Di SMA tempatku dulu, KKM IPA dan IPS biasanya sekitar 75-78, tapi ini bisa beda-beda tergantung kebijakan sekolah. Guruku sering bilang, IPA dianggap lebih 'berat' karena banyak hitungan, jadi beberapa sekolah mungkin menetapkan KKM lebih rendah (misalnya 72) untuk memberi ruang pada siswa yang kurang kuat di eksak. Tapi di sekolah favorit, angkanya bisa melambung sampai 80-an karena kompetisi tinggi.
Anehnya, IPS justru kadang lebih ketat di tempatku—gurunya strict banget soal analisis kasus dan esai. Jadi jangan remehkan hanya karena gak ada rumus. Intinya, KKM itu cerminan standar sekolah, bukan kemampuanmu. Lebih baik fokus menguasai materi daripada terpaku angka.
KKM itu ibarat level difficulty dalam game RPG—tergantung setting 'dungeon' sekolahmu. Di SMA biasa, IPA sering 75 sedangkan IPS 73, tapi ini bukan patokan mutlak. Aku pernah dengar ada sekolah yang menerapkan KKM fleksibel per semester; misalnya turun jadi 70 jika ujian nasional tahun itu susah.
Pro tip: cek silabus guru! Beberapa membagi KKM per kompetensi dasar—misalnya hitungan Kimia 80 tapi teori Biologi 75. Jadi bisa atur strategi belajar. Jangan khawatir berlebihan soal angka ini; yang penting proses belajarmu menyenangkan seperti baca manga favorit.
Dari pengalaman ngobrol dengan teman-teman di berbagai SMA, KKM IPA/IPS itu kayak menu restoran—tiap tempat punya 'rasa' sendiri. Sekolah negeri di kotaku pakai patokan 75 untuk kedua mapel, tapi di sekolah swasta jurusan sosial, IPS malah lebih tinggi (78) karena mereka unggulin itu. Ada juga kasus unik di satu SMA where IPA justru dapat toleransi KKM 70 buat anak-anak yang struggling di Fisika.
Yang lucu, ada guru IPS yang pernah bilang, 'KKM tinggi itu seperti tantangan gaming—kalian perlu strategi berbeda untuk tiap boss chapter.' Dia analogikan IPA seperti boss dengan attack pattern jelas (rumus), sementara IPS butuh grind baca materi layaknya ngumpulin item rare.
2026-03-02 15:47:40
12
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
ISTRI KEDUA PANGERAN KEJAM
Piemar
10
22.4K
Aku terbangun di dalam novel yang kubaca, sebagai istri kedua pangeran kejam yang mati di bab 80. Seorang wanita lemah, hanya alat untuk melahirkan pewaris, lalu dibunuh oleh permaisuri bermuka lembut.
Masalahnya, jiwa di tubuh ini adalah mahasiswa Kriminologi dengan mental baja dan nalar tajam. Aku tahu cara membaca kebohongan dan tahu siapa yang akan membunuhku. Jika kematian adalah akhir yang ditulis untukku, maka aku akan mematahkan takdir itu!
Kali ini, yang akan mati bukan aku.
Daisha Bulan Anantaraya datang ke akademi untuk mencari sang kakak. Namun, ia harus menyembunyikan identitasnya sebagai anak laki-laki untuk bisa masuk ke akademi. Berada di antara para tuan muda dan para pangeran menimba ilmu dan hidup di dalam asrama yang diisi oleh kaum pria.
Akankah Daisha berhasil mewujudkan impiannya, atau identitasnya lebih dulu terbongkar?
"Keluar Kamu dari rumah saya!" bentak seorang pria paruh baya sambil menatap nyalang ke arah putrinya.
Gadis itu menangis histeris. Air matanya tak mau berhenti membasahi pipi putihnya, yang kini bersemu merah karena sempat menahan tangis.
"Maafin Mila, Ayah. I-ini bukan kemauan Mila,” jelasnya, masih tersedu-sedu.
" Saya tidak mau nama baik keluarga ini tercoreng, dari sekian banyak keluarga besar ayah, satu pun tak ada yang muka tembok seperti kau! Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang juga, jangan buat saya merah padam, paham! " Tunjuk sang ayah kepada Mila yang sedari tadi, menangis histeris di bawah kakinya.
Mila kemudian menoleh ke arah wanita paruh baya yang hanya diam sembari menangis, wanita itu syok mendengar kabar bahwa anak semata wayangnya tengah mengandung. Padahal putrinya itu masih bersekolah dan tak pernah terlihat dekat dengan lelaki mana pun. Orang tua mana yang tak akan kecewa bila anaknya melakukan hal menjijikkan seperti itu.
"Bunda ... dengerin Mila, Bun. Mila gak salah, i-ini kesalahan.” Mila menunduk dalam, hingga air matanya berjatuhan ke lantai.
Wanita yang dipanggil bunda itu hanya diam tak mampu berkata-kata. Ia sangat syok mendengar kabar mengejutkan yang menimpa putrinya, ia bahkan tak tahu harus bereaksi seperti apa. Kekecewaan sudah terlanjur memenuhi hatinya.
"Mau membela diri lagi? Sekarang juga, angkat kakimu dari rumah saya. Cepat!"
Dikenal sebagai iblis wanita, sahabat malaikat maut, dan banyak lagi sebutan terkutuk untuk pewaris kelompok gangster sepertinya adalah hal biasa. Tapi tidak ada yang tahu jika Maia memiliki satu mimpi kecil yang konyol.
Dia ingin memiliki hidup sederhana bersama suami dan anak yang dicintainya jika Tuhan memberinya kehidupan kedua.
Maia mengganggap Tuhan sedang bosan saat menghidupkannya kembali setelah perang antar klan. Maia terbangun dalam tubuh wanita lain, seorang selebriti populer yang meninggal dalam penyesalan hidupnya.
Mampukah Maia si wanita terkutuk memainkan perannya sebagai istri dan ibu yang baik menggantikan posisi sang selebriti?
***
Baca juga karya saya:
1. Gelora Cinta Bos Berondong Manisku
2. Mantanmu Jadi Istri Bos
3. Istri Rahasia Presdir
4. Mantanku Gagal Move On
5. Ibu Susu Anak Pria Miskin
6. Istri Kecilku Bos Mafia
Natalia yang semula tidak punya apa-apa,, direndahkan, tiba-tiba berubah nasib setelah menjadi istri kedua dari pria yang asal mulanya beristri.
Selama delapan tahun menikah, tante Diana yang penyakitan, menjadi lumpuh dan selalu berada di kursi roda. Karena tidak ingin suaminya kesepian dia meminta Natalia untuk jadi istri kedua suaminya. Awalnya Natalia menolak, tapi itu permintaan terakhir tante Diana, orang yang selama ini sangat baik pada dirinya juga keluarga Natalia.
Awal pernikahan, Hady bersikap dingin padanya, ketika istrinya meninggalkan pun membutuhkan waktu yang cukup tuk bisa move on. Tapi lama-lama, cintanya pada Natalia berubah tulus, setulus kepada istri pertamanya.
Seratus tiga puluh hari setelah Ayah pergi, Ibu menghadirkan lelaki lain di rumah ini. Pernikahan kedua yang menyakiti hati kami. Dalam semalam saja, Dia berubah, dari Ibu paling sempurna menjadi Ibu yang pantas dibenci. Tapi ternyata, ada sebuah rahasia yang tak pernah kutahu.
Kubiarkan Ibu pergi, setelah menorehkan luka terdalam di hatiku dan Kiara, adikku yang masih terlalu kecil untuk mengerti. aku harus kuat, berdiri di atas kakiku sendiri, juga menjadi penopang bagi Kaki Tiara. segala rintangan itu akan ku singkirkan meski harus berdarah-darah.
aku Keysha, usiaku tujuh belas tahun. Dan inilah kisahku
Dari pengalaman teman-teman yang sudah lulus SMA, KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) itu sebenarnya lebih sering ditentukan oleh kebijakan sekolah daripada perbedaan jurusan. Sekolah tempat adikku bersekolah menerapkan KKM sama untuk semua mata pelajaran di jurusan IPA dan IPS, sekitar 75. Tapi ada juga sekolah lain yang menyesuaikan KKM berdasarkan tingkat kesulitan mata pelajaran—misalnya, Matematika di IPA mungkin KKM-nya 78, sementara Sosiologi di IPS 72. Gurunya bilang, ini untuk mempertimbangkan kompleksitas materi.
Yang menarik, beberapa sekolah bahkan punya aturan fleksibel. Di SMA favorit dekat rumahku, mereka memakai sistem 'KKM dinamis' untuk kelas unggulan, di mana nilai minimal bisa lebih tinggi 5-10 poin dibanding kelas reguler. Jadi, meskipun jurusan sama, beda kelas bisa beda KKM. Intinya, variasi ini menunjukkan bagaimana sekolah mencoba menyeimbangkan standar akademik dengan realita kemampuan siswa.
Ada sesuatu yang menyenangkan tentang membongkar materi IPA kelas 7 semester 1 kurikulum Merdeka. Awalnya aku pikir bakal full teori berat, tapi ternyata disusun dengan pendekatan yang lebih eksploratif. Misalnya di bab 'Zat dan Perubahannya', kita diajak ngamatin perubahan fisika-kimia lewat eksperimen sederhana kayak lilin meleleh atau besi berkarat.
Yang bikin semangat adalah bab 'Energi dalam Sistem Kehidupan' yang bahas fotosintesis dengan analogi pabrik mini di daun. Kurikulum ini juga sering nyelipin proyek kecil kayak bikin terrarium untuk pahami siklus air. Aku suka cara mereka ngemas konsep ilmiah jadi relatable buat remaja, pakai contoh dari kehidupan sehari-hari kayak kenapa es batu bisa mencair di suhu ruang.