kisses of vengeance

kisses of vengeance

last updateLast Updated : 2026-02-14
By:  SharonOngoing
Language: English
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
123Chapters
1.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Just when Anna thought she had won the heart of her husband and could be called a proper mistress after three years of mating, she was met with an ungodly sight. His business trip had been a lie, and she was going to pay for letting him leave for so many months. He was back with another Luna, and he had filed for a divorce, a basic rejection that she had to uphold. She could have walked away and taken over as the Alpha of the Flaming Moon pack, but he was way ahead, eliminating her and their unborn child silently after she had signed the paperwork. Her last wish was “a second chance for revenge.” The moon goddess hears her prayers and sends her messenger, the million-year demon. Anna is saved, trained to become stronger under his rule, and has taken another name, “Noelle,” with one mission in mind. Jake must go down!

View More

Chapter 1

1

"Sayang, ayo kita pulang."

Kata-kata itu terdengar begitu indah di telinga Liora.

Matanya berkaca-kaca saat menatap wanita paruh baya di hadapannya.

Selama dua belas tahun, Liora menunggu orang tuanya datang menjemputnya di desa ini. Hari ini, semua mimpi serta harapannya akhirnya terwujud.

Namun, ia hanya terdiam. Tatapannya perlahan beralih ke wanita tua yang berdiri di depan pintu.

Selama dua belas tahun, Bibi Nina-lah yang merawatnya.

Dua belas tahun yang lalu, saat Liora masih berusia lima tahun, ia tidak sengaja melakukan kesalahan terhadap kakaknya. Seluruh anggota keluarga marah dan berniat mengirimnya ke panti asuhan.

Namun, Bibi Nina menjadi satu-satunya orang yang membelanya. Wanita yang telah merawat Liora sejak bayi itu memohon agar ia tidak dibuang. Ia bersedia membawa Liora ke desanya dan mendidiknya sendiri.

Dan benar saja, Bibi Nina berhasil. Liora tumbuh menjadi siswa berprestasi. Ia telah lulus ujian sekolah dengan nilai tertinggi di negara itu, dan kini hanya tinggal menunggu pengumuman masuk universitas melalui jalur prestasi.

Wajah wanita tua itu kini tampak sangat sedih. Isak tangisnya terdengar jelas, tak tertahan.

Liora menatap ibunya, Nyonya Lely.

"Aku tidak mau pulang. Aku mau tetap di sini bersama Bibi Nina."

"Sayang, Bibi Nina juga ikut. Nanti beliau akan dijemput oleh sopir keluarga. Jadi kamu tidak perlu cemas. Semua barangmu juga akan dibawa," ujar Lely lembut, seraya mengusap rambut hitam Liora.

Liora tersenyum dan mengangguk. Ia mempercayai sepenuhnya kata-kata wanita yang telah melahirkannya.

Saat berpamitan, Bibi Nina tampak tak kuasa menahan tangis. Ia memeluk Liora erat, seolah tak ingin melepaskannya.

Liora tersenyum sambil mengusap air mata di wajah keriput itu.

"Akhirnya kita bisa hidup enak, Bi. Nanti setelah kuliah, aku akan cari kerja paruh waktu. Di kota banyak pekerjaan, tidak seperti di desa. Aku ingin membiayai hidup Bibi."

Tangis Bibi Nina semakin pecah.

"Bibi tidak mau..."

"Bibi sudah tua, tidak boleh bekerja terlalu keras lagi. Aku pulang dulu, ya. Nanti sopir Mami akan menjemput Bibi."

Itulah kenangan terakhir Liora bersama Bibi Nina.

Setelah hari itu, ia tidak pernah lagi bertemu dengan wanita yang telah merawatnya dengan penuh kasih.

Padahal, mereka pernah berjanji akan membuat hidup Bibi Nina bahagia—memberinya kehidupan yang layak, tempat tinggal yang nyaman, dan hari tua yang tenang.

Dua tahun berlalu .

Liora berada di dalam tahanan. Tempat yang seharusnya mampu menghancurkan seseorang.

Namun Liora… masih tetap bertahan di sana.

Duduk di sudut sel sempit, bersandar pada dinding dingin yang kasar, dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya.

Tangannya bergerak pelan.

Menulis.

Buku-buku dan peralatan tulis ini dikirim oleh bibi Nina. Wanita itu tahu bahwa Liora sangat suka menulis dan membaca.

Coretan demi coretan memenuhi halaman itu—rumus, skema, angka, dan simbol yang tampak rumit. Tidak semua orang akan mengerti apa yang ia tulis.

Liora berhenti.

Menatap hasilnya beberapa detik.

Lalu menutup buku itu perlahan.

Langkah kaki terdengar dari lorong.

Berat. Teratur.

Namun Liora tidak menoleh.

Seolah suara itu tidak ada hubungan dengan dirinya.

Sampai akhirnya, pintu besi di depannya terbuka dengan bunyi gesekan yang nyaring.

“Kau bebas.”

Suara sipir terdengar datar.

Tanpa emosi.

Liora diam memandang wanita bertubuh tegap tersebut. Namun tubuhnya tidak bergerak.

“Keluargamu sudah menunggu di luar.”

Keluarga?

Keluarga yang mana?

Liora bahkan sampai lupa, jika masih memiliki keluarga.

“Aku masih punya lima tahun lagi untuk tetap di sini,” ucapnya datar. “Hukumanku tujuh tahun.”

Sipir itu mendengus pelan. Ketika melihat Liora yang tidak menunjukkan reaksi apa pun.

Bukankah kebebasan, menjadi impian semua narapidana?

“Kau berperilaku baik selama di dalam tahanan. Keluarga korban juga mencabut tuntutan.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan—

“Dan keluargamu… mengurus sisanya.”

Tidak ada perubahan ekspresi di wajah Liora.

Liora tersenyum samar.

Jika mereka bisa membebaskannya dengan uang, mengapa tidak melakukannya sejak dua tahun lalu? Mengapa membiarkannya menderita di tempat ini?

Jika bukan karena ancaman itu, ia tidak akan pernah berakhir di balik jeruji besi.

Tak banyak barang yang ia bawa. Hanya beberapa buku-buku hasil karyanya selama berada di dalam tahanan.

Ia lalu mengganti pakaiannya dengan baju baru yang dikirim Bibi Nina dari desa.

Dalam suratnya, Bibi Nina menulis bahwa ia sengaja mengirimkan pakaian itu, meskipun tidak tahu kapan Liora bisa memakainya. Ia juga menyelipkan makanan sederhana yang dulu sering Liora santap di desa… serta sejumlah uang yang tak seberapa.

Liora menahan napas saat mengenakan pakaian itu.

Baju murah, namun pas di tubuhnya yang kini jauh lebih kurus.

Dadanya berdenyut nyeri.

Setelah selesai, ia melangkah keluar dari sel.

Langkahnya tenang.

Terlalu tenang… untuk seseorang yang baru saja mendapatkan kebebasan.

Lorong panjang itu sunyi.

Hanya gema langkah kakinya yang terdengar.

Pintu utama terbuka.

Cahaya dari luar menyilaukan.

Liora menyipitkan mata.

Dan di sana—

seseorang telah menunggu.

Seorang pria bersandar santai di dekat mobil hitam mengilap.

Dion.

Kakak kandungnya.

Ia tak banyak berubah. Masih rapi, tenang… dan terasa begitu jauh.

Tatapannya jatuh pada Liora.

Dion menatapnya, lalu tersenyum tipis.

"Bagaimana hari-harimu, apa sudah puas bermain-main?"

"Apa menurut mu, didalam itu arena bermain?" Liora berkata sambil memandang Dion.

Dion tidak menyangka Liora akan menjawab seperti ini.

"Jika di dalam, tempat bermain, lalu kenapa kalian tidak membiarkan Cintya untuk masuk kedalam? Bahkan kalian sangat takut jika adik kesayangan mu yang lemah itu bisa mati di dalam sini."

Wajah Dion merah padam mendengar ucapan Liora.

"Kau!!"

Liora kemudian tersenyum.

“Lebih tenang di sana,” jawabnya pelan. “Tidak ada orang munafik, tidak ada orang tua berhati iblis dan saudara menjijikkan seperti kau.”

Wajah Dion benar-benar menegang dan memerah. Namun ia tidak membalas. Ia hanya berkata satu kalimat, namun adiknya itu menjawab dengan sangat panjang.

“Masuk,” katanya singkat, membuka pintu mobil.

Liora tidak langsung bergerak.

Tatapannya masih tertuju pada pria itu.

“Kenapa sekarang?” tanyanya.

Sederhana.

Tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka terasa lebih berat.

Dion menghela napas pendek.

“Papi dan Mami menunggumu.”

Liora tertawa pelan.

Suara itu rendah.

Nyaris tidak terdengar.

“Lucu.”

Ia melangkah mendekat.

“Dua tahun,” ucapnya. “Tidak ada kabar. Tidak ada kunjungan.”

Ia berhenti tepat di depan Dion.

Menatapnya lurus.

“Aku pikir, keluarga ku sudah mati semua. Namun sekarang… tiba-tiba kalian muncul kembali dan menungguku?”

Dion tidak langsung menjawab. Pria itu terlihat sedang berusaha untuk bersabar.

Melihat diamnya… sudah cukup.

Liora mengangguk pelan.

Seolah mengerti.

“Atau…” lanjutnya, suaranya tetap tenang, “kalian butuh sesuatu dariku lagi?”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
123 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status