Sarah beridiri beberapa saat di depan pintu, memandangi mobil Farhan yang semakin mengecil hingga akhirnya menghilang di tikungan. Biasanya setelah suaminya itu bernagkat Sarah akan masuk ke dalam rumah dengan hati yang ringan.Namun, pagi ini berbeda, ada perasaan asing yang menganjal di hatinya, seolah kehangatan yang dulu memenuhi rumah itu ikut pergi bersama lelaki yang baru saja meninggalkannya.Perlahan, ia menutup pintu, lalu melangkah ke arah ruang makan. Dua piring yang sejak tadi tersusun rapi masih belum tersentuh sama sekali. Secangkir kopi yang ia seduh dengan penuh perhatian kini hanya mengisakan uap tipis yang perlahan menghilang. Sarah mengangakat cangkir itu. Jemarinya merasa sisanya hangat yang mulai lenyap. “Mas..., dulu kopi ini yang selalu kamu puji paling enak,” gumamnya pelan sambil tersenyum hambar.Ia membawa cangkir kopi itu ke wastafel. Air mengalir pelan, membilas kopi yang tak sempat diminum. Entah, mengapa, pemanandangan sederhana itu begitu terasa meny
Terakhir Diperbarui : 2026-07-30 Baca selengkapnya