Taman Bacaan Mbah Man itu oasis literasi di tengah hiruk pikuk kota. Setelah ngobrol panjang dengan pengelola bulan lalu, sistem bukanya unik: weekdays dikelola relawan dengan jam 10am-4pm, sedangkan weekend lebih meriah karena Mbah Man sendiri yang hadir dari jam 8 pagi sampai maghrib. Mereka punya tradisi tutup setiap tanggal 1 tiap bulan untuk perawatan koleksi buku.
Yang menarik, meskipun secara fisik buka hampir setiap hari, ada kalanya tutup spontan ketika Mbah Man dapat undangan jadi pembicara di acara literasi daerah. Jadi saran ku, sebelum datang coba telepon dulu nomor yang terpampang di pintu gerbang. Pernah sekali aku datang pas tutup untungnya ketemu tetangga yang baik hati menginapkan aku sebentar sambil cerita sejarah pendirian taman bacaan ini.
Dari pengalamanku bolak-balik ke Taman Bacaan Mbah Man selama setahun terakhir, pola bukanya cukup konsisten. Senin selalu libur untuk pembersihan ruangan. Hari Selasa-Jumat buka pukul 9 pagi sampai 5 sore, sedangkan Sabtu-Minggu buka lebih pagi jam 7 karena banyak komunitas baca yang manfaatkan waktu weekend. Pernah suatu hari Rabu mereka tutup mendadak karena banjir, jadi memang ada baiknya follow sosial media mereka untuk update real-time. Aku suka datang Kamis sore karena sering ada sesi membaca puisi bersama.
Aku ingat pertama kali mengunjungi Taman Bacaan Mbah Man di suatu Minggu sore yang cerah. Tempatnya ramai dengan anak-anak yang asyik membaca buku cerita sambil duduk di bawah pohon rindang. Dari obrolan dengan relawan di sana, ternyata mereka buka setiap hari kecuali Senin. Jam operasionalnya fleksibel, biasanya pagi sampai sore, tapi kadang sampai malam jika ada acara khusus seperti mendongeng atau workshop kreatif.
Yang bikin betah adalah suasana homey-nya. Mbah Man sendiri sering terlihat duduk di teras sambil menyapa pengunjung dengan cerita-cerita lokal. Untuk yang mau datang, lebih baik cek Instagram mereka dulu karena kadang ada perubahan jadwal mendadak, terutama saat musim penghujan. Aku pernah datang pas hujan deras dan ternyata tutup karena khawatir buku-buku basah.
2026-05-06 18:39:11
6
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Hari-hari Dimanjakan Paman
Hargai
9.5
1.4M
Demi menyingkirkan pasangan kencan butanya yang jelek dan narsis, Pamela mencium seorang pria tampan yang lebih tua darinya. Karena ciuman itu, pria itu malah meminta pertanggung jawaban penuh Pamela. Pamela berkata, "Paman, aku hanya cium sekali saja, tapi paman mau aku bertanggung jawab secara penuh? Bagaimana kalau aku cium dua kali?" Pria itu menatap wanita nakal gadis di depannya, lalu menjawab, "Kamu akan tahu kalau mencobanya!" Pamela berkata, "Kalau begitu, tutup matamu!" Agam tersenyum dan dengan patuh menutup matanya .... Pamela memonyongkan bibirnya, lalu berbalik untuk melarikan diri. Namun, dia kembali ditangkap dan dimanjakan siang malam oleh paman itu, sampai .... Pamela melarikan diri dan Agam mengejarnya. Pamela, meski kamu punya sayap, juga tidak bisa lari dari genggamanku.
"Kau harus bertanggung jawab karena sudah menggoda dan membuatku candu, Marieana!"
Demi membalaskan rasa sakit hati dan dendam yang membara pada Maxim Valdemar, Marieana Florence diam-diam menyusup ke keluarga Valdemar dengan menikahi keponakan pria itu.
Marieana menggunakan segala cara untuk melancarkan aksinya, termasuk menggoda Maxim yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Namun, saat Marieana berhasil memerangkap Maxim ke dalam gejolak gairah yang memabukkan, pria itu justru berbalik menjeratnya!
Maxim menjadi begitu posesif dan tak ingin Marieana disentuh oleh siapapun. Ia mengklaim bahwa Marieana adalah miliknya.
Marieana bimbang. Dirinya terlanjur larut dalam gairah dan dendam yang saling berkelindan!
Sejak Zaman kuno, jalan kultivasi selalu di penuhi duri dan darah. Hanya mereka yang memiliki bakat luar biasa, akar spiritual langka serta dukungan sekte besar yang mampu menapaki tangga menuju puncak. Sisanya hanya menjadi batu pijakan, mayat mayat di sepanjang jalan.
Ye Tian, seorang pemuda dari desa terpencil lahir dengan akar spiritual cacat. Di mata orang lain, ia hanyalah sampah yang tak mungkin melangkah di dunia kultivasi. Tak ada sekte yang mau menerimanya bahkan tak ada guru yang mau membimbingnya. Hidupkannya hanya di takdirkan sebagai rakyat jelata yang terlupakan zaman.
Namun, takdir berubah pada suatu malam batu misterius dari zaman kuno jatuh ke tangannya. Batu itu menyimpan rahasia besar yang dimana di dalam batu itu menyimpan tehnik-tehnik kultivasi yang pernah menggemparkan sembilan negri ribuan tahun lalu, tetapi kini banyak di lupakan bahkan oleh sekte sekte besar sekalipun. Sejak saat itu, Ye Tian tidak lagi berjalan di jalan yang di tentukan orang lain , melainkan menapaki jalannya sendiri.
Di tengah dunia yang di penuhi pertarungan sekte, ambisi klan bangsawan dan kembalinya bangkitnya iblis kuno, Ye Tian hanya memiliki satu tekad: untuk melawan, menentang, dan terus melangkah. Dari pemuda yang di remehkan, ia akan menjadi sosok yang menentang langit dan bumi.
Tetapi jalan menuju keabadian bukanlah perkara yang mudah. Setiap langkahnya akan di penuhi darah, penghianatan, serta ujian dari surga itu sendiri.
"Jika dunia menganggapku sampah, maka aku akan membuat dunia berlutut. Jika langit menghalangiku, maka aku akan menghancurkan langit. Jalan ini adalah jalanku, langkah demi selangkah menuju keabadian!"
Raven Lucien Maheswara, lelaki dingin dan berkarisma itu tak hanya menjadikan Sera sebagai pembantu, tetapi juga sebagai pemuas hasratnya di malam hari.
Seharusnya, Sera tidak melibatkan perasaan dalam hubungan terlarang mereka. Namun Sera lupa, hatinya tak pernah sejalan dengan rencananya. Sikap dingin Raven selalu berubah hangat dan lembut setiap kali mereka menghabiskan malam panas bersama.
Ketika cinta mengakar semakin kuat, realita menamparnya, menyadarkan Sera bahwa status dan kasta yang berbeda membuat mereka tak pernah bisa bersama.
Haruskah Sera bertahan dalam hubungan terlarang itu dan menanggung segala rasa sakitnya? Atau pergi dari kehidupan Raven membawa cinta dan sesuatu yang bertumbuh di dalam rahimnya?
Alea dipandang sebelah mata hanya karena lulusan SMK Tataboga oleh Bu Aminah, ibu dari Farhan, kekasih Alea. Apalagi pertemuan mereka diawali ketika Alea membantu mencuci piring di Restoran Homy Private Dining, yang terlihat sepi.
Sematan si pencuci piring ini melekat pada Alea, sampai dia menikah dengan Farhan. Andai saja keluarga Farhan tahu kalau Alea bukanlah orang yang seperti mereka pikirkan, mungkin mereka akan menjilat kaki Alea.
"Ugh .... Pak Calvin, aku nggak tahan lagi ditekan begitu kuat."
Di ruang latihan menari, dosen tariku yang bernama Calvin sedang mengoreksi posturku. Tangannya mencengkeram bagian dalam kakiku dan menekannya dengan kuat. Setelah itu, sensasi menggelitik di tubuhku pun mencapai puncaknya. Pada saat yang sama, gangguan adiksiku membuat area di antara kakiku basah, hingga membasahi tangannya.
Taman Bacaan Mbah Man itu punya cerita yang bikin hati meleleh. Bermula dari seorang kakek bernama Mbah Man, yang dulu cuma pedagang kecil di Purbalingga. Ia nggak pernah sekolah formal, tapi punya mimpi besar: bikin anak-anak sekitar melek literasi. Awalnya cuma ngumpulin buku bekas di lapak rongsokan, trus disusun di teras rumahnya yang sempit. Lama-lama, anak-anak mulai dateng, bahkan orang dewasa juga ikutan baca. Yang touching, Mbah Man rela jualan kue keliling buat beli buku baru. Sekarang taman bacaan itu jadi pusat belajar komunitas, lengkap dengan kegiatan mendongeng dan les gratis. Keren banget kan, dari niat sederhana bisa jadi sesuatu yang menginspirasi banyak orang.
Yang bikin aku salfok, Mbah Man ini nggak cuma ngandalin bantuan pemerintah atau donatur. Ia kreatif banget—kadang bikin lomba baca berhadiah buku bekas, atau ngajak relawan lokal buat jadi tutor. Ceritanya mengingatkanku sama 'The Little Free Library' di AS, tapi versi lokal yang lebih organik. Sosok seperti ini bikin aku optimis bahwa perubahan bisa dimulai dari mana aja, dengan siapa aja.
Taman Bacaan Mbah Man adalah salah satu tempat yang selalu bikin aku merasa nostalgic. Kalau mau ke sana, pertama-tama pastiin dulu lokasinya di Desa Serang, Karanganyar, Jawa Tengah. Aksesnya cukup mudah kok, bisa naik kendaraan pribadi atau transportasi umum. Dari Solo, jaraknya sekitar 30 menit perjalanan. Aku suka suasana di sana yang adem dan penuh buku-buku klasik. Jangan lupa bawa bekal atau minum sendiri karena fasilitas di sekitar masih sederhana.
Waktu terbaik buat berkunjung itu pagi atau sore, biar gak kepanasan. Oh ya, taman bacaan ini buka setiap hari tapi lebih ramai akhir pekan. Aku sering duduk di bawah pohon sambil baca buku lama, rasanya kayak kembali ke masa kecil. Kalo kamu suka suasana tenang dan literasi, tempat ini recommended banget.
Taman Bacaan Mbah Man yang legendaris itu sekarang berlokasi di Jalan Merbabu No. 15, Yogyakarta, tepatnya di belakang Pasar Beringharjo. Tempat ini sudah menjadi semacam oase bagi para pecinta buku sejak relokasi dari tempat sebelumnya di tahun 2019. Yang membuatnya istimewa adalah atmosfernya yang tetap mempertahankan nuansa 'ruang hidup' ala Mbah Man – rak-rak kayu berusia puluhan tahun berdiri berdampingan dengan tanaman hijau yang merambat.
Aku sering menghabiskan Sabtu sore di sana, dan selalu ada kejutan: mulai dari edisi pertama novel 'Pulang' karya Tere Liye yang terselip di antara tumpukan komik lama, sampai komunitas pembaca yang dengan sukarela membantu merapikan koleksi. Lokasinya memang agak tersembunyi, tapi justru itu yang bikin pengunjung betah – seperti menemukan harta karun di gang sempit.