'Gaes' dan 'guys' itu seperti saudara kembar yang dibesarkan di lingkungan berbeda. Aku selalu tertarik dengan bagaimana bahasa Inggris diserap jadi bagian dari percakapan sehari-hari di Indonesia. 'Gaes' itu lebih dari sekadar terjemahan—dia adalah bukti kreativitas bahasa. Dulu waktu pertama dengar sapaan ini, sempat mengira itu singkatan dari 'geng asyik', tapi ternyata memang murni adaptasi fonetik yang jadi trend. Uniknya, 'gaes' justru lebih sering dipakai dalam tulisan (chat, komentar) daripada percakapan lisan. Mungkin karena secara pelafalan, 'guys' tetap lebih praktis diucapkan.
Melihat tren bahasa gaul di media sosial akhir-akhir ini, 'gaes' memang sering dipakai sebagai sapaan akrab, mirip seperti 'guys' dalam English. Tapi konteksnya lebih spesifik—'gaes' itu seperti versi lokal yang lebih cair, biasanya dipakai generasi Z atau millennials di grup chat atau caption Instagram. Kalau 'guys' itu netral bisa untuk semua gender, 'gaes' kadang terasa lebih playful dan eksklusif buat lingkaran pertemanan tertentu. Aku sendiri suka pakai keduanya tergantung situasi: 'guys' kalau lagi bicara formal, 'gaes' buat vibe yang lebih santai.
Bedanya, 'gaes' juga punya nuansa kolaboratif—kayak ajakan buat ngobrol bareng. Contohnya di live streaming, host sering teriak 'Hey gaes!' untuk bikin penonton merasa dekat. Sementara 'guys' bisa dipakai bahkan sama bos ke tim kantor. Jadi meski fungsi dasarnya mirip, resonansi sosialnya beda tipis.
Dari pengalaman ikut berbagai komunitas online, aku perhatikan 'gaes' itu evolusi alami dari bahasa digital yang ingin terasa lebih personal. Bayangkan kayak bedanya 'bro' dan 'dude' di Amerika—sama-sama sapaan kasual, tapi 'gaes' punya sentuhan lokal yang bikin nyaman. Awalnya mungkin terinspirasi dari 'guys', tapi sekarang udah berdiri sendiri sebagai identitas. Misalnya, di TikTok, hashtag #gaes itu identik dengan konten-konten gen Z yang absurd atau inside jokes.
Yang lucu, beberapa temanku yang bilingual malah sering campur—'Hey guys, apa kabar gaes?'—seperti hybrid language. Ini menunjukkan bagaimana bahasa gaul bisa berkembang tanpa harus strictly mengikuti aturan bahasa sumbernya.
2026-07-07 09:55:34
6
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Ghea, Izinkan Suami Sampahmu Menceraikanmu
Cococake
0
404
Terbangun sebagai karakter suami sampah di novel ‘Pembalasan Istri yang Teraniaya’ adalah kutukan bagi Rayyan Danendra.
Dalam novel tersebut, ia berperan sebagai karakter villain utama yang menyebabkan kematian putri kecil mereka. Takdirnya berakhir tragis di tangan istrinya, sang protagonis utama, Ghea Niskala.
Demi mengubah plot novel, Rayyan yang biasa dipanggil Ray, berencana memperbaiki hubungannya dengan Ghea agar bisa bercerai secara baik-baik.
Harusnya rencana itu mudah.
Tetapi, ketika kebebasan di depan mata, wanita yang ia kira rapuh tiba-tiba berbisik, “kau pikir … setelah kau memberikanku kehangatan, kau bisa pergi begitu saja, Sayang?”
Mata Ray terbelalak. “Ah!”
Seorang Guy, apa yang terlintas dipikiran?Cerita seorang yang arogan dan mengenai berbagai macam sisi kehidupan.Tak ada kata-kata yang pasti, hanya tentang Geri dan Helwi dan kehidupan yang bebas.Freestyle adalah gaya hidup seorang Geri. Sementara itu penuh aturan dan berhati lembut adalah karakter Helwi.Lantas bagaimana seorang Helwi yang seorang lulusan kampus ternama harus menikah dengan Geri yang seorang guy?Temukan jawabannya dalam kisah berikut ini.Rate: 21+
Ditempah dalam kehidupan yang keras membuat Gale tumbuh jadi pemuda baja. Tidak ada sesuatu yang lebih berharga di dunia ini selain kebahagiaan sang ayah.
Akan tetapi, rupanya semesta masih berbaik hati padanya. Karena ternyata hati sekeras baja itu tetap bisa luluh oleh seorang perempuan biasa seperti Sea. Seperti namanya, Sea datang dengan keindahan dan ketenangan yang biasa disuguhkan oleh sebuah lautan.
Keduanya merencanakan pesta pernikahan yang luar biasa indah. Namun, kado pernikahan yang didapat juga tak kalah luar biasa, kematian ayahnya. Darah Gale langsung mendidih sampai ke ubun-ubun ketika tahu kalau ia sudah dikhianati. Orang yang paling ia percaya ternyata bisa menusuknya dari belakang. Dengan dendam tak berkesudahan, ia berikrar akan menukar nyawa dengan nyawa. Pertumpahan darah harus dibayar dengan darah. Tidak ada sedikitpun maaf yang akan ia berikan.
Akankah dendam tersebut akan sampai pada alamat yang tepat? Siapa yang sudah berkhianat sebenarnya? Apakah lautan yang selama ini dipercaya sebagai sesuatu yang indah, benar seperti itu adanya? Atau malah menyimpan misteri jauh di kedalaman sana? Temukan jawabannya sampai baris terakhir cerita ini!
"Vee bangun! Aku akan memperkenalkan pengawal barumu," kata ayah. Aku bangun dan menatapnya, meskipun aku masih mengantuk.
"Apa? Pengawal lagi? Aku baru saja bilang aku tidak menginginkan semua itu! Itu menyebalkan—" Aku terhenti ketika seorang pria tampan memasuki kamarku tanpa diduga.
"Bisakah kau memberitahuku siapa dia?"
"Vee, perkenalkan James Villianuevva, pengawal barumu."
"Kamu serius, ayah? Ini bodyguard baruku?"
"Aku yakin kamu akan menikmatinya; kamu akan cocok dengannya, terutama dalam hal belanja dan makeup—"
Aku menggelengkan kepala dan bergumam, "Ya Tuhan, hanya wanita yang suka berbelanja dan merias wajah."
"Aku gay," kataku, rahangku ternganga mendengar berita itu.
Apa? Gay? Apa, pengawal gay? Itu gila...
Pertemuan pertamaku dengan nya yg tak disengaja ,membuat semangat baru dalam hidupku.Entah apa yang aku fikirkan ,sehingga bisa mengagumi seorang Gus putra dari Kyai besar dipesantren.Sehingga disetiap sujudku ,selalu namanya yg kusebut ,ya dia Gus Muhammad Zafran Assegaf.
Karena ancaman dari orangtuanya yang akan mencoret namanya dari daftar keluarga, Alif terpaksa menikahi seorang gadis belia bernama Kamea anak dari sahabat papanya.
Perbedaan usia yang cukup jauh serta perbedaan karakter membuat mereka sering terlibat dalam perdebatan.
Alif menganggap sikap Kamea yang selalu usil dan kekanakan membuatnya merasa direpotkan oleh gadis belia itu. Namun, seiring berjalannya waktu, secara perlahan Alif mulai terbiasa dan nyaman dengan adanya Kamea, tetapi masih belum menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta pada gadis itu.
Di saat beramaan, sosok dari masa lalu yang masih mengisi sebagian hatinya hadir kembali. Hal itu membuat Alif dilema antara memilih mempertahankan rumah tangganya atau kembali kepada sang mantan. Selain itu, Kedekatan Kamea dengan teman kuliahnya yang ternyata mencintai gadis itu membuat Alif salah paham.
Akankah Alif dan Kamea tetap bersama atau mereka akan memilih pasangan masing-masing?
Kata 'gaes' itu seperti angin segar dalam percakapan sehari-hari, terutama di kalangan anak muda. Awalnya kupikir ini cuma singkatan biasa, tapi ternyata punya nuansa persahabatan yang kental. Sering banget nemuin kata ini di kolom komentar medsos atau obrolan grup, rasanya kayak dipeluk virtual—ramah dan cair. Aslinya sih dari 'guys', tapi diadaptasi jadi lebih lokal dan santai. Uniknya, meski berasal dari bahasa Inggris, 'gaes' justru lebih sering dipakai untuk menyapa teman dekat atau komunitas dengan vibe kekinian. Jadi, bukan sekadar kata, tapi semacam simbol keakraban digital.
Yang bikin lucu, kadang ada yang nulisnya 'gess' atau 'gas', tapi tetap dimengerti. Ini menunjukkan betapa fleksibelnya bahasa gaul—tidak perlu rigid, yang penting nyambung. Aku sendiri suka pakai 'gaes' ketika ingin mencairkan suasana, karena terasa lebih hangat daripada 'hai semua' atau 'hey guys'. Kata ini juga sering dipasangkan dengan emoji atau tanda seru, misalnya 'gaes!!!', yang bikin kesannya semakin playful.