“Nyonya Fino, tubuh Anda jauh lebih tegang daripada yang saya bayangkan.”Aku berbicara dengan suara pelan yang rendah dan berat, begitu dekat hingga bibirku nyaris menyentuh telinganya. Hembusan napasku menyapu daun telinganya. Dia refleks mengerutkan lehernya, sementara ujung telinganya perlahan memerah.“Ja ... jangan sentuh di situ ....” Nada bicaranya mengandung sedikit getaran yang sulit disadari.“Saya hanya sedang memeriksa kondisi otot Anda.” Aku berpura-pura tidak memahami maksudnya, sementara jariku terus memeriksa area di sekitar tulang belikatnya.Di balik kain tipis itu, setiap getaran halus pada kulitnya terasa begitu jelas di telapak tanganku.Sensasinya bagaikan menyentuh sutra kualitas terbaik, begitu halus hingga membuat orang enggan melepaskannya.Aku tersenyum dalam hati, tetapi mulutku tetap mengucapkan kalimat yang terdengar professional, “Di bagian ini otot Anda mengalami penumpukan ketegangan. Mungkin akibat kelelahan yang berlangsung lama, jadi perlu diurai m
Baca selengkapnya