เข้าสู่ระบบเพื่อคนที่นางหมายปองจึงวางแผนร้ายเพื่อรวบรัดเขาแต่ผิดพลาดกลับได้คนที่นางไม่ชอบมาแทน นางต้องทนอยู่อย่างรังเกียจเขา หักหลังเขา ค่อย ๆ ผลักดันให้เขากลายเป็น ทรราชที่โหดร้าย จนนางต้องตายภายในน้ำมือเขาอย่างอนาถ แต่สวรรค์กลับให้นางกลับมาใหม่ กลับมา เปลี่ยนทรราชผู้นี้ให้เดินในเส้นทางที่ถูกต้อง ภารกิจพลิกชะตารักจึงเกิดขึ้น
ดูเพิ่มเติม“Berapa harganya?” tanya seorang pria bertubuh kekar yang kini sedang berada di sebuah rumah sederhana yang terletak di daerah Bandung.
“Dua M,” jawab seorang wanita paruh baya dengan lantang. “Bibi mau jual apa? Bukannya semua tanah dan sawah peninggalan Bapak sudah habis dijual buat biaya kuliah Diana?” tanya seorang gadis berambut panjang yang baru saja keluar dari kamarnya. Gadis berusia dua puluh satu tahun itu bernama Tamara Mustika. Ia adalah seorang yatim piatu, ibunya meninggal sejak ia duduk di bangku SD, sedangkan ayahnya meninggal ketika ia kelas tiga SMP. Sejak itu juga, Tamara tinggal bersama dengan adik dari ayahnya yang bernama Pratiwi. Namun, sejak tinggal bersama bibinya yang berstatus sebagai janda itu, Tamara malah diperlakukan layaknya seorang pembantu. Semua harta peninggalan kedua orang tuanya sudah habis dijual oleh Pratiwi dengan alasan biaya hidup Tamara. Padahal, semua uang itu ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan ia dan juga putrinya yang bernama Diana. Usia Tamara dan Diana hanya beda satu tahun saja, Tamara lebih tua dari Diana. Akan tetapi, sejak lulus SMA, Tamara tidak melanjutkan pendidikannya. Harta peninggalan kedua orang tuanya yang seharusnya digunakan untuk biaya pendidikan Tamara, malah diambil alih oleh Pratiwi untuk biaya kuliah Diana. Hingga saat ini, semua harta peninggalan orang tua Diana habis, sementara Diana butuh biaya besar untuk melanjutkan kuliah sampai selesai serta ikut kursus modeling. Karena gadis itu bercita-cita ingin menjadi model dan artis. Sehingga Pratiwi harus mengeluarkan uang banyak untuk membiayai putrinya agar bisa menggapai cita-citanya itu. Diana selalu merasa lebih cantik dari Tamara, bahkan gadis itu tak segan-segan menghina Tamara. Terlebih lagi, Diana memiliki kulit yang lebih putih dari Tamara. Padahal, Tamara adalah gadis yang manis, ia memiliki rambut panjang lebat dan sedikit bergelombang, Tamara juga memiliki kulit sawo matang dengan bola mata bulat, alis tebal tertata rapi, bulu mata lebat, serta hidung yang tidak terlalu mancung dan juga tidak terlalu pesek. Tubuhnya tinggi ramping, ia memiliki lesung pipi jika sedang tersenyum. Akan tetapi, Diana selalu meledek Tamara dengan sebutan dekil, ikal, dan juga kerempeng, karena ia sendiri memiliki tubuh yang cukup berisi. Saat ini, Tamara berdiri di depan pintu kamarnya, ia melihat ke arah ruang tamu yang terdapat dua orang pria bertubuh kekar yang sedang berbicara bersama dengan bibinya dan juga Diana. “Ini orangnya?” tanya seorang pria bertubuh kekar sambil menunjuk ke arah Tamara. “Iya, dia adalah gadis yang lugu dan bodoh. Dia akan menurut saja diperlakukan seperti apapun,” jawab Tiwi dengan wajah angkuh. Tamara yang mendengar itu, sontak membulatkan kedua matanya. “Maksud Bibi apa? Bibi mau jual rumah ini?” Tamara masih terlihat bingung. “Diam jangan banyak bicara! Saya akan menjual kamu kepada mereka!” jawab Tiwi dengan lantang. “Apa? Bibi sudah gila?” Tamara benar-benar terlihat syok. “Kamu yang gila! Saya sudah capek mengurus kamu dari dulu sampai sekarang. Ini saatnya saya melepas kamu. Anggap saja, ini adalah bentuk balas Budi kamu kepada saya, karena saya telah mengurus kamu selama ini. Silahkan bawa dia pergi dari rumah ini. Saya jual dia kepada kalian dengan harga dua M!” tutur Tiwi dengan wajah jutek dan nada bicara yang terdengar angkuh. “Dua M terlalu mahal untuk gadis desa seperti ini. Kami akan membayar dengan harga satu koma lima M, bagaimana?” Pria bertubuh kekar itu menawar. “Baiklah, tidak masalah turun lima ratus juta, yang penting dia laku.” Tiwi bersedekap dada. “Baikkah, kami sudah menyiapkan uangnya.” Pria berkepala botak itu memberi isyarat kepada anak buahnya yang berdiri di depan pintu. Tak lama kemudian, pria tersebut masuk ke dalam rumah sambil membawa dua koper uang. “Ini uangnya!” ucap pria itu seraya membuka dua koper yang berisi uang tunai. Seketika kedua mata Pratiwi dan Diana terbuka lebar, bahkan bola mata kedua orang itu hampir keluar dari tempatnya saat mereka melihat tumpukan uang itu. “Banyak banget uangnya, Bu,” ucap Diana dengan kedua mata yang hampir tak berkedip. “Iya, Sayang. Kamu bisa langsung jadi artis terkenal dengan uang ini,” balas Pratiwi dengan bangga. “Sudah deal ya! Gadis ini akan segera kami bawa.” Dua orang pria bertubuh kekar mendekat ke arah Tamara yang masih mematung di depan pintu kamarnya. “Iya, silahkan bawa dia!” Pratiwi mempersilahkan dengan senang hati. “Nggak! Aku nggak mau dijual. Bibi … Bibi sedang bercanda kan? Bibi nggak mungkin menjual aku.” Tamara berusaha melakukan penolakan. “Kalian, cepat bawa dia ke dalam mobil! Jangan lupa, ringkus kaki dan tangannya. Matanya juga ditutup!” titah seorang pria yang langsung dilaksanakan oleh anak buahnya. Mereka terus mendekat ke arah Tamara yang akan melarikan diri lewat pintu belakang. Namun, kedua orang bertubuh kekar itu segera menahannya dan meringkus kaki serta tangan Tamara sampai membuat gadis itu tidak bisa bergerak. “Tolong … tolong jangan bawa aku! Bibi … tolong aku Bibi … Bibi boleh mempekerjakan aku seperti apapun, tapi tolong jangan jual aku ke mereka, aku takut Bi …” teriak Tamara sambil menangis kencang. Ia benar-benar merasa takut. Namun, Pratiwi dan Dania hanya menatapnya dengan wajah angkuh. Kedua orang itu masih duduk santai di atas sofa sambil menghadapi tumpukan kertas berwarna merah yang membuat ibu dan anak itu lupa segalanya. Tamara diseret paksa dan dimasukkan ke dalam sebuah zeep berwarna hitam. “Tolong … Bibi … Diana … tolong aku …” teriak Tamara yang kini sudah berada di dalam mobil. Air mata langsung mengalir deras, ia menatap nanar ke arah rumah yang ditempati oleh Pratiwi dan Diana. Sebenarnya itu adalah rumah Tamara, rumah peninggalan ayahnya dan juga rumah masa kecilnya bersama dengan kedua orang tuanya. “Bapak … Ibu …” teriak Tamara dengan suara yang mulai terdengar serak, karena ia telah beberapa kali berteriak. “Tutup mata dan mulut gadis itu!” titah seorang pria yang langsung dilaksanakan oleh anak buahnya. Kedua mata Tamara ditutup dengan sebuah kain tebal, begitupun dengan mulutnya. Gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia hanya bisa meringkuk di kursi belakang. Dalam hatinya, Tamara meminta kepada sang kuasa agar tetap melindunginya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, tetapi dalam benaknya ia berpikir anggota tubuhnya akan diambil. Begitu yang ada di dalam pikiran Tamara, sesuai apa yang sering ia dengan tentang jual beli manusia. Tamara hanya bisa pasrah dan berdoa. Kedua matanya tak bisa melihat, entah kemana arah mobil yang kini sedang ditumpanginya itu melaju. Tamara menangis dalam diam, air matanya yang keluar langsung diserap oleh kain hitam yang menutupi kedua mata indahnya itu. Tamara tak bisa melihat apapun, semuanya benar-benar gelap. Ia merasa perjalanan itu cukup jauh, bahkan kedua tangan dan kakinya yang diikat kuat, semakin terasa sakit. ‘Ya Tuhan, mungkinkah ini akhir dari hidupku?’ batin Tamara sendiri. Jika memang ini sudah waktunya ia meninggalkan dunia, Tamara akan jauh lebih tenang daripada ia harus melewati siksaan dari manusia kejam itu. Karena selama ini, di dalam hidupnya tidak ada yang spesial, ia hanya dijadikan babu oleh bibinya sendiri. Babu tanpa upah, begitu sebutannya bagi Tamara. Sudah sangat lama ia diperlakukan seperti itu, hal yang membuat Tamara untuk tetap semangat melanjutkan hidup, yaitu ia yakin suatu saat nanti ia akan bertemu dengan seseorang yang menjadikannya spesial. Namun, Tamara sendiri tidak tahu siapa orang itu, yang jelas ia pernah beberapa kali bermimpi didatangi oleh sosok pria tampan.ตอนที่ 3 องค์ชายน้อยภายในห้องที่เงียบสงัด แสงแดดอ่อนลอดผ่านบานหน้าต่างเข้ามาเป็นเงาบาง สายลมอ่อนพัดต้องม่านโปร่งให้ไหวเอน กลิ่นไม้หอมจาง ๆ ลอยคลุ้งทั่วห้องบนเตียงกว้างใต้ผ้าม่านสีอ่อน เสิ่นเหยียนหลัวนอนสงบนิ่งอยู่ครั้นสายลมเย็นสัมผัสปลายผม นางจึงขยับกายเล็กน้อย เปลือกตาสั่นไหวก่อนจะค่อย ๆ เปิดขึ้นช้า ๆ ดวงตาที่พร่ามัวค่อย ๆ ปรับชัด เห็นภาพเพดานไม้แกะสลักเลือนราง ก่อนจะหันมองไปข้างกายเซียวอวี้เหิงนั่งอยู่ข้างเตียง ใบหน้าคมคายนั้นฟุบลงกับขอบเตียง เขาหลับใหลอย่างไม่รู้ตัว เส้นผมสีดำปรกหน้าผากเล็กน้อย ทว่าแม้ยามหลับ มือใหญ่ของเขากลับกุมมือนางไว้แน่นเสิ่นเหยียนหลัวทอดมองเขาด้วยแววตาที่เต็มไปด้วยความสุข นางขยับนิ้วเบา ๆ สัมผัสตอบฝ่ามืออุ่นนั้น ริมฝีปากคลี่ยิ้มอ่อนหวาน นิ้วเรียวขยับเบา ๆ ทำให้บุรุษที่ฟุบหลับอยู่สะดุ้งตื่น เซียวอวี้เหิงลืมตาขึ้นช้า ๆ มองภาพตรงหน้า“เหยียนหลัว… ”น้ำเสียงอ่อนโยนของเขาดังขึ้นพร้อมกับขยับกายลุกขึ้นไปนั่งเคียงข้างนาง มือใหญ่คว้าร่างบางเข้ามาโอบกอดไว้แน่น “ท่านอ๋อง… ”เสิ่นเหยียนหลัวเปล่งเสียงออกมาด้วยความงุนงงเล็กน้อย เซียวอวี้เหิงผละออกมาเล็กน้อย มือใหญ่ย
ตอนพิเศษ 2รอท่านภายในห้องที่เงียบสงบเสิ่นเหยียนหลัวนั่งอยู่เบื้องหน้าโต๊ะอาหาร สายตาคอยทอดมองไปยังประตูอย่างรอคอย เคียงข้างนางมี เสี่ยวเถากับเสี่ยวฮวายืนอยู่อย่างสำรวม นางทอดมองจานอาหารที่ถูกจัดอย่างประณีตนั้นพลันถอนหายใจแผ่วก่อนจะเอื้อนเอ่ยด้วยน้ำเสียงน้อยใจ“เสี่ยวเถานี่ยามใดแล้ว”สาวใช้เงยหน้าเล็กน้อยเอ่ยขึ้นด้วยน้ำเสียงที่เต็มไปด้วยความเห็นใจ เมื่อเห็นว่าเจ้านายของตนลงมือทำอาหารอย่างตั้งใจและรอเจิ้นเป่ยอ๋องมานานแล้ว“ยามไฮ่แล้วเพคะ”สิ้นถ้อยคำ เสิ่นเหยียนหลัวถอยหายใจแผ่ว ตั้งแต่มาอยู่ที่นี่เขากลับมีราชกิจมากมายไม่ค่อยว่างมาหานางเลย วันนี้นางตั้งใจทำอาหารที่เขาชอบเป็นพิเศษเพื่อรอเขา แต่เขากลับไม่มาเพียงไม่นานเสียงฝีเท้าหนักแน่นก็ดังขึ้นหน้าห้อง นางกำนัลทั้งสองหันไปตามเสียงก่อนจะเอ่ยขึ้นด้วยน้ำเสียงยินดี“พระชายาเพคะ ท่านอ๋องเสด็จมาแล้วเพคะ”เสิ่นเหยียนหลัวที่นั่งทำหน้าน้อยใจอยู่รีบยืดกายตรงก่อนจะเผยรอยยิ้มออกมาอย่างดีใจ นางรีบจัดอาภรณ์ของตนเองและทรงผมที่ตั้งใจทำมาอย่างเร่งรีบก่อนจะปรับสีหน้าให้เรียบนิ่งเซียวอวี้เหิงก้าวเข้ามาในห้องด้วยท่าทางสงบนิ่ง เขาทอดสายตาไปยังอาหารที่ยังคงว
เมืองหลิงซานหนึ่งเดือนต่อมายามรุ่งสาง ขบวนรถม้าหลวงเคลื่อนออกจากประตูวังท่ามกลางม่านหมอกบาง เสียงล้อไม้บดกับพื้นหินดังก้องเป็นจังหวะทุ้มต่ำ คล้ายเสียงกล่องส่งผู้เดินทางสู่หนทางไกล แสงแรกแห่งวันทอดยาวไปตามกำแพงสูงตระหง่าน ราวกับแผ่นฟ้ากำลังเปิดทางให้ขบวนเสด็จค่อย ๆ ลาลับจากเมืองหลวงภายในรถม้า กลิ่นไม้หอมอ่อนลอยอบอวล เสิ่นเหยียนหลัวเอนกายนั่งอย่างสงบ ม่านแพรบางไหวตามแรงสั่นสะเทือนของล้อ ทำให้ลำแสงอรุณลอดเข้ามาเป็นช่วง ๆ นางยกมือแง้มม่านเล็กน้อย สายตาทอดมองเมืองหลวงที่ค่อย ๆ ถอยห่างออกไป เรือนร้านเริ่มเปิดรับวันใหม่ ผู้คนเคลื่อนไหวอย่างแผ่วเบา เสียงชีวิตยามเช้าดังเลือนรางอยู่ไกล ๆเซียวอวี้เหิงนั่งตรงข้ามอย่างสงบนิ่ง ดวงตาคมจับจ้องอิริยาบถของนางโดยไม่เอื้อนเอ่ย ครั้นเห็นนางทอดสายตามองภายนอกอยู่เนิ่นนาน เขาจึงกล่าวเสียงต่ำเรียบ“ยังอาลัยสถานที่แห่งนี้หรือ”เสิ่นเหยียนหลัวส่ายหน้าแผ่วเบา มุมปากยกขึ้นเป็นรอยยิ้มบาง“มิใช่อาลัย… เพียงแต่มีเรื่องราวมากมายที่ได้เกิดขึ้นที่นี่”สิ้นคำ นางถอนหายใจแผ่ว พลันหันไปทอดมองใบหน้าคมเรียบนิ่งของเขา ก่อนจะขยับเข้าไปนั่งเบียดเขา มือเล็กลูบไล้บนอกกว้างอย
ตอนพิเศษ 1ตำหนักองค์ชายใหญ่ภายในห้องที่เงียบสงบ แสงแดดยามเช้าสาดเข้ามาต้องร่างสองร่างที่กำลังนอนกอดกันอยู่บนเตียงอย่างแนบแน่น สายลมยามเช้าพัดเข้ามาแผ่วเบากระทบร่างบางของเสิ่นเหยียนหลัวที่นอนอยู่บนเตียงกว้าง นางขยับกายเล็กน้อย พลันรับรู้ถึงไออุ่นที่กำลังโอบล้อมร่างนางอยู่ นางลืมตาขึ้นก่อนจะเงยหน้าเล็กน้อยมองใบหน้าคมที่ยังคงหลับใหล เสิ่นเหยียนหลัวทอดมองใบหน้าคมที่กำลังหลับก่อนจะเผยรอยยิ้มบางออกมา มือเล็กยกขึ้น ปลายนิ้วเรียวไล้หว่างคิ้วเข้มลงมาหยุดอยู่ปลายจมูกโด่งอย่างแผ่วเบา ทว่าทันใดนั้นริมฝีปากหยักได้รูปนั้นก็ยกขึ้นมากัดลงบนปลายนิ้วของนิ้วอย่างเบา ๆ เสิ่นเหยียนหลัวหัวเราะแผ่วเบา ก่อนจะเอ่ยขึ้นด้วยน้ำเสียงนุ่มนวล“ตื่นแล้วหรือเพคะ”เซียวอวี้เหิงลืมตาขึ้นก้มลงมองนางด้วยแววตาอ่อนโยน ดวงตากลมใสของนางช่างสะกดเขาจนไม่อาจละสายตาได้ ริมฝีปากเล็กนั้นดึงดูดเขาอย่างไม่อาจห้าม เขาโน้มลงจูบริมฝีปากนางอย่างแผ่วเบาก่อนจะกวาดชิมรสหวานจากปากนางอย่างหลงใหลเสิ่นเหยียนหลัวที่กำลังเคลิบเคลิ้มกับรสจูบของเขาก็ผละออกเล็กน้อยอย่างห้ามใจ นางเอ่ยกระซิบด้วยน้ำเสียงแผ่วเบา“สายมากแล้วเพคะ”เซียวอวี้เหิงจูบลง
ตอนที่ 8มือสังหารขบวนเสด็จกลับวังเคลื่อนตัวผ่านเส้นทางคดเคี้ยวกลางป่าทึบ แสงอาทิตย์ยามบ่ายส่องสอดเรือนยอดไม้ลงมาเป็นลำ เงาม้าศึกและทหารยาวเหยียดทอดไปตามพื้นดินเซียวอวี้เหิงนั่งอยู่หลังม้า สีหน้าสงบนิ่ง แววตาคมกริบกวาดมองรอบด้านอย่างระแวดระวัง ตงมู่ควบม้าเคียงข้างไม่ห่าง มือใหญ่ของเซียวอวี้เหิงเลื
ตอนที่7เสียสละคุกหลวงภายในคุกหลวง ความเย็นชื้นเย็นเกาะอยู่ตามผนังหิน กลิ่นคาวเลือดและสนิมเหล็กคลุ้งอยู่ในอากาศ เงาเปลวไฟจากคบเพลิงไหววูบวาบ ราวกับกำลังหายใจ ทำให้ห้องทั้งห้องดูคับแคบและอึดอัดยิ่งนักเสิ่นเหยียนหลัวก้าวเข้ามาช้า ๆ เสียงฝีเท้ากระทบพื้นหินดังก้องเบา ๆ นางหยุดยืนเบื้องหน้า เซียวอวี้เ
“ไปกัน”อารั่วที่ยืนอยู่ด้านหลังมองตามนางด้วยความงุนงงพร้อมเอ่ยถามด้วยความไม่แน่ใจ“ไปไหนเจ้าค่ะ”“ไปหา เซียวอวี้เหิง”แม้อารั่วจะพยักหน้ารับแต่แววตาเต็มไปด้วยความงุนงงต่อเหตุการที่เกิดขึ้น คุณหนที่เคยเอาแต่เรียกหา องค์ชายสามบัดนี้กลับเอาแต่สนใจ องค์ชายใหญ่…ภายในกระโจมใหญ่ที่เงียบสงบของ องค์ชายให
ตอนที่5นอนด้วยในงานล่าสัตว์ประจำปี ลานกว้างกลางหุบเขาหลวงถูกจัดตกแต่งอย่างโอ่อ่า ธงหลากสีโบกสะบัดรับสายลมฤดูใบไม้ร่วง เหล่าขุนนางและเชื้อพระวงศ์ต่างนั่งเรียงรายอยู่ใต้กันสาด สนทนาและจิบชากันอย่างคึกคัก เสียงหัวเราะแผ่วเบา ประสานเสียงเครื่องดนตรี สร้างบรรยากาศครึกครื้นทั่วทั้งลานไม่นานนัก เสียงฝีเ











