INICIAR SESIÓNSartika menarik napas pelan. Ia meletakkan cangkir tehnya ke atas meja, lalu menatap putrinya dalam-dalam.
“Kadang, apa yang terlihat di luar bisa sangat berbeda dengan kenyataan di dalam, Nak. Dunia bisnis itu keras. Banyak yang terlihat mengagumkan, tapi rapuh di dalam. Bisa jadi dia mengambil risiko yang terlalu besar atau terlalu cepat berekspansi tanpa fondasi yang cukup kuat.”Nadira mengangguk pelan, menyimak setiap kata. Tapi pikirannya tetap berputar pada satu hal kTekanan dan ancaman dari Sartika sama sekali tidak membuat Nirwan gentar. Ia justru menjadikannya sebagai pemicu untuk bergerak lebih cepat.Siang dan malam ia habiskan di kantor, menyusun strategi, menata ulang keuangan perusahaan, serta mengambil keputusan-keputusan besar yang penuh risiko.Hanya dalam hitungan beberapa hari, berkat kecerdasan, ketegasan, dan kepiawaiannya dalam memimpin, Nirwan berhasil membawa perusahaannya keluar dari ambang kebangkrutan. Operasional yang sempat lumpuh kini kembali berjalan normal. Kepercayaan para mitra perlahan pulih, sementara para karyawan akhirnya bisa bernapas lega.Meski demikian, badai yang sempat menerpa tetap meninggalkan luka. Kerugian finansial dalam jumlah besar tak mungkin dihindari. Namun, bagi Nirwan, kehilangan uang jauh lebih mudah dipulihkan daripada kehilangan orang yang ia cintai.Kini, setelah urusan perusahaan kembali stabil, tak ada lagi yang mampu menghalanginya untuk menuntaskan perhitungan dengan
Pagi itu, Liliana keluar dari rumah seorang diri dengan membawa tas belanja kain yang sudah cukup lama ia gunakan. Langkahnya tenang, tetapi pikirannya dipenuhi berbagai perhitungan. Biasanya urusan berbelanja selalu dilakukan oleh pembantu rumah tangga. Namun, sejak ia tak lagi bisa leluasa menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang disukainya, ia memilih mengambil alih tugas berbelanja kebutuhan dapur. Setidaknya, berjalan menyusuri lorong-lorong supermarket dan memilih sendiri sayur-mayur mampu sedikit mengobati hobinya berbelanja.Di dalam dompetnya hanya tersimpan sejumlah uang yang telah ia sisihkan khusus untuk memenuhi kebutuhan rumah selama satu minggu.Sesampainya di supermarket, Liliana mendorong troli perlahan menyusuri setiap lorong. Tatapannya tak lagi tertuju pada merek-merek premium yang dahulu selalu menjadi pilihannya. Kini, ia justru sibuk membandingkan label harga satu per satu dengan cermat."Yang ini masih cukup sampai minggu depan," gu
Sinar mentari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai, menghangatkan kamar yang masih diselimuti suasana tenang. Nadira menggeliat pelan sebelum perlahan membuka matanya. Untuk beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar, menikmati pagi yang damai.Saat memiringkan tubuhnya, senyum tipis langsung menghiasi bibirnya.Di sisi tempat tidur, Nirwan masih terlelap. Wajah pria itu tampak jauh lebih tenang dibanding biasanya, tetapi gurat kelelahan di bawah matanya begitu jelas terlihat. Jas kerjanya sudah berganti dengan pakaian tidur, sementara rambutnya masih sedikit berantakan, seolah semalam ia pulang dalam keadaan benar-benar kehabisan tenaga.Nadira mengamatinya dalam diam. Ia sama sekali tidak tahu Nirwan pulang pukul berapa. Semalam ia tertidur lebih dulu setelah menunggunya cukup lama. Rupanya, pria itu baru kembali ketika dirinya telah terlelap.Dengan hati-hati Nadira mengulurkan tangan, menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi dahi sua
Nirwan sedikit terkejut ketika pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan lebih dulu.Brak!Refleks ia mengangkat kepala dari tumpukan dokumen di hadapannya. Alisnya berkerut saat mendapati sosok yang berdiri di ambang pintu ternyata adalah Liliana."Mama?" ucapnya dengan nada heran.Frederic yang sejak tadi berdiri di sisi meja kerja juga tampak terkejut. Ia segera menegakkan tubuh dan memberi salam hormat."Selamat malam, Nyonya."Namun, Liliana sama sekali tidak menggubris sapaan itu. Napasnya masih memburu, sementara sorot matanya langsung tertuju kepada Nirwan. Wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia datang bukan untuk sekadar berkunjung, melainkan untuk meminta penjelasan.Melihat raut wajah ibunya yang dipenuhi kemarahan, Nirwan perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya berubah lebih tajam, seolah sudah bisa menebak alasan kedatangan Liliana malam itu.Ruangan yang semula sunyi mendadak dipenuhi ketegangan yang begitu pekat.Nirw
Liliana baru saja selesai memilih beberapa pakaian dan perlengkapan rumah. Wajahnya mulai tampak sedikit lebih cerah. Suasana hatinya memang sedang tidak baik hari itu. Berbelanja menjadi satu-satunya cara yang ia lakukan untuk mengalihkan pikirannya dari berbagai masalah yang terus menghantuinya.Dengan langkah anggun, ia berjalan menuju meja kasir sambil menyerahkan seluruh barang belanjaannya kepada pramuniaga."Semuanya jadi, Bu?" tanya wanita itu ramah.Liliana mengangguk singkat."Ya, saya ambil semua."Pramuniaga segera memindai setiap barang hingga akhirnya menyebutkan total pembayaran. Tanpa ragu, Liliana mengeluarkan kartu kredit dari dalam dompetnya lalu menyerahkannya."Silakan."Pramuniaga menerima kartu itu dan memasukkannya ke mesin EDC.Beberapa detik berlalu.Terdengar bunyi bip, lalu ekspresi ramah pramuniaga perlahan berubah canggung."Maaf, Bu ..." ucapnya hati-hati. "Transaksinya ditolak."Liliana mengernyit. "Ditolak?
Suara benturan keras menggema di seluruh ruangan ketika Nirwan membanting sebuah map berisi dokumen ke atas meja kerjanya. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya dipenuhi amarah yang sejak tadi ia tahan.Frederic yang berdiri di hadapan meja refleks tersentak. Ia segera menegakkan tubuh, tak berani mengucapkan sepatah kata pun. Selama bertahun-tahun bekerja bersama Nirwan, ia tahu betul pria itu jarang kehilangan kendali. Namun sekali emosinya meledak, seluruh ruangan seolah diselimuti hawa mencekam."Apa ini?" suara Nirwan terdengar rendah, tetapi sarat tekanan. Jemarinya mengetuk map di atas meja dengan keras. "Kenapa nilai saham perusahaan kita tiba-tiba anjlok separah ini?"Frederic menelan ludah sebelum menjawab dengan hati-hati. "Maaf, Pak. Nyonya Nawles bersama beberapa investor besar telah menarik seluruh investasi mereka dari perusahaan. Kabar itu dengan cepat menyebar ke para pemegang saham lainnya. Mereka panik dan mulai melepas saham mereka secara besar-







