Maya menutup pintu dengan kasar, napasnya tersengal-sengal seolah ia baru saja berlari maraton. Ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang dingin, menahan berat tubuhnya sendiri agar tidak merosot ke lantai. Apa itu tadi? Halusinasi? Ia mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menyeka sisa-sisa air hujan yang membasahi pelipisnya. Kematian ayahnya mungkin telah mengacaukan kewarasannya, mungkin duka yang mendalam telah menciptakan bayangan-bayangan di otaknya.Ia kembali ke mejanya, mencoba fokus pada gambar digital yang harus ia selesaikan dalam waktu kurang dari enam jam. Namun, pikirannya terus melayang kembali pada pria misterius itu—Lucien. Matanya yang dingin, suaranya yang tenang, dan fakta bahwa pria itu seolah-olah tidak basah kuyup meski hujan mengguyur begitu keras. Ada sesuatu yang tidak logis, sesuatu yang menentang hukum alam yang selama 22 tahun ini ia kenal."Tidak mungkin," gumamnya pada diri sendiri. Ia mengambil segelas air, namun tangannya justru tidak sengaja
Last Updated : 2026-06-12 Read more