Mengalami cinta tak terbalas itu seperti tersesat di hutan dengan peta yang salah. Awalnya, aku terus memaksa mencari jalan yang ternyata buntu. Sampai akhirnya sadar—kadang kita harus berhenti sejenak, duduk di bawah pohon, dan menerima bahwa tidak semua kisah dimaksudkan untuk memiliki ending bahagia. Mulailah dengan memutus kontak untuk sementara, bukan karena benci, tapi agar bisa bernapas lega tanpa bayang-bayang harapan palsu. Lalu, temukan kembali hal-hal kecil yang dulu membuatmu tersenyum sebelum jatuh cinta: playlist favorit, jalan-jalan sore, atau buku yang belum sempat dibaca. Perlahan tapi pasti, hati yang semrawut akan menemukan ritmenya sendiri.
Ada momen dalam hidup di mana perasaan tulus yang kita berikan seperti Layang-Layang Putus—terbang entah ke mana tanpa pernah kembali. Aku pernah mengalami hal itu, dan yang kupelajari adalah bahwa mencintai tanpa balasan justru mengajarkan kita tentang arti pelepasan. Pertama, aku membiarkan diri merasakan semua emosi itu sepenuhnya. Tidak perlu buru-buru 'move on' hanya karena dunia bilang harus begitu. Menangis, marah, atau bahkan menulis surat yang tidak pernah dikirim bisa jadi terapi.
Lalu, aku mulai mengalihkan energi ke hal-hal yang membuatku berkembang. Bergabung dengan komunitas hobi, mencoba resep masakan baru, atau sekadar menjelajahi sudut-sudut kota yang belum pernah dikunjungi. Perlahan, rasa sakit itu berubah menjadi ruang kosong yang siap diisi dengan versi diriku yang lebih utuh. Justru di sela-sela aktivitas baru itu, aku menemukan potensi diri yang selama ini terpendam karena terlalu fokus pada satu orang.
2026-03-25 12:42:26
9
Lihat Semua Jawaban
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Buku Terkait
Ceraikan Aku, Jika Sudah Tidak Cinta
Lin shi
10
31.9K
Tidak selamanya pernikahan karena cinta selalu bahagia dalam pernikahannya. Begitu juga yang terjadi dengan Dina. Kesederhanaannya ternyata membuat Danang malu untuk mengenalkan Dina dengan rekan kerja suaminya itu. Lantas, haruskah Dina bertahan atau memintai cerai jika sudah tak ada yang dapat pertahankan? Menyesalkah Danang melepas Dina nantinya?
Ada sebuah aturan tidak tertulis di dunia mafia Corvano.
Saat seorang ketua mafia mempertahankan wanita baru di sisinya selama tiga bulan berturut-turut, sang nyonya harus secara pribadi melepas cincin meterai yang melambangkan kekuasaannya dan memakaikannya ke jari wanita baru itu di depan seluruh keluarga.
Ketika suamiku, Lukas, ketua dari Keluarga Nugraha, mengumumkan bahwa dia akan membawa Mia pergi berdua untuk perjalanan bisnis selama tiga bulan, seluruh dunia mafia Corvano menunggu reaksiku.
Aku sudah bersama Lukas Nugraha selama tujuh tahun.
Aku mengikutinya ke mana pun dan menolak berpisah darinya. Bahkan di tengah malam, aku sering terbangun hanya untuk menyentuhnya, memastikan dia masih ada di sana agar aku merasa tenang.
Mereka semua tahu betapa posesifnya aku dan mereka bertaruh aku tidak akan pernah bisa melepaskannya. Namun, saat Mia mengulurkan tangannya kepadaku dengan suara manis yang dibuat-buat, aku bahkan tidak meneteskan air mata sedikit pun.
Dengan tenang, aku melepas cincin meterai berukir lambang keluarga itu dan menyelipkannya ke jari manisnya.
Lukas, yang bersandar santai di kursi kulit di ujung meja, memutar gelas wiski di tangannya. Dalam mata birunya melintas kepuasan. "Elara, akhirnya kamu tahu posisi dirimu."
Aku menunduk menatap jariku yang kini kosong, tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Yang tidak Luca ketahui adalah, sebulan lalu aku telah mendapatkan kembali seluruh ingatanku yang hilang selama tujuh tahun.
Aku sama sekali bukan anak jalanan yatim piatu, melainkan putri Keluarga Ruswita yang telah lama hilang. Keluargaku adalah keluarga paling berkuasa di antara keluarga-keluarga Dunia Lama.
Tiga hari lagi, konvoi bersenjata milik kakakku akan memasuki Corvano untuk membawaku pulang.
Siapa sangka, gadis secantik Theona telah dijual oleh keluarganya pada pria tua berusia 65 tahun dan dinikahkan dengan putra tampannya, Ikosagon.
Setelah menikah, Theona memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya pada Ikosagon. Namun sayangnya, ia selalu diperlakukan kasar dan dingin karena sang suami memiliki wanita lain di hatinya. Bahkan, Theona selalu diberi obat peluruh janin setiap kali mereka berhubungan badan. Ia juga dilarang hamil jika tidak ingin anaknya dibunuh oleh Ikosagon sendiri.
Seperti apa kelanjutan kisah Theona dan Ikosagon?
Apa yang akan Theona lakukan jika ia tahu dirinya tengah hamil?
Cover by bing and design by me
Cerita ini dipublikasikan pada 17 Juli 2024
Deandra selalu punya satu aturan sederhana dalam hidupnya:
jangan pernah jatuh cinta.
Di usia 24 tahun, ia sudah terlalu sering melihat bagaimana cinta menghancurkan orang. Jadi ia memilih aman-bertato, bersikap dingin, menjaga jarak. Semua orang boleh dekat, tapi tak boleh terlalu dalam.
Sayangnya, hati tidak pernah benar-benar patuh pada logika.
Di tengah terapi yang ia jalani untuk menyembuhkan trauma masa kecilnya, Deandra justru dipaksa menghadapi satu hal yang paling ia hindari: perasaan yang tumbuh tanpa izin. Tatapan yang terlalu lama. Kepedulian yang terasa berbeda. Seseorang yang tak pergi meski ia berkali-kali menyuruhnya menjauh.
Ia tahu risikonya.
Ia tahu bagaimana akhirnya nanti.
Tapi bagaimana kalau untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak ingin menyelamatkannya, melainkan memilih tinggal dan berjalan bersamanya?
Di antara luka yang belum sembuh dan masa lalu yang terus mengejar, Deandra harus memilih: tetap memeluk ketakutannya... atau mencoba mempercayai cinta, meski itu berarti membuka kemungkinan untuk hancur lagi.
Karena terkadang, yang paling menakutkan bukanlah patah hati-
melainkan bahagia, dan tidak tahu cara mempertahankannya.
Esensi Cinta adalah cerita tentang trauma yang tidak selesai, tentang keluarga yang tidak sempurna, dan tentang keberanian paling sulit: membiarkan diri sendiri bahagia.
Mereka dipaksa bersama dalam ikatan yang tak diinginkan.
Awalnya dingin, penuh penolakan, bahkan terasa seperti hukuman.
Namun, perlahan keterpaksaan itu berubah jadi sesuatu yang sulit dijelaskan—hangat, membingungkan, sekaligus berbahaya.
Saat cinta mulai tumbuh, rahasia masa lalu dan orang-orang yang tak rela melihat mereka bahagia datang mengguncang segalanya.
Apakah cinta yang lahir dari keterpaksaan bisa bertahan?
Atau justru hancur sebelum sempat mekar?
"Walaupun ingatanmu hilang terhadapku, aku tidak akan menyerah dengan sesuatu yang dahulu sudah aku menangkan"
Gogi meratapi nasib di dalam jeruji besi akibat kesalahan yang telah diperbuatnya. Namun, siapa sangka, kesalahan itu justru mengantarkan dirinya kepada seorang wanita yang saat ini ia perjuangkan untuk kembali.
Apa sebenarnya yang terjadi dengan Gogi, lelaki yang berprofesi sebagai perampok yang cukup elit ini?
Mengapa wanita ini mengikuti jejaknya sebagai perampok?
Kamu tahu, perasaan takut jatuh cinta itu seperti membaca arc terakhir dari manga favorit—sedikit gemetar, banyak pertanyaan, tapi juga penuh antisipasi. Aku pernah terjebak dalam fase itu selama berbulan-bulan setelah pengalaman buruk sebelumnya. Yang akhirnya membantu adalah menganggap cinta seperti bermain game RPG: ada side quest untuk memahami diri sendiri dulu sebelum masuk ke storyline utama. Aku mulai menulis jurnal tentang ketakutan spesifik (ditolak? terluka?) dan mencari pola. Ternyata, lebih banyak tentang kecemasan akan ketidaksempurnaan daripada cinta itu sendiri. Perlahan, aku belajar memisahkan antara risiko nyata dan fiksi yang kubuat sendiri. Sekarang, aku melihat ketakutan itu sebagai compass, bukan penghalang—jika ada rasa ngeri, berarti itu sesuatu yang benar-benar penting bagiku.
Hal kecil lain yang berguna: mempraktikkan 'micro-vulnerability' dengan teman dekat. Misal, mengakui ketika rindu atau butuh dukungan. Itu seperti latihan beban untuk emosi. Aku juga menemukan kenyamanan dalam karakter-karakter seperti Kaguya dari 'Love is War' yang memperjuangkan cinta dengan segala kekonyolannya. Lambat laun, rasa takut berubah jadi semacam getaran excited—seperti sebelum mencoba level boss baru.
Ada satu momen di hidupku ketika aku tersadar bahwa mencintai seseorang tanpa balasan itu seperti memegang pasir terlalu erat—semakin kau berusaha mempertahankannya, semakin cepat ia menghilang. Aku belajar bahwa proses melepaskan bukan tentang melupakan, tapi tentang memberi ruang untuk tumbuh. Mulailah dengan membatasi kontak, bahkan jika terasa menyiksa. Alihkan energi dengan eksplorasi hal baru: ikut kelas memasak, tulis jurnal, atau temukan musik yang mengguncang jiwa.
Lama kelamaan, aku pahami bahwa rasa sakit itu sebenarnya pintu untuk mengenal diri lebih dalam. Ketika bisa menerima bahwa beberapa kisah memang tidak meant to be, beban di hati perlahan berubah menjadi cerita yang membuatku lebih bijak. Kuncinya? Jangan buru-buru 'sembuh'. Biarkan waktunya mengajari kita arti ikhlas yang sesungguhnya.
Ada momen dalam hidup di mana rasa sakit karena cinta terasa seperti beban yang tak tertahankan. Salah satu cara yang pernah kupelajari adalah memberi diri waktu untuk merasakan semua emosi itu sepenuhnya—tanpa menghakimi diri sendiri. Menulis jurnal atau curhat pada teman dekat bisa menjadi katarsis. Lambat laun, aku mulai memisahkan identitas diri dari hubungan yang gagal itu. Aktivitas baru seperti hiking atau kelas melukis membantuku menemukan kembali passion yang sempat tertutup awan kelabu.
Yang paling penting, aku berhenti menyalahkan diri atau mantan pasangan. Cinta yang berakhir bukan berarti kita gagal, melainkan bagian dari proses belajar. Sekarang justru lebih sering tertawa melihat betapa dramatisnya dulu aku memandang satu chapter kehidupan.
Ada momen di hidup di mana kita baru menyadari perasaan untuk seseorang setelah kesempatan itu berlalu. Rasanya seperti mengejar bayangan—semakin cepat kita lari, semakin jauh ia menghilang. Tapi justru di situlah keindahannya: cinta yang datang terlambat mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap detak hati sendiri. Aku pernah terjebak dalam situasi ini, dan yang kubutuhkan bukanlah memaksakan waktu untuk berbalik, tapi belajar memeluk keterlambatan itu sebagai bagian dari proses dewasa.
Yang membantu adalah membiarkan diri merasakan semua emosi tanpa menghakimi. Menulis surat yang tidak pernah dikirim, atau berbicara dengan teman dekat tentang apa yang terlewat, bisa menjadi katarsis. Justru dengan begini, aku menemukan bahwa cinta yang 'terlambat' itu sebenarnya tepat waktu—untuk mengajari aku tentang penerimaan dan kesiapan diri sebelum melangkah ke babak berikutnya.