Luna membuka matanya pelan, menahan napas sejenak, lalu mengembuskannya perlahan. Manik matanya menatap langit-langit kamar—kusam. Bukan lagi lantai marmer apartemen Darian. Bukan kamar luas dengan jendela besar. Hanya plafon kusam, kipas angin tua, dan bau kayu lembap yang menempel di udara.Ia beranjak dari tempat duduk, menatap pantulan bayangan tubuhnya di cermin rias di depannya. “Benar. Aku bukan Yalinda.” “Aku harus membiasakan diri,” gumamnya pelan. Jujur saja, dia tak tahu bagaimana bisa jatuh tertidur semalam. Yang ia ingat, semua yang dirasakan hanyalah kenyamanan yang ia rindukan ketika hidup sebagai Yalinda. Ia mandi, mempelajari batas tubuh barunya. Bahu yang lebih sempit. Lengan yang lebih ringan. Bekas luka yang tidak ada. Untuk sesaat, ada perasaan ganjil—kehilangan sekaligus kebebasan.Selepas mandi, ia mendandani diri. Mengenakan seragam sekolah, memoles wajah ala kadarnya, dan menyematkan nama Luna di dada kanannya. Di dapur kecil, seorang nenek menunggu. Rambu
Last Updated : 2026-06-23 Read more