LOGINSINOPSIS Pengkhianatan Arjuna membuat Nimas memilih bercerai dan menjalani hidup baru seorang diri. Namun, siapa sangka kalau kedua iparnya ternyata sama-sama memiliki perasaan padanya?! "Menikahlah denganku, Nimas. Aku akan melindungimu dan tak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi." -Bisma, Intel. "Saya nggak akan membiarkan Nimas terus bersamamu, Arjuna. Kamu sendiri yang membuangnya. Jadi, jangan salahkan saya jika saya menggantikan kamu!!" - Yudhistira, Pengacara Terkenal. Dalam dilema, Nimas kebingungan. Siapa yang harus dia pilih?!
View More“LEOOOO, OPEN UP THE FUCKING DOOR, BEFORE I BREAK IT!”
The banging grew louder.
“Open up! I know you’re in there!”
They weren’t going to give up unless they broke my door down… or I opened it. And that was never going to happen. Either way, they wouldn’t be satisfied.
Not until they beat the hell out of me. Or I gave them their money. And either way, I didn’t have it.
Not now. Not ever. Not when I couldn’t even get a decent-paying job.
Money.
The root of all evil. And my main problem right now.
The men at the door went quiet for a second, and for a moment, hope flickered in my chest. Maybe I’d gotten lucky. Maybe they had finally left.
All I had to do now was find another place to crash
A brown envelope slid under my door.
I quietly stepped forward and picked it up from the floor.
“We’ll be back next week,” one of them growled from the other side of the door. “And if you don’t have our money by then, Leo, I’m breaking every bone in your body!”
I pulled the paper from the envelope with shaking hands.
“See you next week,” the man added as his heavy footsteps faded down the hallway.
My eyes locked onto the bold print.
And my whole body went still.
My stomach dropped.
“Seven million dollars?!”
There was no way.
I’d only borrowed ten grand. How the hell did it become Seven million?
I knew taking a loan from anyone other than a bank was risky… but I never imagined this. Not like this.
Fuck.
Fuck!
I couldn’t even afford a slice of bread, and they expected Seven million?
On top of that, there were other debts. Different places. Different people.
I was going to die.
Because of money.
I stumbled into my bedroom and grabbed my phone from the bed, dialing the only person I trusted.
“Hello? Leo?”
Relief flooded my chest when I heard his voice.
“Max,” I croaked, gripping the paper tighter. “They say I owe Seven million now. What am I going to do?”
“One of the guys just came here,” I went on. “If I don’t get it by next week, I’m dead. They’ll kick the door down next time. I know they will.”
“Whoa Leo, slow down. Seven million?!” he shouted.
“You need to go to the police. This is way out of hand. You’re being scammed and threatened. You have to tell them.”
Tears slipped down my cheeks and I didn’t even bother wiping them away.
“I already did,” I whispered. “They won’t help me. The banks have blacklisted me, and now work is drying up. I screwed up, Max. I never should’ve borrowed the money, but I was desperate.”
The more I thought about it… maybe I should just open the door next time.
Let them beat me.
Beg for my life.
Maybe they’d let me live if I worked for them.
Work off my debt.
My life was the only thing I had left to offer.
“I have an idea,” Max said carefully. “But it’s a long shot.”
“What?” I exhaled sharply. “I’ll do anything at this point. As long as it’s not something sketchy.”
“It’s not like that,” he insisted. “I knew a guy who helped this singer. She was in trouble and went to this man. He gave her the money. All she had to do was one simple thing whatever he asked and she did it.”
“That girl was Maltida Benson. Lead singer of Musical college. She took the deal, and after that? She got her dream. Fame. Money. Success.”
Maltida.
I knew the name.
One minute no one had heard of her next she was everywhere. Charts. Makeup ads. Awards.
“What did she do?” I asked quietly, tapping my foot. “It can’t be that simple.”
“Don’t know. NDA or something,” he said. Then his tone brightened. “But this could be your chance. Movie roles. Debts gone. You need this, Leo.”
“What else do you even have left to lose?”
He was right.
All I had was my bed… an empty fridge with ketchup inside… and the clothes I was wearing.
Still, something about this felt wrong.
No one gave away millions for nothing.
No one.
“Okay,” I said shakily. “Who is he?”
My pride was already shattered.
I had no other options left.
“Grayson Knight .”
The name meant nothing to me.
“Is it real?” I asked. “Would he even see me?”
Max hesitated.
“I mean… there’s no harm in trying, right?” he said awkwardly. “I’ll send the number and address. They say he’s the devil but he gets things done.”
“Thank you,” I whispered. “I don’t even know what I’d do without you. You’re my guardian angel.”
“Just stay alive until then,” he said firmly. “I am not burying my best friend, you hear me?”
Then he hung up.
A moment later, the address and number came through.
My stomach twisted when I read his name again.
Opening G****e, I typed it in.
Grayson Knight .
I clicked the first result his Wikipedia page.
And the first thing that hit me…
Was his face.
I’d expected an old, creepy, rich man with a taste for younger people.
But Grayson was young.
Handsome.
And disgustingly wealthy.
It said he’d built his empire himself. From nothing. And fast.
One of New york’s youngest and richest bachelors.
In the first photo, he stood in front of a floor-to-ceiling window with behind him. Arms crossed. Expression cold.
The image screamed money.
Power.
Control.
I scrolled.
My eyes nearly popped out of my head.
Billionaire.
Owner of Knight Enterprises.
CEO of Magical one of the biggest talent agencies in New york.
In the world.
Anyone signed to Magical had already made it.
That building was a dream most people would never even stand inside.
If I got in…
TV shows.
Movies.
No more dead-end commercials airing at midnight.
No more scraping by.
No more begging.
I sucked in a breath.
I was done running.
I was done hiding.
This was my only move left.
I tapped the call button.
Grayson Knight.
"Bun,..""Keputusanku untuk bercerai sudah bulat Pak Adi yang terhormat, sabarku cukup sampai disini." Zoe berbalik membelakangi suaminya dan hendak berlalu. Tetapi ucapan Adi berhasil mengurungkan niatnya."Apa jika aku menyerahkan diri, kamu bersedia menungguku bebas?"Zoe tertegun sejenak karena ucapan suaminya. Laki-laki yang selama ini begitu tegas dan keras, bagaimana bisa merendah.Yudhistira menatap wajah papanya dengan sendu."Usia kita tidak lagi muda, hidup sampai besok saja belum tentu, mengapa harus menunggu sesuatu yang tidak pasti." Zoe tidak seketika luluh."Bun, Papa mohon!" Adi menekuk lututnya dan menunduk di belakang tubuh istrinya. Tanpa perduli di lihat oleh beberapa anak buahnya, termasuk Yudhistira."Pa." Yudhistira ingin membantu Adi berdiri tetapi Adi menolaknya. "Biarkan bunda mu tahu jika laki-laki ini sangat mencintainya, aku memang pernah salah ucap dengan mengatakan kata seandainya, tetapi ucapan itu hanya sedikit keegoisan. Nyatanya itu tak mengurangi k
"Jangan main-main Winda." mata Arjuna terbelalak saat Winda mendekatkan mata pisau di pergelangan tangannya sendiri.Negosiasi perceraian secara baik-baik tidak berjalan lancar. Winda tetap tidak mau Arjuna menceraikannya."Aku hanya perlu mati agar tak semakin sakit hati melihatmu tergila-gila dengan mantan!""Kamu salah paham. Aku ingin bercerai denganmu bulan karena Nimas tapi,..""Karena anak wanita itu, iya kan?"Arjuna mengusap wajahnya merasa frustasi berdebat dengan Winda hanya membuatnya semakin sakit kepala."Vanilla darah dagingku, dia anakku. Itu adalah faktanya." suara Arjuna memelan bersamaan dengan lelaki itu yang melangkah pelan mendekati Winda."Aku nggak perduli, kau yang janjikan kebahagiaan untukku, tetapi nyatanya kau hanya memprioritaskan kepentingan anak itu." Tubuh Winda bergetar, wanita itu terlihat sangat menyedihkan.Konsentrasi Winda mulai goyah, kesempatan itu dimanfaatkan Arjuna untuk menepis pisau di tangan Winda.Pergerakan Arjuna yang cepat mengejutkan
Adi seperti di paksa menelan ratusan pecahan kaca bulat-bulat, tidak hanya mulutnya yang terluka lambungnya pun terkoyak karena terlampau parah luka yang di derita.Ungkapan penyesalan sang istri seperti memukul telak harga dirinya.Adi lupa. Jika pengakuan Zoe setara dengan perkataannya yang menyinggung perihal istrinya yang terlalu lama membuatnya nunggu sehingga usia Zoe mempengaruhi mereka tidak bisa memiliki keturunan.Apa sebenarnya arti kecewa? Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya atau tidak diberi kepastian saat mengawali hubungan?Bagaimana dengan sebuah hubungan, yang dimulai baik-baik antara dua manusia harus disisipkan kebohongan demi mewujudkan sebuah luka dimasa depan?Menikah atas dasar saling menerima. Tidak ada ada yang menolak untuk melangkah ke jenjang yang serius.Namun, setelah belasan tahun, saat seharusnya mereka menikmati masa tua, semua justru menimbulkan perpecahan.Hingga klimaks, di usia pernikahan yang harusnya semakin kokoh.Lontaran kata yang tidak akan
Mobil Yudhistira baru saja memasuki area perumahan, ketika iring-iringan mobil pejabat menghalangi jalannya. Tidak perlu mencari tahu siapa yang berada di dalam mewah yang berhasil menghambat perjalanannya. Karena dari mobil berplat nomor pilihan itu keluar seorang pria yang langsung mengetuk kaca mobilnya. Alih-alih membuka jendela, Yudhistira memilih turun, dan menemui Papa sambungnya. Tetapi Adi membuka bagian pintu penumpang. "Kamu tidak mengangkat teleponku." "Apa itu perlu? " Amarah laki-laki itu sudah dipendam sejak kemarin. Jika ia marah sekarang, Bukankah hal yang wajar? Adi menoleh menatap Yudhistira. "Kamu juga tidak ada di kantor. Meeting? " Adi mendecih. "Apakah ada pertemuan di luar, benarkah itu bisnis? " "Aku tidak ingin berdebat dengan mu." Zoe membuka pintu mobil ingin keluar. "Aku belum selesai bicara, Zoe." tegas nada bicara Adi tidak membuat Zoe takut. "Jangan membentak Bunda!" Yudhistira mengingatkan Adi. "Kamu diam!" Adi tak suka ada seseorang yan
Nimas baru keluar kamar saat tiba waktu makan malam.Dimeja makan sudah ada Arjuna dan Winda yang tengah menikmati hidangan tanpa perduli pada Nimas yang masih merupakan nyonya rumah disini.Sekuat-kuatnya hati Nimas jika terus-terusan melihat suami dan pelakor berbahagia diatas penderitaan yang di
Mata Nimas yang bersirobok dengan netra milik Bisma memburam. Nimas menutup wajah dengan kedua tangan. Tangisan yang keluar, gambaran dari betapa dia begitu rapuh dan butuh sandaran.Bisma mengurungkan niat untuk mendekat. Dia memilih membiarkan Nimas untuk menyelesaikan tangisannya dulu agar lebih
Kepergian Arjuna dan Winda dimanfaatkan Nimas untuk mencari lowongan kerja. Tak hanya itu, dirinya juga mulai mencari-cari kost murah untuk ditinggali sementara.Setelah mendapat pukulan dua kali dari Arjuna, keinginan untuk memberi tahu pria itu tentang kehamilannya sirna sudah.Biarlah benih Arju
Sore itu Nimas makan ditemani oleh pria yang menjadi adik iparnya. Sejak sapaan yang hanya Nimas jawab 'baik’ atas pertanyaan pria itu, Bisma tak lagi bicara. Meski demikian, Nimas bersyukur, karena perasaan dan emosinya sungguh sedang tidak bisa diajak basa-basi."Arjuna sudah di jalan." penuturan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews