Short
Von Donna zur Ärztin: Mein Neustart

Von Donna zur Ärztin: Mein Neustart

Von:  KarenWAbgeschlossen
Sprache: Deutsch
goodnovel4goodnovel
11Kapitel
1.1KAufrufe
Lesen
Zur Bibliothek hinzufügen

Teilen:  

Melden
Übersicht
Katalog
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN

Zusammenfassung

Handlungswendungen

Tragische Liebe

Familienbande

Mätresse

Weibliche Stärke

Reue

Gesichtsschlag

Reuevolle Familie

Ohne es zu bemerken, war ich zur unsichtbaren Frau an der Seite meines Mannes Adrian Kane geworden, eines Dons der Mafia. Ich blieb zu Hause, versunken in der Hausarbeit, während er seine Sekretärin Viola überallhin mitnahm, eine Frau, die zehn Jahre jünger war. „Ich glaube, sie ist klug“, sagte Adrian einmal. „Sie weiß, wie sie mir helfen soll.“ Heute Nacht war unser zehnter Hochzeitstag. Im Wohnzimmer lagen ein elegantes Designerkleid und eine Halskette. Für einen Augenblick war ich glücklich. „Endlich“, dachte ich, „hat Adrian beschlossen, mich zum diesjährigen Mafia-Ball mitzunehmen und mich als seine Donna vorzustellen.“ Nur dass das Kleid und der Schmuck für Viola bestimmt waren. Später in jener Nacht erwischte ich Adrian, wie er heimlich mit Viola ins Haus schlich – beide betrunken, die Hände überall, völlig gleichgültig gegenüber meiner Anwesenheit. Ich brauchte nur einen einzigen Anruf. „Ich möchte dem Programm von Ärzte ohne Grenzen beitreten. Schicken Sie mich weg.“ Bevor ich Adrian heiratete, hatte ich eine Zukunft in der Medizin gehabt. Ich hatte alles für ihn aufgegeben. Und jetzt? Jetzt war es an der Zeit, mich für mich selbst zu entscheiden und alles hinter mir zu lassen, was mir ohnehin nie wirklich gehört hatte.

Mehr anzeigen

Kapitel 1

Kapitel 1

"Lihat ini, alamat rumah sudah aku temukan, kamu tinggal labrak aja ke sana." Dila menyodorkan sebuah tumpukan foto. Dengan perlahan Saras mengambil tumpukan foto tersebut, dan melihatnya satu persatu.

"Kamu terlihat begitu bahagia, Mas." Saras menatap foto tersebut satu persatu, rasanya sangat perih melihat suaminya sendiri tersenyum bahagia bersama wanita lain.

Setelah itu Saras mengambil kertas yang berisi alamat rumah suaminya itu. Sedetik kemudian, Saras terkejut setelah mengetahui alamat tersebut. Rumah yang pernah Rayyan beli setahun yang lalu, bahkan sertifikat rumah itu adalah atas nama dirinya.

"Ini kan alamat rumah yang pernah, mas Rayyan beli setahun yang lalu," ucap Saras. Seketika Dila tersentak, itu artinya Rayyan sengaja membeli rumah itu untuk istri mudanya.

"Jadi kamu tahu kalau Rayyan membeli rumah itu?" tanya Dila. Akan sangat mudah jika Saras tahu kalau suaminya membeli rumah yang sekarang di tempati oleh istri muda Rayyan.

"Iya, sertifikat juga atas namaku," jawab Saras. Mendengar itu Dila menganggukkan kepalanya, terlebih sertifikat atas nama Saras.

"Itu artinya kamu punya hak atas rumah itu, bahkan jika kamu mau, usir saja mereka," ujar Dila. Meski bukan dia yang mengalaminya, tetapi ia ikut geram dengan kelakuan Rayyan. Suami yang tak pernah bersyukur.

"Iya, bahkan aku sudah menyiapkan surat gugatan cerai. Tak rela aku wanita itu ikut menikmati harta yang susah payah aku kumpulkan selama ini," ungkap Saras, beruntung hampir semua aset menggunakan atas nama dirinya. Dengan begitu, Saras akan mudah untuk menyingkirkan benalu seperti mereka.

"Bagus, aku suka dengan cara kamu. Diam tapi mematikan," ujar Dila. Ia benar-benar salut dengan sahabatnya itu, meski tersakiti tetapi tetap tegar.

"Ya sudah, aku pulang dulu ya. Kalau kamu butuh bantuan, kamu tinggal bilang saja," ujar Dila seraya bangkit dari duduknya.

"Iya, kamu tidak perlu khawatir," sahut Saras. Setelah itu ia mengantarkan Dila sampai di teras rumah.

Baru saja mobil Dila menghilang dari pandangan mata, tiba-tiba mobil suaminya sampai di halaman depan. Sejujurnya Saras sudah muak dengan suaminya itu, tetapi ia harus bertahan hingga pesta bayi itu datang.

"Sayang lagi ngapain." Rayyan berjalan menghampiri istrinya, tak lupa kecupan lembut di kening Saras. Namun, entah kenapa sekarang Saras justru jijik dengan sikap romantis suaminya itu.

"Enggak, tadi Dila habis dari sini. Tumben jam segini udah pulang." Saras mengambil alih jas serta tas kerja milik suaminya itu. Setelah itu keduanya beranjak masuk ke dalam rumah.

"Iya, soalnya nanti sore aku harus ke luar kota urusan kerjaan," ujar Rayyan seraya terus melangkah, setibanya di ruang tengah pria berkemeja putih itu menjatuhkan bobotnya di sofa.

"Berapa lama, Mas?" nggak lama kok, paling cuma dua hari.

"Oh, kalau begitu aku siapkan baju dulu ya. Sama sekalian nyiapin air untuk mandi kamu," ujar Saras dan beranjak naik ke lantai atas.

"Oya, kamu nggak usah nyiapin baju. Soalnya di sana sudah ada baju yang dulu," ujar Rayyan. Hal tersebut, karena Rayyan memiliki beberapa apartemen di setiap kota di mana perusahaannya berada.

"Oh, ok." Saras mengangguk. Setelah itu ia beranjak naik ke lantai atas, di mana kamar mereka berada.

***

Hari telah berganti, dan hari yang ditunggu kini sudah tiba, di mana Saras akan datang ke acara pesta bayi suaminya bersama wanita lain. Pagi ini Saras sudah mempersiapkan semua, setelah semuanya siap, Saras bergegas pergi.

"Siap-siap saja kamu, Mas. Setelah ini kamu akan merasakan akibatnya," gumamnya. Saras melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Rasanya ia sudah tidak sabar lagi untuk sampai ke tempat tujuan.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, kini mobil Saras sudah berhenti di pelataran rumah. Suasana nampak begitu ramai dan meriah, setelah memarkirkan mobilnya Saras bergegas turun. Perlahan wanita berjilbab itu melangkah menerobos para tamu yang datang.

Mata Saras menatap lurus, di mana suaminya tengah berbahagia dengan istri mudanya. Bukan itu saja, ibu mertuanya pun demikian, memang sakit tetapi Saras harus bisa kuat menghadapi itu semua. Kini Saras sudah berdiri tak jauh dari Rayyan serta keluarganya.

"Selamat ya, Mas atas kelahiran putrimu. Mudah-mudahan putrimu kelak tidak mengikuti jejak orang tuanya." Saras mengucapkan selamat kepada suami serta madunya itu. Seketika mereka terkejut melihat kehadiran Saras, terlebih Rayyan.

"Sa-Saras." Terbata Rayyan menyebut nama istrinya, bahkan lidahnya terasa kelu. Dan detik itu juga mereka menjadi pusat perhatian oleh tamu undangan yang datang.

"Kamu tidak perlu kaget seperti itu, Mas. Kedatangan aku ke sini untuk mengantarkan ini." Saras menyodorkan koper yang berisi baju milik suaminya, bukan itu saja. Saras juga menyodorkan sebuah amplop kepada suaminya itu.

"Saras maksud kamu ini apa?" tanya Rayyan ia benar-benar tidak tahu apa maksud istrinya itu.

"Ini koper berisi baju milik kamu, Mas. Dan ini adalah surat gugatan cerai dariku. Oya satu lagi, karena sertifikat rumah ini adalah atas namaku, aku harap setelah acara selesai kalian pergi dari rumah ini. Karena aku akan menjualnya," jelasnya. Seketika Rayyan terkejut mendengar penjelasan dari istrinya itu. Bukan hanya Rayyan, tetapi istri serta keluarganya pun demikian.

Erweitern
Nächstes Kapitel
Herunterladen

Aktuellstes Kapitel

Weitere Kapitel
Keine Kommentare
11 Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status