LOGIN夫のパソコンを整理する時に、あるフォルダーを偶然に開いた。 中には想像以上多くの大人向けの動画が保存されていた。 中で撮られた人は彼と、私じゃなくて、私の生涯独身でいる親友だった。 私は出産した後、彼の体が悪くなり、ああいうことができないと言って、私とはずっとセックスなしの関係を続けてきた。 40年間一度も触れられずに過ごしてきた。 一生懸命に、子供を産み育ててきたのに、結局すべてが嘘だったとは想像もしなかった。
View More"Ini Mira, Dek. Kami baru saja menikah pagi tadi," ucapnya dengan mantap. Tak tersirat sedikit pun dari nada bicaranya dia merasa bersalah.
Aku bergeming.
"Dek?" panggilnya lagi karena melihatku hanya diam sembari tetap sibuk mengotak-atik ponsel. "Aku sedang bicara denganmu, Dek. Kamu enggak dengar?"
"Dengar, kok," sahutku santai. Melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan ponsel.
"Aku sudah menikah lagi, Dek." Dia mengulang kalimatnya dengan suara lebih tegas.
"Hm, terus?" Kini aku menatapnya tenang. Meletakkan ponsel di pangkuan, lalu bersedekap.
Bang Leon dan wanita bernama Mira itu saling menatap bingung. Aku hanya tertawa dalam hati.
Apa dia pikir aku akan menangis-nangis? Bersujud memintanya agar menceraikan wanita itu dan kembali padaku?
Halah, mimpi saja kamu, Bang!
"Kamu enggak marah, Dek?" tanyanya tak percaya.
"Kenapa aku harus marah? Baguslah kalau Abang sudah menikah lagi," ujarku cuek. Mengambil toples camilan di meja, lalu memakan keripik singkong yang ada di dalamnya.
Beban batin yang selama ini kurasakan sendirian dan kukubur dalam-dalam, kini tak lama lagi beban itu akan segera dirasakan oleh wanita lain. Kita lihat saja. Apa dia mampu bersabar dan menerima Bang Leon apa adanya sepertiku?
"Jadi, kamu sudah setuju dengan pernikahan keduaku ini?" tanyanya lagi dengan tatapan yang ... entahlah. Dia seperti terlihat kecewa.
Kenapa pula dia terlihat seperti tidak bahagia? Bukankah ini yang dia inginkan?
Dulu, Bang Leon sering sekali membahas tentang poligami. Aku hanya menanggapi dengan santai karena memang itu diperbolehkan.
Hanya saja, setiap kali dia bertanya apa aku mengizinkan jika dia juga melakukannya? Kujawab dengan tegas dan lantang 'silakan menikah lagi, tapi ceraikan aku dulu'.
Aku memang tak menentang, tapi bukan pula yang sanggup menerimanya. Kadar keikhlasan dan kesabaran yang dimiliki masih jauh di bawah rata-rata. Bisa-bisa aku gila jika membayangkan dia berbagi kehangatan dengan wanita lain.
"Bukannya sudah lama Abang tahu jawabanku? Aku enggak pernah melarang Bang Leon memiliki istri lebih dari dua. Tapi asal bukan aku istri pertamanya. Ceraikan aku dan nikmatilah hidup bersama istri baru." Aku menunjuk wanita berambut ikal cokelat itu dengan dagu. "Setelah itu, Abang bebas menikah lagi dengan wanita mana pun. Tentu Mira enggak akan keberatan, 'kan?"
Raut wajah wanita itu berubah seketika. Dia yang sedari tadi bersikap tenang dengan tangannya yang terus digenggam Bang Leon pun jadi terkejut. Dia spontan menoleh pada calon mantan suamiku itu dengan wajah cemberut.
"Kenapa? Apa kamu keberatan kalau Bang Leon menikah lagi nantinya?" sindirku dengan senyum tipis.
Wanita itu diam dan langsung melepaskan tautan jemarinya.
Cih, munafik! Berani mengganggu kehidupan rumah tangga orang lain, tapi sendirinya tidak sudi diperlakukan sama.
"Kita enggak perlu bahas itu sekarang, Dek. Kita ini sedang membahas aku, kamu dan Mira."
"Ya, terus? Maunya Abang apa?" tanyaku sembari kembali asyik menyantap camilan.
"Aku mau kamu menerima Mira sebagai adik madumu. Kita hidup damai bertiga di rumah ini, Dek."
"Enggak bisa," jawabku cuek. "Keputusanku akan tetap sama. Ceraikan aku atau selamanya wanita itu hanya akan berstatus istri sirimu," tegasku dengan tatapan dingin.
"Kamu tahu Mira, dengan statusmu yang hanya sebagai istri siri, kamu akan sangat merugi. Jika suatu saat kalian berpisah, kamu enggak bisa menuntut harta gono-gini karena status pernikahan kalian enggak diakui negara. Kamu juga bisa saja ditinggalkan seenaknya oleh Bang Leon, dan dia menikah lagi dengan wanita lain saat nafsu kembali menguasainya."
"Itu nggak mungkin terjadi!" bantah Bang Leon cepat. "Kamu jangan sembarangan bicara, Dek. Apa kamu pikir aku semudah itu terpaut hati pada setiap wanita yang ditemui?"
"Oh, jelas," sahutku tak kalah cepat. "Ini ... buktinya aja sudah ada," kataku santai sembari menunjuk Mira yang wajahnya ditekuk.
Bang Leon bungkam.
"Kenapa diam?" sindirku dengan senyuman miring.
"Aku enggak akan begitu, Dek. Ini pernikahan terakhirku. Aku janji akan setia pada kalian berdua," ujarnya dengan lembut.
Memuakkan!
Aku terkekeh pelan. "Apa janjimu masih bisa dipertanggung jawabkan, Bang? Janji suci pernikahan kita saja kamu ingkari," sindirku yang kembali membuat Bang Leon diam seribu bahasa.
"Hey, Mira! Status siri ini bukan hanya merugikanmu sendiri, tapi juga anakmu nanti. Di akta lahir, hanya akan tertulis nama ibu. Bisa, sih, nama ayahnya juga dicantumkan. Tapi prosesnya rumit termasuk harus ada tes DNA dan itu butuh banyak uang!"
Wanita berkulit sawo matang itu semakin menunduk dengan kedua tangannya saling meremas di pangkuan. Bang Leon hendak meraih jemari itu untuk menenangkan, tapi dia menolak.
"Dek, kumohon jangan menakuti Mira seperti itu."
Bagus, Bang. Bagus!
Bang Leon bahkan membela istri barunya dibandingkan aku yang sudah menemaninya sejak nol. Kini, saat ekonomi semakin membaik dengan seenaknya dia datang begitu saja membawa istri baru ke rumah ini.
"Siapa bilang aku menakuti? Itu fakta! Kalau enggak percaya, pakailah ponsel pintar kalian itu untuk mencari informasinya." Aku tersenyum mengejek.
Ponsel saja yang pintar, tapi pemiliknya tidak. Menyedihkan!
"Bujuk Bang Leon supaya menceraikanku jika ingin pernikahanmu legal secara hukum. Jangan harap aku sudi berbagi dan memberikan kalian izin menikah secara resmi. Enggak akan pernah!"
"Bang," rengek Mira dengan wajah memelas. "Apa yang dikatakan Mbak Lusi itu benar. Bang Leon juga udah janji mau nikahi aku secara resmi, 'kan? Pokoknya aku enggak mau kalau hanya menikah siri! Bang Leon harus memilih antara aku atau Mbak Lusi!"
Mamam, tuh, Bang! Pilih saja dia supaya wanita itu bisa merasakan derita yang selama ini kurasakan.
"Enggak!" tukas Bang Leon. "Aku enggak akan pernah menceraikan Lusi. Pun enggak akan melepasmu."
"Tapi, Bang—"
"Ssstt, diamlah," potong Bang Leon dengan menatap tajam Mira. "Biar aku yang bicara dengan Lusi. Kamu diam saja."
Mira mendengkus kesal, lalu bergeser menjauh dengan wajah cemberutnya.
"Aku janji akan berbuat adil, Dek. Terimalah dia sebagai adik madumu, ya. Izinkan aku menikahinya secara hukum negara juga," pintanya dengan tatapan memohon.
Sakit?
Tentu saja. Hati ini seperti diremas-remas mendengar dia berucap dengan begitu mudahnya tanpa memikirkan perasaanku. Nyeri, tapi sekuat mungkin aku bertahan. Kehilangan Bang Leon tidak akan membuat hidupku berakhir saat ini juga.
Aku berdiri, menatap angkuh keduanya sembari melipat kedua tangan di dada.
"Keputusanku enggak akan pernah berubah, Bang. Kita bercerai kalau Abang mau menikahinya secara resmi. Jangan jadi pria serakah!" tegasku tak ingin dibantah dengan sorot mata tajam.
"Dan kamu, Mira. Pikirkan baik-baik semua ucapanku tadi. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari! Aku juga wanita. Aku enggak mau kamu merasakan hal yang sama sepertiku. Pikirkan juga masa depan anakmu nanti," kataku dengan seulas senyum sinis, kemudian berlalu pergi tanpa menoleh lagi.
Aku melangkah cepat menuju lantai atas. Hati ini jelas sakit, tapi tak ada setitik pun air mata yang menetes. Semua itu sudah kering. Sudah habis ketika satu minggu yang lalu, aku menangis perih saat mengetahui fakta bahwa Bang Leon memiliki wanita idaman lain.
Ini bukan poligami yang benar. Ini perselingkuhan! Bahkan, mereka sudah menjalin hubungan diam-diam selama dua bulan sebelum akhirnya menikah siri.
Aku tak sengaja membaca chat mesra di ponsel Bang Leon dari kontak bernama Ari. Merasa ada yang tak beres, kuputuskan untuk menyadap, dan akhirnya mendapatkan bukti bahwa ternyata Ari itu wanita. Dialah Mira—teman sekantor Bang Leon.
Benar. Insting wanita itu memang kuat. Sudah lama aku curiga, tapi berusaha menepis itu dan tetap berpikir positif. Nyatanya, kepercayaan yang kuberikan itu sia-sia belaka.
Bukti chat bahwa mereka sering jalan bersama dengan alasan lembur membuat hati ini seketika membeku. Cinta yang ada di hati langsung lenyap begitu saja tak tersisa. Kekecewaan ini begitu besar hingga rasanya mati rasa.
Lihat saja, Bang! Kamu pikir aku akan hancur karena kehilanganmu? Tidak sama sekali!
🌸🌸🌸
私には多くのファンがいて、70歳の高齢でありながらも大きな成果を収めたことで、人々が私に同情し、フォロワーが急増した。コメント欄では、クズ男と女を非難した応援のメッセージで溢れている。そして、将太とひばりは完全に世間からの信頼を失うのを余儀なくされた。事態が静まるかと思っていたところ、将太のパソコンが壊れたということがあった。彼が修理に出した際、スタッフがあのフォルダを発見してしまった。そして、そのスタッフは私のファンであり、それらのビデオをすべて公表した。ネット上では再び大騒ぎとなり、将太とひばりへの非難の声が再燃した。大学のほうもこれを知って、彼が得たすべての栄誉を取り消した。しばらくして、息子一家が将太とともに再び私の家を訪れた。彼らはたくさんのギフトを持って、金のブレスレット、指輪、ネックレスまで私に買ってきた。「すまなかった。僕が悪かった。許してくれないか。君の大切さ、今になって分かったよ」しかし、私は彼の痩せて老いた姿を見ると吐き気がした。「ゆみ、僕はお前なしでは生きていけない。僕たち、ずっと夫婦だったんだぞ。ここで終わりにするわけにはいかないだろ。君がいないと、食べ物もまずくなったよ」彼は涙を流し始めた。「じゃ、飢え死にしてもいいよ」「ゆみ、君はいつも僕に優しかった。なぜ今こんなに冷酷なんだ?」「本当に情けないわ。私はお前に一生尽くしてきたのに、お前はどう?私を子供を産むための道具としてしか見なかった。裏切り続けて40年、人は一度しか生きられないのよ。だから、どうしてここに来る勇気があるの?」「壁に頭をぶつけて潰すべきだろう」「お母さん、お父さんは悪いことをしたが、今何も持ってないんだから、許してくれないか」「黙れ、お前も一緒だ。私が苦労して育てたのに、ひばりを母親として認めるなんて。自分を人間らしいと思っているのか?私を呼びつけ、あの女が枝で怪我しそうになった時、枝を取り除いてやったのを忘れていないわ。お前らに言うことは何もない出て行け、二人とも」彼らは立ち去ることなく、近くのホテルに泊まり、毎日私を悩ませに来た。仕方なく、私はドアをロックして旅行を続けた。ひばりが亡くなったというニュースは、私がネットで見つけた。彼女はこの数年、他の男性たちと乱れた関係を続けていた。
嫁が息子に平手打ちをし、「さっさとに謝りなさいよ。お義母さんはあなたを産んで育てて、大事にしてきたんだから。あの日、あなたが言ったこと、すごく酷いって思わないの。お義母さんの心を傷つけたのよ」「お母さん、ごめんなさい。本当に悪かった。そんなことをしてしまって、本当に後悔している」「後悔?本当に私を母として扱っているの?家に家政婦がいなくなるのが惜しいだけで、本当の意味で後悔なんかしていないだろう。残念なのは、ひばりが従順な家政婦じゃなかったことだ」子供の頃に何を言ったか覚えてる?ずっと私と一緒にいて、ずっと私を愛し、決して私を悲しませないって。でも実際にやったことはどう?あなたは良心のない父親と同じで、自分勝手で、虚偽に満ちている。決して許さない。子供の世話が必要なら、お手伝いさんを雇えばいい。私を無料のお手伝いさんとして頼らないで「私は今、自分のために生きたいわ。仕事も持っているし、皿洗いや掃除だけをするあなたのお母さんじゃないって分かってる?もしこれ以上、私を引き留めるようなら、警察に通報するわよ」そう言い残し、私はその場を去った。それから、私は自分の道を進み、キャリアも順調で、将太やひばりとはすっかり別世界の人間になった。多くのファンたちに愛されているだけでなく、作品の版権収入は彼らの年収を遥かに上回り、私はもはや彼らの存在に振り回されることはなくなった。そして、将太とひばりの間にも亀裂が生じているようだった。ある日、不動産を処分するために戻ったところ、偶然、将太とひばりが激しく口論している場面を目にした。周囲には人が集まり、スマホで記録している人までいる。「恥を知らないか?こんな年になっても他の男と寝てるだと?」と将太は怒鳴り、ひばりを平手打ちで打ち据えていた。「ふざけるな。私はあんたの妻じゃないのよ」ひばりは泣きながら叫んだ。彼らのやり取りを聞きながら、私はなんとも言えない気持ちになった。「本当にお前みたいな厚かましい女を見誤ったよ。ここ数日、お前は化粧ばかりで、料理は下手くそだし、家中ゴミマンションになってしまっただろう。ゆみには全く及ばない。俺が一番後悔しているのはゆみを裏切ったことだ」「ゆみのことばかり言って。そんなにいいなら、どうして私を選んだのよ?ゆみはもう高嶺の花だし、今さら手が届くわ
私は、自分の人生を取り戻し、自分の道を歩み続けた。SNSアカウントもどんどん人気が出て、時にはライブ配信も行い、多くの人々が私に質問を投げかけたり、若い頃美人であっただろうと褒めてくれたりするようになった。私はずっと古風で趣のあるものが好きで、学生の頃、国語が得意で、和歌や俳句にも深い素養があった。でも、貧乏だったので、女の子だから勉強なんてしても無駄だと言われた。結局は嫁いでいくのだから、お金をかける価値がないと考えられていた。家で農業をする人がいなくなるのも困るから、私の学業を諦めさせた。もし勉強を続けていれば、将太と関わることもなかっただろうし、きっと心から私を愛してくれる夫がいたかもしれないと時々考えていた。でも、過去はともかく、どれだけ言っても、無駄だから。田舎の生活をシェアするほか、詩を書き始めた。意外にも人気になって、フォロワーはわずか2ヶ月で100万人にまで増えてきた。ある日、制作会社から連絡もあり、私の詩を歌詞として使用したいとの依頼を受けた。喜んで承諾し、その歌はすぐにヒットした。その後も、多くの出版社からオファーがあり、私は名実ともに詩人としての道を歩み始めた。順調ではかったが、私はついに夢を叶えたのだ。ネットで、将太はひばりとの結婚記念日の宴会を挙げたことを知った。彼は「ひばりが最初から妻だった」と言っており、多くの人々が彼らの「愛」に感動していた。これを見て、私はすでに過去を乗り越えたと気づいた。二ヶ月後、私は国際文学賞を受賞し、帰国すると空港で多くのメディアが待っていた。記者たちは次々と私にマイクを向け、ファンたちもサインを求め、熱烈な歓迎を受けた。空港を出ようとするところ、息子一家が目の前に現れた。息子は私の手を握り、「お母さん、本当に素晴らしい。我が国の誇りだ」と称賛の言葉を言ったが、私は無視して足早に立ち去ろうとした。「そうだよ、おばあちゃんすごい」私は彼らの言葉には反応しなかった。「お義母さん、今せっかくだから、食事でもしてお祝いしようよ」と嫁が誘った。「悪いけど、もう食事は済ませたから」しかし、孫が足にしがみつき、「おばあちゃん、僕を嫌いになったの?もう肉団子は作らなくてもいいよ。おばあちゃんがいい。あのばばあは嫌い」と言った。その可愛い姿に
翌朝、ホテルの部屋から出ると、廊下のドアの前に将太が座り込んでいたのを見た。彼は私が出たのを気づいて、急いで立ち上がり、緊張した表情で言った。「離婚の話じゃないなら、出て行って」「ゆみ、もう一度だけチャンスをくれないか?」「将太、まだそんなふうにするつもり?離婚すれば、あの女と一緒になれるから。嬉しいでしょ?」「本当に子供たちには話さないか?噂を広めるのもしないか?」この年老いてなお端正な姿を見つめながら、かつてなぜ彼に惹かれたのかが不思議に思えてきた。「余計なことはいいから、今すぐ離婚届にサインして。さもなければ、学校であなたのことを大きく暴露してやるから」彼はついに離婚に同意した。私が彼の名誉を保つ条件で、彼はすべての財産を私に譲渡し、手ぶらで出て行くことになった。一か月後、市役所で再び会い、離婚証明書を取得して私たちは完全に別々の道を歩み始めた。遠くには、ひばりの車が見えた。彼の不動産の売却は面倒だと思い、すべて賃貸に出した。五、六軒の家賃収入だけでもかなりの額になり、裕福に生活できるだろう。その後、私は故郷へ戻った。長いあいだ投稿を中止していたが、新しい生活を始め、猫を飼い、庭で野菜を育てる日常をSNSで共有すると、予想以上に多くの人が共感してくれた。「いいね」が100万件を超え、フォロワーが数万人に増えた動画もあった。その日、自分へのご褒美のためにケーキを作った。ゆっくりと味わっているところ、不意に息子が怒鳴り込んできた。「お母さん、本当にお父さんと離婚したのか?俺が最初に反対したのに、こんなことをして、恥をかかせるなんて......」「前にも言ったけど、私はお前の許可なんていらないの。私は私の人生を生きるから」息子は顔を赤らめて声を荒げたが、次第に落ち着きを取り戻し、「お母さん、前回は俺が悪かった。ごめんなさい。一緒に家に戻ろう」と懇願するように言った。「ここはお母さんの住むべき場所じゃない。高層マンションを離れて、こんなぼろぼろのところに住むなんて。買い物も不便だろう」「ここでは、毎日家政婦のように働かずに、空気を読みながら過ごす必要もないから。食事も美味しいし、よく眠れるの」「お母さん、広ちゃんも母さんに会いたがっているんだ。俺たちみんな忙しすぎて、お母さんが
reviews