Kalau mencari bacaan ringan untuk mengisi waktu luang, 'Divo dan Mona' bisa jadi pilihan. Awalnya agak skeptis karena judulnya terdengar seperti cerita remaja biasa, tapi ternyata ada kedalaman tertentu dalam penokohan Mona. Gadis yang terlihat sempurna di sekolah tapi punya konflik pribadi ini digambarkan dengan cukup detail. Alurnya mungkin bisa ditebak, tapi justru itu yang membuatnya nyaman dibaca—seperti minum teh hangat di sore hari. Beberapa dialog antara karakter pendukung terasa agak dipaksakan, tapi tidak mengurangi keseluruhan pengalaman membaca.
Ada sesuatu yang menawan dari cerita remaja seperti 'Divo dan Mona: Cinta Tulus Ratu Sekolah' yang membuatku terus membuka halaman berikutnya. Mungkin karena dinamika karakter utama yang terasa begitu nyata—Divo dengan keteguhannya dan Mona dengan lapisan kepribadian yang perlahan terbuka. Plotnya memang tidak terlalu rumit, tapi justru kesederhanaannya yang membuat cerita ini relatable. Beberapa adegan benar-benar berhasil mencuri perhatian, seperti saat mereka berdua terlibat dalam percakapan kecil di perpustakaan sekolah.
Yang patut diapresiasi adalah bagaimana penulis menggambarkan perkembangan emosi kedua karakter tanpa terburu-buru. Meski beberapa bagian terasa klise, chemistry antara Divo dan Mona cukup kuat untuk menutupi kekurangan itu. Bagi yang suka cerita sekolah dengan sentuhan drama ringan dan romansa yang manis, novel ini layak dicoba.
Pernah membaca novel yang membuatmu tersenyum sendiri karena keluguan karakternya? 'Divo dan Mona' memberikan pengalaman itu. Divo, si protagonis, punya charm tertentu dengan ketulusannya yang kadang bikin gemas. Setting sekolahnya juga cukup hidup, lengkap dengan segelintir drama khas remaja. Yang menarik, penulis tidak terjebak dalam stereotip—Mona bukan sekedar 'ratu sekolah' yang sombong, melainkan punya dimensi karakter yang berkembang seiring cerita. Beberapa twist hubungan mereka cukup menyegarkan, meski ada bagian-bagian yang terasa seperti filler. Cocok untuk pembaca yang ingin nostalgia dengan masa-masa SMA penuh gejolak emosi.
Membaca 'Divo dan Mona' seperti menemukan permen favorit di sela buku pelajaran—manis dan menyenangkan. Ceritanya mudah dicerna, dengan pacing yang pas untuk genre romansa sekolah. Mona sebagai female lead punya complexity yang membuatnya tidak flat, sementara Divo adalah tipe male lead yang penyayang tanpa jadi overprotective. Beberapa adegan konfliknya terasa agak dipaksakan demi menambah dramatis, tapi chemistry utama mereka berhasil menyelamatkan situasi. Novel ini cocok dibaca saat ingin hiburan ringan tanpa perlu berpikir terlalu keras.
2026-01-20 04:37:16
13
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Dihina Berandalan, Istri Bos Malah Ketagihan!
My Nona
10
12.4K
21+ --- Menjadi pengganti ranjang istri bosku selama awal pernikahan, siapa yang menolak?
Demi tidak dipecat karena masa laluku sebagai narapidana terbongkar, Bos tempatku bekerja menawariku untuk memuaskan istrinya, Nyonya Rose.
Sebagai karyawan, tentu aku harus patuh.
Apalagi, istri bosku sangat cantik, tapi tidak pernah mendapat kepuasan batin selama pacaran hingga menikah.
Namun yang tidak aku duga, ternyata istri bosku tahu itu adalah akal-akalan suaminya dan malah memintaku melanjutkan tugas yang harusnya hanya semalam saja.
"Suamiku yang memintamu, kan? Tetaplah di sini karena aku memilihmu, bukan dia!"
"Kamu harus paham, peraturan pertama adalah melayani siapa yang harusnya kamu layani."
Bagi Azalea, bertahan di sekolah elit ini adalah satu-satunya tiket untuk mengubah nasib keluarganya. Namun, satu kecelakaan kecil membuat seragam mahal Zayn—sang Raja Sekolah—ternoda.
Ganti rugi puluhan juta jelas mustahil bagi gadis pengantar jahitan sepertinya.Zayn memberinya satu syarat, menjadi babu pribadi atau kehilangan beasiswanya.
Azalea harus bersedia diperintah, tapi dia tidak menyadari satu hal. Di mata Zayn, menjadi pelayan berarti menjadi properti pribadinya. Dan Zayn tidak sudi properti pribadinya disentuh orang lain!
Ningroem terpaksa menerima permintaan Ratna tetangganya untuk menjadi madunya. Walaupun pada awalnya Ningroem menolak karena ia merasa tidak pantas untuk menjadi adik madunya Ratna. Ningroem tak ingin pada akhirnya ia akan menyakiti perasaan Ratna yang sudah banyak menolongnya.
Salah Sistem! Aku Satu-satunya Murid Pria di Akademi Wanita
Mf²h
10
155
Kesalahan kecil dari sistem kementerian mengubah hidup Dimas Suryono, seorang pemuda pragmatis dari kasta pekerja—menjadi mimpi buruk yang menggiurkan. Ia terjebak sebagai satu-satunya siswa pria di Akademi Bunga Malam, institusi ultra-elit yang dikuasai para pewaris wanita paling arogan, sadis, dan manipulatif di negara ini.
Di hari pertama, Dimas langsung dijadikan bulan-bulanan. Diseret, diinjak, dan diikat oleh kontrak beasiswa lima miliar rupiah yang akan memiskinkan keluarganya tujuh turunan jika ia berani mundur. Para gadis elit itu berpikir mereka mendapatkan mainan baru yang bisa ditindas sesuka hati.
Mereka salah besar.
Dimas bukan sekadar warga kelas menengah biasa. Di balik senyum patuh dan wajah datarnya, bersembunyi sosok predator licik dengan logika jalanan yang tak kenal ampun. Ia tak melawan dengan otot, melainkan dengan manipulasi psikologis, pemerasan kotor, dan adu domba.
Ketika Bella, Sang Eksekutor Kedisiplinan mencoba menjebaknya, Dimas tak segan mengikat kontrak tak tertulis dengan Rania—gadis tukang kebun berwajah malaikat yang menyembunyikan insting pembunuh berdarah dingin. Perlahan tapi pasti, Dimas mulai menelanjangi rahasia memalukan para ratu kampus, menjinakkan arogansi mereka, dan mengubah "kandang singa" itu menjadi taman bermain pribadinya.
Satu per satu gadis elit yang dulunya meludahi namanya, kini harus berlutut memohon di bawah kendalinya. Di Akademi Bunga Malam, aturan pertama bagi Dimas sederhana: Jangan pernah mengotori tanganmu sendiri jika kau bisa membuat musuhmu menghancurkan diri mereka sendiri.
"Mas, aku sangat mencintaimu, tapi aku juga tak ingin melepasnya."
Dita berteriak ketika Mas Arman menyentakkan tangannya melepaskan diri dari cengkraman Dita di lengannya.
"Ak--aku-- Mas, mengertilah."
Aku masih bisa mendengar Dita memelas di balik dinding ini. Sungguh luar biasa wanita itu, batinku.
"Kamu, Gila!" Mas Arman balik meneriaki perempuan yang aku tahu sangat dicintainya itu.
"Aku tahu. Aku gila, Mas. Aku juga tidak memintamu untuk memaafkanku, tapi aku hanya meminta kamu mengerti perasaanku karena awal dari semua kesalahan ini adalah kamu, Mas. Kamu yang membiarkanku untuk jatuh hati pada lelaki lain, saat harusnya aku memilikimu."
Apa maksud Dita? Aku mencoba mendengar dengan seksama dan menempelkan kupingku lebih rapat ke dinding kamar yang menghubungkan kamarku dan Mas Arman.
"Aap--pa?" Suara Mas Arman terdengar parau dan menahan kemarahannya.
Ooh ... Tuhan, perempuan macam apa yang tega menyakiti lelaki baik hati itu. Lelaki yang sanggup mengorbankan seluruh kehidupannya demi membahagiakan wanita-wanita yang dicintainya. Aku mengurut dadaku yang sesak, mungkinkah aku penyebab keretakan hati mereka?
Air mataku menganak sungai di pelupuk mata. Takpernah kubayangkan kehidupan keduanya akan sekacau ini.
Sejak kecil aku menjadi kontroversi karena aku terlalu montok.
Setelah menjadi dosen di sebuah kampus, para murid laki-laki yang muda dan energik di kelas selalu menatapku di setiap kelas.
Gairah di mata mereka tampak jelas.
Ketika pulang ke rumah, aku menyadari bahwa tetangga di seberang jalan ternyata adalah salah satu murid laki-lakiku.
Suatu hari pipa air di rumah tiba-tiba pecah dan suamiku tidak ada di rumah.
Murid laki-laki itu bergegas masuk setelah mendengar suara keributan itu dan terkejut ketika melihat aku yang basah kuyup dan tampak berantakan.
Detik berikutnya, dia berkata dengan penuh semangat, “Bu Guru, izinkan aku membantumu mengatasinya...”
Ada sesuatu yang magis dalam cara Mona memandang dunia—seperti setiap langkahnya diiringi musik yang hanya Divo yang bisa dengar. Awalnya, dia hanya melihatnya sebagai 'ratu sekolah' yang sempurna, tapi setelah melihat Mona membagikan bekalnya pada kucing liar di belakang sekolah, persepsinya berubah drastis. Bagi Divo, Mona bukan lagi sekadar cantik; dia adalah manusia yang hangat, penuh perhatian, dan tanpa pretensi. Ketulusannya inilah yang akhirnya mengikis tembok kesan pertama Divo tentang dirinya.
Di sisi lain, Divo sendiri adalah karakter yang kompleks. Dia tumbuh di lingkungan kompetitif dan jarang menemukan orang yang autentik seperti Mona. Adegan ketika Mona membela siswa kelas bawah dari perundungan adalah titik baliknya—dia melihat keberanian dan empati yang langka. Novel ini menggambarkan cinta bukan sebagai fatamorgana, tapi sebagai pilihan untuk melihat seseorang lebih dalam dari permukaan.
Ada sesuatu yang magis tentang dunia 'Divo dan Mona' yang bikin aku selalu pengin balik lagi. Sayangnya, nggak banyak platform legal yang nyediain bacaan ini gratis. Tapi, aku pernah nemuin beberapa chapter perdana di webtoon lokal atau aplikasi komik tertentu yang nawarin sample buat narik pembaca. Coba cek di official publisher atau akun media sosialnya siapa tau lagi ada promosi.
Kalau mau baca full series, mungkin harus siapin budget dikit buat beli e-book atau langganan platform resmi. Soalnya karya bagus kayak gini emang layak didukung biar kreatornya terus produktif. Aku sendiri lebih milih nabung buat koleksi fisiknya—ada kepuasan tersendiri pas bisa pegang bukunya langsung!
Pernah ngerasain deg-degan campur haru waktu nemu ending yang bikin kepala cenat-cenut? Ending 'Divo dan Mona: Cinta Tulus Ratu Sekolah' itu kayak rollercoaster emosi yang tiba-tiba berhenti di puncak. Divo akhirnya ngertiin perasaan Mona setelah melalui ratusan halaman kesalahpahaman, tapi penyelesaiannya justru datang dari pengorbanan diam-diam Mona yang selama ini jadi 'villain' di mata Divo. Adegan terakhir mereka ngobrol di taman sekolah sambil saling mengembalikan buku catatan—simbol pengakuan bahwa keduanya saling melengkapi—benar-benar bikin aku merinding.
Yang bikin menarik, penulis sengaja nggak bikin happy ending cliché dimana mereka pacaran. Justru ending terbuka ini ngasih ruang buat pembaca nebak: apa hubungan mereka bakal berkembang, atau justru berubah jadi persahabatan sejati? Aku suka banget sama detail simbolik dimana Mona akhirnya melepas mahkota 'ratu sekolah'-nya, sementara Divo mulai berani nulis puisi lagi—seperti dua sisi koin yang akhirnya nemuin titik temu.
Mengikuti cerita 'Divo dan Mona: Cinta Tulus Ratu Sekolah' selalu bikin aku tersenyum sendiri. Tokoh utamanya jelas Mona, si ratu sekolah yang awalnya digambarkan sempurna tapi ternyata punya sisi rapuh yang jarang orang lihat. Divo, di sisi lain, adalah si bad boy yang ternyata punya hati emas—karakter klasik yang selalu berhasil bikin deg-degan. Dinamika mereka dari saling benci ke cinta tuh ditulis dengan manis banget, apalagi konflik internal Mona soal ekspektasi orang lain vs keinginannya sendiri.
Yang bikin aku suka, keduanya punya perkembangan karakter yang realistis. Mona belajar untuk enggak selalu 'perfect', sementara Divo belajar bertanggung jawab atas perasaannya. Komik ini unik karena meskipun settingnya sekolah, konfliknya enggak melulu soal cinta segitiga ala teen drama, tapi lebih dalam soal penerimaan diri.