LOGINHugo Laurent is determined to have me as his wife. He pursues me for a decade, resolute in winning my heart. But the night before our wedding, I overhear his conversation with his friends. "Are you going to marry Katherine just like that? What about your secret girlfriend?" Hugo is silent. Then, he says, "She's just a stand-in. She can't compare to Katherine. I'll consider keeping her by my side if she doesn't kick up a fuss. Katherine's generous—she won't mind." The following day, his secret girlfriend crashes our wedding and causes a stir. She shoves me off the stage, but Hugo darts toward her to protect her—she holds a jagged shard of glass to her neck and threatens suicide. "Are you going to choose me or her?" Hugo panics. He shoves me aside despite my injuries and snaps, "Get out of the way—I need to take her to the hospital! I'll make you pay if anything happens to her!" My heart dies in that instant. That very night, I purchase a flight ticket out of the country and leave him behind.
View MoreSANTET CE-LA-NA DALAM 1
PINDAHKAN JEMURAN KE DALAM RUMAH SEBELUM MALAM, TERUTAMA PAKAIAN DALAM! *** NANA SHAMSY***"Maaf Mbak Darsih, bukan saya mau menolak lamaran Galih, tapi saya sudah punya calon suami," jawab Kemuning."Ning, beneran kamu sudah punya calon?" tanya Aji kepada adiknya.Kemuning menoleh mengangguk kepada kakaknya, "Iya, Mas. Arkan--yang pernah main ke sini dua bulan yang lalu, Mas masih ingat, kan?"Aji mencoba mengingat, kemudian ia mengangguk. Dua bulan yang lalu seorang pemuda tampan dengan kepala plontos datang ke rumahnya. Setau Aji pemuda itu akan berangkat menempuh pendidikan militer sebagai calon TNI."Arkan calon TNI bukan?" tanya Aji memastikan. Darsih yang mendengar kata TNI sedikit kaget, ia melirik Galih-adiknya. Pun juga Galih, tiba-tiba saja ia merasa minder. Nining pasti lebih memilih pemuda itu jika dibandingkan dirinya."Kita pulang saja, Mbak," ajak Galih tiba-tiba membuat Kemuning semakin tak enak hati."Galih ... Aku nggak bermaksud--""Nggak papa Ning. Aku tahu, aku ini apa, kerjaanku cuma kuli dan serabutan. Kamu lebih pantas dengan Arkan, masa depan kamu pasti terjamin jika bersamanya," tekan Galih.Aji yang mendengar perkataan Galih tak tinggal diam. Ia membela adiknya. Kemuning dan dirinya bukan tipe orang seperti itu, memandang seseorang dari status sosialnya. Bagi Aji, calon suami adiknya haruslah pemuda baik-baik yang mengerti tentang agama dan rajin bekerja, sopan santun dan ber-atitude, itu saja sudah cukup."Bukan begitu Gal, Nining hanya-" Aji mencoba memberi penjelasan, tetapi Galih memotong ucapan Aji."Sudahlah Mas Aji, nggak papa kok. Lagian ini salahku, aku terlalu lancang melamar Nining. Dia cantik, kulitnya putih bersih, baik, pintar dan saleha. Harusnya aku sadar diri dan bercermin terlebih dahulu. Mbak, ayo kita pulang!" Galih bangkit dari duduknya, diikuti Nining dan Aji."Baiklah ayo kita pulang, semua sudah jelas, Nining menolak lamaranmu karena kita miskin! Tapi lihat saja nanti, kupastikan kalian akan menyesal karena sudah menolak lamaran ini. Roda kehidupan akan berputar, nggak selamanya yang miskin bakal terus miskin! Ingat itu!" tekan Darsih marah."Bukan begitu, Mbak.""Halah, coba saja kami kaya, pasti kamu akan terima lamaran adikku, nggak usah munafik," cecar Darsih makin menjadi."Mbak Darsih tolong dijaga ucapannya. Nining sudah menjelaskan alasannya.""Ya, sudah. Kita lihat saja nanti, siapa yang bakal menyesal." Darsih menghentak kaki kemudian pergi tanpa mengucap salam."Mbak tunggu!" Galih bingung harus berbuat apa, bukan seperti ini yang ia harapkan. Meski ia memang kecewa akan jawaban Nining. Akan tetapi ia juga tak mau memaksa Nining, apalagi sampai membuat Nining membencinya."Mas Aji, Ning, aku minta maaf atas sikap Mbak Darsih. Aku permisi dulu assalamualaikum. Mbak tunggu!" Galih pun pergi mengejar kakaknya yang sudah semakin jauh."Mas." Kemuning memegang lengan tangan kakaknya dengan perasaan kalut, ia kawatir kemarahan Darsih akan berdampak buruk baginya."Sudahlah nggak papa, toh kita sudah bicara baik-baik kalau mereka tersinggung itu urusan mereka," kata Aji. Meskipun begitu Nining tetap saja merasa tak enak hati. Galih adalah pemuda yang baik di mata Nining. Sayangnya Nining sudah punya kekasih, selama ini Nining memang tidak mengumbar hubungannya dengan Arkan, ia ingin hanya dia, Arkan, dan Allah saja yang tahu. Satu lagi, Masyita atau Ita sepupu Nining.Semenjak ke dua orang tua Nining meninggal, Ita selalu menjadi tempat ternyamannya dalam berbagi cerita selain Aji-kakaknya. Di tambah usia mereka yang seumuran, juga sekolah mereka yang selalu sama. Kini mereka sudah lulus sekolah, Ita bekerja di sebuah minimarket dan akan pulang seminggu sekali, sedangkan Nining memilih menjadi guru ngaji anak-anak di kampungnya dengan biaya seikhlasnya. Ia akan mengajar ngaji dari asar sampai menjelang magrib di mushola tak jauh dari rumahnya.***Malamnya Nining merasa sangat gelisah, ia tidak bisa memejamkan mata memikirkan kata-kata terakhir Darsih yang seakan memberikan ancaman. Ia sangat takut, keputusannya sudah melukai hati Darsih dan Galih."Ya, Allah." Nining meraup wajahnya, ia menghela napas dalam sebelum akhirnya memutuskan untuk salat malam dan berdzikir saja untuk menenangkan hatinya. Meminta maaf kepada Allah SWT jikalau dia tanpa sengaja berbuat salah.Pagi harinya, ketika ia berpapasan dengan Darsih di jalan, ia mencoba menyapa Darsih. Akan tetapi, Darsih melengos begitu saja, seakan tidak mau mengenal dirinya."Mas tadi saat aku ketemu Mbak Darsih, aku nyapa dia, tapi Mbak Darsih nggak mau menjawab sapaanku, Mas," cerita Nining sambil mengeluarkan sayuran yang baru saja ia beli dari kantong plastik. Ia baru saja pulang dari belanja, selanjutnya menyiapkan sarapan untuk kakaknya karena kakak iparnya sedang tidak ada di rumah. Bagi Nining--Aji adalah Ibu sekaligus Bapak, selama ini ia-lah yang merawat dan memenuhi segala kebutuhannyaAji menghela nafas berat lalu meletakkan cangkir kopi di meja, " Biarin aja Ning, yang terpenting kita nggak bermaksud jahat pada mereka. Kita sabar aja Insya Allah semuanya akan baik-baik aja, seiring dengan berjalannya waktu semuanya akan kembali seperti dulu. Mungkin sekarang ini Mbak Darsih masih merasa sakit hati," kata Aji memberi penjelasan."Iya, Mas."***"Jadi, Galih melamar kamu, Ning?" seru Ita yang baru saja pulang. Biasa, ketika Ita pulang Nining akan menceritakan hal apapun padanya, seperti sore ini. Nining sudah tak sabar berbagi cerita dengannya."Iya, tapi aku, kan sudah punya Arkan, aku jadi nggak enak dengan Galih. Aku yakin dia pasti kecewa berat padaku," jawab Nining. Ia merangkul boneka sapi milik Ita dan merebahkan diri di sebelahnya."Tenang, Galih itu kan, baik banget. Aku yakin, dia hanya marah sementara waktu. Kita kenal Galih dari kecil kan. Mana bisa Galih marah," jawab Ita."Kamu benar, Ta, tapi kita tak pernah tahu bagaimana dalamnya hati seseorang, kan?" Nining mengubah posisi miring ke arah Ita."Ini hanya proses pendewasaan diri. Galih pasti bisa menerima," kata Ita dengan senyum khasnya. "Maskeran yuks," ajak Ita. Ia bangkit meraih tas nya, lalu melempar bungkus masker kepada Nining."Thank U," jawab Nining. Kedua saudara itu lantas menghabiskan waktu bersama. Malam itu Nining memutuskan untuk tidur di rumah Ita. Rumah mereka memang berdampingan, oleh sebab itu mereka menjadi begitu dekat sedari kecil.Ita hanya satu hari di rumah, karena hari Senin ia harus kembali bekerja, jadi Minggu sore Ita sudah pergi lagi. Nining merasa kesepian di rumah, Yasmin--kakak iparnya masih belum kembali karena bapaknya sedang sakit. Ia akan di rumah orang tuanya sampai keadaan orang tuanya membaik.Dua Minggu berlalu semenjak lamaran itu datang hampir setiap hari Nining tidak bisa tidur dengan nyanyak. Entah mengapa rasanya ia begitu gelisah.***"Ini Ki." Seorang wanita memberikan benda berupa ce_la_na dalam Nining sebagai syarat utama kepada seorang dukun. Ce_la_na dalam tersebut akan digunakan sebagai media santet. Santet yang sangat kejam. Si korban akan dibuat merasakan naf-su yang mengebu-ngebu kepada lawan jenis. Naf-su yang tak bisa ditahan dengan cara apapun.Kamis wage, tepat di hari kelahiran Nining, namanya disebut diikat dengan mantra jahat. Kemudian santet itu ditanam pada sebuah tempat yang sulit ditemukan agar tak ada seorang pun yang bisa membebaskannya kecuali sang dukun. Untuk melakukan ritual ini Sang Dukun pun telah melakukan puasa tujuh hari tujuh malam."Apakah sudah selesai, Ki?""Kamu bisa buktikan esok hari, jawab Sang Dukun." Matanya liar menatap wanita yang berada di hadapannya.Sekarang saatnya ia meminta bayaran yang dijanjikan oleh perempuan itu, karena ia tak sanggub membayar Ki Darma. Maka ia dengan rela memberikan tubuhnya kepada dukun itu.***Angin berhembus menghempas wajah Nining yang tengah tertidur lelap. Tangan-tangan nakal menge-ra-yangi dirinya, menyentuh setiap daerah terlarang membuatnya hilang kendali. Napas Nining tersenggal-senggal. Tanpa sadar de-sa-han kecil keluar dari bibir manisnya.Sesosok laki-laki tiba-tiba saja muncul di pelupuk matanya. Nining menikmati setiap sen-tu-han dan rang-sang-an yang diberikan lelaki tersebut."Ah." Nining mengigit ujung bibirnya. Tubuhnya mengenang, ke dua tangannya mengebal kain sprei hingga tertarik berantakan."Ning." Suara lelaki itu mampu membuat bulu halus di seluruh tubuh Nining meremang."Mas." Nining memeluk lelaki tersebut. Melilitkan tangannya di punggung dan di leher lelaki tersebut."Nining.""Iya, Mas.""Aku mencintamu." Bibir, dagu, tengkuk leher, sampai gundukan kembar Nining basah tak luput dari sentuhan hangat bibir lelaki tersebut.Tubuh Nining meregang, mengeliat, dan menari dalam buaian semu. Begitu berada di puncaknya lelaki itu menggodanya dengan meninggalkan Nining yang tengah hanyut dalam lautan naf-su begitu saja."Kejar aku, Ning," bisik lelaki itu di daun telinga Nining. Ia lantas melepaskan pelukan Nining."Mas.""Kejar aku."Nining mengejarnya, seperti permainan dua bocah di dalam kamar. Nining berlarian mencoba meraih lelaki itu. Mereka tertawa terbahak bersama. Hingga sebuah tangan kekar berhasil mencekal pergelangan tangan Nining. Bersamaan dengan itu lelaki tadi menghilang."Lepaaaaas!" Nining memberontak hebat."Astaqfirullahaladzim, Ning. Eling, Dik! Istiqfar!" Aji membungkus tubuh adiknya yang tanpa sehelai kain pun menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia memeluk Kemuning dengan erat setelah berhasil mengejarnya sampai di ujung jalan, lalu menggiringnya pulang tanpa peduli dengan tatapan sinis para tetangga.Adikku tidak gila!***BERSAMBUNG"The moment I leave, you're already with someone else? Were you cheating on me the whole time? Otherwise, how could you move so quickly?" Hugo snapped."That's none of your business," I replied calmly."But remember this—I'll be with anyone, just never with you."With that, I hung up, leaving Hugo screaming hysterically on the other end.Maybe that post really did cut deep.For a long time, he disappeared from my world.Meanwhile, I focused entirely on my research, publishing a paper in a top-tier journal and winning an academic achievement award.When Professor Harrington found out, he patted my shoulder with deep satisfaction."Kath, I always knew you had potential. You were born for academia. When you left to get married, I was devastated but powerless to stop you. I'm just glad you're back."I didn't say anything. I just smiled and nodded in agreement.That year, at the university's graduation ceremony, I was naturally selected to give the keynote speech as the outstandin
Hugo choked on his words, staring at me in disbelief.He didn't understand why I was treating him like this, but this was exactly how he had treated me before.I thought he would get the message and back off.Yet, to my surprise, he didn't leave.In fact, he clung to me even more persistently than when he first chased after me.I let out a sigh. "As expected. What you can't have is what you want the most. Once you have it, you stop treasuring it, don't you?"Hugo froze. "What?"When he finally processed what I meant, his expression darkened."Katherine, how could you think that? When have I ever not cherished you?"Haven't I been good enough to you? Tell me, what have I not given you? Where have I not taken you? Just because I stayed by Sophia's side for a few days, you have to blow it out of proportion like this?"I didn't answer his question.Instead, I shrugged, smiling faintly. "If that's what you think, then there's nothing I can do about it. How about this—I'll agree t
The sticky note slipped from Hugo's fingers.He immediately picked up his phone and called the bodyguard from earlier. The moment the call connected, he asked impatiently, "Regarding that letter you found, are you sure Katherine wrote it? Where did she go?"The bodyguard replied, "Mr. Laurent, it's real. I checked the surveillance footage—Ms. Blake left it at the entrance and then walked away."The letter said she was breaking up with you and returning overseas. That's why I asked if you wanted to go after her."But since your heart is now with Ms. Mendes, it doesn't really matter—""Shut up! What the hell do you know?" Hugo snapped."Find out which flight Katherine took, right now! I need to go after her!"He hurriedly grabbed his coat and rushed toward the door.But before he could leave, Sophia stirred awake, groggily stumbling after him.She grabbed onto his arm, pressing herself against him as she mumbled, "Hugo, shouldn't we spend our wedding night together?"Hugo shove
Hugo snapped back to reality, instinctively nodding his head."I didn't think Katherine was the type to pull something like this. Turns out I was wrong about her. Using such a cheap trick is beneath her."We'll continue the ceremony. Ignore her."With that, he slid the ring onto Sophia's finger.Then, he lowered his head and placed a kiss on her forehead.Sophia beamed and asked, "Hugo, are you willing to spend the rest of your life with me?"Hugo instinctively wanted to correct her—after all, he had only promised to give Sophia a wedding ceremony and nothing more.Spending a lifetime together was never part of the deal.He had always planned to share forever with Katherine, but when the words reached his lips, he changed them. "I do."Thunderous applause filled the hall, yet Hugo felt an inexplicable emptiness inside.His gaze swept across the crowd, searching for a familiar figure, as if waiting for someone to jump out and tell him this was all a joke.But he found nothing
After stepping out of the taxi, I walked into the airport.I unlocked my phone and saw a message from Isabelle. She told me that Professor Harrington was willing to hold my previous position for me.I let out a sigh of relief and immediately replied that I would report in tomorrow.After everythi
When Hugo turned to look at me, his expression changed drastically. "What are you doing here? I don't think Mom invited you today!"Before I could respond, he grabbed my arm and started pulling me outside.I was still on crutches from my fracture, and his force nearly made me fall. Struggling to s
My hand was yanked violently, causing the IV needle to stab deeper into my skin, sending a sharp pain through me.But I didn't answer him right away. Instead, I asked, "Why do you want my ring?"That ring was something I had painstakingly designed myself. It had taken me months to handcraft it. It
"Katherine Blake, can't you just sign the surgery consent form yourself? Do you really need to call me so many times for this?"Just because Sophia got hurt, does that mean you had to go and break your own bones too? I'm exhausted enough as it is—stop adding to my troubles, will you?"Hugo Laurent












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews