Dua kain ini sebenarnya sama-sama menggunakan teknik tenun Bugis klasik, tapi filosofinya berbeda jauh. Pallu butta mencerminkan kesederhanaan hidup bertani, sering dipakai dalam ritual panen. Warnanya yang earthy sengaja dipilih untuk menyatu dengan alam.
Pallu mara justru bercerita tentang petualangan. Motifnya yang dinamis seperti ombak menggambarkan semangat menjelajah. Kain ini sering jadi hadiah pernikahan sebagai doa agar rumah tangga berlayar mulus. Sekilas mirip, tapi makna dibalik setiap jahitannya sungguh berbeda.
Pernah dengar soal dua jenis kain khas Bugis ini? Pallu butta dan pallu mara itu seperti saudara kembar yang punya ciri khas masing-masing. Pallu butta biasanya didominasi warna-warna alam seperti cokelat tanah atau hijau daun, motifnya lebih sederhana dengan garis geometris yang tegas. Konon ini dipakai sehari-hari oleh masyarakat agraris.
Sedangkan pallu mara itu lebih flamboyan! Warna merah menyala atau emas sering jadi andalan, dengan motif sulaman rumit yang terinspirasi ombak laut. Dulu katanya kain ini simbol status para pelaut ulung. Yang menarik, teknik tenunnya pun beda - pallu mara menggunakan benang logam untuk memberi kesan mewah, sementara pallu butta lebih natural dengan bahan katun atau sutra alam.
Ada yang bilang pallu butta itu 'kain bumi' dan pallu mara adalah 'kain samudra'. Aku pernah melihat langsung perbedaannya waktu berkunjung ke workshop tenun tradisional. Pallu butta terasa lebih berat dan tebal, cocok untuk aktivitas di darat. Motifnya yang minimalis justru membuatnya timeless.
Pallu mara langsung menarik perhatian dengan kilauannya. Menurut penenun senior, setiap garis lengkung pada motifnya menyimbolkan rute pelayaran. Kain ini lebih ringan dan lentur, disesuaikan dengan kebutuhan pelaut. Yang unik, proses pembuatan pallu mara bisa memakan waktu dua kali lipat lebih lama karena detail sulamannya yang rumit.
2026-06-28 16:39:59
11
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Istri Buta Kesayangan Bos Besar
Rizu Key
10
3.9K
"Aku sudah membelimu, jadi jiwa dan tubuhmu adalah milikku." ~Royaldio.
________________________________
Setelah memergoki calon suaminya bertukar peluh dengan adik kandungnya sendiri, Jelita dijebak dan berakhir menghabiskan satu malam panas dengan seorang pria misterius. Saat dia kabur dari sang pria, dia malah mengalami kecelakaan dan berakhir buta. Tak hanya itu saja, dia dijual oleh keluarganya pada seorang pria misterius.
Siapakah pria asing itu? Dan mengapa dia membeli Jelita yang buta?
Setelah dinasti keluarganya runtuh, Ming Zhu, putri dari kaisar yang dilengserkan, kehilangan segalanya—orang tuanya dibunuh dan kakaknya, Ming Yue, dijual ke rumah bordil. Hidup dalam pelarian, Ming Zhu akhirnya bekerja sebagai asisten pribadi seorang bangsawan misterius bernama Liang Wei, pria dingin dengan penglihatan yang lemah dan rahasia yang tak diketahui siapa pun. Hubungan keduanya semakin menegang saat Liang Wei menyelamatkannya dari rumah bordil dan menjadikannya budak seumur hidupnya. Di tengah intrik istana, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan, dua orang yang sama-sama hidup dalam bayangan akhirnya menyadari bahwa takdir mereka saling terikat. Ketika identitas mereka akhirnya terbongkar ke dunia, Ming Zhu dan Liang Wei tidak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi.
Namun alih-alih jatuh, mereka memilih untuk bangkit. Bersama-sama mereka memulai permainan berbahaya melawan para pengkhianat yang telah menghancurkan masa lalu mereka. Akankah mereka berhasil merebut kembali tahta yang seharusnya milik mereka?
“Dalam kegelapan.. sosok seorang putra..dendam dan lara menutup kedua matanya. Dia terjerumus sebagai manusia...dan bangkit menjadi legenda.”
Dia terlahir buta, oleh ayahnya, Raja Samudra. Ia diberikan nama Manggala Samudra.
Manggala kecil lolos dari pembunuhan. Perintah pembunuhan yang langsung diberikan oleh permaisuri Raja Samudra.. Takdir kemudian membawa Manggala bertemu dengan Penguasa Sungai Ular, Raja Siluman Ular Putih yang kemudian mengangkatnya sebagai murid.
Dengan kesaktian yang dimilikinya, Manggala melanglang buana memberantas keangkara murkaan hingga kemudian dia dikenal dengan nama SI BUTA DARI SUNGAI ULAR.
Nah, Bagaimanakah kisah ini akan berjalan?
Mengapa Permaisuri Raja Samudra ingin membunuhnya?
Ada rahasia apa sebenarnya dengan diri Manggala?
Mampukah Manggala menyingkap tabir tentang jati dirinya?
Melibatkan cinta 2 perempuan paling fenomenal di Indonesia (Roro Kidul & Blorong) untuk mendapatkan cinta Manggala.
Nantikan semua jawabannya dalam ;
SI BUTA DARI SUNGAI ULAR
Jemuran pakaian Puspa dan Ayu; tetangga barunya selalu saja tertukar, karena pakaian yang mereka jemur sama, baik warna, model, dan juga motifnya. Bagaimana bisa? Padahal Ayu baru tiga hari pindah ke sebelah rumah Puspa. Merasa lucu, iya, merasa aneh juga iya, oleh karena itu, Puspa memutuskan untuk menyelidikinya.
Nazha gadis cantik berusia 23 tahun terpaksa menerima perjodohan untuk menyelamatkan ekonomi keluargannya. Tapi ternyata di balik itu ada konspirasi yang buruk yang direncanakan Reymon suaminya. Di malam pertamanya lewat aplikasi protitusi online justru Reymon menjual Nazha untuk menyelamatkan keuangan perusahaannya yang di ambang kebangkrutan. Bagaimana kelanjutan pernikahan Nazha dan Reymon yang sudah rusak di awal pernikahan?
Mereka Di Pertemuan Karena Ikatan Pernikahan Namun Karena Andriek Buta, Keyla menolaknya.
"Kamu benar-benar membuatku marah dan tak bisa menunggu." Ujarnya sedikit keras, suara Andriek gemetaran. Dengan sikap yang kasar, Andriek langsung memegangi kedua belah pundak Key dan mendorongnya kebelakang sehingga membuat perempuan itu terbaring di atas kasur. Tanpa berpikir panjang Andriek pun mengecup bibir isterinya, tentu saja Keyla tak dapat menolaknya. Sebab cengkraman kedua tangan Andriek lebih kuat.
Awalnya ciuman itu terasa hambar dan menyakitkan namun lama kelamaan menjadi berbeda. Lebih lembut, keduanya seakan terbawa suasana. Ciuman Andriek menjalar hingga leher Key dan sedikit meninggalkan kiss mark bertanda stempel red.
Ayo baca cerita selanjutnya....
Mengamati pakaian adat Bugis itu seperti menyelami sejarah yang hidup. Untuk pria, 'baju bodo' atau dikenal juga sebagai 'baju passapu' biasanya berwarna gelap seperti hitam atau cokelat, dengan motif sederhana namun sarat makna. Yang paling khas adalah penutup kepala bernama 'songkok' yang melambangkan kedewasaan.
Sementara itu, busana wanita Bugis justru sangat kontras dengan warna-warna cerah seperti merah, kuning, atau hijau. 'Baju bodo' untuk wanita memiliki lengan pendek yang lebar, seringkali dilapisi dengan sulaman emas. Kain sarung 'lipa sabbe' yang dipakai biasanya bermotif kotak-kotak atau bunga, menciptakan kesan elegan namun tetap tradisional. Perbedaan paling mencolok ada pada aksesori - wanita Bugis mengenakan berbagai perhiasan mulai dari kalung hingga giwang besar.
Melihat perbedaan pakaian adat Makassar dan Bugis itu seperti menyelami dua sisi mata uang yang sama-sama indah tapi punya karakternya masing-masing. Baju bodo khas Makassar itu langsung bisa dikenali dari bahannya yang transparan dan warna-warni cerah, biasanya dipadukan dengan sarung sutra. Aku suka bagaimana desainnya yang sederhana tapi elegan, cocok banget buat acara-acara adat. Sementara itu, baju adat Bugis, terutama untuk pria, sering pakai jas tutup dengan sarung motif kotak-kotak yang mereka sebut 'lipaq saqbe'. Perbedaan paling mencolok ada di detailnya - baju bodo lebih minimalis, sementara pakaian Bugis biasanya lebih berlapis dan formal.
Yang bikin aku selalu terpesona adalah filosofi di balik masing-masing pakaian itu. Baju bodo Makassar itu umurnya udah ratusan tahun dan dulunya cuma ada tujuh warna yang masing-masing menunjukkan status pemakainya. Pakaian adat Bugis justru lebih menunjukkan strata sosial lewat bahan dan aksesorisnya. Misalnya, bangsawan Bugis pakai pasapu (destar) dengan sulaman emas, sementara rakyat biasa pakai yang lebih sederhana.
Pernah dengar cerita dari teman yang baru saja menghadiri pernikahan adat Bugis di Makassar? Maharnya bikin mata melotot—emas batangan, perhiasan antik, plus uang tunai yang jumlahnya bisa beli motor baru. Tapi pas aku main ke desa di Bone, ceritanya beda banget. Di sana, mahar lebih sering berupa barang-barang simbolis seperti sarung tenun, alat dapur tradisional, atau bahkan hewan ternak. Bukan berarti nilainya kecil, tapi lebih mengutamakan makna budaya ketimbang gengsi.
Yang menarik, di kota besar seperti Makassar atau Parepare, mahar cenderung dipengaruhi gaya hidup modern dan status sosial. Keluarga mempelai sering 'nego' layaknya bisnis, bahkan ada yang sampai ribut karena tuntutan berlebihan. Sementara di desa, prosesnya lebih cair dan dipimpin tokoh adat yang memastikan segalanya tetap sesuai 'siri'' (harga diri) tanpa memberatkan pihak mana pun. Aku sendiri lebih suka filosofi desa—mahar seharusnya jadi lambang komitmen, bukan ajang pamer kekayaan.