Pernah ikut workshop tari tradisional dan dapat penjelasan menarik tentang Lenso. Ternyata di Maluku Utara ada versi tarian ini yang hampir punah, namanya Lenso Ternate. Gerakannya lebih minimalis tapi sarat makna filosofis. Selain itu, ada pula Lenso Cengkeh dari Ambon yang khusus ditarikan saat panen cengkeh. Jadi semakin kesini semakin banyak varian yang ditemukan, tergantung dari sudut mana kita melihatnya!
Aku baru benar-benar paham keragaman Tari Lenso setelah ngobrol dengan seorang koreografer tradisional. Katanya, selain pembagian berdasarkan daerah, ada juga klasifikasi berdasarkan fungsi: ada Lenso untuk ritual, untuk hiburan, dan untuk penyambutan tamu. Versi ritual biasanya lebih sakral dengan gerakan terukur, sementara versi hiburan lebih bebas dan improvisatif. Yang unik, beberapa kelompok kesenian sekarang mengembangkan 'Lenso Urban' dengan sentuhan hip-hop - meski puris mungkin keberatan, menurutku ini justru cara kreatif melestarikan warisan budaya!
Dari pengalamanku mengikuti komunitas tari tradisional, Tari Lenso itu seperti cerita rakyat yang hidup. Versi Minahasa biasanya dimainkan 6-8 penari dengan tempo cepat, beda banget sama versi Maluku yang lebih slow dan elegan. Ada juga variasi modern yang sudah dikembangkan untuk pertunjukan kontemporer, biasanya memadukan unsur lenso klasik dengan koreografi baru. Yang jelas, tarian ini selalu bikin aku terpesona dengan kelincahan gerakan sapu tangannya - itu lho properti utama yang jadi ciri khas semua jenis Lenso!
Membicarakan Tari Lenso selalu mengingatkanku pada festival budaya di Maluku yang pernah kukunjungi tahun lalu. Tarian ini ternyata punya beberapa varian tergantung daerah asalnya! Yang paling terkenal ada tiga jenis: Lenso dari Minahasa (Sulawesi Utara) dengan gerakan lincah dan properti sapu tangan, Lenso Ambon yang lebih slow dengan nuansa melankolis, serta Lenso Flores yang kental unsur Portugis.
Yang menarik, setiap jenis punya makna berbeda. Lenso Minahasa sering dipentaskan dalam acara pernikahan sebagai simbol sukacita, sementara di Ambon, tarian ini lebih sering jadi bagian upacara adat. Aku pribadi paling suka melihat Lenso Flores karena kostum penarinya yang colorful dan iringan musiknya bikin mood langsung cerah!
2026-06-14 12:10:25
2
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Kau Bisa Apa Tanpaku, Mas?
Itha Sulfiana
8.5
66.2K
Najwa Asyifa, perempuan berusia 26 tahun yang sudah menikah selama dua tahun dengan Fabian Rizki yang lebih tua enam tahun dibanding dirinya. Pernikahan itu awalnya indah. Namun, semenjak kehadiran Ibu mertua dan adik ipar yang ikut tinggal bersama mereka, keadaan akhirnya berubah.
Puncaknya, ketika Najwa mendapat sebuah kabar buruk. Sang suami membawa wanita lain ke rumahnya dan mengakui wanita itu sebagai istri kedua.
*
Kau bilang, aku tak bisa tanpamu, Mas. Ah, Benarkah?
Ku rasa, itu terbalik. Bukankah, justru kau yang tak bisa tanpaku?
“Ah…kak…sudah, Viona tidak bisa lagi…hah.” Suara pekikan yang menggema. Diujung keinginan yang begitu terbakar.
Dirinya tahu ini salah. Tapi ini juga begitu menggoda, sebuah jeritan pelan, disaat bersamaan membalas cumbuannya.
***
Ibu tirinya ingin Rafael menikahi saudari tirinya sendiri. Ada banyak rahasia dalam keluarga konglomerat, termasuk ketidak percayaan pada orang lain.
Ada kalanya sang ibu tiri berkata.
“Rafael, ibu dan ayahmu sudah bercerai. Jadi nikahi dan hamili adikmu, buatlah penerus keluarga Andita. Karena, ibu tidak percaya pada pria lain untuk menjaga adik-adikmu.”
Begitu banyak rahasia, termasuk Rafael yang juga mengalami kelahiran kembali.
“Tapi…jika hanya untuk menjaga mereka—” Kalimat Rafael disela.
“Percayalah…mereka juga menginginkan ini.” Bisikan sang ibu tiri, tersenyum menyeringai pada putra tirinya.
~ Pemenang Runner Up (Juara 2) Kompetisi 'Ini Bukan Cerita Dongeng' 2022 ~
Dibuang setelah kematian ibunya secara tragis, hidup Gallen bagai di neraka. Dia bertekad untuk sukses dan menghimpun kekuatan untuk balas dendam.
"Lihat dan tunggu pembalasanku! Akan kutenggelamkan kalian semua hingga ke kerak bumi!"
Dua puluh tahun kemudian, Gallen muncul di perusahaan keluarga ayahnya sebagai Malaikat Kematian dalam wujud seorang cleaning service.
Selamat membaca! Yuk ramaikan kolom review dengan komentar!
Ikuti juga IG @lathifahnur117
Dalam pusaran kehidupan Istana Damar Langit yang dipenuhi intrik dan konflik, Elang Taraka yang tidak mempunyai kedudukan dan kemampuan olah kanuragan dijadikan tumbal keserakahan.
Dia hanyalah seorang asisten tabib dengan bekal ilmu pengobatan terbatas, tapi direkomendasikan untuk menyembuhkan sang Putri yang wajahnya mulai tumbuh jerawat yang parah oleh orang yang sengaja ingin memanfaatkan situasi.
Dijadikan sebagai sasaran fitnah oleh seseorang yang berniat buruk untuk merebut Damar Langit dari Prabu Maheswara Kamandaka, Elang yang bernasib sial harus dibuang ke hutan Wono Daksino akibat fitnah tersebut untuk menjalani hukuman.
Alih-alih mati diterkam binatang buas, Elang bermetamorfosa menjadi manusia paling kuat di seantero Damar Langit. Dialah yang akhirnya akan menjadi pahlawan yang berhasil merebut kembali Damar Langit dari musuh ketika berhasil mendapatkan pusaka sakti dan guru yang mempunyai ilmu kanuragan tinggi di Wono Daksino.
Simak kisahnya dalam novel berjudul Elang Taraka di GoodNovel.
Tarno yang telah merantau ke luar negeri selama lima tahun berencana memberikan kejutan untuk istrinya, Susanti, dengan pulang ke rumah tanpa memberi kabar sebelumnya. Dia bahkan menyiapkan sebuah hadiah berupa kalung berbandul hati dengan inisial namanya dan istrinya. Namun niatnya untuk memberikan kejutan justru malah berbalik membuatnya lebih terkejut. Tarno melihat Susanti dan Joko -sahabat yang dipercayainya untuk menjaga istrinya selama dia pergi- berada di kasurnya tanpa sehelai benang apa pun.
Bagaimanakah reaksi Tarno menghadapi perselingkuhan istri dan sahabatnya? Yuk ikuti kisah selengkapnya...
Ini bukan tentang rasa Chiki Taro. Tapi, ini tentang rasa sakitku yang ditinggal dia dan rasa yang tak terdeskripsikan saat bertemu dia ─ yang jasnya ternoda oleh minuman Taro-ku, dia ─ laki-laki tampan namun terdiagnosa TBC.─ dr. Lanala Gitraja