"Koh Asun," suara Baskoro Himawan terdengar berat dan menekan. "Apa benar yang dikatakan kuli ini? Kamu mencoba menjual barang replika modern padaku?""B-Bukan begitu, Pak Baskoro! Sumpah, demi Tuhan, anak ini cuma kuli panggul gila yang dendam karena sering saya tegur!" Koh Asun berteriak histeris, menunjuk wajah Satria dengan jari yang gemetaran. "Dia itu rabun! Huruf di koran saja tidak bisa baca, bagaimana bisa dia melihat nomor seri di lipatan jubah arca? Dia cuma asal bicara untuk merusak bisnis saya!"Mendengar kata 'rabun', Liana kembali menatap Satria. Memang benar, penampilan Satria sangat lusuh, kaosnya dekil, dan ada bekas luka gores di jemarinya yang masih segar. Namun, sorot mata pemuda di depannya ini sama sekali tidak mencerminkan orang yang menderita rabun. "Pa, buat buktiinnya mudah aja," ucap Liana tenang namun tegas. Ia menatap Satria. "Kebetulan saya membawa cairan pembersih karat khusus dan kaca pembesar pembesaran di mobil." "Silakan, Nona," jawab Satria tenan
Last Updated : 2026-05-18 Read more