Sebagai penggemar karya Puthut EA, aku penasaran juga soal ini. Dari yang pernah kubaca di wawancara atau kolomnya, dia terkesan lebih nyaman berada di balik layar ketimbang aktif di media sosial. Beberapa penulis emang lebih milih fokus ke proses kreatif tanpa perlu ribet mengurus akun Twitter atau Instagram. Tapi menurutku, justru ini yang bikin karyanya selalu segar dan dalam—energinya nggak terkuras buat update status atau reply mention. Mungkin dia punya akun pribadi yang low-profile, tapi untuk urusan literatur, tulisannya di media cetak dan buku jauh lebih menggigit ketimbang 280 karakter di timeline.
Yang jelas, pencarian cepat di platform-media besar belum nemuin akun verified atas namanya. Kalau pun ada yang mengaku sebagai Puthut EA, lebih baik cross-check ke penerbit resmi atau situs sastra terpercaya. Aku sih lebih suka nikmati karyanya lewat esai-esai khasnya yang tajam—itu lebih 'media sosial'-nya Puthut menurutku.
Dari obrolan di komunitas baca offline, banyak yang bilang Puthut EA sengaja menghindari keramaian digital. Aku respect sama pilihannya—di era oversharing begini, justru langka menemukan penulis yang konsisten dengan batas privasi. Beberapa kali ada akun fanpage atau grup diskusi buku karyanya, tapi itu ranah pembaca, bukan official. Kalaupun mau kontak, jalur formal lewat penerbit atau event sastra mungkin lebih efektif. Aku sendiri pernah ketemu karyanya pertama kali di majalah sastra lama, dan sampai sekarang rasanya lebih personal baca tulisannya di medium tradisional ketimbang scroll feed.
Ngebahas Puthut EA itu selalu menarik karena dia termasuk penulis yang nggak mau terjebak dalam hiruk-pikuk industri konten. Aku pernah baca komentarnya di suatu forum bahwa media sosial sering jadi distraksi untuk kerja intelektual. Jadi wajar kalau dia nggak aktif—atau bahkan nggak punya—akun publik. Justru ini yang bikin eksistensinya unik: karyanya berbicara sendiri tanpa perlu algoritma atau engagement. Untuk tahu pemikirannya, baca 'Lalat yang Mati di Bulan November' atau 'Tanah Retak' jauh lebih bermakna ketimbang cari update di Twitter.
Pernah iseng cari-cari info tentang Puthut EA di internet dan nemu beberapa thread forum yang nanya hal serupa. Kesimpulanku? Dia mungkin salah satu dari segelintir penulis yang karyanya lebih dikenal daripada wajah atau aktivitas online-nya. Bukan hal buruk sih—kadang misteri justru bikin pembaca makin penasaran sama kedalaman tulisannya. Kalau ada yang bilang nemu akun sosmednya, mending dicek dulu credibility-nya. Sementara itu, buku-bukunya selalu tersedia di toko online atau perpustakaan untuk dibaca tanpa perlu follow.
2026-05-28 11:16:24
10
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Gara-gara Status Facebook Istri Pertamaku
Ina Shalsabila
9.7
36.3K
Lolita, istriku itu suka meng-update barang-barang mewah pemberianku di akun Facebook miliknya. Tidak hanya itu, dia juga suka membagikan moment acara-acara penting keluarga, jalan-jalan, liburan, ulang tahun, anniversary, dan kegiatan apa pun yang dilakukan bersamaku. Sayangnya, dia tidak tahu bahwa statusnya selalu dipantau istri siriku. Aku sih santai saja karena kedua wanita kesayanganku tetap senang. Toh, wajar ‘kan jika pria memiliki lebih dari satu perempuan di hidupnya?
Mentari tidak pernah menyangka kehidupan pernikahan akan serumit dan tidak dipenuhi canda tawa seperti yang dialaminya. Postingan teman-temannya yang sudah menikah di media sosial terkesan bahagia dan menyenangkan. Ternyata semua itu hanya topeng. Di balik topeng kebahagiaan postingan foto-foto dan status yang dilihatnya, terdapat luka, tangis dan ratapan.
Mampukah Mentari melanjutkan pernikahannya ataukah harus berakhir pada perceraian?
Dara tak percaya mendapati rumahnya kosong dan putrinya, Mita, dibawa tanpa izin. Saka, suaminya, mencoba menjelaskan, tetapi alasan bahwa ibunya membawa Mita sebagai "pancingan" untuk Mbak Eca, yang belum punya anak selama 15 tahun, membuat Dara marah. Ia merasa Saka dan keluarganya tidak menghargai perjuangannya saat melahirkan.
Saka merasa bingung dan bersalah, sadar bahwa tindakan keluarganya telah membuat istrinya sangat menderita. Situasi semakin genting, dan Dara tak akan berhenti sampai Mita kembali ke pelukannya dan bahkan nekat menuntut keluarganya ke jalur hukum.
Pernah membayangkan cermin tua di loteng nenekmu bisa jadi portal ke dunia lain? Liora, gadis biasa dengan selera humor unik, mengalaminya! Ia terlempar ke Elysia, dunia magis yang berkilauan... namun kini di ambang kehancuran.
Keindahan Elysia, yang dihuni elf anggun dan berdenyut dengan sihir Aether, terancam oleh Kaum Umbra yang haus kuasa. Dipimpin Komandan Vane Morwen yang dingin dan penuh perhitungan, mereka bernafsu merebut Crysalis Aetheria, jantung magis Elysia.
Liora, yang awalnya hanya gadis sinis yang tersesat, justru menemukan takdir tak terduga. Ia adalah "Penenun Takdir" yang diramalkan, dengan kekuatan sihir es yang baru bangkit! Bersama Pangeran Riel yang mulia dan Arista, prajurit elf tangguh, Liora harus menempuh perjalanan berbahaya melintasi gunung es keramat, menghadapi makhluk bayangan, dan membongkar rahasia Perang Kuno.
Mampukah Liora, yang lebih akrab dengan sarkasme daripada mantra sihir, menguasai kekuatannya dan menemukan "melodi harmoni" untuk melawan kegelapan Vane Morwen? Ini bukan hanya pertarungan demi nasib sebuah dunia, tapi juga pencarian jati diri Liora di tengah pusaran takdir yang mengancam menelannya. Antara harapan yang membeku dan bayangan yang tak pernah tidur, setiap pilihan bisa mengubah segalanya
Aku adalah putri kandung Keluarga Setiawan, juga memiliki “sistem pengamat drama”. Aku memang terlihat penurut dari luar, tetapi sebenarnya penuh perlawanan dalam hati. Hanya saja, aku tidak tahu bahwa isi hatiku bisa dibaca.
Kakak-kakakku berkata, “Meski kamu itu adik kandung kami, kami hanya akui Cheryl sebagai adik. Sebaiknya kamu tahu diri.”
Aku bergumam dalam hati, ‘Kayaknya aku sudah singgung Raja Neraka di kehidupan sebelumnya, makanya aku dilahirkan di Keluarga Setiawan di kehidupan ini.’
Langkah kakak-kakakku tiba-tiba terhenti.
“Cheryl sangat penurut, juga sayang sama semua orang di keluarga ini. Kamu jangan coba-coba cari perhatian atau buat onar.”
Aku mencibir dalam hati, ‘Dia sangat penurut sampai sebabkan orang di seluruh keluarga ini tewas. Cintanya pada kalian juga begitu besar sampai-sampai dia khianati kalian.’
Kali ini, ekspresi para kakak terlihat sangat aneh.
Jadi janda karena melahirkan anak autis dan dituduh sebagai pelakor, membuat hidup Maya berada di ambang kehancuran. Namun, semuanya berubah ketika dia bertemu dengan Tristan, lelaki yang ia selamatkan di parkiran kantor tempatnya bekerja. Apa yang terjadi di hidup Maya? Akankah ia berakhir bahagia?