Dari segi nama aja udah keliatan perbedaannya. Saman itu nama orang—Syekh Saman—yang menciptakan tarian ini sebagai media dakwah. Kental banget nuansa Islami-nya. Tor-Tor? Itu pure dari bahasa Batak yang artinya gerakan naik turun, sesuai irama musik gondang. Tariannya juga beda banget: Saman nggak pake musik instrumental, Tor-Tor justru identik dengan gondang. Saman untuk menyampaikan pesan, Tor-Tor lebih sebagai bagian dari ritual. Unik-unik semua!
Aku selalu terpesona sama tari tradisional Indonesia, terutama Saman dan Tor-Tor. Saman itu seperti orchestra visual—gerakannya kompak banget sampai bikin merinding. Nama 'Saman'-nya sendiri sederhana, tapi filosofinya dalam. Sementara Tor-Tor itu kayak cerita yang mengalir pelan; setiap gerakan punya arti khusus, dari menyambut tamu sampai ritual kematian. Nama 'Tor-Tor' itu onomatope dari bunyi hentakan kaki, yang jadi ciri khas tarian Batak ini. Bedanya? Saman itu energi murni, Tor-Tor itu meditasi dalam gerak.
Tari Saman dan Tor-Tor memang sama-sama berasal dari Indonesia, tapi keduanya punya ciri khas yang beda banget. Saman itu tari dari Aceh yang dikenal dengan gerakan cepat dan harmonis, biasanya dilakukan oleh banyak penari duduk berjajar. Namanya sendiri konon berasal dari Syekh Saman, seorang ulama yang mengembangkan tarian ini. Sedangkan Tor-Tor itu tari Batak dari Sumatera Utara, lebih slow dan elegan, sering dipakai dalam upacara adat. Namanya berasal dari suara 'tor-tor' yang dihasilkan dari hentakan kaki penari di lantai kayu.
Yang bikin menarik, Saman itu lebih ke ekspresi kebersamaan dan semangat, sementara Tor-Tor lebih sarat makna spiritual dan penghormatan leluhur. Gerakannya juga beda total—Saman dominan tangan dan kepala, Tor-Tor lebih banyak gerakan kaki dan tubuh yang gemulai. Dua-duanya cantik, tapi mood-nya nggak sama sama sekali.
Pernah liat tari Saman di TV? Itu lho yang penarinya bisa gerak super cepat sambil nyanyi. Namanya aja udah beda vibe sama Tor-Tor. Saman itu kayak ledakan semangat, sementara Tor-Tor itu tarian yang slow tapi penuh wibawa. Asal katanya juga unik: 'Saman' dikaitkan dengan pendiri tari ini, sedangkan 'Tor-Tor' itu bahasa Batak untuk gerakan menari. Kalau diperhatikan, kostumnya juga nggak sama—Saman pakie warna-warni cerah, Tor-Tor biasanya pakai ulos yang lebih kalem. Aku suka dua-duanya sih, tergantung mood!
2026-06-09 21:35:06
3
Lihat Semua Jawaban
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Buku Terkait
TERGODA AYAH SAHABATKU
Sidney Fellice
9.9
65.0K
Cinta terlarang yang melanggar batas dunia, juga nurani.
Sam Arsen. Sosok pria matang, kharismatik, sekaligus terlarang.
Di mata dunia, dia pria berwibawa dengan reputasi tak bercela. Bagiku? Dia adalah godaan yang menyiksa.
Harusnya aku hanya melihatnya sebagai ayah dari sahabatku. Seseorang yang tak boleh kusentuh, apalagi kucintai. Namun… kejadian malam itu mengubah segalanya. Sisi lain di balik wajah tampan dan senyum teduhnya perlahan meruntuhkan benteng pertahananku.
Aku tahu, satu sentuhan darinya saja bisa menghancurkan segalanya — persahabatanku, reputasiku, bahkan hidupku sendiri.
Tapi… apa aku sanggup menghindar, ketika setiap tatapannya membuatku yakin, aku bukanlah satu-satunya yang terbakar?
Agatha suka pria lebih tua. Namun, apa jadinya kalau pria yang dipacarinya ternyata 20 tahun lebih tua darinya dan notabene adalah sahabat papa-nya sendiri?
Awalnya semua aman. Mereka pacaran backstreet, sampai Damian menghilang begitu saja, meninggalkan Agatha tanpa pamit di ulang tahun pertama hubungan mereka. Empat tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka dalam hubungan rawan skandal.
Agatha ingin menghindar. Namun, tubuhnya ternyata bereaksi lebih jujur. Dia menginginkan Damian untuknya sendiri, malam ini, di ranjangnya.
Kutemukan ponsel baru milik Mas Bima, tapi anehnya hanya ada satu nama di sana. Pesan yang masuk membuatku shock seketika. Mungkinkah firasatku benar jika dia bermain hati dengan Dinda, adik angkatku?
"Perusahaan ini sudah aku beli. Hanya ada dua pilihan, sponsor magangmu diputus atau jadikan aku selingkuhanmu."
"Gila kamu William!"
Fiona Grace, karyawan magang pejuang sponsor. Ia terjebak hubungan toxic dengan sang kekasih yang menumpang hidup dan mantan yang memiliki riwayat buruk.
Tetap setia dengan kekasih yang buruk atau melanggar moralitas agar tidak kehilangan sponsor sekaligus pekerjaan?
Cinta hanyalah mahasiswi biasa, sampai dunia berhenti mengikuti logika. Bayangan bernama Samudra, kotak biru yang terasa hidup, dan perasaan asing yang terus menempel membuatnya sadar, ada sesuatu yang sedang bangun di dalam dirinya. Dan ketika langit serta laut ikut campur, cinta tak lagi soal pilihan... melainkan tentang siapa yang berani menerima kebenaran lebih dulu.
Andai kamu tahu, aku adalah orang paling bodoh setelah bertemu dengan kamu. Entah sudah berapa ratus kali aku bertemu seseorang, namun nyatanya kamu adalah orang yang tetap aku inginkan.
Saat pertama kali aku bertemu denganmu, dan saat itu aku berharap bahwa diriku bisa bersanding denganmu dan mengenalmu dengan lebih baik, dalam hatiku aku berdoa semoga kelak aku yang akan memenangkan dirimu dan mendampingimu hidup diantara orang-orang yang berdiri di sampingmu sekarang.
Maafkan aku juga yang telah lancang meminjam namamu atas doaku. Sebuah nama yang menjadi pengulangan atas do’a dan sujudku, entah seberapa hebat dirimu sampai bisa memenangkan hatiku dari sekian banyak manusia dimuka bumi ini, daya tarik apa yang kamu punya sehingga namamu saja kuperjuangkan di hadapan tuhanku yang menjadi candu.
Untuk nama yang selalu menjadi pengulangan atas do’a dan ibadahku. Aku berharap ada balasan atas perihal tentang hatiku dan perasaanku kepadamu. Aku sudah tidak mengerti lagi bagaimana caraku merayu semesta agar aku bisa bersamamu, entah sekuat apa pintu hatimu, sampai kamu tidak bisa mendengar sedikit pun ketukan dariku, apakah kamu tuli sampai kamu tidak mendengar jeritan yang selalu menyebut namamu.
Entah sampai kapan aku akan menjadi orang yang gigih untuk tetap memperjuangkanmu, sedangkan hujan yang berpetir pun sudah meremehkanku, lihatlah dengan sombongnya iya pamer bahwa langit yang beberapa saat hujan badai kini menampilkan pelangi yang indah untuk, dipamerkan kepada siapa pun yang melihatnya, seolah berkata ia telah berdamai dari waktu kelamnya.
Lantas bagaimana dengan diriku yang sampai saat ini masih terombang-ambing badai kehidupan namun tidak kunjung mereda, Sedangkan badai itu sendiri semakin hari semakin kuat untuk membuatku terjatuh. Jikalau aku bisa meminta aku ingin berhenti dan istirahat sejenak, tidak mungkin kalau aku akan baik-baik saja saat ini. Entah berapa ribu luka lagi yang harus aku tutupi, dan seberapa kuat lagi aku bisa bangun setelah ribuan kali jatuh.
Menelusuri akar tarian Tor Tor itu seperti membuka lembaran sejarah Batak yang sarat makna. Konon, tarian ini sudah ada sejak zaman nenek moyang suku Batak sebagai media komunikasi dengan roh leluhur. Gerakannya yang khas, dengan tubuh bergerak naik turun mengikuti irama gondang, sebenarnya adalah bentuk doa dalam wujud kinetik. Uniknya, awalnya Tor Tor hanya ditarikan dalam upacara adat seperti pemakaman atau pesta besar, baru kemudian berkembang menjadi tarian hiburan.
Yang bikin saya selalu terpukau adalah filosofi di balik setiap gerakannya. Tangan yang diangkat bukan sekadar estetika, melainkan simbol permohonan kepada Debata (Tuhan). Kaki yang mengetuk lantai pun diyakini sebagai penyambung alam nyata dan gaib. Sekarang, tarian ini jadi identitas budaya Sumut yang justru semakin diminati generasi muda, meski makna sakralnya perlahan bergeser.
Ada sesuatu yang magis ketika mendengar dentuman gendang mengiringi gerakan gemulai Tor-Tor. Tarian ini bukan sekadar gerakan, tapi cerita yang terukir sejak zaman Batak Kuno. Konon, awalnya Tor-Tor digunakan dalam ritual pemanggilan roh leluhur atau 'sombaon', di mana setiap gerakan memiliki makna spiritual yang dalam. Gerakan tangan yang meliuk-liuk seperti air mengalir di Danau Toba, sementara kaki yang menapak kuat melambangkan hubungan manusia dengan bumi.
Seiring waktu, Tor-Tor berkembang dari ritual sakral menjadi bagian dari acara adat seperti pernikahan dan pesta panen. Nama 'Tor-Tor' sendiri konon berasal dari bunyi gendang 'tor... tor...' yang menjadi ciri khas musik pengiringnya. Aku selalu terpana bagaimana tarian ini bisa bertahan selama berabad-abad, menjadi jembatan antara masa lalu dan present.
Mengamati kedua tari ini seperti melihat dua saudara dengan karakter unik. Tortor dari Batak Toba punya gerakan lebih sakral, sering dipakai dalam ritual adat seperti pemakaman atau pesta pernikahan. Gerakannya gemulai tapi penuh makna filosofis, terutama tangan yang bergerak melambangkan doa. Sedangkan tor-tor dari Mandailing lebih cair, bisa untuk hiburan sehari-hari dengan iringan gondang yang lebih riang. Kostumnya juga beda - tortor pakai ulos berat dengan warna dominan merah-hitam, sementara tor-tor cenderung pakai kain lebih cerah.
Yang bikin saya selalu terpesona adalah bagaimana tortor itu seperti 'dialog' dengan leluhur, sementara tor-tor lebih mirip obrolan santai antar masyarakat. Pernah lihat langsung di acara adat Batak, suasana magisnya bikin merinding!