LOGINWarning: Adults Only (18+). Dive into these pages at your own risk—these stories are unapologetically steamy, filled with raw desire, intense passion, and explicit encounters that will set your pulse racing. If you’re under 18 or easily shocked, turn back now and for the rest enjoy the heat. Enter a world of forbidden desires and unbridled lust, it contains graphic BDSM.
View MoreHari ini… hari yang tak pernah kubayangkan akan menjadi milikku. Sebuah pernikahan yang sunyi. Dalam perjumpaan pertama kami sebagai suami istri, aku bahkan tak berani menatap wajahnya. Bukan karena benci. Tapi karena malu. Karena aku merasa terlalu kotor untuk seseorang sebaik dia. (Kata hati, Alika).
Alika duduk terpaku di salah satu sudut masjid kecil itu. Masjid yang hanya berhiaskan lampu neon pucat dan karpet hijau tua yang usang. Tak ada dekorasi. Tak ada bunga. Tak ada kain putih menjuntai dari langit-langit. Yang ada hanyalah langit malam di luar jendela, dan hati yang bergemuruh karena takut dan luka.
Dia menggenggam erat telapak tangannya sendiri—seolah hanya itu yang mampu membuatnya tetap berdiri. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Mata terpejam, dada sesak. Malam ini bukan malam penuh bintang. Bukan malam impian dalam balutan gaun indah. Tidak ada senyum keluarga, apalagi iringan musik cinta.
Yang ada hanyalah sunyi yang menggema, memantul di antara dinding masjid dan suara hatinya yang hancur perlahan.
Dia menundukkan kepala sejak tadi. Menolak melihat siapa pun. Terlalu malu. Terlalu sakit. Terlalu rusak.
Tidak ada prosesi lamaran. Tidak ada pesta. Tidak ada mahar impian seperti yang ia bayangkan sejak remaja. Yang ada hanyalah pengakuan pahit, air mata yang kering, dan keputusan mendadak yang membuat semua orang tercengang.
Dia telah menghancurkan masa depan. Bukan hanya dirinya, tapi juga seorang lelaki yang tak seharusnya terseret ke dalam kubangan ini.
Sadewa.
Saudara kandung dari laki-laki yang mencoreng harga dirinya, adik dari lelaki yang membuat hidupnya runtuh dalam satu malam.
Alika terlalu mudah percaya. Terlalu buta melihat niat jahat di balik senyum manis Bagas. Laki-laki tampan dan mapan itu datang dengan janji, memberi harapan… lalu menghancurkannya hingga tak bersisa. Dan kini, hanya karena satu malam penuh dosa, Alika harus menanggung segalanya. Bukan hanya aib, tapi juga nyawa kecil yang tumbuh dalam tubuhnya.
Tapi dia tidak sendiri.
Ada Sadewa. Laki-laki tenang, dewasa, dengan tatapan dalam yang sulit ditebak. Dia berdiri di barisan depan—menggenggam tanggung jawab yang seharusnya bukan miliknya. Bukan karena cinta, tapi karena adab dan harga diri. Karena dia tahu, bila bukan dia… maka siapa lagi?
Alika terlalu malu untuk menatap wajahnya. Bahkan saat lelaki itu melangkah masuk ke ruangan, Alika menunduk lebih dalam. Sadewa terlalu bersih. Terlalu suci untuk disentuh oleh perempuan sepertinya. Perempuan yang telah dihancurkan oleh dosa, oleh kebodohan sendiri.
Lalu, desas-desus mulai menyelinap...
“Buru-buru sekali ya...”
“Pasti ada yang disembunyikan...”
Bisikan-bisikan itu seperti silet yang mengiris pelipisnya. Dingin, tajam, dan menyakitkan. Tapi Alika hanya diam. Diam yang menenggelamkan. Diam yang membuat napasnya seolah mengendap di dalam dada. Tak ada pembelaan. Tak ada keberanian untuk menjelaskan.
Karena untuk apa?
Semuanya telah terjadi.
Lantunan ayat suci berganti dengan suara pembawa acara. Alika menggigit bibirnya. Tangannya gemetar, menggenggam erat kain bajunya. Akad itu... sebentar lagi. Dia ingin berlari. Ingin menghilang. Tapi tubuhnya seperti dibekukan oleh rasa malu yang menjalar sampai ke sumsum tulang.
Perutnya memang belum membesar. Tapi dia tahu... ada kehidupan di sana. Bukti dari cinta yang salah. Bukti dari dosa yang tak bisa dihapus. Bukti dari pengkhianatan terhadap kepercayaan.
Dan saat suara itu terdengar, lantang dan tegas:
“Saya terima nikah dan kawinnya...”
Kalimat itu menghantam dadanya seperti badai. Alika ingin menolak, ingin berteriak bahwa ini bukan jalan yang ia inginkan. Tapi segalanya telah diputuskan. Sadewa kini adalah suaminya. Imamnya.
Tangisnya tumpah.
Tanpa suara, tapi deras. Air mata luruh bersama takdir yang tak bisa diubah.
Dan ketika akad selesai, ketika semua mata memandang, langkah kaki Sadewa mendekat perlahan. Suara baritonnya menyayat keheningan malam.
“Assalamualaikum, ya ukhti.”
Tangannya terulur. Sekokoh baja, namun selembut belaian angin malam.
“Mari kita pulang, Alika.”
Untuk pertama kali, Alika mengangkat wajahnya. Menatap mata lelaki itu. Mata yang tidak ia kenal, tapi kini harus ia percaya. Mata yang bukan milik cinta pertamanya, tapi kini menjadi tempat pulangnya.
Dan dalam diam itu, ketika angin menerpa wajah dan selendangnya menari lembut di udara, satu helai daun jatuh perlahan dari langit. Menyentuh tanah seperti takdir yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz.
Karena memang tak ada satu pun yang terjadi kecuali telah digariskan.
Termasuk kisah Alika.
Yang menikah bukan karena cinta,
Tapi karena aib yang harus ditebus Dengan ketulusan seorang lelaki bernama Sadewa. ---Dan pada akhirnya…
Di titik paling sunyi dari hidupku—di mana semua cahaya tampak padam, dan hanya ada kabut yang menggulung-gulung di antara nadi dan napasku—kita berdiri berdua, sebagai sepasang suami istri. Tapi jangan bayangkan kebahagiaan yang hangat seperti kisah cinta dalam dongeng. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada senyum manis penuh harap, tidak ada genggaman tangan yang bergetar karena jatuh cinta. Yang ada hanyalah kesenyapan panjang yang menggantung di antara kita, menggema di dinding hati yang sudah lama retak.
Tanpa ikatan cinta. Tanpa getaran bahagia. Tanpa harapan yang biasanya ditanamkan pasangan yang menatap masa depan bersama. Dan aku tahu… ini bukan pernikahan yang kau harapkan, bukan pula impian yang kau rajut sejak remaja. Ini adalah pernikahan karena keadaan. Karena aib. Karena luka yang harus ditutupi agar tak menganga di hadapan dunia.
Maaf.
Mungkin hanya itu satu-satunya kata yang mampu kubisikkan kepadamu, Sadewa. Sebuah kata sederhana yang takkan cukup untuk menjelaskan betapa aku menyesali semua ini. Karena menjadi perempuan yang kehilangan kesuciannya, aku tahu… aku tak lagi pantas memilih siapa imamku. Aku hanya mampu menunduk, menerima takdir, dan menggenggam kenyataan bahwa engkau kini berdiri di sampingku—bukan karena cinta, tapi karena tanggung jawab. Karena luka yang kutoreh, engkau memilih menjadi perban, meski tahu darah ini bukan berasal darimu.
Kau bukan imam yang pernah kuimpikan hadir dalam tidur-tidur panjangku yang penuh harapan. Tapi ketika semua orang menjauh, mencibir dan mengutuk, engkau justru datang. Diam-diam mengulurkan tangan, bukan untuk menyentuh luka, tapi untuk menutupinya. Menawarku tempat berteduh dalam badai, meski tahu atapnya rapuh.
Kadang rencana Allah terlalu rumit untuk dipahami dengan logika kecil manusia seperti kita. Kadang, jalan yang terlihat buruk justru menyimpan kemuliaan yang tak bisa ditebak. Dan kini, di hadapan langit dan bumi yang menjadi saksi bisu atas akad kita tadi malam, hanya satu kata yang mampu kulantunkan kepadamu, Sadewa:
Terima kasih.
Terima kasih karena bersedia memikul aib yang bukan milikmu. Terima kasih karena memilih menjadi suamiku, bukan karena engkau menginginkanku, tapi karena kau tahu aku takkan sanggup berjalan sendiri. Terima kasih… karena bersedia menjadi ayah dari anak yang bukan darahmu, tapi akan lahir dengan namamu di belakangnya.
Dengan tulus yang masih kutemukan di sisa-sisa jiwaku yang remuk.
Alika.
I woke up in Uncle Ken’s big bed a few hours later. My body felt sore in the best way possible. My pussy was still leaking his cum, and my nipples were sensitive from all the sucking and biting. Uncle Ken wasn’t in the bed anymore, but I could hear sounds coming from downstairs.I got up, still completely naked like he ordered, and went down. He was in the kitchen, now wearing a tight black tank top that showed off his massive arms and chest. He looked at me and smiled darkly.“Still hungry for more?” he asked.I nodded shyly, walking over to him. He pulled me close and kissed me hard, his big hands squeezing my ass.“Today we’re going to train your mouth and your ass a little,” he said casually, like it was normal. “But first, you’re going to cook lunch for me. And you will be cooking naked.”I spent the next hour cooking rice and fried chicken while he sat at the table watching me. Every time I bent over to get something, he spanked my ass or fingered my pussy from behind for a few
Breakfast was torture. I sat naked at the table while Uncle Ken ate like nothing was happening. Every time I moved, my wet pussy rubbed against the chair. My nipples stayed hard the whole time. He kept looking at my body with hungry eyes but stayed in complete control.After we finished eating, he stood up.“Come to the living room,” he said.I followed him. My heart was pounding. He sat on the big couch and pointed between his legs.“On your knees.”I dropped down immediately. My hands trembled as I reached for the waistband of his sweatpants. He lifted his hips, and I pulled them down. His cock sprang free.It was huge. Thick, long, and rock hard with heavy balls hanging below. The head was swollen and already leaking precum. I stared at it in awe.“Suck it,” Uncle Ken ordered, grabbing the back of my head gently but firmly.I opened my mouth wide and took him in. He was so thick I could barely fit half of him at first. I sucked eagerly, using my tongue to swirl around the head and
I barely slept that night. My ass was still warm and sore from Uncle Ken’s spanks, and my pussy wouldn’t stop throbbing. Every time I closed my eyes, I saw his massive chest, those hard abs, and the huge bulge in his trousers. I wanted to touch myself so badly, but I was scared he would know. So I just lay there, horny and frustrated, until the sun came up.The next morning, I woke up to the sound of heavy footsteps outside my door. I quickly pulled the blanket over my naked breasts. The door opened without knocking.Uncle Ken walked in wearing only a pair of gray sweatpants that hung dangerously low on his hips. His upper body was bare again, muscles looking even more powerful in the morning light. A slight sweat already glistened on his skin like he had just finished working out.“Morning, Hilda,” he said calmly, his deep voice filling the room. “Did you sleep well?”I shook my head, biting my lip. “Not really… I was too uncomfortable.”He smiled slightly, like he knew exactly why.
Uncle Ken stood there looking at me for a long moment. The silence in the house felt heavy. My parents were gone. No one else was around. It was really just me and this huge, muscular man who was staring at me like he could see right through my clothes.“Go sit on the bed,” he ordered.His voice was deep and left no room for argument. I obeyed without thinking, sitting on the edge of the bed with my legs pressed tightly together. My short skirt had ridden up a little, showing more of my smooth thighs. Uncle Ken’s eyes moved down to my legs for a second before returning to my face.He pulled a wooden chair from the corner and sat down right in front of me, his thick thighs spread wide. His bare chest and abs were still on full display. I tried not to stare, but it was impossible. Every time he breathed, his muscles moved. That V-line disappearing into his trousers was driving me crazy.“First rule,” he started. “When I speak, you look me in the eyes. Not at my body. Understand?”“Yes,
I told myself I was only going for the project.That was a lie.Saturday afternoon I stood outside Raymond’s off-campus house, heart hammering. The place looked exactly like him — dark, a little rough, music thumping faintly from inside. I knocked twice.He opened the door shirtl
I avoided him for two days after that.Every time he entered a room I left it. I wore the shortest silk robes on purpose, bending slowly to pick up nothing in particular, letting the hem ride up until the curve of my ass showed. He never looked longer than a professional second. His eye
Chapter 1~ Rose ~I hated Michael from the second he stepped into my penthouse.The agency forced him on me after the latest stalker left a used condom taped to my dressing-room mirror.“Temporary protection,” they called it. I called it bullshit. I’d built this life—runways
Two days later, I couldn’t stay away anymore.It was Friday night. I had tried to distract myself with gym, beers with friends, even a cold shower, but nothing worked. Every time I closed my eyes, I saw Maya’s big, round ass in those tiny denim shorts. The way her tank top had clung to her fu












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.