Lara Kirana tidak ingat kapan terakhir kali ia bisa hidup dengan tenang. Mungkin tiga tahun lalu, sebelum ia menandatangani pinjaman atas namanya sendiri—uang yang kemudian dihabiskan suaminya, Faris, untuk judi online. “Lara! Sialan, jangan pura-pura tuli!” Lara tersentak. Dia baru saja menaruh piring berisi nasi goreng di meja saat tangan kasar Faris mencengkeram rambutnya dari belakang, memaksa kepalanya mendongak dengan kasar. Rasa sakit menjalar di kulit kepalanya, namun Lara sudah terbiasa. “Aku bicara sama kamu! Mana uangnya?!” berang Faris marah. Matanya merah, kantung matanya menghitam, tanda khas pecandu judi yang tidak tidur dua hari. Napasnya bau alkohol dan rokok yang memuakkan. “Aku butuh lima puluh juta buat cicil utang. Kalau nggak, orang-orang itu bakal hancurin kakiku! Kamu mau aku cacat, hah?!” Lara menahan napas, mencoba memposisikan dirinya agar tidak jatuh. “Mas, aku udah bilang, aku nggak punya uang sebanyak itu,” suara Lara bergetar, tercekat di tenggor
Last Updated : 2026-06-17 Read more