ログイン大学入学共通テストを控えたある日、私は10年後の自分から手紙を受け取った。 【垣見萌々香(かきみ ももか)、お願いだから浮海卓(うきがい たかし)とは絶対に結婚しないで。あなたたちの結婚生活は、救いようのない悲劇にしかならないから】 顔を上げると、向かいの席で卓が繊細な手つきで私のために魚の小骨を取り除いてくれている。 彼は誰もが憧れる学校の王子様だが、決して威張ることはなく、私にはいつも尽くしてくれて、何でも言うことを聞いてくれる。 手紙の内容は、あまりにも突飛で悪質な嫌がらせにしか思えない。 私は納得がいかず、ペンを手に取って手紙の裏に怒りを込めて反論を書き綴った。 【あなたに何がわかるの!彼の瞳には私しか映ってない。彼が私をないがしろにするはずなんてないわ。 子供の頃から今まで、私が誰かにいじめられたら、彼はいつだって真っ先に飛び出して守ってくれた。 雨の日だって、自分がずぶ濡れになっても、傘を全部私の方に向けて差してくれる人なのよ】 最後に、私は力強くこう書き添えた。 【最悪の結果になったとしても、せいぜい苦労するくらいでしょ?命まで取られるわけじゃないんだから】 ペンを置いた直後、紙の上に新たな文字が浮かび上がった。 【いいえ、あなたは死ぬことになるわ】
もっと見るRinai masih merasa terpukul atas berita pertunangan suaminya sendiri dengan wanita lain yang terus saja berseliweran di media sosial beberapa jam yang lalu. Berita itu pun langsung ramai diperbincangkan, dan lagi-lagi… Rinai terseret dalam rumor itu, makin menyudutkan posisinya.
Dia berniat untuk menghubungi sang suami—Kalantara, tepat saat pintu kamarnya diketuk berulang kali dari arah luar. Sontak, Rinai beranjak dari ranjang dan segera membukanya."Selamat malam menantu papa," sapa pria paruh baya yang langsung tersenyum lebar saat pintu kamar dibuka oleh menantunya. "Kok kaget?" tanyanya saat melihat perubahan drastis di wajah Rinai.Rinai tidak bisa untuk tidak terkejut saat melihat pria yang telah merenggut kesucian serta merusak masa mudanya berdiri santai di ambang pintu, ayah mertuanya tersebut tersenyum penuh gairah dengan tampang tak berdosanya di sana. Ingatan Rinai seakan ditarik paksa pada kejadian beberapa tahun lalu, saat Angkasa mengurungnya di ruang kokpit dan menggagahi Rinai di atas ketidakbersayaannya kala itu.Ratap tangis dan kepiluan Rinai saat itu pun kembali terbayang di pelupuk matanya. Apalagi saat kini, Angkasa melangkah pelan ke arahnya dengan tatapan mesum, persis seperti dulu. Membuat Rinai merasakan pahit di tenggorokannya ketika menelan cairan salivanya sendiri."Hei, kenapa buru-buru mau tutup pintunya sih, Menantu?" goda Angkasa sambil mengulum senyumnya. Satu tangannya terulur untuk memberi dorongan pada pintu agar Rinai tidak berhasil menghalanginya untuk masuk. "Tenang, mama kamu nggak ada kok. Kala juga malam ini datang ke acara Star Award untuk menemani tunangannya," cerita Angkasa sedikit menyeringai. Lebih tepatnya ingin mengolok kecemasan yang terlihat jelas di wajah Rinai.Dada perempuan itu langsung bergemuruh hebat. Keringat dingin mulai membasahi pori-porinya. Rinai mulai panik dan menggeleng samar saat Angkasa mulai mengurai jarak di antara mereka. Perasaannya makin tak karuan, terlebih saat tatapan mata keduanya saling bertemu—ada kilat gairah di bola mata Angkasa saat ini."Hanya ada kamu dan saya," imbuh Angkasa setengah berbisik."Stop, Capt!" pinta Rinai dengan tegas. Setidaknya, Rinai tengah berjuang untuk tidak terlihat menciut di hadapan ayah mertua, sekaligus seniornya saat bekerja sebagai pramugari—jauh sebelum akhirnya Rinai dikenal sebagai kupu-kupu malam.Alih-alih berhenti, Angkasa justru terlihat makin bergairah. Perlahan, Angkasa terlihat mulai membuka satu per satu kancing kemejanya. Sambil terus menatap ke arah leher dan belahan dada Rinai yang membuatnya makin menggila karenanya."Ayo, kita wisata masa lalu dulu," kekeh Angkasa saat Rinai terus menggeleng, seiring langkah kakinya yang bergerak mundur. "Dulu juga kamu minta saya untuk berhenti, tapi pada akhirnya—saya berhasil mendapatkan apa yang saya inginkan. Begitu pun dengan hari ini," bisiknya."Sa—saya menantu Anda, Capt!" Rinai sedikit tergagap. "Istri dari anak Anda sendiri. Anda udah nggak waras, ya?""Dia yang merebut kamu dari saya, Rinai…" Angkasa menggeram pelan saat melempar kemejanya ke lantai. "Harusnya kalian nggak perlu saling kenal. Toh juga dulu saya mau tanggung jawab, walaupun hanya sebagai istri kedua—setidaknya kamu dapat hidup yang layak.""Ck!" desis Rinai. "Saya lebih baik jadi wanita malam, ketimbang harus menjadi istri kedua untuk pria sepantaran ayah saya seperti Anda."Angkasa kembali tergelak. "Rinai, Rinai, Rinai…" Tangannya berusaha meraih pinggul perempuan tersebut dan menahannya dengan erat. "I got everything you need. Kamu mau uang? Kamu mau hidup serba mewah? Kamu mau perhatian? Mau cinta? Kamu tinggal ngomong, kamu mau apa…""Dari dulu … yang kurang dari Anda itu hanya moral!" ketus Rinai."Bahkan, saya bisa mencintai kamu lebih dari pria mana pun di dunia ini. Apalagi kalau mau kamu bandingkan sama Kala, dia itu cuma laki-laki bau kencur yang nggak bisa memperlakukan wanita secantik kamu dengan baik."Rinai mendengus kesal. Tetap berusaha menahan keseimbangan tubuhnya agar tidak jatuh ke atas ranjang, apalagi saat merasakan tangan Angkasa mulai mendorongnya dengan perlahan."Saya tahu, menjadi istri Kala adalah sebuah penyesalan dalam hidupmu.""Nggak," bantah Rinai dengan cepat, seiring gerak tangannya yang berusaha melindungi belahan dadanya yang sedari tadi menjadi perhatian Angkasa. "Penyesalan saya justru kenapa saya harus ketemu Anda tiga tahun yang lalu. Kenapa saya harus terjebak di ruang kokpit dan kenapa saya nggak berhasil kabur dan gagal menyelamatkan diri!" hardik Rinai dengan suara bergetar di ujung kalimatnya.Entah dapat kekuatan dari mana, Rinai berhasil mendorong Angkasa hingga pria paruh baya tersebut terpental ke lantai."Anda hancurkan hidup saya… Anda buat semua mimpi saya berantakan… Anda hajar mental saya habis-habisan… Terus sekarang Anda mau apalagi? Anda belum puas?!" sembur Rinai seraya duduk di samping Angkasa yang tengah berusaha untuk bangkit dari posisinya. "Kalau ada yang tanya—kenapa saya memilih untuk jadi pelacur, maka jawabannya Anda-lah alasannya!"Angkasa menelan cairan salivanya dengan perlahan, menatap manik mata Rinai yang tertutup cairan bening yang menggenang di sana.Dia pun berkomentar dengan datar, "Saya ajak kamu tinggal bareng, bukan suruh kamu melacur. Kamu aja yang memilih jalan itu.""Anda tahu, dulu… saya butuh pekerjaan itu, saya butuh uang untuk biaya pengobatan ibu saya. Tapi dengan mudahnya, Anda menghancurkan semuanya—termasuk mental saya…""Saya beri kamu tawaran yang luar biasa waktu itu, saya harap kamu nggak lupa, Rinai…"Rinai tertunduk. "Nama baik saya kelewat hancur, tatapan semua kru, sindiran mereka setiap kali kami berpapasan, belum lagi tekanan dari perusahaan—sumpah, itu membuat saya ingin bunuh diri berulang kali."Angkasa bisa mendengar dengan jelas bagaimana bergetarnya suara Rinai saat ini. Tapi dia pun tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk Rinai dan mengakui, "Karena saya jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali kita bertemu, Rinai…""Rinai! Angkasa! Apa-apaan kalian?!"Angkasa terperanjat kaget. Begitu juga dengan Rinai yang langsung bangkit dari duduknya, Rinai menggeleng samar saat tatapannya bertemu dengan sorot tajam milik Shakira.PLAK!Satu tamparan kuat menyentuh pipi Rinai dengan sangat tidak ramah. Pipinya memanas dan rasanya menjalar sampai ke puncak ubun-ubunnya."Sekali pelacur akan tetap jadi pelacur!" teriak Shakira seraya mendorong tubuh Rinai hingga terpental ke meja rias di belakangnya. "Berani-beraninya kamu goda suami saya… berani-beraninya kamu berniat memberikan tubuhmu ke suami saya. Dasar wanita Jalang!" maki Shakira, tak peduli dengan ringis kesakitan di wajah Rinai."Rinai nggak salah kok, Ma…""Ya nggak salah di matamu!" balas Shakira beralih menatap Angkasa. "Bisa-bisanya kamu buka baju dan celana di kamar pelacur ini. Kayak nggak ada perempuan lain yang bisa kamu tiduri, Mas!""Kamu salah paham, aku dan Rinai…""Salah paham?" tanya Shakira menelik Angkasa dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Bajumu berserakan di lantai, celanamu di depan pintu begitu, dan kamu peluk si Jalang ini… kamu masih berani bela diri, Mas?""Tapi—""Sejak perempuan ini masuk ke kehidupan kita … nggak ada lagi kedamaian dan juga kebahagiaan di rumah ini." Lantas, Shakira kembali beralih ke arah Rinai, menyeret perempuan itu keluar dari kamar tersebut. "Wanita murahan sepertimu nggak perlu lagi ada di rumah ini. Setelah kamu beri pengaruh buruk sama anak saya, sekarang kamu malah ingin merayu suami saya. Sumpah, kamu sampah paling kotor yang pernah saya temukan!" makinya.Rinai tersenyum kecil di sudut bibirnya. "Suami Anda justru lebih sampah lagi," komentarnya seraya melirik sinis ke arah Angkasa. "Coba tanya sama pria brengsek ini, udah berapa orang perempuan yang berhasil dia hancurkan hidupnya. Tanya sama dia, udah berapa kaki yang pernah dia buka dengan paksa untuk memuaskan hasratnya. Tanya dia…"PLAK!Shakira semakin tersulut emosi, entah berapa kali tamparan yang kini dia layangkan ke wajah Rinai. Memukulnya dengan brutal tanpa ampun.Shakira menulikan telinganya dari isak tangis serta rintihan kesakitan dari meluncur dari bibir Rinai. Bahkan, Shakira tidak menghiraukan lagi kondisi Rinai yang berlumur darah."Kamu pantas mati, Jalang!" teriak Shakira. "Berani-beraninya kamu panggil suami saya 'si Brengsek'. Pelacur sepertimu nggak pantas buat hidup tenang.""Mama! Udah! Hentikan!" teriak Angkasa."Emang udah paling bener aku pisahkan Kala dari dia!"「委員長、彼女に縋らないで!彼女は冷たい人間よ。それに、お父さんが言ってた。あと200万円さえあれば、きっと全部取り返せるって」パッ!卓は振り返って手を上げ、美希の頬を思い切り打った。彼女の口元から血が滲んだ。「黙れ!消えろ!二度と僕の前に現れるな!まだギャンブルを続ける気か?お前ら一家は全員狂ってる!」二人は宴会場で取っ組み合いを始めた。その姿はあまりに無様で、吐き気を催すほど醜悪だ。私が合図を送ると、すぐに警備員が駆けつけて、二人を外へ引きずり出した。重い扉が閉まる瞬間、卓の絶望に満ちた叫び声が響き渡った。「萌々香!僕は後悔してるんだ!本当に、心の底から後悔してるんだ!」萌が隣に寄り添い、静かに言った。「終わったわね」――ええ、終わった。あの愚かすぎた青春は、完全に終わったのだ。……その夜、私はとても長くて不思議な夢を見た。夢の中で、私と萌は遊園地にいる。そこは、私が子供の頃からずっと行きたかった場所。萌のいた世界では、卓が連れて行くと約束していたにもかかわらず、美希の通院に付き添うためにその約束を破った場所だという。萌の姿は変わっていた。もうあの入院用パジャマ姿ではなく、傷も血の跡も消えていた。今の私と同じように若々しく、美しいワンピースを着て、晴れやかに笑っている。「萌々香、ありがとう」彼女は私に綿あめを差し出した。「何にお礼を言ってるの?」私は不思議に思いながら、それを受け取った。「私を救ってくれて、そしてあなた自身を救ってくれたことに」私たちはベンチに並んで座り、遠くで回る観覧車を眺めている。すると、周囲の景色が急激に変わっていった。私は未来の卓を見た。萌が亡くなった後、彼はついに美希の本性に気づいた。彼女が卓の金を騙し取り、若い男を養っていたことを。卓は正気を失った。彼は萌に許しを請おうとしたが、その時にはすでに萌はあの手術台の上で息を引き取っていた。彼は最終的に酒に溺れ、雪の降りしきる冬の夜に凍死した。未練を残し、その手には萌と一緒に写った写真が強く握りしめられていた。「これが彼の結末だったのか?」「ええ。本来の結末であり、彼にふさわしい報いよ」萌が別の方向を指さした。そこには現在の卓がいる。借金を返す当
美希は卓の傍らで、小さな声で言い訳をしている。「私だって、わざとじゃないわ。渋滞するなんて知らなかったもの」卓はふと顔を上げ、彼女を力強く突き飛ばした。「消えろ!消え失せろ!泉田美希、疫病神め!お前が僕を破滅させたんだ!」彼はついに真実に気づいた。だが、遅すぎた。彼の未来は、彼自身の手によって葬り去られた。……翌日、解答速報が公開されると、私は自己採点を始め、家族は傍で見守っている。忠一の手は震え、昔、千里にプロポーズした時よりも緊張している。「萌々香、もしダメでも大丈夫だ。パパが一生養ってやる。いや、パパとママが一生養ってやるからな」私は深呼吸し、点数を計算した。「825点!」「あああああ!萌々香、最高だぞ!」忠一は興奮のあまり、机をドンと叩いた。そして千里を抱きかかえて回った。私は紙に書かれた点数を見つめ、目頭を熱くしながら、ようやく胸のつかえが取れるのを感じた。萌は机の横でピースサインを作っている。その蒼白な顔でのポーズは少し不気味だが、私は笑った。同時に、クラスのグループチャットはお祭り騒ぎとなった。【うわああ!垣見の自己採点は900点満点中800点台だって?】【マジか?これでA判定に決まってるでしょ!】【すげえ!T大確実じゃん!】【浮海はどうだった?誰か知ってる?】【900点満点中500点台だってさ。私立大のボーダーも怪しい。地理歴史を欠席して、精神的に完全に参ったらしい】【ひえぇ、この差はすごい。前は浮海の方が垣見より成績が良かったよね?】【そりゃ違うだろ。一方は必死に勉強してて、もう一方は必死に恋愛してた。今じゃ桁違いだよ】その後、私は二次試験でも高得点を取り、T大学に合格した。お祝いの席は、市内でも最高級のホテルで用意された。忠一は太っ腹にも学校の先生や同級生全員を招待し、自慢の娘を世界中に知らしめようと張り切っている。皆が楽しく会話を交わしている時、卓が会場に押し入ってきた。髪はボサボサで、何日も風呂に入っていないかのような臭いを漂わせている。警備員が止めようとしたが、私は手で制した。「通してあげて」卓は千鳥足で私の前までやってきた。「萌々香……」彼は声を震わせながら、私の手を握ろうとした。「僕が悪かった。本当
「それとも、可哀想なふりをし続けていれば、世界中があなたたち一家の強欲さに付き合ってくれるとでも思ってるの?」卓は全身を硬直させた。目を逸らす美希の様子を見て、彼の心の中にはすでに答えが出ているはずだ。ただ、認めたくないのだ。認めてしまえば、これまでの尽力も犠牲も、私から借りた1000万円さえも、救いようのない愚かなコメディになってしまうから。彼は声を震わせながら怒鳴った。「萌々香!黙れ!美希を侮辱するのは許さない!あんなに心の優しい子が、僕を騙すはずがないだろう?お前はただ、僕が彼女を助けるのが気に入らないだけだ!」萌は隣で嫌そうに手で仰いだ。「やれやれ。寝たふりをしてる犬は、起こしようがないわね」私は首を横に振り、運転手に車を出すよう合図を送った。「お金がないなら警察に行くか、その優しい泉田に債権者の相手でもさせればいいわ。私を頼っても無駄よ」言い終えると、私は窓を閉め、二度と卓を見ない。バックミラーの中で、彼は絶望した様子で地面に膝をつき、拳で激しく地面を叩きつけている。美希は泣きながら彼の手を引こうとしたが、彼は初めてその手を振り払った。……共通テストの前夜。家では私がゆっくり休めるように、別荘全体に防音対策を施してくれた。萌が枕元に浮かんでいるが、珍しく勉強を強要してくることはない。「緊張してる?」「してないわ」私は窓の外の月を見つめた。「いい点が取れそうな気がする」「ええ、あなたならできるよ。萌々香、明日の作文のお題を忘れないでね。論点がズレないように気をつけて」翌朝、私は気力に満ちあふれて試験会場へ向かった。門の前で、卓の姿を見かけた。受験票を握る彼の手は、制御できないほど震えている。美希が隣に立ち、目を真っ赤にして泣いている。「委員長、私、受験票を家に忘れてきたみたいなの。一緒に取りに帰ってくれない?一人じゃ怖いの。借金取りが家の前で待ち伏せしてるかもしれないから。お願い、委員長」試験開始まで、あと40分。美希の家は町の南端にあり、往復だけで最低でも一時間はかかる。行けば、最初の地理歴史の試験には絶対に間に合わない。卓はためらった。「美希、自分でタクシーで行ってくれ」「ううっ、委員長……私を見捨てるの?もし殴られたら、どうす
「どうして?」「数ヶ月後、政府がそこに新幹線の駅とハイテクパークを建設すると発表するわ。地価は10倍に跳ね上がる」我が家は不動産業で財を成したが、父・垣見忠一(かきみ ただかず)は最近、「良いプロジェクトがない」と嘆いている。そういえば、私の恋に盲目になる性分は、忠一譲りだ。彼は母・垣見千里(かきみ ちさと)をこれ以上ないほど溺愛しており、私に対しては「ママが愛している子だから愛する」というスタンスをとっている。そのため、時には二人きりの世界を邪魔する存在として、私を邪魔者扱いすることさえある。夕食の席で、忠一が甲斐甲斐しく千里のエビの殻を剥いている時、私はさりげなく話を切り出した。「パパ、町の西側の土地はいいと思うの。景色もきれいだし。ママはお花やガーデニングが好きでしょ?あそこなら広さも十分よ」忠一はそれを聞くと目を輝かせ、千里の方を振り返った。「ママ、どう思う?君が気に入るなら、買い取って大きな庭園を作ってあげる」千里は優雅に口元を拭い、淡く微笑んだ。「良さそうね。でも、少し場所が不便じゃないかしら?」忠一は即座に決断を下した。「不便なところがいいんだ!静かで最高じゃないか。将来はあそこで隠居しよう。萌々香が家の中をうろついて、俺たちの二人きりの時間を邪魔することもなくなるしな」彼は私の方を向いて、豪快に笑った。「ついでに君も将来、旦那さんとそこに住んでもいい。たとえ行き遅れても、住む場所くらいはあるだろう。いつまでも家で邪魔者をやってるんじゃないぞ」萌が隣でため息をついた。「まあいいわ。あなたはまるで橋の下で拾ってきた子みたいだけど、愚者に福あり。これでよし」将来の財産を増やすことばかり考えている我が家とは裏腹に、卓は人生のぬかるみに足を取られている。美希の家がまた借金をしてしまった。今回は60万円。以前の1000万円に比べれば微々たる額だが、今の卓にとっては巨額だ。美希の借金を返すため、卓は授業をサボってアルバイトを始めた。コンビニ、チラシ配り、デリバリー。かつて颯爽としていた学校の王子様は、目に見えてやつれていった。ある日の放課後、家の車が私を迎えに来た。校門の前に車が停まり、運転手が出発しようとしたその時、卓が突然飛び出してきた。彼は配達員の制服を着
レビュー