تسجيل الدخول"جلاء… يدك… لا تلمسني هكذا…" في غرفة الجلوس الواسعة، كنتُ أتكئ على كفّيّ وأنا راكعة فوق بساط اليوغا، أرفع أردافي عاليًا قدر ما أستطيع، فيما كانت يدا جلاء تمسكان بخصري برفق وهو يقول بنبرةٍ مهنية ظاهريا: "ليان… ارفعي الورك أكثر قليلًا." وتحت توجيهه، أصبح أردافي قريبًا جدًا من عضلات بطنه… حتى كدتُ أشعر بحرارته تلتصق بي.
عرض المزيد“Aaah… Lyraaa…”
Desahan itu terdengar lagi dan kali ini lebih parau dan panjang dari sebelumnya, membuat Lyra menelan ludah. Dia bisa saja bersumpah bahwa dirinya tidak menginginkan hubungan badan dengan pasangannya, tapi tubuhnya akan mengatakan yang sebaliknya. Sejatinya, memang sangat sulit bagi pasangan mana pun untuk mengabaikan kebutuhan satu sama lain. Namun, di kesempatan ini, Lyra tidak ingin menyerahkan dirinya pada pria itu. “Tenanglah…” desisnya sambil menggenggam erat kedua sisi baju tidurnya itu, sembari perlahan memaksakan dirinya untuk melangkah pergi dari sana. Di saat yang sama, Lyra bisa mendengar suara benda-benda jatuh dan diselingi luapan amarah yang menandakan bahwa Ronan telah kehilangan kendalinya. Akan tetapi, Lyra tetap berlalu pergi. Jika ini terjadi pada Lyra yang dulu, ia pasti sudah menghambur ke dalam kamar tanpa ragu. Ia akan memastikan kemampuannya memenuhi kebutuhan sang Alpha. Bukan karena ia menuruti hasratnya sendiri, melainkan melayani Ronan adalah sebuah kehormatan baginya. Sebagai seorang anak yang asal-usulnya tidak jelas lalu dirawat oleh keluarga Ronan, Lyra awalnya sangat bahagia ketika pria tersebut menunjukkan ketertarikan padanya. Bahkan ketika Sang Dewi menganugerahkan Ronan sebagai pasangan takdirnya. Lyra sama sekali tidak menyangka kalau dirinya yang tidak punya apa-apa itu akan mendapatkan seorang pemimpin sebagai pasangannya. Di masa lalu, Lyra sangat bersyukur dan rela melakukan apa pun untuk mendukung Ronan. Namun, semua itu terjadi sebelum pria itu menghabisinya. Mengirimnya pada kematian. Ya, ini adalah kehidupan kedua Lyra. Lyra mengusap bagian perut bawahnya, datar. Setelah melahirkan keturunan Ronan di masa lalu, pria itu tidak memberikan Lyra kesempatan untuk melihat buah hatinya. “Tugasmu sebagai pasanganku sudah selesai, Lyra,” ucap Ronan kala itu sembari mengeluarkan belati yang sudah dilumuri racun. “Terima kasih sudah melahirkan keturunan untukku. Tapi mulai dari sini, aku lebih membutuhkan wanita yang bisa menopang posisiku sebagai pemimpin pack. Dan orang itu bukan dirimu.” Lyra pernah dengar bahwa keturunan yang dihasilkan dari pasangan yang dipilih oleh Sang Dewi akan memiliki karakteristik unggulan. Mungkin karena itu, Ronan bertahan dengan dirinya, bersabar hingga Lyra melahirkan seorang pewaris untuknya. “Kenapa kau di sini?” Lamunan Lyra buyar saat mendengar suara langkah seseorang dari ujung seberang koridor. Seraphine Calder, yang tak lain dan tak bukan adalah asisten Ronan sekaligus teman masa kecil pria itu. Seraphine adalah putri mantan asisten orang tua Ronan, otomatis membuat kedudukannya masuk ke jajaran wanita terpandang. Namun, bukan itu yang membuat Lyra terdiam. Di malam kematiannya, Seraphine ada di sisi Ronan. Sebelum meregang nyawa, Lyra berpikir bahwa Seraphine di sana untuk membantu persalinannya. Namun, rupanya wanita itu ingin mengukuhkan posisinya di sisi Ronan. “Terima kasih, Lyra. Posisimu sebagai pasangan Ronan akan kujaga dengan baik,” tutur Seraphine malam itu. “Lagipula, kau harus sadar diri. Ronan butuh pendamping yang setara dengannya, yang bisa membantunya memperkuat kelompok kita. Perempuan rendahan sepertimu jelas tidak bisa melakukan itu.” Tanpa sadar, tubuh Lyra berkeringat dingin dan gemetaran saat mengingat kejadian itu lagi. Terlebih, ia baru bertahan dari tekanan hasratnya untuk memenuhi perintah Ronan. “Kau tuli, ya?” Seraphine bertanya ketus. “Kenapa kau di sini? Oh, aku tahu. Akhirnya Ronan menyadari kesalahannya dan mengusirmu? Hahaha.” Lyra memandang Seraphine dengan pandangan kosong. Ia dapat menangkap nada harap yang terselip dalam suara Seraphine saat mengatakan hal itu. Sama seperti kehidupan lalu, Seraphine pasti masih menginginkan posisi Lyra sebagai pendamping Ronan. Kalau memang seperti itu, Lyra berikan saja apa yang diinginkannya sejak awal. “Ia memang membutuhkanmu,” ucap Lyra kemudian. “Pergilah ke ruangannya dan puaskan dia.” Lyra tidak menunggu respons Seraphine dan langsung beranjak dari sana. Namun, ia sempat melihat keterkejutan di mata wanita itu, sebelum digantikan dengan binar penuh pengharapan. *** Keesokan paginya, Lyra baru saja meregangkan badannya di ranjang, saat pintu kamarnya diketuk keras. “Anda diutus ke kamar Alpha Ronan!” ucap seorang pelayan pada Lyra. Nada suaranya ketus dan tidak memberikan ruang pada Lyra untuk membantah. Meskipun merupakan pasangan Ronan dan calon Luna, baik di kehidupan sekarang maupun sebelumnya, orang-orang di kelompok ini jarang ada yang menghormatinya. Mereka bahkan kerap kali merundungnya. Sebelumnya, Lyra bertahan karena Ronan. Namun, sekarang, keputusan Lyra sendiri sudah bulat. Ia akan meninggalkan kelompok ini demi bertahan hidup. Ia hanya tinggal menunggu waktu yang tepat. Lyra mengetuk pintu dan masuk ke kamar Alpha setelah dipersilakan dari dalam. Ia melihat punggung Ronan yang sedang berdiri membelakangi pintu, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Banyak barang-barang berserakan dan belum dibereskan, termasuk beberapa pakaian yang tercecer di lantai. Sprei tempat tidur Ronan sendiri tampak kusut dan lusuh, jelas merupakan jejak pergulatan semalam. Dan di atas tempat tidur Ronan itu, Seraphine sedang duduk bersandar. Menatap Lyra dengan ekspresi penuh kemenangan, sebelum kemudian disembunyikan di balik wajah polosnya. “Lyra, maaf memanggilmu pagi-pagi,” ucap Seraphine lembut. Tangannya menyentuh bekas ciuman di lehernya dengan ringan. “Aku merasa tidak enak badan. Apakah kau bisa memeriksaku sebentar? Kudengar kau adalah seorang penyembuh yang paling rajin di pack ini.” Lyra menoleh ke arah Ronan yang tidak mengatakan apa pun, baik itu melarang atau mengiyakan. Jadi, ia pun melangkah ke arah Seraphine. “Tolong mendekat ke arahku,” ucap Lyra pada Seraphine. Meskipun mereka berdua pasti tahu bahwa kondisi Seraphine baik-baik saja, Lyra tetap memeriksanya. Namun wajah Lyra yang datar, membuat Seraphine jengah. “Ah!” pekik Seraphine tiba-tiba, seakan Lyra menyakitinya. “Lyra … tolong pelankan...” “Apa yang kau lakukan?” Tiba-tiba Ronan sudah berbalik. Sepasang matanya memandang Lyra dengan tatapan menyalahkan. “Perlakukan dia dengan baik!” Sementara Lyra menghentikan tangannya di udara, membalas tatapan Ronan dengan dinginnya.تجمدت في مكاني، فتحت فمي دون أن أجد ما أقوله، والمرأة التي أمامي بدت غريبة عني تمامًا.كان صوتها هادئًا لكنه حادّ، وكل كلمة منها كانت كالسهم يخترق قلبي بقسوة.قالت ببرود: "استمعي جيدًا.""في الجامعة كنت أنا من أحب علاء العزة أولاً، لكنك سبقتِني وخطفته مني. هل تظنين أنني كنت طيبة معك طوال هذه السنين بدافع الصداقة؟ يا للسخرية! كنت فقط أنتظر اللحظة المناسبة لأجعلك تذوقين طعم الخيانة."ارتسمت على شفتيها ابتسامة ساخرة وقالت: "أتظنين نفسك بريئة؟ سرقتِ حبي، وكنتِ تستمتعين بصداقتي الزائفة وكأنك لم تفعلي شيئًا. الآن هذا كله مجرد جزاء لما اقترفتِه. تستحقين ما حدث!"امتلأ قلبي غضبًا وذهولًا، لم أكن أعلم شيئًا عن هذا كله.لو كنت أعلم أنها تحب علاء العزة، لما قبلتُ حبه أبدًا.لكن ما آلمني أكثر هو أن ما ظننته طيبةً منها لم يكن سوى تمثيل، وأن انتقامها كان مخططًا له منذ زمن بعيد.شعرت بالدم يغلي في رأسي، ووجهي شاحب."نونو، هل هذا صحيح؟"ضحكت بسخرية، ووضعت يديها على كتفي علاء العزة، ثم قبّلته أمامي على خده."وإلا فبم تفسرين أثر أحمر الشفاه تلك؟"كأن مطرقة سقطت على صدري، اختنق نفسي، وشعرت بثقل كبير على
مسحت دموعي، ثم أوقفت سيارة أجرة على الطريق متجهة إلى بيت نونو.وقفت أسفل المبنى، واتصلت بها مرة أخرى، لكن الخط كان مشغولاً كالعادة.هل يمكن أنها ليست في البيت؟وبينما كنت أتردد إن كنت أصعد أم لا، وقعت عيناي صدفة على موقف السيارات القريب.كانت هناك سيارة فضية مألوفة متوقفة هناك، ينعكس على هيكلها ضوء الغروب الذهبي.إنها سيارة صديقتي! شعرت بشرارة من الأمل في قلبي، يبدو أنها في البيت.لكن عندما هممت بالصعود، التفتُّ نحو السيارة مرة أخرى، وشعرت بشيء غريب.السيارة… لماذا تهتز هكذا؟نظرت من خلال نافذة الزجاج، فرأيت مشهداً جعلني أُصدم تماماً.في داخل السيارة، كانت نونو تجلس في المقعد الخلفي وظهرها نحوي، رأسها منخفض، وجسدها يتحرك صعوداً وهبوطاً، وأمامها رجل يبتسم ابتسامة مليئة باللذة.تأملت وجه الرجل جيداً، ولن أنساه ما حييت… كان علاء، زوجي.تجمدت مكاني أمام السيارة، وساقاي كأنهما مثقلتان بالرصاص، لا أستطيع التحرك خطوة واحدة.حدقت في الداخل بعينين مصدومتين، غير مصدقة ما أراه أمامي.فركت عيني مراراً ظناً مني أنني أتوهم، لكن المشهد كان واضحاً كالسيف، يخترق قلبي بقسوة.لم يخطر ببالي يوماً أن خيانة
لم يبقَ في الغرفة سواي، دموعي جفّت، لكن الألم في قلبي لم يخفّف منه شيء. جلست على الأريكة، ما زلت أمسك تلك القميص بيدي. آثار أحمر الشفاه مسحتها منذ زمن، لكنها كأنها انطبعت في قلبي، لا تزول مهما حاولت.فتحت هاتفي، أتصفح صورنا، كنا نبتسم فيها بسعادة، لكن تلك السعادة التي كانت يومًا ما حلوة، صارت الآن كالسكاكين تمزق قلبي بلا رحمة.مرت أمام عيني فجأة صورة تجمعني بجلاء وعلاء.كانت في ذكرى زواجنا الأولى، كنا جميعًا نضحك بفرح، وعلاء يحتضننا بذراعَيه.نظرت إلى الصورة، وإذا بمشاعري تتقلب كزجاجة مليئة بنكهات متناقضة.وبينما كنت غارقة في مشاعري، فُتح باب البيت من الخارج فجأة، فحبست أنفاسي بتوتر.هل عاد علاء؟لكن حين التفت وجه القادم، فوجئت بأنه جلاء.وقف عند الباب، في عينيه نظرة معقدة، ينظر إليّ، فتراجعت لا إراديًا، ومسحت دموعي بذراعي."ألم أقل لك ألا تأتي إليّ وحدك؟" خرج صوتي مبحوحًا قليلًا."قابلت أخي في الأسفل، قال لي أن أطمئن عليك."صوته هادئ يحمل شيئًا من اللطف.لكن ذلك اللطف زاد من حذري أكثر.قلت ببرود: "مشكلتي مع أخيك، لا شأن لك بها."تجاهل لهجتي، وتقدم بخطوات ثابتة حتى جلس على الأريكة المق
كنتُ أقف بجانب الغسالة، ممسكةً بالقميص بإحكام، وأطراف أصابعي تتحسس نسيجه، لكن انتباهي كان منصبًّا على أثر أحمر على الياقة.كانت تلك العلامة باهتة لكنها جارحة كالسيف، تغرس في قلبي بقسوة. حاولتُ أن أهدّئ أفكاري وجلستُ على الأريكة، ما زلتُ أضم القميص بين يديّ، وذِهني يغرق في دوامة من الشكوك.لم أشعر يومًا أن الوقت يمر بهذه السرعة، فسرعان ما خرج زوجي من الحمّام وهو يجفف شعره المبلل قائلًا:"لولو، ما هذا العطر الشهي؟ ماذا طبختِ؟"لم أُجِب، بل رفعتُ القميص أمامه وأشرتُ إلى الأثر الأحمر عليه."ما هذا؟" خرج صوتي مرتجفًا قليلًا.وحين رأى ملامحي المتوترة، تجمّد ابتسامه، أخذ القميص وتأمله، ورأيتُ في عينيه شرارة ارتباك سرعان ما أخفاها بثبات مصطنع.قال بهدوء: "ربما التصق بي من عناق وداع مع أحد العملاء، تعرفين، أحيانًا لا يمكن تجنّب ذلك."ابتسمتُ بسخرية، حتى إنني لم أتعرف على صوتي.حدّقتُ فيه محاوِلةً أن أقرأ الحقيقة في عينيه: "وماذا عن رائحة العطر هذه؟ اشمّ بنفسك."نظر إليّ بنفاد صبر، كأنني أبالغ، ثم قرّب القميص من أنفه، وتجمّدت ملامحه لحظة وقال:"آه، تذكّرت الآن. في رحلة العودة كانت تجلس بجانبي ا