Nenekku dulu sering cerita tentang tanda kiamat sambil minum teh sore. Urutannya dia hafal luar dalam: pertama, Dajjal buta mata kanan berkelana dengan keledai raksasa. Lalu, tiga tanah longsor besar timur, barat, dan Jazirah Arab. Nabi Isa muncul, bunuh Dajjal, lalu hadapi Ya'juj Ma'juj yang baru mati setelah didoakan Nabi Isa.
Tahap berikutnya bikin bulu kuduk berdiri: asap tebal selimuti bumi selama 40 hari, orang kafir pilek seperti mabuk. Lalu binatang bumi muncul, bicara pakai bahasa manusia. Terakhir, api Yaman muncul—konon sudah terlihat kecil-kecilan di zaman sekarang. Aku ingat betul ekspresi nenek yang yakin ini semua akan terjadi, tapi selalu bilang, 'Yang penting siapkan bekal, bukan takut.'
Dari obrolan dengan teman-teman di komunitas religi, urutan tanda kiamat besar sering jadi debat seru. Versi yang kuingat mulai dengan Dajjal muncul selama 40 hari, dengan satu hari seperti setahun. Lalu, Nabi Isa turun di menara putih Damaskus, sembuhkan orang buta dan kusta. Gempa dahsyat terjadi, diikuti Ya'juj Ma'juj yang minum semua air Danau Tiberias.
Fase selanjutnya lebih surreal: matahari terbit dari barat, al-Quran raib dari hati manusia, dan seekor binatang muncul memberi tanda pada wajah orang beriman. Angin lembut mencabut nyawa orang shaleh, menyisakan yang jahat. Prosesnya seperti filter alam semesta! Aku suka cara tanda-tanda ini membaurkan logika dan misteri—misalnya, bagaimana teknologi modern bisa dikaitkan dengan kemampuan Dajjal 'menghidupkan' hujan dan kekayaan.
Menggali urutan tanda-tanda kiamat besar selalu bikin merinding! Dalam tradisi Islam, 20 tanda besar ini sering dibahas dengan variasi detail, tapi umumnya dimulai dengan munculnya Dajjal—figur antikristus yang akan menebar fitnah besar. Disusul turunnya Nabi Isa untuk melawannya, lalu Ya'juj dan Ma'juj yang memporak-porandakan dunia. Langit akan menunjukkan tanda jelas dengan terbitnya matahari dari barat, diikuti kabut tebal (dukhan) dan binatang bumi yang berbicara.
Tahap akhirnya lebih dahsyat: api besar dari Yaman menggiring manusia ke padang mahsyar. Progresinya seperti narasi epik, tapi ini bukan fiksi—ini keyakinan yang mengakar kuat. Yang menarik, setiap tanda punya dimensi simbolik: misalnya, Dajjal mewakili ujian iman, sedangkan kembalinya Nabi Isa simbol kemenangan truth over deception. Aku selalu terpana bagaimana tanda-tanda ini bertahap dari gangguan sosial sampai kehancuran kosmik.
2026-07-04 06:25:35
3
Lihat Semua Jawaban
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Buku Terkait
KUKEMBALIKAN SUAMI PADA CINTA PERTAMANYA
Besse Suriana
9.6
55.0K
Tahu rasanya bertahun dalam ikatan halal tapi tak dicintai?
Dia menikahiku karena pelarian, kemudian meninggalkanku begitu saja saat kekasihnya telah menjanda, pun saat bertahun diri ini menunggu cintanya.
Aku Mentari, istri seorang dokter jenius dan ternama, Mas Rian.
Kalau ada yang bertanya siapa yang dicintai Mas Rian? Jawabannya sudah pasti, tentu bukan aku. Dia menikahiku karena kekasihnya yang seprofesi memilih meninggalkannya demi karir dan lelaki lain.
Setelah enam bulan pernikahan, Mas Rian baru menyentuhku, itupun sambil menyebut nama wanita pujaannya. Dan mulai dari situ, setiap dia mendatatangiku nama Dokter Juwita tanpa pernah absen diejanya. Sungguh sesak luar biasa.
Meski demikian, aku tetap menyimpan harap untuknya. Karena selain Mas Rian memenuhi semua kebutuhanku secara berlebih, juga ada anak yang membuat kian subur rasa ini.
"Ini bukan salahku, tapi takdir yang memang harus berlaku," ucap Mas Rian tanpa dosa apalagi meminta maaf sebagai kata perpisahan.
Duh ...
Ada yang patah tapi bukan ranting.
Ada yang merembes tapi bukan darah.
Sebegitu sakitnya mencintai dalam pengabaian?
Sebegitu perihnya berharap dalam ketidak perdulian?
Namun, tak mampu untuk berpaling. Hiks ....
Belum genap sebulan kepergian Mas Rian, Bapak menghadap ke Ilahi karena stres mengetahui kehancuran rumah tanggaku. Lengkaplah sudah penderitaan ini.
Entah kenapa suatu hari, Mas Rian memaksa mengambil putra semata wayang kami, Abram. Padahal dia tahu pasti hanya anak itu penemang sepi dan pengobat laraku.
Aku seperti sedang menyaksikan drama korea perpisahan antara ibu dan anak, tersebab kalah di persidangan dalam perebutan hak asuh. Cuman bedanya, di sini aku tak jadi penonton atau penikmat, melainkan pemeran utama.
Ternyata berdobel-dobel sesak yang ditimbulkannya. Andai tak punya malu, mungkin aku akan histeris juga selayak sang aktris menghayati skenario.
Melihat air mata tanpa dosa putraku berjatuhan akibat keegoisan papanya, perlindungan seorang ibu berontak di jiwaku.
Ya, aku harus berjuang, meski sampai titik darah penghabisan dan berakhir tumbang tak dikenang.
(18+)
Vega Capella menikah dengan dua laki-laki!
Di hari yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru, Vega Capella justru terjebak dalam takdir yang tak pernah ia bayangkan.
Dijodohkan dengan Orion Reagan—putra konglomerat yang dingin dan penuh misteri—Vega sudah menyiapkan diri untuk menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun saat janji suci terucap di depan altar, pria yang menggenggam tangannya bukanlah Orion. Melainkan Antares Reagan, saudara kembarnya.
Kesalahan yang seharusnya bisa dibatalkan berubah menjadi ikatan yang tak bisa diputus. Sebuah janji telah diucapkan, dan dalam dunia keluarga Reagan, janji adalah hukum.
Kini, Vega bukan hanya istri dari satu pria—melainkan dua.
Di antara Orion yang penuh rahasia dan Antares yang tak terduga, Vega harus bertahan dalam permainan emosi, kekuasaan, dan cinta yang rumit. Tapi semakin lama ia berada di antara mereka, semakin ia menyadari, ada sesuatu yang disembunyikan oleh kedua pria itu.
Sesuatu yang mungkin akan menghancurkan semuanya. Atau justru menghancurkan dirinya terlebih dulu.
"Bu Teresa, berkas pengunduran dirimu sudah disetujui oleh Pak Alex, tapi dia nggak sadar bahwa yang mengundurkan diri adalah kamu. Perlu aku ingatkan dia?"
Mendengar kabar dari telepon itu, Teresa perlahan menundukkan pandangan, "Nggak perlu. Biarkan saja seperti ini."
"Tapi kamu sudah empat tahun jadi sekretaris di sisi Pak Alex. Dia paling puas dengan kinerjamu dan juga paling nggak bisa lepas darimu. Soal pengunduran diri ini, apa kamu benar-benar nggak mau mempertimbangkannya lagi?"
Bagian personalia membujuk dengan sabar, tetapi Teresa hanya tersenyum kecil.
Kembaran Terlupakan: Satu Dicintai, Satu Diabaikan
Cocojam
10
3.9K
Di Keluarga Paladin, setiap anak lahir dengan sebuah cip. Cip itu menyatu dengan bio-arloji di pergelangan tangan mereka, layarnya terus menghitung mundur setiap detik dari sisa hidup yang mereka miliki.
Semua orang bisa melihat angka di arloji saudara kembarku terus berkurang. Begitu juga di arlojiku.
Mereka semua tahu dia akan meninggal tepat di hari ulang tahun kami yang ke-18.
Karena itu, Vivian menjadi putri yang tidak tersentuh di dunia kami yang kejam. Semua gaun bertabur berlian menjadi miliknya. Semua perhiasan paling langka juga menjadi miliknya.
Bahkan sisa rasa kemanusiaan ayahku yang terakhir juga hanya diberikan untuknya. Sedikit kehangatan yang hanya terlihat saat pistol ayahku sudah disarungkan kembali.
Dulu, aku merasa kasihan padanya. Waktunya terus berkurang.
Namun, ya Tuhan ... aku juga iri padanya. Dia punya semua yang tidak pernah kumiliki, kasih sayang orang tua kami.
Lalu, pada malam pesta ulang tahun kami yang ke-18 ....
Orang tuaku khawatir aku akan membuat keributan. Mereka takut aku akan menyinggung bos mafia dari keluarga sekutu kami. Jadi, mereka mengunciku di ruang bawah tanah. Lembap. Dingin. Sementara demam parah membakar seluruh tubuhku.
Aku terus menggedor-gedor pintu kayu ek yang berat itu sampai suaraku serak.
"Mama, tolong! Keluarkan aku! Tubuhku panas sekali. Kepalaku sakit banget ...."
Dari luar, suara ibuku terdengar dingin dan tak tergoyahkan.
"Cukup, Lilian! Hari ini ulang tahun adikmu yang ke-18. Hari terakhirnya hidup! Berhenti cari perhatian! Apa kamu nggak bisa menahan diri demi kehormatan keluarga kita?"
"Tapi aku benar-benar sakit ...."
Suara langkah kakinya makin lama makin menjauh, sampai akhirnya lenyap.
Lalu, kegelapan menelanku sepenuhnya.
Di pergelangan tanganku, bio-arloji itu terus berkedip dan menunjukkan peringatan darurat.
[ PERINGATAN KRITIS: Tanda vital tidak cocok. Data cip yang terhubung tidak kompatibel. Harap verifikasi pengguna. ]
Karena bisa melihat hitungan mundur kematian di atas kepala orang-orang terdekat, sejak kecil aku dianggap sebagai pembawa sial oleh keluargaku.
Aku pernah menyebutkan waktu kematian kakek, ayah dan ibu.
Mereka semua meninggal dalam waktu satu hari karena berbagai kecelakaan.
Ketiga kakak laki-lakiku percaya itu adalah kutukanku yang membunuh mereka, sehingga mereka semua sangat membenciku.
Sementara adik perempuanku yang lahir melalui proses persalinan yang sulit dan menyebabkan ibu meninggal, justru tumbuh besar dengan penuh kasih sayang.
Kakak-kakakku berkata bahwa adikku adalah pembawa keberuntungan. Sejak dia lahir, kehidupan keluarga kami menjadi lancar dan bahagia.
Tapi bukankah ibu meninggal karena melahirkan dia?
Di hari ulang tahunku yang kedelapan belas, aku melihat hitungan mundur kematianku sendiri melalui cermin.
Aku membeli sebuah kotak abu yang kusukai untuk diriku sendiri.
Kemudian, aku memasak banyak hidangan yang memenuhi meja makan, berharap bisa makan malam terakhir bersama kakak-kakakku.
Namun, hingga hitungan mundur itu berakhir, aku tidak melihat satu pun dari mereka datang ...
Pernikahan sudah berjalan tiga tahun, tetapi istriku yang seorang pilot sudah 18 kali membatalkan rencana pendaftaran pernikahan kami.
Yang pertama, karena pemuda yang dimentorinya melakukan uji terbang. Aku menunggunya seharian penuh di depan kantor catatan sipil.
Yang kedua, saat di tengah jalan, dia menerima telepon dari pemuda yang dimentorinya itu. Kemudian, dia tiba-tiba berbalik arah dan menurunkanku begitu saja di pinggir jalan.
Setelah itu, setiap kali aku dan dia berjanji untuk mendaftarkan pernikahan, pemuda yang dimentorinya itu selalu saja mengalami berbagai masalah.
Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi meninggalkannya.
Namun, tepat di saat aku melangkah naik ke pesawat menuju Nevora, dia justru mengejarku sampai ke sana seperti orang gila.
Pernah denger orang ngomongin tanda-tanda kiamat kayak matahari terbit dari barat atau munculnya Dajjal? Aku suka penasaran gimana sains nerangin fenomena-fenomena ini. Misalnya, matahari terbit dari barat bisa dijelasin lewat teori pergeseran kutub magnet bumi atau perubahan rotasi bumi akibat tabrakan asteroid besar. Tapi ya, itu semua masih hipotesis yang belum terbukti.
Beberapa tanda lain kayak binatang buas yang bisa ngomong mungkin bisa dikaitkan sama eksperimen genetika atau AI yang bikin robot hewan canggih. Atau fenomena sungai Efrat yang mengering karena perubahan iklim ekstrem. Menarik sih buat dipikir-pikir, tapi tetap aja ini semua spekulasi. Yang jelas, sains modern masih belum bisa memastikan kebenaran ramalan-ramalan itu.
Pernah denger obrolan soal gempa jadi tanda kiamat? Aku sendiri sering nemuin topik ini di grup-grup diskusi agama yang aku ikutin. Dari yang kupelajari, dalam beberapa hadis emang disebutin tentang fenomena alam seperti gempa sebagai bagian dari tanda-tanda akhir zaman. Tapi nggak cuma gempa aja, ada juga soal matahari terbit dari barat, munculnya Dajjal, atau kabutnya yang menutup bumi selama 40 hari.
Yang bikin menarik, interpretasinya bisa beda-beda tergantung perspektif. Ada yang nganggap gempa akhir-akhir ini emang frekuensinya meningkat, jadi bisa jadi 'sinyal'. Tapi ada juga yang lebih netral, ngelihatnya sebagai fenomena geologi biasa. Aku pribadi sih lebih ke arah 'waspada tapi nggak panik'. Soalnya kan kita juga diajarin buat selalu prepare, apapun itu.
Menggali lebih dalam tentang tanda-tanda kiamat dalam Islam selalu membuatku merinding. Dari berbagai sumber yang pernah kubaca, tanda-tanda ini dibagi menjadi dua: kubra (besar) dan sugra (kecil). Tanda kecil sudah banyak terjadi, seperti maraknya pembunuhan, waktu terasa semakin cepat, dan hilangnya kejujuran. Sedangkan tanda besar benar-benar menegangkan—matahari terbit dari barat, munculnya Dajjal, dan turunnya Nabi Isa. Ada juga Ya'juj dan Ma'juj yang akan menyebar kerusakan, serta asap tebal yang menutupi bumi. Yang paling mengerikan adalah api besar dari Yaman yang menggiring manusia ke tempat berkumpulnya. Ini bukan sekadar dongeng, tapi peringatan serius untuk kita semua.
Aku sering membayangkan bagaimana dunia akan berakhir dengan begitu dramatis. Tapi di balik semua itu, ada pesan moral yang kuat: kita harus selalu mempersiapkan diri. Tanda-tanda ini bukan untuk ditakuti, tapi untuk dijadikan renungan agar hidup lebih baik. Setiap kali membaca tentang hal ini, aku merasa perlu introspeksi diri. Apakah selama ini sudah cukup baik? Sudahkah kita siap menghadap-Nya?