat ini. Dia sengaja mengajak Celine, karena memang kebetulan hanya gadis itu yang memiliki waktu luang.
Celine meletakkan gelas ditangannya hingga menimbulkan suara bantingan yang cukup keras terdengar. Namun suaranya tentu tidak mampu mengalahkan musik yang tengah diputar DJ. Ditambah lagi semakin malam, club malam yang saat ini mereka berdua datangi akan semakin ramai dan penuh. Seperti sekarang ini, contohnya.
"Apa?"
Meskipun kepalanya mulai pening, Naya masih bisa merespon dan menangkap omongan seseorang yang mengajaknya bicara.
"Kamu harus mencari lelaki yang mau menyumbangkan benihnya untukmu. Jika kamu hamil, maka perjodohan itu otomatis akan batal karena keluarga calon suamimu pasti tidak mau punya menantu yang hamil diluar nikah. Dan bayi itu ...."
Celine meminum kembali alkohol yang baru saja diisi oleh bartender.
"... yang akan meneruskan perusahaan keluargamu. Kakekmu dapat cicit, kamu tidak perlu menikah, dan masalah selesai," jelas Celine tanpa dosa.
Naya melongo, menjatuhkan kembali kepalanya diatas meja dan tersenyum.
"Boleh juga."***
Naya bangkit dari duduknya dengan tubuh sempoyongan. Seperti ada bintang yang berputar putar di atas kepalanya saat ini. Seperti yang Celine katakan, Naya harus mencari seseorang yang mau menyumbangkan benihnya untuk Naya. Dan untuk mendapatkan itu, Naya tentu harus mencari lelaki kaya ... Ah tidak! Yang terpenting tampan. Karena Naya butuh bibit unggul dari lelaki tampan bukan lelaki kaya.
Karena itulah.
Alih-alih mencari lelaki dengan setelan jas mahal dan rapi yang bertebaran di sana malam itu, Naya justru malah menggoda seorang laki-laki asing, duduk seorang diri, mengenakan kaos hitam polos lengan pendek sehingga memperlihatkan otot kekar lengan atasnya.
Meski sempat tersandung beberapa kali, akhirnya Naya tiba di dekat kursi tempat duduk lelaki itu.
"Boleh aku duduk?" Naya bertanya.
Namun belum sempat lelaki itu buka mulut, Naya sudah menjatuhkan lebih dulu tubuhnya, tanpa mau menunggu jawaban dari si lelaki. Dan dengan tidak tahu malunya, bukannya duduk di kursi, Naya malah duduk di atas pangkuan lelaki yang tidak dikenalnya itu.
Lelaki itu, jelas saja sangat terkejut, tubuhnya tampak bergerak tidak nyaman, berusaha menyingkirkan dan mendorong paksa tubuh Naya agar segera bangkit dari atas pangkuannya. Sayangnya, Naya malah mengalungkan kedua lengannya dileher lelaki itu dan langsung menjatuhkan keningnya di bahu sebelah kirinya. Aroma musk yang tercium dari tubuh itu menguar, membuat Naya menghirup aromanya dengan rakus. Sementara jemari tangannya mulai menggerayangi tubuh proposional lelaki yang tubuhnya sudah menegang kaku. Naya tersenyum tanpa sadar.
Oh! Naya tidak bodoh. Dia memang sedang mabuk. Tapi, Naya masih bisa menilai mana lelaki tampan dan mana yang bukan. Dan lelaki yang tengah ia duduki saat ini, lebih dari sekedar tampan. Dan tubuhnya ... Naya meremas lengan atas lelaki itu yang kekar.
"Hei kamu ...."
Naya mendekatkan bibirnya di daun telinga lelaki itu. "Hamili aku."
Chapter 175: EPILOGUE The morning was quieter than usual a day after Elena brought her first child into the world.Daciana stood on her room’s balcony in the palace, wrapped in a soft robe, the early morning sunlight filling her skin with warmth. Her long hair blew behind her thanks to the wind, while her eyes glistened with hope and pure joy as she stared at the morning sky, watching the early morning birds flying around.Clutched in her hands was a folded piece of paper. She held a pen and stared at it and the paper hesitantly, her fingers trembling slightly as she opened it.What was in the paper? Well, it was a letter she hand-wrote for baby Loira, meant for her to open when she comes of age. The letter read as follows:>“Dear Loira,By the time you're old enough to read this, I imagine you'll already be running through these halls barefoot, giving your father gray hairs, and charming every single wolf with your wild heart. You’ll probably be fearless like your mother. So full
Several months later, Elena's pregnancy was due and she was rushed to a hospital within the pack. In her hospital room, she lay on the bed, her forehead dripping with hot sweat as she struggled to push. Daciana was in the room with her, comforting her and brushing aside strands of her hair.Just like Elena had done for her years ago. "This... this, among many other reasons, is why I was hesitant about kids!" Elena screeched, biting her bottom lip as Daciana grabbed her arm and caressed it gently.The doctor attending to her was busy monitoring the process from the end of the bed, cheering her on."Oh, relax, you cry, baby." Daciana tried to sound teasing but only managed to earn a glare from Elena.The former chuckled lightly before rubbing Elena's forehead reassuringly. "You'll be fine. You and Magnus decided to go against your previous decision and have this child. All you need to do now is push and see your beautiful baby girl."Elena grunted, managing to roll her eyes despite th
The palace grounds had been transformed into a field of white lilies several days later.Daciana stood at the edge of the stone path, her hands clenched tightly around a single white lily, her thumb brushing absentmindedly over its soft petals. Her black gown blew slightly in the breeze, but her body remained still as if carved from the same stone as the memorial before her.Beside her stood Kellen, his hand finding hers and squeezing gently. He didn’t speak; his presence alone was a grounding force, especially today. On her other side stood Axel, who was solemn and quiet, his arms folded in front of his chest.Magnus and Elena stood not far behind them, holding hands, both dressed in dull grey clothing. Standing between Kellen and Daciana, dressed in a tailored black suit far too formal for a child his age, was little Alan.The ceremony hadn’t started yet, but already, the memories were beginning to bloom.One by one, pack members and survivors waltzed in, taking seats in the circle
Sabrina had a sad expression on her face as she lowered her head, like a mother unsure if she was worthy to comfort her own child. “I watched you cry, I watched you bleed and fight from the moment I drew my last breath on this world. And each time I screamed through the veil until my voice broke… But Hailey silenced us.”Daciana’s lip trembled, her voice cracking as she spoke. “I thought I failed you. I thought… I let you down. I could barely move on after I watched you die all those years ago.”Sabrina's gaze warmed up as she hovered her hand close to Daciana’s face. “You didn’t. You never did. You were stronger than all of us. Tonight, when you severed Hailey’s connection, you freed more than just this world from her darkness. You brought down the chains holding us. You gave us peace.”Daciana broke down into a sob as she stepped into her mother’s embrace. It wasn’t solid and felt like walking into the air, but it wrapped around her heart all the same.Behind them, Ryker placed a fi
The next morning, everyone was up early and gathered at the palace's infirmary, standing at the entrance.The large room was filled with medical equipment and enough beds to pass as a hospital room. There was a smell of antiseptics and drugs but there was also a rotten smell coming from the center.
Daciana's eyes widened with panic when she saw the guard lunging at her. She took a quick step to her right side, crashing on the wall and then rolling to the floor, narrowly dodging his claws which slashed at her. He snarled, swerving his head to her unnaturally and following her movements. He se
(Warning: Disturbing Scene Ahead)Daciana slowly opened her eyes, squinting a little at first after the sunlight streaming into the room affected her vision.However, just when she placed her right hand on Kellen's arms around her body, her eyebrows furrowed into a frown. Why did his arms feel so b
"Tell me what you saw or heard, Luna. In detail." Daciana glanced at the high priestess, hesitating at first before she brought her gaze back to Alan, who fluttered his eyelids with confusion as he cleaned his sleepy eyes with the back of his right hand. Daciana bit her bottom lip before she smil












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews