Masuk1094일이 되는 날, 나는 하경석에게 이혼을 제기했다. 그는 잠시 의아한 표정을 보였지만, 곧 다시 평소처럼 고상한 표정을 유지했다. “맘대로 해.” 하경석은 담담하게 대답했다. 마치 아침 식사에 사용될 우유를 바꿀지 말지를 논의하는 것처럼, 내가 이혼을 제기한 이유조차 묻지 않았다. 1095일이 되는 날, 나는 아무 일도 없었던 것처럼 자상하게 하경석과 아이들을 배웅한 뒤 하씨 가문을 완전히 떠났다.
Lihat lebih banyakHari ini… hari yang tak pernah kubayangkan akan menjadi milikku. Sebuah pernikahan yang sunyi. Dalam perjumpaan pertama kami sebagai suami istri, aku bahkan tak berani menatap wajahnya. Bukan karena benci. Tapi karena malu. Karena aku merasa terlalu kotor untuk seseorang sebaik dia. (Kata hati, Alika).
Alika duduk terpaku di salah satu sudut masjid kecil itu. Masjid yang hanya berhiaskan lampu neon pucat dan karpet hijau tua yang usang. Tak ada dekorasi. Tak ada bunga. Tak ada kain putih menjuntai dari langit-langit. Yang ada hanyalah langit malam di luar jendela, dan hati yang bergemuruh karena takut dan luka.
Dia menggenggam erat telapak tangannya sendiri—seolah hanya itu yang mampu membuatnya tetap berdiri. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Mata terpejam, dada sesak. Malam ini bukan malam penuh bintang. Bukan malam impian dalam balutan gaun indah. Tidak ada senyum keluarga, apalagi iringan musik cinta.
Yang ada hanyalah sunyi yang menggema, memantul di antara dinding masjid dan suara hatinya yang hancur perlahan.
Dia menundukkan kepala sejak tadi. Menolak melihat siapa pun. Terlalu malu. Terlalu sakit. Terlalu rusak.
Tidak ada prosesi lamaran. Tidak ada pesta. Tidak ada mahar impian seperti yang ia bayangkan sejak remaja. Yang ada hanyalah pengakuan pahit, air mata yang kering, dan keputusan mendadak yang membuat semua orang tercengang.
Dia telah menghancurkan masa depan. Bukan hanya dirinya, tapi juga seorang lelaki yang tak seharusnya terseret ke dalam kubangan ini.
Sadewa.
Saudara kandung dari laki-laki yang mencoreng harga dirinya, adik dari lelaki yang membuat hidupnya runtuh dalam satu malam.
Alika terlalu mudah percaya. Terlalu buta melihat niat jahat di balik senyum manis Bagas. Laki-laki tampan dan mapan itu datang dengan janji, memberi harapan… lalu menghancurkannya hingga tak bersisa. Dan kini, hanya karena satu malam penuh dosa, Alika harus menanggung segalanya. Bukan hanya aib, tapi juga nyawa kecil yang tumbuh dalam tubuhnya.
Tapi dia tidak sendiri.
Ada Sadewa. Laki-laki tenang, dewasa, dengan tatapan dalam yang sulit ditebak. Dia berdiri di barisan depan—menggenggam tanggung jawab yang seharusnya bukan miliknya. Bukan karena cinta, tapi karena adab dan harga diri. Karena dia tahu, bila bukan dia… maka siapa lagi?
Alika terlalu malu untuk menatap wajahnya. Bahkan saat lelaki itu melangkah masuk ke ruangan, Alika menunduk lebih dalam. Sadewa terlalu bersih. Terlalu suci untuk disentuh oleh perempuan sepertinya. Perempuan yang telah dihancurkan oleh dosa, oleh kebodohan sendiri.
Lalu, desas-desus mulai menyelinap...
“Buru-buru sekali ya...”
“Pasti ada yang disembunyikan...”
Bisikan-bisikan itu seperti silet yang mengiris pelipisnya. Dingin, tajam, dan menyakitkan. Tapi Alika hanya diam. Diam yang menenggelamkan. Diam yang membuat napasnya seolah mengendap di dalam dada. Tak ada pembelaan. Tak ada keberanian untuk menjelaskan.
Karena untuk apa?
Semuanya telah terjadi.
Lantunan ayat suci berganti dengan suara pembawa acara. Alika menggigit bibirnya. Tangannya gemetar, menggenggam erat kain bajunya. Akad itu... sebentar lagi. Dia ingin berlari. Ingin menghilang. Tapi tubuhnya seperti dibekukan oleh rasa malu yang menjalar sampai ke sumsum tulang.
Perutnya memang belum membesar. Tapi dia tahu... ada kehidupan di sana. Bukti dari cinta yang salah. Bukti dari dosa yang tak bisa dihapus. Bukti dari pengkhianatan terhadap kepercayaan.
Dan saat suara itu terdengar, lantang dan tegas:
“Saya terima nikah dan kawinnya...”
Kalimat itu menghantam dadanya seperti badai. Alika ingin menolak, ingin berteriak bahwa ini bukan jalan yang ia inginkan. Tapi segalanya telah diputuskan. Sadewa kini adalah suaminya. Imamnya.
Tangisnya tumpah.
Tanpa suara, tapi deras. Air mata luruh bersama takdir yang tak bisa diubah.
Dan ketika akad selesai, ketika semua mata memandang, langkah kaki Sadewa mendekat perlahan. Suara baritonnya menyayat keheningan malam.
“Assalamualaikum, ya ukhti.”
Tangannya terulur. Sekokoh baja, namun selembut belaian angin malam.
“Mari kita pulang, Alika.”
Untuk pertama kali, Alika mengangkat wajahnya. Menatap mata lelaki itu. Mata yang tidak ia kenal, tapi kini harus ia percaya. Mata yang bukan milik cinta pertamanya, tapi kini menjadi tempat pulangnya.
Dan dalam diam itu, ketika angin menerpa wajah dan selendangnya menari lembut di udara, satu helai daun jatuh perlahan dari langit. Menyentuh tanah seperti takdir yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz.
Karena memang tak ada satu pun yang terjadi kecuali telah digariskan.
Termasuk kisah Alika.
Yang menikah bukan karena cinta,
Tapi karena aib yang harus ditebus Dengan ketulusan seorang lelaki bernama Sadewa. ---Dan pada akhirnya…
Di titik paling sunyi dari hidupku—di mana semua cahaya tampak padam, dan hanya ada kabut yang menggulung-gulung di antara nadi dan napasku—kita berdiri berdua, sebagai sepasang suami istri. Tapi jangan bayangkan kebahagiaan yang hangat seperti kisah cinta dalam dongeng. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada senyum manis penuh harap, tidak ada genggaman tangan yang bergetar karena jatuh cinta. Yang ada hanyalah kesenyapan panjang yang menggantung di antara kita, menggema di dinding hati yang sudah lama retak.
Tanpa ikatan cinta. Tanpa getaran bahagia. Tanpa harapan yang biasanya ditanamkan pasangan yang menatap masa depan bersama. Dan aku tahu… ini bukan pernikahan yang kau harapkan, bukan pula impian yang kau rajut sejak remaja. Ini adalah pernikahan karena keadaan. Karena aib. Karena luka yang harus ditutupi agar tak menganga di hadapan dunia.
Maaf.
Mungkin hanya itu satu-satunya kata yang mampu kubisikkan kepadamu, Sadewa. Sebuah kata sederhana yang takkan cukup untuk menjelaskan betapa aku menyesali semua ini. Karena menjadi perempuan yang kehilangan kesuciannya, aku tahu… aku tak lagi pantas memilih siapa imamku. Aku hanya mampu menunduk, menerima takdir, dan menggenggam kenyataan bahwa engkau kini berdiri di sampingku—bukan karena cinta, tapi karena tanggung jawab. Karena luka yang kutoreh, engkau memilih menjadi perban, meski tahu darah ini bukan berasal darimu.
Kau bukan imam yang pernah kuimpikan hadir dalam tidur-tidur panjangku yang penuh harapan. Tapi ketika semua orang menjauh, mencibir dan mengutuk, engkau justru datang. Diam-diam mengulurkan tangan, bukan untuk menyentuh luka, tapi untuk menutupinya. Menawarku tempat berteduh dalam badai, meski tahu atapnya rapuh.
Kadang rencana Allah terlalu rumit untuk dipahami dengan logika kecil manusia seperti kita. Kadang, jalan yang terlihat buruk justru menyimpan kemuliaan yang tak bisa ditebak. Dan kini, di hadapan langit dan bumi yang menjadi saksi bisu atas akad kita tadi malam, hanya satu kata yang mampu kulantunkan kepadamu, Sadewa:
Terima kasih.
Terima kasih karena bersedia memikul aib yang bukan milikmu. Terima kasih karena memilih menjadi suamiku, bukan karena engkau menginginkanku, tapi karena kau tahu aku takkan sanggup berjalan sendiri. Terima kasih… karena bersedia menjadi ayah dari anak yang bukan darahmu, tapi akan lahir dengan namamu di belakangnya.
Dengan tulus yang masih kutemukan di sisa-sisa jiwaku yang remuk.
Alika.
[번외편]나는 하지훈이다. 나는 지난 15년간 장현서를 미워하며 살았고, 이후 수십 년은 내가 저지른 죗값을 치르기 위해 살았다.아빠가 나와 지성을 데리고 장현서에게 사과하러 가던 날, 그녀는 나를 한 번도 쳐다보지 않았다. 장현서가 문을 닫으려 할 때, 나는 무심코 ‘엄마’라는 말을 내뱉었다.그 말로 인해, 나는 후반생을 죄책감에 시달리며 살아가게 되었다.그것은 내가 처음으로 장현서를 엄마라고 부른 것이었다.그날 이후로, 나를 10년간 사랑해 주었던 장현서는 다시 내게 ‘엄마’라고 부를 기회를 주지 않았다.집에 돌아가자, 아빠는 나를 심하게 혼냈다. 회초리로 맞자 몸이 너무 아팠지만, 내가 장현서에게 준 상처와는 비할 바가 아니었다.그 후, 내가 눈물을 터뜨리자 아빠도 무릎을 꿇고 나와 함께 울었다.아빠는 나를 탓하지 않았고, 오히려 자신이 가장 큰 죄인이라고 말했다.장현서는 아빠의 무관심과 냉정함 속에서 죽어갔기에, 아빠는 자신이 가장 죽어 마땅한 사람이고, 평생 속죄해야 할 사람이라고 했다.그날 이후로, 모두가 달라졌다.할머니는 산에 있는 절에 가서 수행을 하신다고 하셨지만, 아빠는 그런 할머니를 막지 않았다.할머니는 떠나는 날 눈시울이 붉히며 지성을 안으려 했지만, 지성은 할머니를 밀쳐냈다. 나는 할머니가 슬퍼하는 것을 알고 있었지만, 이건 모두 우리가 저지른 잘못이었다.하지성도 달라졌다. 그는 말을 잘하지 않기 시작했고 더 이상 내게 달라붙지 않았다. 나는 그가 나를 미워하는 것 또한 알고 있었다. 나 때문에 엄마를 잃게 되었으니까.아빠도 달라졌다. 그는 여전히 평소처럼 일을 하고, 먹고, 자고 했지만, 그의 얼굴에서는 더 이상 편안함과 여유가 보이지 않았다.한 번은 아빠가 정원에서 장현서가 남긴 일기를 태우고 있는 것을 보게 되었다. 아빠는 지성이가 나중에 일기에 적힌 내용을 보게 될까 봐 미리 태우고 있었다.그 일기를 다 태운 후, 나는 아빠가 피를 토하는 모습을 보았다.나도 달라졌다. 나는 더 이상 아이가 아니라,
나는 꽃집 장사를 시작했다.매일 화단의 다양한 꽃들을 보거나, 온실의 유리창을 통해 햇빛이 방 안 가득히 비칠 때마다 마음이 금세 상쾌해졌다.Y시에는 관광객들이 적지 않아, 가끔 내 화단을 찾아오는 손님들도 있었다.나는 따뜻한 차를 손에 들고, 재미있는 사람들의 이야기를 듣는 게 참 좋았다.어느 날, 나는 퇴직 후 20여 개국을 여행한 노부부를 방금 떠나보냈다.그들이 영어를 독학하면서 겪은 여러 가지 우스운 해프닝을 듣자 나는 배꼽을 잡고 웃었다.그때 돌아서서 보니 하경석과 그의 두 아들이 보였다.나는 표정이 순식간에 굳어졌다. 몸을 돌려 문을 닫으려던 찰나, 하경석이 손을 뻗어 막았다.“현서야, 우리는 사과하러 왔어.”하경석은 슬픈 표정을 보이고 있었고, 두 아이도 의기소침한 모습이었다.나는 고개를 들지도 않은 채 말했다.“장현서는 3년 전에 죽었어. 만약 내가 없었다면, 장현서는 벌써 땅에 묻혀 있었을 텐데, 이제야 사과할 생각이 생긴 거야?”“엄마!” 하지성이 내 다리를 꽉 붙잡으며 말했다.“엄마는 안 죽었잖아요! 엄마, 정말 지성이를 버릴 거예요?”나는 그 어린아이를 한번 쳐다봤다. 그러자 원래 입 밖으로 내뱉으려던 욕설을 참을 수밖에 없었다.“우리 착한 지성이는 앞으로 아빠와 함께 잘 지내면 돼.”지성을 밀어내고 문을 닫으려던 순간, 또 ‘엄마’라는 소리가 들려왔다.하지훈이 한 말이었다.나는 문을 벌컥 열고, 그를 날카롭게 쏘아보며 소리쳤다.“X발, 닥쳐! 네가 무슨 자격으로 장현서를 엄마라고 불러?”하지훈은 내 말에 충격을 받은 듯 얼어붙었고, 하경석은 내 앞에 서서 나를 막으려 했다.나는 한 걸음씩 다가가며 말했다.“장현서를 죽게 만든 주범은 바로 너잖아! 그런데 이제 와서 감히 엄마라고 불러?”하지훈은 공포에 질려 멍하니 서 있었다.“네 손으로 직접 장현서의 금붕어를 죽여서 속이 시원했어?”“장현서가 어두운 곳에 숨어서 슬픈 마음을 애써 참고 있을 때, 네가 조금씩 장현서를 짓밟고 있었던 거야.”“
김영미는 겁에 질린 표정으로 말했다.“경석아, 저 여자가 말한 게 사실일까? 장현서가 귀신이라니? 그럼 돌아와서 우리한테 복수하는 거 아니야?”그녀는 떨리는 손으로 하지훈을 꼭 붙잡았다.“경석아, 우리 제대로 제사라도 치르는 게 좋지 않을까?”하경석은 마음이 복잡해졌다. 그는 그동안 자기들이 장현서를 미워하고 있다는 건 알았지만, 그 미움이 장현서를 자살로 몰아넣을 정도일 줄은 몰랐다.“엄마.”하경석은 힘겹게 말을 꺼냈다.“이 세상에 귀신은 없어요. 장현서는 아마 많이 아팠던 거예요. 제가 제대로 된 의사를 찾아 진단서를 확인해 볼게요.”하경석은 방을 나서면서도 마음속으로 계속 장현서가 했던 말을 떠올렸다. ‘우리 가족을 이 정도로 미워하고 있었나 보네.’하경석은 항상 장현서를 무시하고 하씨 집안의 오점이라고 생각했으나, 사실 그들이야말로 정말 역겹고 추악한 사람들이었다.하경석은 얼마 지나지 않아 의사를 통해 초기 진단을 받았다.“진단서에 따르면, 장현서 씨는 하지성이 태어난 직후부터 우울증을 앓기 시작했어요. 그때는 저희가 전혀 눈치채지 못했죠. 아마 살아남기 위해 두 번째 인격인 여진미가 나타났을 거예요.”하경석은 어렵게 입을 열어 김영미와 하지훈에게 설명했다.“여진미라는 인격은 장현서와 전혀 달라요. 여진미는 저를 포함한 하씨 가문의 모든 사람들을 싫어해요.”“장현서는 그것을 알아차렸기에, 여진미에게 자기 몸을 지배할 기회를 주지 않았어요.”“하지만...”하경석은 잠시 울먹거리더니 한참 후에야 다시 입을 열었다.“그 후, 현서의 우울증 증상이 점점 더 심해졌어요. 가슴이 심하게 두근거리는 건 물론 불면증...”“그러다 하마터면 지성의 앞에서 자살할 뻔한 후에 정말 겁을 먹기 시작했어요. 자기가 사랑하는 아들 앞에서 죽었다가 아이에게 상처를 주게 될까 봐 걱정되었던 거죠.”“하지만 그때, 현서를 도와줄 사람은 아무도 없었어요. 가족인 저희는 현서가 아프다는 것조차 눈치채지 못했어요.”“아니, 눈치채지 못했던 게 아니라
하경석은 미간을 찌푸리며 말했다.“현서야, 그동안 내가 너한테 미안한 일을 많이 했다는 건 알고 있어. 그러니 한 번만 기회를 주면 안 될까?”“그럴 필요 없어. 예전 일은 내가 운이 나빴다고 생각하면 그만이야. 앞으로 너희 가족들을 마주하지 않아도 된다는 생각만으로도 난 너무 행복하거든!” “현서야!”하경석의 얼굴에 난처한 표정이 스쳤다.“우선은 집으로 가자. 너한테 직접 설명해 줄 이야기가 얘기가 있어.”그는 마치 내가 거절하면 사람을 시켜서라도 나를 끌고 갈 기세였다.마침, 나도 그들에게 할 이야기가 있었다.하씨 저택의 서재.하경석은 드물게 온화한 표정으로 말했다.“현서야, 예전 술자리에 있었던 일이 오해라는 걸 어제야말로 알게 되었어. 너도 마찬가지로 피해자였는데, 그동안 네 말을 믿어주지 않고 오해해서 정말 미안해.”그가 진심으로 사과하고 있었지만, 나는 오히려 차갑게 웃으며 말했다.“그래? 어떻게 알게 된 건데? 내가 억울하다는 걸 알게 되었다면 누가 진짜 범인인지도 찾아냈겠네?”하경석은 난감한 표정으로 고개를 돌렸고, 김영미는 얼굴이 더욱 붉어졌다.“말해봐, 오해를 풀기 위해 나를 이곳으로 부른 거 아니었어?”“현서야, 그렇게 공격적으로 굴지 마. 그때 일은 오해였어. 아무도 그런 일을 바라던 건 아니었어.”“오해? 난 그 오해 하나 때문에 하씨 가문에서 10년이 넘게 노예처럼 일했었어. 그런데 고작 오해라는 한 마디로 자기들이 했던 짓들을 덮으려는 거야?”“하경석, 내가 너한테 시집온 게 정말 그렇게 감사해야 될 일이라고 생각해? 너희들이 이제 와서 오해였다며, 앞으로 내게 잘해주겠다고 말하면 내가 감동되어 무릎이라도 꿇으면서 고마워할 줄 알았나 봐?” “정신 차려, 이제 모두 끝났어.”나는 연거푸 그를 비웃으며 말했다. 하경석은 말문이 막혀 한마디도 대답하지 못했다.“조금이라도 양심이 있다면 얼른 이혼해. 네가 이혼을 미룬다 해도 상관없어. 어차피 난 가진 게 없으니 너 따위는 전혀 두렵지 않거든.”그렇게
다음 날, 나는 법원 앞에 도착하기도 전에 멀리서 하씨 가문의 가족들을 보았다.‘고작 이혼하는 것뿐인데, 온 가족이 함께 올 필요가 있나?’내가 가까이 가자, 하지성이 달려와 내 다리를 끌어안았다.“엄마, 어디 갔었어요? 엄마, 너무 보고 싶었어요.”지성은 어렸을 때부터 나와 별로 친하지 않았다. 하씨 가문에서 잘 배워서 절제하고 예의를 갖췄지만, 유독 친엄마인 나에게는 늘 무뚝뚝했다.예전 같았으면 나는 분명 지성의 이런 모습에 놀랐을 것이다. 하지만 1095일이 지난 지금, 나는 더 이상 이 집안사람들과 가식적인 관계를 유지할 생
김영미는 하경석의 말에 당황한 듯 한참을 망설인 후 말했다.“경석아, 현서가 네 아내로서 그동안 열심히 노력해 왔으니 그 일에 대해선 더 이상 따지지 말거라.”하경석은 낮에 느꼈던 모욕감 때문에 여전히 차가운 목소리로 말을 이었다.“차라리 이혼하는 편이 나아요. 괜히 두 아이를 잘못 가르칠지도 모르잖아요.” “엄마도 생각해 봐요. 계속 이대로 지내다가, 나중에 지성이가 자기 엄마가 수단을 가리지 않는 사람이었다는 걸 알게 된다면 얼마나 고통스러워하겠어요?”하경석은 말을 이어가려 했지만, 김영미가 그를 막았다.“그만해, 경
이것들을 떠올리자 내 표정도 차가워졌다.“이혼 서류에 분명히 적혀 있잖아. 하씨 집안의 돈, 집, 사람은 모두 필요 없어.”“너...”내가 갑자기 화를 내자 하경석은 당황해하며 잠시 말을 잇지 못했다. 한참을 망설이다가 겨우 말했다.“장현서, 대체 왜 그러는 거야? 가족 사이에 무슨 일이 있었던 거라면 말해야 같이 해결할 수 있을 거 아니야.”“가족?” 나는 그 단어를 되새기며 웃었다. 하경석은 한 번도 날 가족으로 포함한 적이 없었다. 외부에선 나를 자기의 아내라고 밝혔지만, 사실 나는 하씨 집안과는 완전히 별개였다.
나는 하씨 저택을 떠난 뒤, Y시에 발을 들여놓고 작은 옥탑방을 전세 맡았다.지금 나는 의자에 앉아 여름의 시원한 바람을 즐기고 있었다.Y시는 살기 좋은 데다가, 사계절의 경치가 모두 아름다웠기에 나는 이곳에서 꽃집을 열 계획을 하고 있었다.예전의 나는 꽃이나 식물 같은 것들을 좋아하지 않았다. 그러나 하경석의 아내로 살던 3년 동안, 나는 어쩔 수 없이 그런 것들에 대해 많이 배우게 되었다.하경석은 내가 이곳에 정착한 지 사흘째 되는 날 저녁에 찾아왔다.그는 여전히 차가운 모습을 보이고 있었지만, 보기 드물게 작은 허점을
굿노벨에 오신 것을 환영합니다. 굿노벨에 등록하시면 우수한 웹소설을 찾을 수 있을 뿐만 아니라 완벽한 세상을 모색하는 작가도 될 수 있습니다. 또한, 로맨스, 도시와 현실, 판타지, 현판 등을 비롯한 다양한 장르의 소설을 읽거나 창작할 수 있습니다. 독자로서 질이 좋은 작품을 볼 수 있고 작가로서 색다른 장르의 작품에서 영감을 얻을 수 있어 더 나은 작품을 만들어 낼 수 있습니다. 그리고 작성한 작품들은 굿노벨에서 더욱 많은 관심과 칭찬을 받을 수 있습니다.