LOGIN*** เพราะรัก นางจึงทำทุกทางให้ได้แต่งงานกับเขา เพราะแค้นใจที่นางบังอาจรวบรัดจนได้แต่งงานกัน เขาจึงทำทุกท่าให้นางหมดเรี่ยวแรงทุกคืน
View MoreSatu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Evelyn saat terbangun adalah melihat langit-langit kamar seluas lapangan futsal dengan ukiran emas di setiap sudutnya. Bau aromaterapi cendana yang mahal menusuk hidungnya, sangat kontras dengan bau mi instan yang seharusnya menjadi aroma paginya di apartemen sempit.
Evelyn hanya bisa mengerjapkan matanya berulang kali, berharap ini cuma mimpi panjang akibat begadang mengerjakan naskah klien. Namun, saat ia menyentuh sprei sutra yang terasa begitu dingin dan halus di kulitnya, ia tahu dunianya sudah berubah total. Ia bangkit dari tempat tidur raksasa itu dan langsung menuju cermin besar setinggi plafon yang ada di sudut ruangan. Bayangan di cermin menunjukkan sosok wanita dengan kecantikan yang tajam dan dingin, seperti boneka porselen yang tidak punya nyawa. Ingatannya tiba-tiba terisi secara paksa, seperti data yang diunduh dengan kecepatan tinggi ke dalam otaknya. Namanya sekarang adalah Arischa Maheswari, istri dari seorang konglomerat kaku dan ibu dari tiga anak laki-laki yang luar biasa bermasalah. "Arischa yang asli benar-benar menyedihkan," gumamnya pelan sambil menyentuh lehernya yang jenjang. Dalam ingatan barunya, Arischa adalah wanita yang terobsesi pada kemewahan tapi membenci kehadiran keluarganya sendiri karena merasa masa mudanya direnggut. Dia tidak peduli pada anak-anaknya, bahkan tidak ingat kapan terakhir kali berbicara dengan suaminya. Bagi Arischa, rumah ini hanyalah sebuah hotel bintang lima tempat dia bisa menghabiskan uang tanpa batas. Evelyn menarik napas panjang, mencoba mencerna fakta bahwa dia sekarang terjebak di tubuh seorang ibu yang dibenci oleh anak-anaknya sendiri—yang ironisnya, salah satunya akan menjadi protagonis dan satunya lagi menjadi antagonis di masa depan. Pintu kamar tiba-tiba terbuka tanpa ketukan, menampakkan seorang remaja laki-laki dengan seragam sekolah yang berantakan. Wajahnya tampan, namun tatapannya penuh dengan kebencian dan rasa jijik yang tidak ditutup-tutupi. Itu adalah Julian, putra pertamanya yang menurut ingatan Arischa, adalah calon pemimpin bisnis yang dingin tapi punya sisi gelap yang destruktif. "Masih belum mati juga?" tanya Xavier dengan nada datar, seolah menanyakan kabar cuaca hari ini. Evelyn, yang kini adalah Arischa, hanya menaikkan sebelah alisnya tanpa merasa tersinggung sedikit pun. Dia tidak punya ikatan emosional dengan anak ini, jadi makian itu terasa seperti angin lewat saja baginya. Dia justru berjalan santai menuju meja riasnya, mulai memilih-milih botol parfum mahal yang berjejer di sana. "Seperti yang kamu lihat, saya masih bernapas dengan sangat baik," jawab Arischa tenang tanpa menoleh. Xavier tertegun sejenak, biasanya ibunya akan berteriak histeris atau melempar barang jika diajak bicara dengan nada sekasar itu. Respon yang tenang dan tidak peduli ini terasa asing di telinganya. Dia mengepalkan tangan, merasa terganggu karena tidak mendapatkan reaksi yang dia harapkan dari wanita yang dia anggap sebagai beban di rumah ini. "Ayah bilang jangan berbuat ulah hari ini karena ada tamu penting, jadi simpan drama gilamu itu di dalam kamar saja," ketus Xavier lagi sebelum membanting pintu dengan keras. Arischa hanya mengangkat bahunya, tidak merasa perlu mengejar atau membela diri. Baginya, jika keluarga ini tidak peduli padanya, itu justru lebih bagus karena dia tidak perlu repot-repot berperan menjadi ibu rumah tangga yang sempurna. Dia memutuskan untuk mandi, memakai pakaian terbaiknya, dan mencari tahu di mana dapur rumah ini berada karena perutnya mulai keroncongan minta diisi. Saat menuruni tangga rumah yang megah itu, dia berpapasan dengan anak keduanya, Leo, yang sedang duduk di sofa ruang tengah sambil bermain gim dengan ekspresi wajah yang muram. Leo adalah sosok yang dalam ingatan Arischa akan menjadi 'protagonis' yang menderita karena kurang kasih sayang. Namun bagi Arischa yang sekarang, Leo hanyalah anak kecil yang butuh bimbingan tapi dia terlalu malas untuk memberikannya. "Bi, sarapan saya mana?" tanya Arischa pada salah satu pelayan yang lewat, mengabaikan keberadaan Leo sepenuhnya. Pelayan itu tampak gemetar, seolah Arischa adalah monster yang siap menerkamnya kapan saja. "Maaf, Nyonya, biasanya Anda tidak pernah sarapan di rumah, jadi kami tidak menyiapkan porsi untuk Anda." Arischa mengangguk paham, lalu berjalan menuju dapur tanpa memarahi pelayan itu, sebuah tindakan yang membuat Leo mengalihkan pandangannya dari layar gim. Leo memperhatikan punggung ibunya dengan dahi berkerut, merasa ada sesuatu yang salah. Ibunya yang biasanya akan memaki pelayan selama satu jam karena kesalahan sekecil itu, kini malah berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa. "Ma, mau ke mana?" tanya Leo tiba-tiba, suaranya terdengar ragu dan sedikit kaku. Arischa berhenti sejenak, menoleh ke arah Leo dengan tatapan yang sangat datar, hampir kosong. "Cari makan. Kenapa? Kamu mau traktir?" Pertanyaan retoris itu membuat Leo bungkam seribu bahasa, sementara Arischa kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur. Dia tidak berencana mengubah alur cerita atau menyelamatkan masa depan anak-anaknya agar menjadi orang baik. Targetnya saat ini sederhana: menikmati hidup mewah, makan enak, dan tetap tidak peduli pada siapa pun sampai dia menemukan cara untuk pulang—atau setidaknya, sampai dia merasa bosan dengan kekayaan ini. Di meja makan yang panjang, suaminya, Adrian, sudah duduk dengan koran di tangan dan kopi hitam yang mengepul. Pria itu bahkan tidak melirik saat Arischa duduk di hadapannya. Suasana sangat hening, hanya ada denting sendok yang menyentuh piring. Arischa mengambil sepotong roti, mengolesnya dengan selai premium, dan makan dengan sangat tenang, benar-benar tidak terganggu dengan aura dingin yang dipancarkan suaminya. "Tumben sekali kamu duduk di sini," ucap Adrian tanpa menurunkan korannya. Arischa menelan rotinya perlahan sebelum menjawab dengan santai. "Kursinya kosong, jadi saya duduk. Apa saya perlu izin tertulis untuk sarapan di rumah sendiri?" Adrian menurunkan korannya, menatap istrinya dengan tatapan tajam dan penuh selidik. Dia mencari tanda-tanda kemarahan, sarkasme, atau upaya untuk mencari perhatian yang biasanya dilakukan istrinya. Namun, yang dia temukan hanyalah seorang wanita yang tampak sangat nyaman dengan dirinya sendiri, seolah Adrian hanyalah bagian dari dekorasi ruangan. "Berhenti melakukan eksperimen baru untuk menarik perhatianku, Arischa. Itu tidak akan berhasil," tegas Adrian dengan suara beratnya. Arischa terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar tulus tapi juga meremehkan. "Percaya diri sekali kamu. Lanjutkan saja kopimu, saya cuma sedang lapar." Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, tapi kali ini terasa berbeda. Ada ketegangan aneh yang mulai merayap, bukan karena kemarahan, melainkan karena kebingungan yang mulai tumbuh di hati penghuni rumah itu terhadap perubahan sikap sang nyonya besar yang tiba-tiba menjadi sangat acuh tak acuh.ในที่สุดบุตรคนแรกก็ลืมตาดูโลกหล้าที่กว้างใหญ่“ได้ลูกชาย” เสียงหมอตำแยบอกเฟิงอี้พร้อมรอยยิ้ม “ยินดีกับท่านแม่ทัพเฟิงเจ้าค่ะ”เด็กชายตัวน้อยช่างเหมือนบิดาของเขายิ่งนักทั้งหน้าตา ท่าทาง และนิสัยใจคอ ตอนที่ยังเป็นทารกวัยแบเบาะลู่เหมยยังคิดว่าเลี้ยงง่าย แต่พอโตขึ้นมา กลับเริ่มปีกกล้าขาแข็ง ทำตัวดิบเถื่อนเหมือนสามีตัวดีเลย“อาอี้ ท่านพาลูกไปแช่น้ำเย็นเช่นนี้ไม่ได้นะ”หญิงสาวเท้าสะเอวถลึงตาพร่ำบ่นทันทีที่สามีพาลูกกลับบ้านในสภาพเปียกปอนหน้าซีดปากสั่นปานนั้นในขณะที่คนเป็นพ่อกำลังตอบโต้ทว่าไม่ทันเอ่ยคำ กลับเป็นเจ้าตัวเล็กที่อ้าปากจิ้มลิ้มต่อปากต่อคำด้วยกระแสเสียงอันสดใสแต่กังวานฉะฉานแทน“ท่านแม่ห้ามตำหนิท่านพ่อ ข้าต้องการฝึกฝนตัวเองให้แข็งแกร่งทรงพลังที่สุด ภายหน้าจะได้ปกป้องท่านปะไร ห้ามบ่นขอรับ”เหตุผลเช่นนี้ มารดาจะกล่าวต่อว่าอีกได้หรือไร“เฟิงจื่อเมิง” ลู่เหมยแค่นเสียงเรียกนามลูกชายช้าๆ อย่างสะกดอดกลั้นโทสะเอาไว้จนลึกสุดใจ “เจ้านี่นะ”เท่านั้นไม่พอ เจ้าลูกชายตัวดียังไม่รอให้ค่ำมืดดึกดื่นก็รีบปิดประตูลงกลอน ไล่บิดามารดาให้เข้านอนโดยไว “ข้าอยากได้น้องเร็วๆ ขอรับ น้องหญิงหรือน้อ
ในที่สุดข่าวจากชายแดนก็ส่งมาถึงเมืองหลวงหย่งผิงโหวกับเฟิงอี้จึงพากันนำทัพเร่งรุดไปทันทีบนหอสูงนับสิบชั้น ลู่เหมยยืนนิ่ง ใช้สายตามองส่งสามีไปรบแดนไกลอย่างอาลัยอาวรณ์การจากกันครานี้ ปราศจากการทะเลาะบาดหมาง นางจึงจัดสรรสิ่งของต้องประสงค์ให้เขาจนครบถ้วนทุกอย่างไม่ว่าจะเป็นยาสมุนไพร อาวุธ และสิ่งของเครื่องใช้ เรียกได้ว่าเพียงเฟิงอี้กวาดตามองก็ไม่ต้องเรียกหาจากใครทว่าเรื่องนี้ไม่นับว่าน่าห่วงอันใด สิ่งสำคัญคือชีวิตคน ลู่เหมยรู้สึกเป็นกังวลความปลอดภัยของเฟิงอี้เหนืออื่นใด กระนั้นนางกลับทำอะไรมิได้นอกจากสวดมนต์ภาวนาทุกคืนทุกวันไม่ว่ายามหลับหรือยามตื่น หญิงสาวเอาแต่คิดถึงสามีจนกินไม่ได้นอนไม่หลับ อาการหนักขั้นสุด กระทั่งองค์ชายสี่และองค์หญิงเก้าต้องเร่งรุดมาอยู่เป็นเพื่อน“ข้าห่วงหลาน ไม่ได้ห่วงเจ้า” เซี่ยหยวนเต๋อกล่าว“กินข้าวเสียแล้วดื่มยาบำรุงให้หมด” เซี่ยซิงเยียนดุผู้สูงศักดิ์นั่งเพ่งตาสายตาอันกดดันมองสหายกินข้าวดื่มยาครบมื้อแล้วแต่ก็ยังไม่อาจวางใจ จึงพานางเข้าวังหลวง คอยดูแลอย่างใกล้ชิดเคร่งครัดหลายเดือนต่อมา ในที่สุดขบวนจอมทัพทหารกล้าของหย่งผิงโหวก็เคลื่อนตัวเข้าเมืองหลว
ดังนั้น ในเมื่อตอนนี้ทุกอย่างเปลี่ยนไปแล้วสิ้นเชิง ใจของเถียนฮูหยินย่อมเปลี่ยนตามอย่างไร้ข้อกังขาลู่เมิ่งมีน้องสาวที่เป็นถึงฮูหยินของแม่ทัพเฟิงทั้งยังมีองค์หญิงองค์ชายผู้สูงศักดิ์เทียมฟ้าหนุนหลัง คนยังไม่เอ็นดูยอมอ่อนข้อได้หรือเถียนฮูหยินจึงตัดสินใจเป็นฝ่ายเดินทางมาพบบุตรชายคนรองถึงเรือนเถียนจวินด้วยตัวเองทันที“จวินเอ๋อร์ เจ้าเรียกเมิ่งเอ๋อร์มาพบแม่หน่อยเถิด”“ขอรับ”เถียนจวินไม่รอช้า รีบไปตามภรรยารักด้วยตัวเอง ไม่นาน ชายหนุ่มหญิงสาวก็เดินเข้ามาคำนับมารดาเถียนฮูหยินยิ้ม รีบถามบุตรชายต่อหน้าภรรยาเขา “แม่ถามเจ้าสักคำ ขอเจ้าตอบแม่ตามตรงได้หรือไม่”“ขอรับ”“อนุภรรยาที่แม่เพียรเฟ้นหามาให้เจ้าได้เข้าหอกับพวกนางหรือยัง”เถียนจวินอ้ำอึ้ง สุดท้ายก็ยอมรับเสียงเบา “ยังขอรับ ท่านแม่ ลูกไม่...”บุตรชายยังพูดไม่จบ เถียนฮูหยินพลันโบกมือพัลวัน หัวเราะอย่างไม่ถือสาหาความทันทีแน่นอนว่าหากนางรู้เรื่องนี้ก่อนหน้าคงอาละวาด ทว่าตอนนี้นางรู้แล้วว่าลู่เมิงไม่ธรรมดาคนย่อมรู้ความยอมกระทำตัวหน้าหนาแล้ว“ไม่เป็นไร ลูกอย่ากังวล แม้รูปโฉมและฐานะของอนุเหล่านี้จะสูงส่งปานใด ช่วยค้ำจุนสกุลเถียนได้มากแค่ไหน ทว
ลู่เหมยยังคงจดจำได้ ครั้งแรกที่แต่งงานกับเฟิงอี้ ตอนเข้าพิธีเขาเหมือนกระทำให้มันจบๆ ไปอย่างไม่ให้ความร่วมมือเท่าที่ควร แต่การแต่งงานครั้งนี้กลับแตกต่างมาก บุรุษคนเดิม เจ้าบ่าวคนเดิม แต่เพิ่มเติมคือการเอาใจใส่ ทุกรายละเอียดในวันนี้จึงประณีตงดงามและหรูหรา งานมงคลถูกสรรสร้างออกมาได้ยิ่งใหญ่ดีเลิศเหลือเกิน ภายใต้ผ้าคลุมหน้าเจ้าสาว ลู่เหมยยิ้มจนปากจะฉีกถึงหูแล้ววันนี้นอกจากญาติๆ สกุลลู่สกุลเฟิงจากเมืองเยี่ยโจวที่ร่วมขบวนมาอย่างคับคั่ง ยังมีคนสกุลเถียนมาร่วมงานด้วยช่วยมิได้ที่ลู่เหมยตั้งใจเชื้อเชิญมาจนครบเชียวล่ะโดยเฉพาะนายท่านเถียน ฮูหยินเถียน คุณชายใหญ่และครอบครัวของเขาพี่เขยและพี่สาวย่อมที่มาร่วมยินดีพร้อมหน้าอยู่แล้วลู่เหมยแอบมองพวกเขาผ่านผ้าคลุมหน้าที่เลือนราง ทว่าทุกการสังเกตของนางกลับแจ่มชัดยิ่งงานมงคลวันนี้มิใช่เพียงยิ่งใหญ่เกริกไกรสมฐานะศิษย์เอกของแม่ทัพใหญ่หย่งผิงโหว แต่ผู้ร่วมงานยังสูงศักดิ์เทียมฟ้า คนผู้นั้นก็คือโอรสสวรรค์และหลี่กุ้ยเฟย รวมถึงองค์ชายสี่และองค์หญิงเก้าด้วยเรียกได้ว่าในห้องโถงพิธีมีแต่ชนชั้นสูงอย่างแท้จริงลู่เหมยเห็นนายท่านเถียนและฮูหยินเถียนเบิก
ลู่เหมยไม่รู้ว่าตัวเองนอนหลับไปนานแค่ไหนนางรู้เพียงว่าฝันร้ายเป็นที่สุดในฝัน หญิงสาวไล่ตีเฟิงอี้ไม่หยุดนางโมโหมากเหลือเกิน ภาพที่เขาโอบกอดสตรีอื่นยังคงติดตรึงในสมองไม่หายไปไหนเสียที“อาอี้!”ลู่เหมยละเมอสุดเสียง ดวงตาเบิกโตเพราะสะดุ้งตื่นทันใดนั้นท่อนแขนร้อนๆ พลับพาดผ่านลำตัวแล้วโอบกอดรัดรึงร่า
ลู่เมิ่งส่ายหน้าไม่ยอม “แต่ข้าสู้อำนาจแม่สามีไม่ได้ ต่อให้ใจเขามีเพียงข้าแล้วอย่างไร มอบตำแหน่งภรรยาเอกแล้วอย่างไร เขาเองก็มิอาจต่อต้านหรือขัดคำสั่งมารดาได้มากกว่านี้เช่นกัน”ลู่เหมยยิ้ม ทอดเสียงอ่อนลง “เพราะแบบนี้ปะไร ท่านถึงต้องทำหน้าที่ภรรยาตามที่ข้าบอกไปเมื่อครู่ ข้ารู้จักอาจารย์ดีๆ หลายคน จะช่
เถียนจวินนิ่งงัน ครู่หนึ่งจึงกล่าวเสียงฝืดเฝื่อนติดขัด “ข้าไม่แน่ใจ นางบอกว่าขอไปตลาด แต่จนยามนี้ยังไม่กลับ ข้าไม่กล้าทัดทาน แต่ก็ไม่อาจติดตามคอยเอาใจนางดุจเดิม ข้ารู้ ช่วงนี้นางไม่มีความสุขเท่าที่ควร ความทุกข์ของนางล้วนเป็นเพราะข้า แต่ยามนี้ข้ากลับทำอันใดมิได้เลย นอกจากยอมอ่อนข้อให้ทุก
ลู่เหมยปาดน้ำตาออกจากพวงแก้มอย่างไม่ไยดี ค่อยๆ กวาดสายตาไล่อ่านรายงานเรื่องของคนสกุลเถียน ที่แท้ผู้ที่เดินทางมารับตำแหน่งใหม่ถึงเมืองหลวงคือบิดาของพี่เขย พวกเขาย้ายครอบครัวมาอยู่ทางทิศใต้ห่างจากตัวเมืองไม่ไกลตำแหน่งขุนนางใหม่ในราชสำนักจะสามารถดำรงอยู่อย่างมั่นคงในเมืองหลวงได้ ย่อมต้องสร






reviews