Ada satu hal yang selalu membuatku terpikat tiap kali mendengar atau membaca karya Sujiwo Tejo: cara dia merangkul tradisi dan menjadikannya bahasa yang hidup untuk masalah zaman sekarang.
Aku ingat pertama kali melihat penampilannya di sebuah panggung kecil—bahasanya bukan sekadar nostalgia; ia mengangkat kearifan Jawa, tradisi wayang, dan unsur tasawuf menjadi bahan refleksi tentang kekuasaan, moral, dan identitas. Inspirasi utamanya menurutku berasal dari akar budaya Jawa yang dikombinasikan dengan kecenderungan spiritual; dia tak sungkan meminjam mitos, cerita rakyat, dan simbol-simbol religius untuk menyorot persoalan kontemporer.
Di samping itu, Sujiwo juga terinspirasi oleh pengalaman hidup sehari-hari dan kegelisahan sosial. Humor, sindiran, dan kepekaan terhadap politik membuat setiap ceritanya terasa relevan dan menggelitik. Cara dia mengemas pesan dalam bentuk prosa, puisi, atau pertunjukan musik/wayang membuat ide-ide besar terasa akrab, hampir seperti percakapan santai di warung kopi. Aku selalu merasa terhibur sekaligus diajak berpikir—itulah yang membuat karyanya bertahan lama di kepala dan hati.
Aku biasanya menanggapi karya Sujiwo dengan kegembiraan polos: dia mengangkat hal-hal sehari-hari—percakapan sederhana, lelucon, dan kebiasaan masyarakat—kemudian mengubahnya menjadi refleksi yang lucu tapi tajam. Inspirasi utamanya sepertinya memang datang dari rakyat dan kehidupan jalanan, plus selera humor yang absurd.
Pendekatan itu membuat karyanya mudah dicerna oleh banyak kalangan; ia menggabungkan musik, monolog, dan metafora sederhana sehingga pesan besar terasa ringan untuk dinikmati. Bagiku, itu adalah kekuatan terbesar: kemampuan menjadikan tradisi sebagai bahan populer yang tetap mempertahankan kedalaman. Aku pun selalu tersenyum dan terkadang terdiam setelah membaca atau menonton karyanya—sentuhan personal yang membuatku terus kembali.
Sulit untuk merangkum inspirasi utama Tejo Sujiwo tanpa menyentuh sisi spiritual yang kuat dalam karyanya. Dari sudut pandang yang lebih muda dan kritis, aku melihat dia sebagai jembatan antara ritual tradisional dan kritik sosial masa kini. Inspirasi datang dari legenda, adat, dan ajaran sufistik yang kemudian diolah menjadi komentar tentang moralitas, ketidakadilan, dan kebodohan politik.
Selain itu, ada rasa pemberontakan lembut dalam karyanya—bukan semata-mata oposisi, tapi usaha mengajukan tanya melalui cerita dan ironi. Gaya bercerita yang teatrikal dan musikalis membuat pesan-pesannya cepat menyerap, terutama di kalangan yang haus pada narasi yang tak hanya estetis tapi juga bermuatan etis. Aku sering merasa terpanggil untuk membaca ulang dan menelaah lapis-lapis makna yang dia taruh dalam metafora sehari-hari.
Suasana hatiku berubah saat membaca karya-karya Sujiwo: ada rasa kagum pada bagaimana ia memadukan folklore, filsafat, dan bahasa sehari-hari menjadi sesuatu yang terasa sakral sekaligus akrab. Dari sudut pandang penulis yang sedang belajar menulis, inspirasi utamanya menurutku adalah warisan lisan—wayang, Kidung, dan kisah-kisah rakyat—yang kemudian ia gunakan sebagai alat untuk mengeksplorasi tema-tema universal seperti pengkhianatan, cinta, dan pencarian makna.
Gaya naratifnya sering bermain dengan simbol dan simbolisme; ia suka meminjam tokoh-tokoh mitologis untuk menggambarkan fenomena modern, sehingga pembaca diajak membaca dua lapis: teks sebagai cerita dan teks sebagai cermin sosial. Inspirasi lain yang jelas terasa adalah musik dan pertunjukan: aura teater dan ritme liris yang muncul di setiap kalimat membuat karyanya hidup saat dibacakan atau dipentaskan. Sebagai penulis, aku merasa terinspirasi untuk lebih berani merangkum tradisi dalam bahasa kontemporer tanpa kehilangan rasa aslinya.
2025-09-19 14:30:43
6
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Terpikat Pesona Paman Suamiku
Abigail Kusuma
10
56.8K
Pernikahan layaknya princess di negeri dongeng adalah impian Kimberly Davies. Akan tetapi, siapa sangka semua impiannya hancur kala kenyataan tak sesuai dengan impiannya. Sang suami selalu mengabaikannya bahkan sejak mereka pertama kali menikah, Kimberly seakan tak pernah diinginkan.
Dalam keadaan hati yang hancur berkeping-keping, Kimberly pergi ke klub malam. Namun, lagi dan lagi takdir sedang mengajaknya bercanda. Wanita cantik itu mabuk hingga berakhir di ranjang Damian Darrel—pria berbahaya yang merupakan paman tiri dari suaminya sendiri.
Lantas bagaimana kelanjutan Damian dan Kimberly? Hubungan yang tak seharusnya terjadi, telah membuat mereka terjebak seolah berada di dalam labirin. Akankah takdir menyatukan mereka? Atau perpisahan yang terjadi?
***
Follow me on IG: abigail_kusuma95
Luka yang ditorehkan wanita yang begitu ia cintai dulu masih membekas hingga sekarang di hati dokter bedah senior setengah abad itu.
Ia sudah melupakan semua tentang cinta, nikmatnya bercinta dan apapun itu yang berhubungan dengan cinta dan wanita, hingga kemudian kedatangan mahasiswa koas baru periode ini begitu memporak-porandakan Adnan dengan luar biasa.
Gadis cantik dan manis itu terlampau jauh sebenarnya untuk dia jangkau, namun cinta membawanya datang sendiri pada Adnan.
Kejadian malam itu membuktikan bahwa sebenarnya cinta itu masih ada, bahwa akhirnya ia kembali bisa jatuh cinta.
Cover by @reistyaa
SUMIRAH perempuan cantik pribumi yang lahir di era penjajahan Belanda mengalami pelecehan seksual oleh pria-pria di desa tempat dia tinggal.
Ironisnya hal itu terjadi setelah mendapati suaminya yang suka main tangan berselingkuh dengan seorang penari.
Dendam membawanya pada ritual mengerikan yang menjanjikan kecantikan abadi.
SUMIRAH.....
Dendam membuatnya bersekutu dengan iblis yang menelan kehidupannya, menjadikannya Perempuan tercantik di massanya...
Akankah cinta sejati menyelamatkan kembali kehidupannya.
Atau sama sekali tak ada cinta sejati untuknya...
Ikuti kisah Sumirah dalam cerita " SUSUK TERATAI PUTIH"
Joko yang ganteng, berpostur atletis, dan jago bermain voli, banyak disukai oleh wanita-wanita di sekitarnya. Namun, wanita yang benar-benar ia sukai justru tidak menyukai dirinya. Ia terus berupaya untuk menaklukkan Ningsih, gadis cantik anak Pak Sadeli sang pegawai kecamatan yang ia taksir itu. Bahkan, demi mendapatkan hati Ningsih, ia sampai rela tubuhnya dipasangi susuk pemikat oleh Ki Ageng Gemblung.
Malapetaka pun menimpa Joko, akibat sebuah kejadian ganjil yang serta-merta menjungkir-balikkan dunianya. Yaitu, “yang aku taksir, anaknya. Yang naksir aku, ibunya!”
Kejadian yang menggegerkan orang sekampung itu membuat Joko terusir dari kota kelahirannya sendiri. Ia terpaksa pergi, meninggalkan ibu dan adik perempuannya untuk mencari kehidupan baru di tempat yang lain, sekaligus untuk menemukan cinta sejati dalam hidupnya. Berhasilkah dia? ********
“Kamu cinta aku, Mas?”
“Iya, Sayang.”
“Walaupun aku gemuk?”
“Iya.”
“Walaupun aku pendek?”
“Iya.”
“Walaupun aku punya varises?”
“Iya.”
“Terima kasih, Mas.”
Ia pun tersenyum manis, dan memejamkan kedua matanya bersamaan dengan mengembuskan nafasnya yang terakhir. Aku yang melepasnya pergi di dalam pelukanku, menangis tanpa suara. ********
********
Tiara, gadis penyuka senja. Yang tak pernah melewatkan senja di pantai demi menunggu janji sang kekasih hati. Tapi, di suatu senja, Ada tragedi yang membuat Tiara kehilangan jati diri. Akankah sang kekasih datang untuk mengobati, atau ada pria lain yang akan mencintai Tiara setulus hati?
Stella, gadis cantik berambut pendek yang gemar sekali mencuri. Stella adalah pencuri genius yang sulit untuk ditangkap. Tetapi tidak selamanya keberuntungan berada di pihak Stella. Stella tertangkap basah saat mencuri di toko emas, hingga terjadilah aksi kejar kejaran antara Stella dan para polisi.
Kejadian naas menimpa Stella, dia tertabrak truk mini saat melarikan diri dari kejaran para polisi. Stella pikir dia sudah mati saat itu, ternyata tidak. Stella bertransmigrasi jiwa ke tubuh Anastasya yang merupakan seorang putri bangsawan di tahun 1781. Agar bisa kembali ke tubuhnya Stella harus menjalankan beberapa misi yang sulit.
Ada satu momen yang masih melekat di memori ketika menonton 'Kucumbu Tubuh Indahku' garapan Garin Nugroho. Film ini menyelipkan beberapa puisi dan ungkapan khas Sujiwo Tejo, terutama dalam adegan-adegan contemplative yang penuh metafora. Gaya bahasa Tejo yang puitis dan sarat makna menyatu sempurna dengan visual Garin yang surreal.
Yang menarik, Tejo sendiri pernah terlibat dalam dunia perfilman sebagai penulis naskah, seperti dalam 'Aurat'. Meski tidak semua dialog langsung dikutip dari karyanya, nuansa filosofis dan permainan katanya sering terasa. Bagi penggemar sastra, menemukan jejak pemikirannya dalam film adalah pengalaman yang mengasyikkan.
Ada sesuatu yang magis tentang Jogja yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, dan lagu 'Sesuatu di Jogja' sepertinya mencoba menangkap esensi itu. Aku ingat pertama kali mendengarnya, nuansa nostalgianya langsung menyergap—seperti aroma angkringan di malam hari atau suara becak melewati jalan sempit. Liriknya sederhana tapi dalam, seolah berbicara tentang kenangan yang tertinggal di sudut-sudut kota. Mungkin penciptanya terinspirasi oleh pengalaman pribadi, entah itu percintaan, persahabatan, atau sekadar momen sunyi di bawah pohon beringin. Jogja bukan sekadar tempat; ia punya jiwa yang hidup dalam lagu ini.
Dari aransemen musiknya, ada sentuhan akustik yang hangat dan akord gitar yang mengalun pelan, mirip dengan irama kehidupan di Jogja yang tidak terburu-buru. Aku membayangkan penulis lagu duduk di tepi Kali Code, menatap sungai yang mengalir lambat sambil merangkai lirik. Lagu ini juga mengingatkanku pada 'Jogja Istimewa', tapi dengan pendekatan yang lebih personal. Sepertinya, inspirasinya datang dari bagaimana Jogja mampu menyimpan cerita dalam setiap temboknya, dan lagu ini adalah salah satu cara untuk membagikannya.
Ada satu buku yang selalu membuatku tersenyum setiap kali membacanya, 'Ngawur Karena Benar' karya Sujiwo Tejo. Buku ini seperti percakapan santai dengan seorang teman bijak yang penuh humor, tapi juga menyimpan kedalaman filosofis. Tejo punya cara unik memadukan kritik sosial dengan canda, membuat pembacanya tertawa sekaligus berpikir.
Yang kusuka dari buku ini adalah bagaimana setiap kisahnya terasa begitu manusiawi. Dia menulis tentang hal-hal sehari-hari dengan sudut pandang yang segar, menggunakan bahasa yang mengalir alih-alih jargon berat. Beberapa bagian bahkan membuatku berhenti sejenak untuk mencerna maknanya yang dalam, sementara bagian lain langsung memancing tawa spontan.
Mengumpulkan kutipan Sujiwo Tejo itu seperti berburu mutiara di lautan kata—kadang tersembunyi, tapi selalu berharga. Aku sering menemukan karyanya tersebar di platform seperti Goodreads atau situs khusus puisi Indonesia. Buku-bukunya seperti 'Negeri Para Bedebah' dan 'Madre' juga sarat dengan kalimat-kalimat berbobot yang bisa dicatat ulang.
Komunitas sastra di Facebook atau forum Kaskus kadang membahas kutipannya dengan penuh semangat. Aku bahkan pernah menemukan thread khusus di Reddit yang mengumpulkan filsafatnya dalam bentuk meme—unik banget! Kalau mau yang lebih terstruktur, coba cek blog pribadi atau wawancaranya di media online; di situ sering terselip wisdom ala Tejo.