LOGIN結婚前夜、私、一ノ瀬真希(いちのせ まき)の婚約者である本郷雅人(ほんごう まさと)の愛人が出産したというニュースが、世間を騒がせた。 雅人は私が問い詰めるまでもなく、そっけなく口を開いた。 「これはただの偶然だ。まずは婚約披露宴の準備をしっかりしてくれ。 それに、君の父親は胃がんで末期だ。今、婚約を解消しても、両家にとって何のメリットもない」 その晩、彼は婚約披露宴を欠席したが、SNSに赤ちゃんの産着姿の写真を投稿した。 私がビデオ電話をかけると、彼は哺乳瓶で新生児にミルクをあげていた。 「最近は子供の世話で忙しくて、君に付き合っている暇はないんだ。君も知っているだろう、我が家は代々一人っ子だから、子供が一番大事なんだ」 彼は赤ちゃんの口元についたミルクを拭き取り、「でも、安心してくれ。子供が生後一か月になったら、イギリスに送る。 お正月やお盆には、君が子供の親代わりとして顔を出せばいいだけだ。本郷家の若奥様の座は永遠に君のものだ」 私は彼の薬指にはめられた、私とお揃いのダイヤモンドの指輪を見つめ、笑い出した。 「雅人、この婚約は破棄しましょう」 彼は鼻で笑って言った。「そんなことで騒ぐな、わがまま言うなよ」 私はすぐにビデオ通話を切り、雅人の父親である本郷真嗣(ほんごう しんじ)の個人番号に電話をかけた。 「最近、新しい奥様を探していらっしゃると伺いましたが?よかったら私を検討してみませんか?」 私はお腹を撫でながら微笑み、「なにしろ私は生まれつき子宝に恵まれる体質ですから、息子は何人でも産んであげられますよ」 代々一人っ子では寂しいでしょうから、今すぐにでも何人か兄弟を増やして賑やかにしてあげましょう。
View More**
"Saya terima nikah dan kawinnya Kiran ... Kiran Cahya Rengganis ... dengan mas kawin yang tersebut ...."Tatapan kosong. Hela napas panjang yang terdengar berat dan gusar. Tak ada raut bahagia sama sekali meski menurut sebagian besar orang, ini adalah hari bahagia."Dibayar tunai.""Alhamdulilah, sah para saksi?""Alhamdulilah, sah!"Hadirin sekalian menangkup kedua tangan, mengucap syukur. Mengamini doa yang dibacakan oleh Pak penghulu kemudian. Gumaman bernada lega terdengar bersahutan di sana-sini selepas ijab qabul berhasil diucapkan dan dinyatakan sah.Namun, tatapan itu masih tetap kosong tanpa minat sama sekali. Hingga pak penghulu yang agak bingung berdehem serta mengucap titah setengah bergurau."Mas Karan? Eh, kalian sudah sah menjadi pasangan suami-istri loh sekarang. Mbak Kiran? Sudah boleh cium tangan suaminya. Sok atuh, monggo!" Lelaki paruh baya itu tersenyum ramah. Terkekeh geli melihat penampakan sepasang pengantin kaku di hadapannya. Dalam hati agak kagum separuh heran, mengingat pada jaman seperti ini masih ada saja pasangan muda yang malu-malu kucing begini. Karena biasanya ia justru menikahkan pasangan yang bukannya malu-malu, tapi memalukan."Ah? Baik, Pak.""Ayo, dong. Mas Karan jangan malu-malu begitu. Kita semua sedang berbahagia sekarang."Sang mempelai putri, gadis manis bernama Kiran Cahya Rengganis itu terhenyak seperti baru sadar dari lamunan panjang. Perlahan menggeser tubuhnya menghadap sang suami. Mengulurkan tangan putihnya yang gemetar di tengah udara selama beberapa detik sebelum tangan laki-laki tampan di hadapannya itu menyambut kaku penuh keterpaksaan.Kiran menunduk, mencium punggung tangan suaminya dengan takdzim. Lantas keduanya buru-buru melepas pegangan mereka, dan kembali menghadap pak penghulu yang masih juga terkekeh tak puas-puas. Sekarang, kedua mempelai mendapat atensi penuh dari para hadirin. Betapa serasinya, kata mereka.Kiran begitu menawan dalam balutan kebaya putih cantik dengan wajah dibingkai make up minimalis. Sementara sang mempelai pria, Karan Raditya Gathfan, tampil tak kalah memukau. Suit berwarna senada tampak begitu pas membalut tubuhnya yang tegap.Jika saja di antara para hadirin ini ada yang lebih cermat memperhatikan, maka mereka akan tahu. Selain pasangan serasi yang tampan rupawan dan cantik paripurna, kedua mempelai ini memancarkan satu lagi aura yang identik ; Menderita tekanan batin yang sama."Kita cuma menikah, bukan berarti harus menjadi pasangan suami istri seperti pada umumnya." Karan berucap dengan tajam pada malam harinya. Ketika acara sudah usai dan Kiran memasuki kamar pengantin yang sudah didekorasi sedemikian manisnya. Ada kelopak-kelopak bunga mawar merah yang bertebaran di atas ranjang.Perempuan itu hanya membisu mendengar penuturan lelaki yang siang tadi mengucap janji menjadi imamnya di hadapan penghulu dan sejumlah saksi."Malam ini kita masih di sini, jadi aku biarin kamu berada dalam kamar yang sama dengan aku. Tapi besok begitu kita pindah, jangan harap aku sudi lihat penampakanmu berada dalam satu ruangan sama aku lagi."Tajam seperti mata pisau. Kiran hanya bergumam mengiyakan sementara membuka lemari untuk mencari sesuatu guna menukar kebaya putihnya dengan baju yang lebih nyaman. Sementara Karan melesat pergi dari kamar setelah berkata demikian. Oh, sial sekali, mengapa tidak ada baju sepotong pun di dalam lemari raksasa ini?"Ibu?" Kiran mengendap-endap ke luar kamar, mendatangi ibu mertuanya yang masih sibuk membereskan beberapa urusan. "Ibu, apa Ibu simpan tas yang tadi aku bawa?""Tas?" Wanita berusia sekitar lima puluhan tahun itu menoleh dan mengernyit."Aku perlu bajunya. Masa sampai besok pakai kebaya begini." Kiran tersenyum seraya menunjuk kebaya putihnya yang belum diganti. "Ibu simpan tas aku, kan?""Aah ...." Di luar dugaan, sang ibu mertua justru tersenyum lebar. "Kan udah ada baju di dalam lemari. Kamu pasti belum lihat. Udah sana, periksa dulu.""Ah, tap–""Ibu yang siapin. Dipakai, ya. Awas kalau nggak dipakai!"Terpaksa kembali lagi ke kamar Karan dengan tangan hampa, Kiran membuka sekali lagi lemari berwarna putih di sana. Berharap menemukan sesuatu yang mungkin terlewat ia periksa. Sesuatu yang lebih layak dipakai. Karena demi Tuhan, apa-apaan yang ada di dalam lemari ini?"Ibu nggak salah? Masa aku harus pakai ini?"Panik, Kiran mengangkat tinggi-tinggi dan membolak-balik baju dalam gantungan itu. Penuh renda-renda dan bentuknya seperti gaun anak-anak. Hanya saja ini ... tanpa warna. Menerawang transparan. Ini Lingerie, yeah.Suara pintu terbuka membuat perempuan dua puluh empat tahun itu terlonjak kaget. Ia masih memegang baju itu di depan wajahnya saat Karan masuk. Sekarang lelaki itu sedang memandangnya dengan raut jijik penuh cela."Mau apa kamu dengan benda itu?""Ah, ini ...." Kiran gelagapan, tidak tahu harus menjawab apa."Kamu mau pakai benda seperti itu sekarang?" Karan sekali lagi memandang meremehkan. Ia mendengus tertawa, di luar dugaan. "Dengar, jangankan pakai baju seperti itu, kamu mau ngerayu aku dengan telanjang di depanku pun aku nggak akan pernah tergoda. Mau kamu dandan seperti bidadari pun, aku nggak akan pernah tertarik denganmu. Jangan maksa, sampai kapanpun kamu nggak akan pernah terlihat di mataku."Kiran menunduk. Ia bisa apa memangnya? Pernikahan ini memang bukan keinginannya, apalagi keinginan Karan. Entah perjanjian apa yang sudah dibuat kedua orang tuanya dan orang tua lelaki itu, hingga satu bulan yang lalu saat Kiran masih berduka karena ayah dan ibunya baru saja meninggal karena kecelakaan, orang tua Karan malah datang melamar. Memintanya menjadi menantu mereka, mutlak tanpa menerima penolakan."Bukan begitu, Mas," lirih Kiran hati-hati kemudian. "Aku udah tanya Ibu, tadi aku bawa baju ganti sendiri. Tapi kata Ibu, aku harus pakai yang ada di dalam lemari. Tasku disimpan sama Ibu.""Ya udah, sana pakai! Bukannya aku udah bilang, kamu telanjang pun aku nggak peduli."Nyeri rasa hati Kiran. Sejujurnya ia juga tidak mau pakai benda seperti ini. Hanya saja benar-benar tidak ada yang lain. Kebaya ini terlalu berat karena memiliki payet manik-manik di ujungnya. Tidak nyaman jika dipakai terlalu lama.Ah, dan lagi Karan masih berada di sini. Bingung sekali, Kiran ragu-ragu melangkah ke kamar mandi untuk menukar pakaiannya. Tidak mungkin kan ia berganti di depan lelaki itu?Seperempat jam berada di kamar mandi, Kiran akhirnya memberanikan diri keluar. Kedua tangannya berusaha sebisa mungkin menutupi bagian depan tubuhnya yang walaupun tertutup fabrik, tapi percuma saja sebab lingerie itu transparan.Karan yang masih berdiri di tempatnya tadi, melirik sekilas. Menampakkan raut muak luar biasa dari balik layar ponselnya."Kamu berharap apa?" tanyanya dengan nada sarkasme kepada Kiran yang masih sangat rikuh. "Wajahmu merah padam begitu, apa yang kamu harapkan dari aku?"***真嗣は雅人を睨みつけ、その目からは炎が噴き出しそうだった。「雅人!本当に手が付けられなくなったな!女に暴力を振るうとは!人でなしにもほどがある!」「父さん!違うんだ!この女が……この女が裏切ったんだ!」雅人は取り乱しながら弁解し、床にへたり込んでいる美月を指差し、怒りとともに裏切られた屈辱を露わにした。「まだ言い訳をするか!」真嗣は手を振り上げ、乾いた音を立てて雅人の頬を殴りつけた。この一撃には容赦がなく、雅人はよろめいた。私は真嗣の腕に寄り添いながら、その光景を眺め、まるで真夏の暑い日に冷やした麦茶を飲んだかのように、胸がすっとした。「出て行け!本郷家から出て行け!今日から、お前はもう俺の息子ではない!」再三にわたる失望は、真嗣も我慢できた。しかし、自分の子供を傷つけることは、どうしても許せなかった。この二人の子供は、彼が長年待ち望んでいたものだったのだ。真嗣はすぐに家庭医を呼んだ。医師は入念に診察した後、深刻な面持ちで真嗣に告げた。「真嗣様、真希様は切迫早産の兆候が見られます。安静が必要で、決して刺激を与えてはいけません」真嗣はそれを聞いて、さらに心を痛めた。彼はあれこれと気遣い、慰め、私のお腹の中にいる子供に万が一のことがないよう、細心の注意を払った。彼は優しく私のお腹を撫でながら、穏やかな口調で言った。「真希、安心しろ。俺がついている。誰にも君や子供たちを傷つけさせはしない」私は表向き、弱々しく怯えている様子を装い、真嗣の手にしがみつき、涙を浮かべ、哀れっぽく振る舞った。だが心の中では、ほくそ笑んでいた。雅人、ついにこの日が来たか!私はある人に頼み、美月がよからぬ子を宿していることを匿名で真嗣に知らせさせた。もちろん信憑性を高めるため、詳細な調査報告書も添付してある。その中には、美月とあの従兄弟たちの「語らずにはいられない」物語が克明に記録されていた。真嗣は調査報告書を読むと、顔色を青ざめさせ、怒り狂った。彼はすぐに美月とその子供を、本郷家から追い出した。美月は追い出される際、髪を振り乱し、泣き叫びながら、本郷邸の門前で雅人の名前を叫び、自分と子供を助けてくれるよう懇願した。しかし、雅人はすでに泥船に乗った身であり、自分のことで手一杯で、彼女のこと
「違うの!雅人、話を聞いて!子供は絶対にあなたのよ!」「バチン!」と、乾いた平手打ちの音が響いた。「このクソ女!まだ言い訳するつもりか?DNA鑑定の結果が出てるんだぞ、いつまで騙すつもりだ!」美月の泣き叫ぶ声と許しを請う声が絶え間なく聞こえ、その合間に何かが倒れる音が混じっていた。階下で私は、ゆっくりとフカヒレスープを飲みながら、その騒ぎに聞き耳を立て、この上なく心地よい気分に浸っていた。美月の悲鳴がますます凄惨さを増してきたところで、そろそろ頃合いだと判断した。そして、「心配そう」に腰をさすりながら、ゆっくりと階段を上がっていった。私は雅人と美月の部屋の前まで来ると、わざとらしく声を張り上げて言った。「まあ、雅人、夫婦喧嘩に手を出したらだめよ?それに、美月さんは一応あなたのために子供を産んでくれたんでしょう?そんなにひどいことをしなくても……」私の言葉で、部屋の中の悲鳴はさらに凄惨になった。「ああ!雅人、私が悪かったの。本当に悪かったわ……」私は時間を確認し、頃合いだと判断した。ドアを叩きながら言った。「雅人、もうやめて!死んでしまうわ。お母さんの言うことを聞いて、早くドアを開けてちょうだい」「うるさい!ほっといてくれ!」ドアが勢いよく開けられ、雅人が鬼のような形相で現れ、今にも私に怒鳴りつけようとした。彼が口を開いたその瞬間、私は角度を調整し、体をぐにゃりとさせ、後ろに倒れ込んだ。「何をする……」雅人は眉をひそめ、言いかけた言葉を飲み込んだ。その時、階段の下から雷のような怒号が聞こえてきた。「雅人!何をしているんだ?!」真嗣が階段を上がってきたところ、私が雅人の足元に倒れているのを目撃し、瞬く間に顔色を青ざめさせた。彼は大急ぎで駆け寄り、額に汗を滲ませながら、緊張した面持ちで私を抱き起こした。私をそっと抱き起こし、両手をそっと私のお腹に当て、焦った様子で尋ねた。「真希、大丈夫か?どこかぶつけたか? お腹は痛くないか?」私は彼の胸に身を預け、弱々しく息を切らしながら、小声で言った。「真嗣、雅人を責めないであげて。彼もわざとじゃないの。私が自分でよろけてしまっただけ……」雅人はその様子を見て、私の意図を悟り、大声で弁解した。「父さん!俺は押してない!彼女が自分
だけど、まさか美月が私を後押ししてくれるとは思いもしなかった。美月は、私と雅人の婚約前にどうしても子供を産みたくて、こっそり陣痛促進剤を飲んだらしい。そのせいで子供は早産になった上に、体も弱くなっちゃった。季節の変わり目ってのもあって、子供はちょっとしたことで入院騒ぎになる。雅人はほぼ毎日病院通いで、見てるこっちが心配になるくらい疲れ切ってた。当然、会社のことなんて構ってられない。もともと真嗣は最近の雅人の態度に不満タラタラだったのに、今じゃ三日と空けずに姿を消す始末。ついには、部下から雅人の担当プロジェクトでとんでもないミスがあったって報告が入った。真嗣は完全に激怒した。「雅人!お前、このままじゃ会社を他人の手に渡すことになるぞ!こんなことさえまともに処理できないで、一体何ができるんだ!」真嗣は役員会議でいきなりテーブルを叩きつけ、雅人の鼻っ面を指して怒鳴り散らした。「今の自分の立場をわかっているのか!」雅人は会議室の真ん中に突っ立って、顔を真っ青にして、拳をグッと握りしめてた。自分が最近ヘマばっかりやらかしてるのは分かってる。でも、「役立たず」って言われた瞬間、カッとなっちゃったんだって。真嗣はわざと粗探しをしているのだと感じた。選ぶ余地のなかった昔は、彼を宝物のように扱っていたくせに。今や実の子供がいるから、養子の自分にあらゆる面で不満を抱き始めたのだ。「お父さん、子供が入院してて……」って彼は弁解しようとした。「入院だと?お前はそんなガラクタみたいなことにばっかり気を取られて、肝心なことを全部忘れちまってるんだ!」真嗣は聞く耳持たずで、言えば言うほどヒートアップ。「お前は本郷グループの未来なんてこれっぽっちも考えてないんだな!家に帰って、子供の世話でもしてろ!」この言葉が出た瞬間、会議室は水を打ったように静まり返った。みんな自分の身に火の粉が降りかかるのを恐れて、必死に頭を下げてた。雅人の顔はさらに真っ青になり、唇を真一文字に結んで、一言も言い返せなかった。この一件があってから、真嗣は本気で動き出した。「経営陣の構造改革」とかもっともらしい理由をつけて、雅人が担当してた中核事業のいくつかを別の部署に移管したんだ。そして、その権限を長年自分に付き従ってきた古
「どう、真嗣、このサプライズ、気に入ってくれたかしら?」真嗣は私の手を強く握りしめ、興奮して声が少し震えていた。「真希、君は俺に最高のサプライズをくれた!真希、知っているだろう?長年、俺は実の子供がいないことで苦しんできたんだ。君は俺に二人もの子供を授けてくれた。しかも、俺が一番それを必要としている時にだ。決めたぞ。今日から、本郷グループの株の6%を君に譲渡する!」この言葉が出ると、会場全体が驚愕に包まれた。本郷グループの株の6%といえば、途方もない金額だ!雅人の顔色はさらに悪くなった。長年、彼は後継者として育てられてきたものの、真嗣は彼に株を一切譲ってこなかった。雅人は突然口を開き、その声には明らかな怒りが込められていた。「父さん、本気か?その子供が本当に父さんの子か、どうして分かるんだ?」私は心の中で冷笑した。やっぱり我慢できなかったか。真嗣の顔色は瞬く間に陰鬱になった。「それはどういう意味だ?」雅人は自分が失言したことに気づいたようだったが、それでも強引に言葉を続けた。「俺が言いたいのは、まずDNA鑑定をするべきだということだ。何しろ、本郷家の血筋に関わることだから……」パチン!またしても、甲高い音が響いた。真嗣は怒り心頭に発し、「君は俺の判断力を疑うのか?それとも、真希の品性を疑うのか?」私はそっと真嗣の手を握り、優しい声で言った。「真嗣、怒らないで。雅人も、きっと興奮しているだけなのよ。本郷家の将来に関わる大事なことだから」真嗣の怒りは少し収まったものの、その視線は依然として冷たく雅に向けられていた。私は雅人に向き直り、微笑んだ。「雅人、先日、子供たちと真嗣のDNA鑑定を済ませておいたわ。安心して。すぐに、君に可愛い弟たちができるわよ。楽しみね?」雅人の喉がごくりと動き、言いかけた言葉を無理やり飲み込んだ。彼が必死に美月との子を欲しがったのは、一方では自分の後継者としての地位を確固たるものにするためだった。もう一方では、子供を利用して真嗣から株と実権を得ようとしていたからだ。彼は真嗣が子孫に対して並々ならぬ執着を抱いていることをよく知っていた。長年、真嗣は表向きにも裏向きにも何度も体外受精を試みたが、全て無駄に終わっていた。彼は自身が養子であ
「ふざけるな!」私は狂ったように地面から立ち上がり、美月に突進しようとしたが、雅人に必死に引き止められた。「真希!落ち着け!」「落ち着けって?どうやって落ち着けばいいの?!あれは私のお父さんなのよ!」私はもがき、爪で彼の腕を引っ掻きむしりそうになった。「これはただの事故だ!」雅人の声には隠しきれない苛立ちと怒りが込められていた。「それに、美月はただ親切心でやっただけだ。彼がこんなに興奮するなんて誰が予想できた?」彼は美月をちらりと見、その目に保護欲を宿した。「今や世間は皆、美月が一ノ瀬家のお嬢様だと認めている。もし結婚式に一ノ瀬家の人間が出席しなければ。皆、
私は怒りで全身が震えた。もし本当にそうなったら、私と一ノ瀬家は笑い者になるだけだ。雅人は自分の手配がとてつもなく正しいと思っているようで、口調はますます強気になった。「真希、君にとって不公平なのは分かっている。でも美月は本当に苦労しているんだ。せめて子供の顔を立てて……」「雅人、このろくでなし、この世紀の結婚式という茶番に、私を付き合わせるつもりなの?入籍は私で、初夜は美月で、しかも正妻の私があなたたちの私生児の母親役までやれと?私を道端の乞食か何かだと思ってるの?勝手に扱えるとでも?」私の声はますます大きくなり、ウェディングドレスショップの他の客たちの注目を集めた。
受話器から聞こえてくる雅人の声は、どこか高圧的で当然だという様子だった。「真希、すぐに来てもらえないか?美月が体調を崩しているんだ。君が彼女の代わりに子供の面倒を見てくれないか?彼女をオークションにでも連れて行って気分転換させてあげようと思っているんだ」彼と他の女の間にできた子供の面倒をみる?彼、頭おかしいんじゃないか。「雅人、私はあなたの家の使用人でもなければ、ベビーシッターでもないわ。人選を間違えているわよ」彼は少し間を置いて、ため息をついた。「真希、美月は君のため、本郷家のために苦労してこの子を産んだんだ。彼女が身ごもっているのは本郷家の血筋だ。君は将来の本郷
結婚前夜、私、一ノ瀬真希(いちのせ まき)の婚約者である本郷雅人(ほんごう まさと)の愛人が出産したというニュースが、世間を騒がせた。雅人は私が問い詰めるまでもなく、そっけなく口を開いた。「これはただの偶然だ。まずは婚約披露宴の準備をしっかりしてくれ。それに、君の父親は胃がんで末期だ。今、婚約を解消しても、両家にとって何のメリットもない」その晩、彼は婚約披露宴を欠席したが、SNSに赤ちゃんの産着姿の写真を投稿した。私がビデオ電話をかけると、彼は哺乳瓶で新生児にミルクをあげていた。「最近は子供の世話で忙しくて、君に付き合っている暇はないんだ。君も知っているだろう、我が家は
reviews