LOGINJust when Anna thought she had won the heart of her husband and could be called a proper mistress after three years of mating, she was met with an ungodly sight. His business trip had been a lie, and she was going to pay for letting him leave for so many months. He was back with another Luna, and he had filed for a divorce, a basic rejection that she had to uphold. She could have walked away and taken over as the Alpha of the Flaming Moon pack, but he was way ahead, eliminating her and their unborn child silently after she had signed the paperwork. Her last wish was “a second chance for revenge.” The moon goddess hears her prayers and sends her messenger, the million-year demon. Anna is saved, trained to become stronger under his rule, and has taken another name, “Noelle,” with one mission in mind. Jake must go down!
View More"Sayang, ayo kita pulang."
Kata-kata itu terdengar begitu indah di telinga Liora. Matanya berkaca-kaca saat menatap wanita paruh baya di hadapannya. Selama dua belas tahun, Liora menunggu orang tuanya datang menjemputnya di desa ini. Hari ini, semua mimpi serta harapannya akhirnya terwujud. Namun, ia hanya terdiam. Tatapannya perlahan beralih ke wanita tua yang berdiri di depan pintu. Selama dua belas tahun, Bibi Nina-lah yang merawatnya. Dua belas tahun yang lalu, saat Liora masih berusia lima tahun, ia tidak sengaja melakukan kesalahan terhadap kakaknya. Seluruh anggota keluarga marah dan berniat mengirimnya ke panti asuhan. Namun, Bibi Nina menjadi satu-satunya orang yang membelanya. Wanita yang telah merawat Liora sejak bayi itu memohon agar ia tidak dibuang. Ia bersedia membawa Liora ke desanya dan mendidiknya sendiri. Dan benar saja, Bibi Nina berhasil. Liora tumbuh menjadi siswa berprestasi. Ia telah lulus ujian sekolah dengan nilai tertinggi di negara itu, dan kini hanya tinggal menunggu pengumuman masuk universitas melalui jalur prestasi. Wajah wanita tua itu kini tampak sangat sedih. Isak tangisnya terdengar jelas, tak tertahan. Liora menatap ibunya, Nyonya Lely. "Aku tidak mau pulang. Aku mau tetap di sini bersama Bibi Nina." "Sayang, Bibi Nina juga ikut. Nanti beliau akan dijemput oleh sopir keluarga. Jadi kamu tidak perlu cemas. Semua barangmu juga akan dibawa," ujar Lely lembut, seraya mengusap rambut hitam Liora. Liora tersenyum dan mengangguk. Ia mempercayai sepenuhnya kata-kata wanita yang telah melahirkannya. Saat berpamitan, Bibi Nina tampak tak kuasa menahan tangis. Ia memeluk Liora erat, seolah tak ingin melepaskannya. Liora tersenyum sambil mengusap air mata di wajah keriput itu. "Akhirnya kita bisa hidup enak, Bi. Nanti setelah kuliah, aku akan cari kerja paruh waktu. Di kota banyak pekerjaan, tidak seperti di desa. Aku ingin membiayai hidup Bibi." Tangis Bibi Nina semakin pecah. "Bibi tidak mau..." "Bibi sudah tua, tidak boleh bekerja terlalu keras lagi. Aku pulang dulu, ya. Nanti sopir Mami akan menjemput Bibi." Itulah kenangan terakhir Liora bersama Bibi Nina. Setelah hari itu, ia tidak pernah lagi bertemu dengan wanita yang telah merawatnya dengan penuh kasih. Padahal, mereka pernah berjanji akan membuat hidup Bibi Nina bahagia—memberinya kehidupan yang layak, tempat tinggal yang nyaman, dan hari tua yang tenang. Dua tahun berlalu . Liora berada di dalam tahanan. Tempat yang seharusnya mampu menghancurkan seseorang. Namun Liora… masih tetap bertahan di sana. Duduk di sudut sel sempit, bersandar pada dinding dingin yang kasar, dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya. Tangannya bergerak pelan. Menulis. Buku-buku dan peralatan tulis ini dikirim oleh bibi Nina. Wanita itu tahu bahwa Liora sangat suka menulis dan membaca. Coretan demi coretan memenuhi halaman itu—rumus, skema, angka, dan simbol yang tampak rumit. Tidak semua orang akan mengerti apa yang ia tulis. Liora berhenti. Menatap hasilnya beberapa detik. Lalu menutup buku itu perlahan. Langkah kaki terdengar dari lorong. Berat. Teratur. Namun Liora tidak menoleh. Seolah suara itu tidak ada hubungan dengan dirinya. Sampai akhirnya, pintu besi di depannya terbuka dengan bunyi gesekan yang nyaring. “Kau bebas.” Suara sipir terdengar datar. Tanpa emosi. Liora diam memandang wanita bertubuh tegap tersebut. Namun tubuhnya tidak bergerak. “Keluargamu sudah menunggu di luar.” Keluarga? Keluarga yang mana? Liora bahkan sampai lupa, jika masih memiliki keluarga. “Aku masih punya lima tahun lagi untuk tetap di sini,” ucapnya datar. “Hukumanku tujuh tahun.” Sipir itu mendengus pelan. Ketika melihat Liora yang tidak menunjukkan reaksi apa pun. Bukankah kebebasan, menjadi impian semua narapidana? “Kau berperilaku baik selama di dalam tahanan. Keluarga korban juga mencabut tuntutan.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan— “Dan keluargamu… mengurus sisanya.” Tidak ada perubahan ekspresi di wajah Liora. Liora tersenyum samar. Jika mereka bisa membebaskannya dengan uang, mengapa tidak melakukannya sejak dua tahun lalu? Mengapa membiarkannya menderita di tempat ini? Jika bukan karena ancaman itu, ia tidak akan pernah berakhir di balik jeruji besi. Tak banyak barang yang ia bawa. Hanya beberapa buku-buku hasil karyanya selama berada di dalam tahanan. Ia lalu mengganti pakaiannya dengan baju baru yang dikirim Bibi Nina dari desa. Dalam suratnya, Bibi Nina menulis bahwa ia sengaja mengirimkan pakaian itu, meskipun tidak tahu kapan Liora bisa memakainya. Ia juga menyelipkan makanan sederhana yang dulu sering Liora santap di desa… serta sejumlah uang yang tak seberapa. Liora menahan napas saat mengenakan pakaian itu. Baju murah, namun pas di tubuhnya yang kini jauh lebih kurus. Dadanya berdenyut nyeri. Setelah selesai, ia melangkah keluar dari sel. Langkahnya tenang. Terlalu tenang… untuk seseorang yang baru saja mendapatkan kebebasan. Lorong panjang itu sunyi. Hanya gema langkah kakinya yang terdengar. Pintu utama terbuka. Cahaya dari luar menyilaukan. Liora menyipitkan mata. Dan di sana— seseorang telah menunggu. Seorang pria bersandar santai di dekat mobil hitam mengilap. Dion. Kakak kandungnya. Ia tak banyak berubah. Masih rapi, tenang… dan terasa begitu jauh. Tatapannya jatuh pada Liora. Dion menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Bagaimana hari-harimu, apa sudah puas bermain-main?" "Apa menurut mu, didalam itu arena bermain?" Liora berkata sambil memandang Dion. Dion tidak menyangka Liora akan menjawab seperti ini. "Jika di dalam, tempat bermain, lalu kenapa kalian tidak membiarkan Cintya untuk masuk kedalam? Bahkan kalian sangat takut jika adik kesayangan mu yang lemah itu bisa mati di dalam sini." Wajah Dion merah padam mendengar ucapan Liora. "Kau!!" Liora kemudian tersenyum. “Lebih tenang di sana,” jawabnya pelan. “Tidak ada orang munafik, tidak ada orang tua berhati iblis dan saudara menjijikkan seperti kau.” Wajah Dion benar-benar menegang dan memerah. Namun ia tidak membalas. Ia hanya berkata satu kalimat, namun adiknya itu menjawab dengan sangat panjang. “Masuk,” katanya singkat, membuka pintu mobil. Liora tidak langsung bergerak. Tatapannya masih tertuju pada pria itu. “Kenapa sekarang?” tanyanya. Sederhana. Tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka terasa lebih berat. Dion menghela napas pendek. “Papi dan Mami menunggumu.” Liora tertawa pelan. Suara itu rendah. Nyaris tidak terdengar. “Lucu.” Ia melangkah mendekat. “Dua tahun,” ucapnya. “Tidak ada kabar. Tidak ada kunjungan.” Ia berhenti tepat di depan Dion. Menatapnya lurus. “Aku pikir, keluarga ku sudah mati semua. Namun sekarang… tiba-tiba kalian muncul kembali dan menungguku?” Dion tidak langsung menjawab. Pria itu terlihat sedang berusaha untuk bersabar. Melihat diamnya… sudah cukup. Liora mengangguk pelan. Seolah mengerti. “Atau…” lanjutnya, suaranya tetap tenang, “kalian butuh sesuatu dariku lagi?”Anna's POV I looked around in surprise as the words echoed in my ears but everything became quiet like before. Still looking around, I asked Alpha Nicholas in whispers, "Did you hear that?" Alpha Nicholas smiled and asked, "A voice that you shouldn't touch the food?" He leaned closer to me with his gaze piercing. I nodded quickly. I was shocked but I couldn't say why. "Whose voice is it?" Alpha Nicholas waved casually and continued, "I will ask the questions now. Is it true that you feel like killing me at times?" The question was directed to me but the assassins felt more unsettled. I didn't want to lie despite knowing that the truth would hurt. "Honestly," I began. "I feel like I had once had the intention of killing you but right now I wouldn't wish that!" I stared straight into Alpha Nicholas' eyes expecting his eyes to redden. But he just smiled and turned to the assassins who also seemed happy by my words. "You hear that too. She wouldn't wish that now!" Alpha Nicholas r
Anna's POV I bundled the strange man after knocking him out, he didn't even resist when I was at it. I took him to my chamber at the Thornton's Fort discreetly. As I placed him on the ground, he was still unconscious, I paused and pulled out my sword. "Why don't I just kill you now? Why should I give you another chance to toy with my brain again?" As I bent down to put my sword through him, he sneezed and jerked his head upward. "You're awake. Let me listen to your rambling once again." I sat in front of him with my sword ready to strike him at any minute. I didn't want to take any chance with him. A lot of mental balance would be needed to use my spiritual strength but to use my physical strength, I didn't need much mental readiness. He asked weakly, "What did you do to me, Noelle?" I shook my head and smirked. "I'm not Anna anymore? Why do you seem so good at this?" I had to give it to him, his voice kept reaching a deeper part of mind. As if he had gained more energy afte
Alpha Nicholas Shafter's POV I couldn't stop thinking about Lady Noelle's unexpectedly sweet behavior. Could it be that she’s really changed like that? Her cheeks were even flushing red when we were at the table. Is this what it feels like to be treated with care by a wife? Is that why I'm feeling so elated? I pressed my palm against my chest to feel my heart and to calm the racing heartbeat. Then, I remembered my promise. I quickly straightened my back. "I will cook for her as promised. I was thinking she wasn't going to accept my offer," I muttered to myself, forcing myself to focus. I had two vials that were to be used in cooking, one was to kill the victim while the other was to bind them to me as servants for the rest of their lives. Now that Lady Noelle had agreed to eat my food, I would bind her to myself for the rest of her life. She loved me, she would definitely want that. I had already wiped her memories and that had no negative effects on her, so there was noth
Anna's POV I froze. For a moment, I thought I misheard him. Alpha Nicholas offered to do anything I want for me? My mind went blank. The leader of the Celestial Demon Cult, the same man who was going to rule the world with fear and elegance, the man whose secrets I needed to know was offering to do anything I wanted for me. It didn’t make sense. "I can even cook for you if you want!" Alpha Nicholas smiled subtly. I blinked twice with my expression stiffened. Suddenly, the memories hit me. I remembered everything Sturbridge said about him, how wicked, inconsiderate, and dangerous he was, even to his beloved wife. "Don’t ever eat what he offers," That was one of Sturbridge's strongest warnings He said those who tasted the dishes he cooked died smiling. He only made last supper for people and would still tell them it was an honor for them to die after tasting his food because it was just like tasting heaven before going to hell. Sturbridge also said that his meals were divi
Anna's POV The sun burned bright above the Thornton's Family Fort main yard. Sunlight spilled across polished tiles and marble pillars. The air was alive with murmurs, confusion and tension., Hundreds of the family's youth stood in line looking confused like the wind. Servants huddled nearby to
Anna's POV The air was still smelling of blood and wet earth when the wind shifted. I didn’t move as I wasn't bothered even with my vines attacked and cut down The last of my vine beasts twitched on the ground with its severed stems leaking green liquid on the soil. My gaze turned toward the
Anna's POV "My Lady, are you sure about this?" Edwards' voice trembled slightly. His tone was filled with worry and his eyes darted toward the darkness that surrounded them. I didn’t answer right away. I just kept staring into the forest with my gaze calm but sharp, as if I was measuring the air
Alpha Nicholas Shafter's POV Darkness. That was all I saw. I found myself in an endless void where no wind stirred, there were no stars, and there was also no sound, not even echoes. The only thing I heard was the slow pounding of my own heart. This was not the first time I would be here. In






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.