Sinetron seringkali menggambarkan karakter otoriter dengan sangat stereotip, seperti sosok bos galak yang selalu marah-marah atau ibu mertua yang suka mengatur kehidupan anak menantu. KBBI mendefinisikan 'otoriter' sebagai 'bersifat sewenang-wenang; tidak mengindahkan pendapat atau hak orang lain'. Tapi di dunia sinetron, definisi ini dieksekusi dengan cara yang hiperbolis—tokoh otoriter biasanya memakai nada suara tinggi, ekspresi wajah garang, dan dialog-dialog klise seperti 'Pokoknya harus menurut saya!'.
Yang menarik, justru karena dramatisasi berlebihan ini, penonton jadi mudah mengenali pola 'keotoriteran' dalam cerita. Meski kurang realistis, cara penggambaran seperti ini efektif membangun konflik cepat untuk alur cerita yang sederhana. Sayangnya, jarang ada eksplorasi mendalam tentang latar belakang psikologis si tokoh otoriter, padahal itu bisa bikin karakter lebih manusiawi dan relatable.
Kalau menurut pengamatan saya, sinetron Indonesia suka pakai karakter otoriter sebagai 'lawan main' utama protagonis. Misalnya, CEO yang egois di 'Ikatan Cinta' atau ayah kolot di 'Anak Jalanan'. KBBI jelas menyebut otoriter terkait sikap sewenang-wenang, tapi di layar kaca, sifat ini sering dikemas jadi bumbu penyedep drama. Dialog-dialognya pun cenderung repetitif: 'Kamu harus nurut!', 'Ini semua untuk kebaikanmu!'.
Padahal, dalam kehidupan nyata, sikap otoriter nggak selalu terlihat jelas kayak di sinetron. Bisa halus tapi manipulatif, atau bahkan dibungkus alasan 'sayang'. Sayang banget sinetron jarang mengeksplorasi nuansa seperti ini. Alhasil, penonton muda mungkin berpikir bahwa otoriter selalu identik dengan teriak-teriak, padahal bentuknya bisa lebih kompleks.
Dari tayangan sinetron yang pernah saya tonton, karakter otoriter selalu jadi sumber konflik utama. Mereka digambarkan sebagai figur yang nggak bisa diajak kompromi, persis seperti definisi KBBI tentang 'otoriter'. Tapi yang bikin lucu, seringkali keotoriteran ini hilang secara ajaib di episode-final ketika tokohnya 'insaf' setelah mendengar monolog panjang dari protagonis.
Realitanya, perubahan sikap otoriter nggak semudah itu. Sinetron bisa belajar dari drama Korea yang lebih sering menampilkan karakter antagonis dengan motivasi jelas, bukan sekadar jadi 'orang jahat' flat. Tapi ya, mungkin karena durasi terbatas dan target penonton yang ingin hiburan instan, pola-pola klise seperti ini tetap bertahan.
2026-05-09 22:29:43
2
Lihat Semua Jawaban
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Buku Terkait
Orang Ketiga
Erna Azura
10
49.1K
Saat Evrard Zahn Alterio terbangun di suatu pagi, dia menemukan sang sekretaris-Qailula Zivara berada di sampingnya dengan tubuh polos hanya dibalut selimut.
Seketika pening menyengat kepala Evrard dampak bukan hanya dari alkohol yang tadi malam dia minum namun juga karena pria itu merasa telah mengkhianati tunangannya.
Evrard sudah bertunangan dengan Sienna Howard yang merupakan anak seorang bangsawan Inggris bergelar Duke Of Norfolk, bayangkan bagaimana repotnya kalau masalah ini sampai terbongkar.
Akhirnya Evrard meminta Lula—nama kecil sekertarisnya itu—untuk merahasiakan tentang ini dan Lula bersedia karena dia tidak ingin membuat Evrard merasa dirinya adalah ancaman kemudian memecatnya karena Lula membutuhkan biaya yang banyak dalam jangka panjang untuk biaya pengobatan sang nenek yang merawatnya sedari kecil.
Lalu apakah masalah selesai?
Ternyata tidak, Lula diketahui hamil anaknya Evrard membuat cicit dari orang kaya kelima di Dunia itu frustrasi.
Evrard mengkhawatirkan hubungan keluarganya dengan keluarga Sienna menjadi buruk mengingat selama ini hubungan itu terjalin begitu harmonis dan saling menguntungkan.
Dan bukan hanya itu, Evrard khawatir kalau Sienna dan keluarganya akan melakukan segala cara untuk melenyapkan aib tersebut termasuk Lula dan bayinya.
Lalu apakah yang akan dilakukan Evrard untuk menyelesaikan masalah ini?
Davin adalah seorang miliarder>>>
Karena pernah dikecewakan gadis matre di masa lalunya, maka, dia kini menyembunyikan identitasnya, rela dihina dan rela menjadi seorang OB miskin untuk mencari cinta sejatinya
"Ugh, jangan sentuh sana, nanti ada suaranya..."
Setelah festival, perusahaan mengadakan perjalanan gathering ke pemandian air panas di pegunungan.
Tak disangka, jalan pulang tiba-tiba ditutup, membuat semua orang harus tertahan di lokasi pemandian.
Ini pertama kalinya aku menginap di luar, dan tanpa sengaja orang lain mengetahui kondisi fisikku yang spesial.
Aku pun terpaksa meminta bantuan.
Akhirnya, aku memilih pria yang tampak paling pendiam.
Tak kusangka, justru aku malah terjebak dengannya.
Yura, seorang gadis 21 tahun, merasa hidupnya “sinetronable”. Itu loh … istilah yang digunakan untuk menggambarkan hidup seseorang yang mirip seperti sinetron.
Gara-gara tidak sengaja mengucapkan sumpah konyol, dia harus menikah dengan Arga-mantan pacar kakaknya! Belum lagi, pria itu memang agak-agak lain, termasuk kadar mesumnya … Akankah Yura dapat bertahan menghadapi “pernikahan sinetronable” ini?
Dikira hilang, eh ternyata malah asyik bersama selingkuhan. yuk kepoin bagaimana cara sang istri untuk membalas pengkhianatan suaminya!... semoga bisa menghibur...
Aku adalah seorang dokter pria spesialis ginekologi. Meskipun sudah berinteraksi dengan banyak wanita, tetanggaku, Teresa Bunanta, merupakan wanita yang paling sempurna di mataku. Diam-diam, aku sering berharap bisa memeriksa tubuhnya ....
Mengamati karakter otoriter dan tegas dalam film selalu menarik karena keduanya sering disalahartikan. Otoriter, menurut KBBI, adalah sifat memaksakan kehendak sendiri tanpa memberi kesempatan orang lain untuk berpendapat. Dalam film seperti 'The Devil Wears Prada', Miranda Priely digambarkan dengan gaya kepemimpinan otoriter: decisions made unilaterally, sering kali tanpa empati. Sedangkan tegas lebih tentang konsistensi dan keberanian mengambil keputusan dengan tetap menghargai orang lain. Contohnya adalah Atticus Finch di 'To Kill a Mockingbird'—dia tegas dalam prinsip tapi selalu mendengarkan.
Perbedaan visualnya juga kentara. Karakter otoriter biasanya diberi framing kamera yang menekan, lighting dingin, atau musik dissonan. Sementara karakter tegas sering muncul dalam adegan dialog dengan shot/reverse shot yang seimbang, menegaskan dinamika dua arah. Ini bukan sekadar soal dialog, tapi bagaimana sinematografi memperkuat makna KBBI tersebut.
Membahas otoriter dalam konteks film selalu mengingatkanku pada karakter-karakter antagonis yang memerintah dengan tangan besi. Menurut KBBI, 'otoriter' berarti bersifat memaksa atau memerintah dengan kekuasaan mutlak, tanpa memberi kesempatan pada pihak lain untuk berpendapat. Dalam film, ini sering diwujudkan lewat figur seperti dictator, bos mafia, atau bahkan kepala keluarga yang toxic. Contoh klasiknya adalah Nero dalam 'Gladiator' atau Voldemort di 'Harry Potter'. Mereka menciptakan atmosfer ketakutan dan kontrol absolut.
Yang menarik, film justru kerap menggunakan karakter otoriter sebagai alat untuk menggugah empati penonton terhadap korban mereka. Lihat saja bagaimana 'The Hunger Games' menggambarkan Capitol yang otoriter versus distrik-distrik tertindas. Nuansa visual, dialog, bahkan musik dipakai untuk memperkuat kesan dominasi ini. Aku selalu terpikir: apakah keotoriteran dalam film adalah cerminan exaggerated dari realita, atau justru kritik halus terhadap sistem politik tertentu?