Bayangkan mertua posesif seperti tamu yang terlalu bersemangat menghias rumahmu—niatnya baik, tapi hasilnya bisa mengganggu. Triknya adalah 'mengalihkan perhatian'. Jika mereka terus menanyakan rencana punya anak, alihkan percakapan ke topik yang mereka sukai: 'Kemarin lihat Ibu koleksi reseh baru, boleh dong diajarkan?'
Sikap humor juga bisa menjadi penyelamat. Ketika mereka mulai mengkritik pilihan furnitur, tertawakan saja: 'Wah, ternyata selera Ibu lebih modern dari aku!' Humor mengurangi ketegangan sambil memberi pesan bahwa kamu tidak akan mengubah semua keputusan hanya untuk menyenangkan mereka.
Mertua posesif seringkali berasal dari rasa khawatir mereka akan kehilangan peran dalam kehidupan anaknya. Coba pahami motif di balik sikap mereka—apakah itu kesepian, tradisi, atau bahkan ketidakpercayaan pada kemampuanmu. Jika mereka sering mengatur rumah tanggamu, beri mereka 'proyek kecil' yang merasa mereka berkontribusi tanpa mengganggu. 'Ibu, aku butuh saran untuk resek masakan ini, bisa bantu?'
Jangan lupa untuk sesekali menginisiasi kontak terlebih dahulu. Kirim foto kegiatan keluarga atau undang mereka untuk acara spesifik. Dengan mengambil inisiatif, kamu mengontrol dinamika tanpa membuat mereka merasa diabaikan.
Ada momen dalam hidup di mana kita harus belajar menari di antara jarum jam pasir keluarga—terutama dengan mertua yang posesif. Kuncinya adalah membangun batasan tanpa terkesan menolak. Misalnya, alih-alih langsung menolak setiap intervensi, coba berikan opsi: 'Aku sangat menghargai perhatian Ibu, tapi mungkin kita bisa diskusikan jadwal kunjungan yang nyaman untuk semua?'
Penting juga untuk melibatkan pasangan sebagai mediator. Mereka adalah jembatan alami antara dua generasi dengan ekspektasi berbeda. Ceritakan perasaanmu secara jujur, tapi hindari menyalahkan. 'Aku kadang kewalahan dengan frekuensi komunikasi, bagaimana menurut kamu cara terbaik menyikapinya?' Pendekatan ini mengurangi konfrontasi langsung sambil mempertahankan harmoni.
2026-07-07 01:28:27
3
Lihat Semua Jawaban
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Buku Terkait
Dijodohkan dengan Ipar Posesifku
Rahmi Aziza
10
259.7K
"Nadia, Arman, bagaimana kalau kalian menikah?" pinta ibu mertuaku penuh harap, tepat di hari masa iddahku usai.
Menikah dengan Arman? Adik suamiku yang dingin itu? Bahkan setelah empat tahun kami hidup seatap di rumah Mama, bisa dihitung dengan jari kami saling berbicara. Itu pun seperlunya saja. Nada bicaranya ketus, raut wajahnya tak ramah. Apa ia membenciku? Dan saat Mama meminta kami menikah, mengapa pula ia tidak menolaknya?
"Nyo--nyonya... Anda yakin mau aku yang melakukannya?!"
"Sudah lakukan saja! Aku sudah... uh, aku sudah tidak tahan Bara..."
Bagaimana jika sopir sepertimu ternyata sudah diincar sejak lama oleh istri majikanmu sendiri, untuk dijadikan "pelampiasannya"?
Pada siang hari, aku harus menemani majikanku yang cantik dan menggoda. Begitu juga saat malam tiba. Bedanya, siang di mobil, malam di kamarnya...
"A... Ayah Mertua, ja... jangan gini, ini... ini sangat memalukan."
Ayah mertua menahanku di depan jendela besar, dia mengangkat salah satu kakiku dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menekan dan meremas payudaraku dengan kuat.
"Apa yang memalukan? Lihat orang-orang di bawah sana, betapa mengasyikkannya ini."
Dunia Arimbi Maulida serasa runtuh ketika Nina, sepupunya, membawa buku nikahnya dan mengaku telah menikah dengan Seno Caturrangga, calon suami Arimbi, dua hari yang lalu.
Padahal seminggu ke depan, Arimbi dan Seno akan melangsungkan pernikahan, setelah tiga tahun berpacaran. Undangan pun sudah terlanjur disebar.
Pihak kedua keluarga pun geger. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Seno dan Nina menjalin hubungan di belakang Arimbi, hingga Nina hamil. Arimbi pada akhirnya mengalah. Ia ikhlas kalau pernikahannya dibatalkan.
Namun, ayah Arimbi tidak setuju. Handoyo meminta pertanggungjawaban keluarga Seno yang telah mempermalukan keluarga besar mereka. Keputusan yang dianggap paling tepat pun diambil, yakni Ganesha Caturrangga, kakak kandung Seno yang belum menikah, diminta untuk menggantikan Seno di pelaminan.
Lantas, bagaimanakah kisah Arimbi selanjutnya? Apakah kejadian mempelai pria yang tertukar ini akan berakhir bahagia atau justru perceraian?
Tiga hari sebelum pernikahanku, Angga membatalkannya untuk yang ke lima puluh dua kalinya.
Dia datang ke rumah mode di Paleris untuk menyetujui bordiran lambang pada gaun pengantinku, tetapi begitu aku melangkah keluar dari tirai ruang ganti, dia langsung mengambil sarung pistol dan radionya.
“Bajingan Torino itu menghancurkan kebun anggur Bella, mereka mengepung perkebunannya. Luna ketakutan, jadi aku harus pergi sekarang. Pernikahannya kita tunda.”
Dulu, aku pasti akan menghentikannya dan menuntut jawaban siapa yang lebih penting baginya, aku atau Bella. Kali ini, aku hanya membiarkannya saja.
Tiga puluh menit kemudian, Bella mengunggah momen di media sosialnya: [Kaulah satu-satunya tempat berlindung bagiku dan putriku.]
Foto itu menunjukkan gambar Angga yang sedang memeluk Bella erat-erat, dengan Luna di gendongannya dan memanggilnya papa. Mereka tampak seperti sebuah keluarga sungguhan.
Orang tuaku menghela napas. “Sephia, apa pernikahanmu kali ini dibatalkan lagi? Kita sudah mengirim undangan ke setiap keluarga ternama di kota ini. Bagaimana dampaknya nanti terhadap kehormatan Keluarga Bundari?”
Aku menggelengkan kepala, lalu mengetuk undangan cadangan. "Pernikahan ini tetap berjalan. Tiga hari lagi, aku akan tetap menjadi pengantin. Hanya saja, bukan dengan Angga."
IMPIAN PERNIKAHAN ADALAH PENUH DENGAN KEBAHAGIAN, TAPI TERNYATA UNTUK MENDAPATKAN KEBAHAGIAN ITU PERLU KESABARAN, CINTA YANG BERLIMPAH DAN HARUS PENUH DENGAN MAAF.
Ada momen di mana hubungan dengan ipar atau ibu mertua terasa seperti medan perang terselubung, terutama ketika sikap posesif mereka mulai mengganggu. Salah satu strategi yang pernah kubuat adalah membangun batasan secara halus tapi tegas. Misalnya, dengan menetapkan waktu khusus untuk kunjungan atau komunikasi, sehingga tidak merasa terbebani. Aku juga belajar untuk tidak langsung bereaksi emosional ketika mereka terlalu banyak ikut campur, melainkan mencoba memahami bahwa mungkin itu cara mereka menunjukkan perhatian.
Di sisi lain, melibatkan pasangan sebagai mediator seringkali efektif. Aku dan pasangan membuat kesepakatan untuk saling mendukung saat menghadapi tekanan dari keluarga besar. Kadang, mengalihkan topik pembicaraan ke hal-hal netral seperti hobi atau acara TV favorit juga bisa mengurangi ketegangan. Yang terpenting, tetap bersikap sopan dan berusaha menjaga hubungan baik, karena bagaimanapun mereka adalah bagian dari keluarga.
Ada sesuatu yang unik tentang hubungan dengan mertua yang posesif—seperti mencoba menari di atas tali yang terus bergoyang. Awalnya, aku merasa selalu di bawah pengawasan, setiap langkah seolah dinilai. Tapi kemudian, aku menyadari bahwa ini lebih tentang ketakutan mereka kehilangan anak mereka daripada keinginan untuk mengontrol. Mulailah dengan membangun kepercayaan lewat hal kecil: mengingat hari ulang tahunnya, sesekali mengirim makanan favorit, atau bertanya tentang kenangan masa kecil pasanganmu.
Kuncinya adalah konsistensi tanpa terkesan mencoba terlalu keras. Jangan langsung membahas perubahan besar, tapi tunjukkan melalui tindakan bahwa kamu menghargai perannya dalam kehidupan pasanganmu. Terkadang, mereka hanya perlu merasa diakui. Aku juga belajar untuk tidak menanggapi setiap komentar dengan defensif—kadang diam itu lebih powerful daripada berdebat.
Pernah nggak sih merasa awkward saat harus berurusan dengan mertua yang kondisi ekonominya jauh berbeda? Aku justru belajar banyak dari pengalaman ini. Kuncinya adalah empati - bukan dalam bentuk belas kasihan, tapi pengertian yang tulus. Awalnya sempet bingung juga, tapi kemudian aku sadar bahwa menghormati mereka dengan tulus jauh lebih penting daripada urusan materi.
Misalnya, saat berkunjung, aku lebih fokus pada quality time sederhana seperti masak bersama atau ngobrol santai. Kadang malah terasa lebih genuine dibanding acara mewah. Yang penting, jaga komunikasi terbuka dan hindari nada merendahkan. Mereka punya kebanggaan sendiri sebagai orangtua, dan itu harus dihargai.