“Pulang kerja nanti jangan ke mana-mana, ya, Ta! Langsung pulang! Kita mau makan bersama,” seru bu Fitria.Gerakan tangan Vitara yang tengah menata sarapan terhenti. Tangan kanannya masih menggenggam sendok garpu yang baru saja ia ambil. Bibirnya sudah terbuka hendak berkata. Namun kembali terkatup saat suara sang ibu mendahului.“Abangmu baru naik jabatan kemarin. Jadi ibu dan ayah mau buat acara kecil-kecilan untuk syukuran keberhasilannya,” sambung wanita paruh baya tersebut.Kerongkongan Vitara terasa tercekat. Seolah ada sesuatu yang menghalangi jalan nafasnya. Susah payah Vitara menelan salivanya sendiri hanya untuk bisa menyahuti perkataan sang ibu.“Iya, Bu,” sahut Vitara pelan.“Makanya, Ta! Kamu itu cari kerja yang bener. Liat, tuh, Vito. Abangmu itu dari dulu selalu giat belajar, giat kerja. Makanya bisa keterima di perusahaan besar. Sekarang malah udah naik jabatan jadi supervisor. Lah, kamu? Masih aja kerja di warung,” ketus bu Fitria terlihat kesal“Kafe, Bu,” cicit Vita
Last Updated : 2026-06-23 Read more