Butterfly Era itu fenomenal karena muncul secara organik dari komunitas kecil lalu jadi massive. Awalnya cuma creator perempuan yang eksperimen dengan filter augmented reality kupu-kupu, tapi lama-lama jadi gerakan simbolis. Kupu-kupunya bukan sekadar hiasan—dia representasi freedom dan rebirth. Banyak video pakai caption deep macam 'leaving my toxic job era' atau 'finally learning to love myself', dan kupu-kubunya jadi penanda visual. Konsepnya sederhana tapi powerful.
Yang menarik, tren ini juga mempopulerkan ulang elemen Y2K aesthetics. Warna-warna lavender, baby blue, dan glitter tiba-tambah kembali hits berkat konten-konten ini. Bahkan beberapa brand cepat-cepat launch koleksi butterfly-themed buat manfaatin momentum. Tapi bagi aku personal, yang paling berkesan justru cara tren ini bikin orang terbuka soal perjuangan mental health—dikemas dengan indah tanpa terasa terlalu berat.
Ada satu momen di mana scrolling TikTok tiba-tiba dipenuhi warna-warna pastel dan kupu-kupu beterbangan di setiap video. Awalnya kupikir ini cuma aesthetic biasa, tapi ternyata 'Butterfly Era' lebih dari sekadar visual—ini semacam metafora untuk fase personal growth. Orang-orang pakai simbol kupu-kupu untuk cerita transformasi diri, kayak dulu mungkin mereka merasa jadi 'ulat' yang awkward, lalu pelan-pelan berkembang jadi versi lebih percaya diri. Keren sih, karena tren ini bikin orang berani share journey self-improvement mereka dengan cara yang artistik.
Yang bikin semakin viral, kontennya bisa diadaptasi ke berbagai niche. Ada yang kolase before-after makeup, progress belajar dance, sampai potongan momen healing. Uniknya, musik latarnya selalu nyaman didengar, sering pake lagu-lagu calming macam 'Flowers' atau instrumental indie. Jadi selain visually pleasing, atmosfernya juga bikin betah scrolling lama-lama. Tren ini kayak reminder visual bahwa perubahan itu indah—dan semua orang berhak bermetamorfosis.
Pernah liat video TikTok di mana seseorang terlihat melompat lalu tiba-tiba berubah jadi slow motion dengan kupu-kupu virtual mengelilinginya? That's the Butterfly Era in a nutshell. Tren ini dominan tahun lalu, terutama di kalangan Gen Z yang suka konten whimsical. Filosofi di baliknya sederhana: hidup itu siklus perubahan, dan kita harus menikmati tiap fase. Banyak yang bilang ini respons digital terhadap quarter-life crisis—orang butuh simbol positif untuk menghadapi ketidakpastian.
Musik dan visualnya memang deliberately therapeutic. Aku perhatikan mayoritas menggunakan slowed-down version dari lagu pop atau suara alam. Efeknya, feed TikTok jadi seperti ruang meditasi modern. Yang lucu, beberapa creator bahkan bikin parody dengan 'reverse butterfly effect'—misalnya video awalnya glamour lalu balik ke kondisi berantakan. Kreativitas interpretasinya bikin tren ini tetap segar meski udah beberapa bulan berjalan.
2026-06-28 23:06:39
20
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Kau Bisa Apa Tanpaku, Mas?
Itha Sulfiana
8.5
66.3K
Najwa Asyifa, perempuan berusia 26 tahun yang sudah menikah selama dua tahun dengan Fabian Rizki yang lebih tua enam tahun dibanding dirinya. Pernikahan itu awalnya indah. Namun, semenjak kehadiran Ibu mertua dan adik ipar yang ikut tinggal bersama mereka, keadaan akhirnya berubah.
Puncaknya, ketika Najwa mendapat sebuah kabar buruk. Sang suami membawa wanita lain ke rumahnya dan mengakui wanita itu sebagai istri kedua.
*
Kau bilang, aku tak bisa tanpamu, Mas. Ah, Benarkah?
Ku rasa, itu terbalik. Bukankah, justru kau yang tak bisa tanpaku?
Setelah kepalanya tertembak, Elina bukannya mati justru malah terbangun di dunia yang asing dan tubuh yang asing.
Dengan bola mata berwarna coklat terang kemerahan sangat kontras dengan rambutnya yang berwarna merah. Nama wanita, ah- atau kita sebut saja dia gadis? Kenapa? Karena, meskipun statusnya seorang istri tapi suaminya belum pernah sekalipun menyempurnakan pernikahan mereka. Dia adalah Elena Van Padrisa.
Meski begitu, status istri yang di sandangnya tak main-main. Karena sang pemilik tubuh merupakan istri dari seorang miliarder bernama Liandra Van Padrisa.
Jadi, dia harus senang atau sedih? Dengan status istri sang miliarder yang tak di anggap keberadaannya itu?
....
"Hehe baguslah jika dia tak menganggap keberadaanku, yang aku butuhkan hanya kekayaannya!"
"Aku bisa foya-foya dan menikmati kehidupan kedua yang di berikan padaku."
....
"Mau kemana, hmm? Apa kamu menghindariku?"
"Terima hukumanmu, sayang!"
....
"Aaaa dasar bajingan penipu! Apanya yang gak di anggap dia justru pria gila yang tak bisa lepas dariku!"
"Menjauh dariku bajingan mesum!"
.....
Entahlah bagaimana kelanjutan dari kehidupan kedua Elina as Elena di dunia barunya?
Semakin banyak chapter, semakin seru dan penuh ketegangan serta plot twist!
“Ah…kak…sudah, Viona tidak bisa lagi…hah.” Suara pekikan yang menggema. Diujung keinginan yang begitu terbakar.
Dirinya tahu ini salah. Tapi ini juga begitu menggoda, sebuah jeritan pelan, disaat bersamaan membalas cumbuannya.
***
Ibu tirinya ingin Rafael menikahi saudari tirinya sendiri. Ada banyak rahasia dalam keluarga konglomerat, termasuk ketidak percayaan pada orang lain.
Ada kalanya sang ibu tiri berkata.
“Rafael, ibu dan ayahmu sudah bercerai. Jadi nikahi dan hamili adikmu, buatlah penerus keluarga Andita. Karena, ibu tidak percaya pada pria lain untuk menjaga adik-adikmu.”
Begitu banyak rahasia, termasuk Rafael yang juga mengalami kelahiran kembali.
“Tapi…jika hanya untuk menjaga mereka—” Kalimat Rafael disela.
“Percayalah…mereka juga menginginkan ini.” Bisikan sang ibu tiri, tersenyum menyeringai pada putra tirinya.
Awal pernikahan yang bahagia menjadi retak sejak Winda pindah ke rumah mertuanya. Sang suami pun berubah menjadi kasar dan mengkhianati cinta mereka. Hingga akhirnya Winda ditalak dan diusir dari rumah itu. Namun, siapa sangka hidup Winda berubah menjadi Cinderella setelah tau bahwa dia anak seorang milyarder yang dibuang saat kecil. Akankah mantan suami dan mertuanya menyesal setelah tau Winda yang sebenarnya? Ikuti kisah haru dalam cerita ini.
Di tahun ketiga pernikahan Marissa Pranaya dan Arka Kivandra, ada sebuah kabar baik.
Akhirnya, Marissa bisa meninggalkan laki-laki itu.
"Satu bulan lagi kakakmu akan pulang. Selama sebulan ini, teruslah berpura-pura menjadi dirinya dengan baik." Di ujung telepon, suara Bu Elvira Pranaya terdengar dingin seperti biasanya. "Setelah semua ini berakhir, aku akan kasih kamu 60 miliar, agar kamu bisa menjalani hidup yang kamu mau."
"Aku mengerti," jawab Marissa pelan, suaranya tenang bagaikan air yang tiada bergelombang.
Setelah menutup telepon, Marissa menengadah, menatap foto pernikahan berukuran raksasa yang terpajang di dinding.
Pembantu di rumahku mengklaim dirinya sebagai wanita mandiri generasi baru. Setiap hari, dia mendorongku untuk menjadi lebih independen. Memintaku mencuci baju, memasak, dan merawat anak. Dia bahkan menyarankan agar aku bercerai dengan suamiku.
Belakangan, aku menyadari bahwa dia ternyata seorang influencer. Tanpa seizin dariku, dia membuat serangkaian video yang menjelekkan diriku dengan tema "melatih istri manja," lalu mengunggahnya ke internet. Bukan hanya itu, dia juga mencuri perhiasan dan pakaian dariku.
Setelah aku memecatnya, dia malah menyerangku di dunia maya dan menuduhku sebagai wanita yang membenci sesama wanita, tetapi bersikap baik terhadap lelaki. Lebih parah lagi, seorang penggemar fanatiknya berhasil menyusup ke rumahku dan memberiku racun pestisida dalam air minumku.
Dalam kehidupan kedua, aku kembali ke hari di mana aku pertama kali mengetahui bahwa dia memiliki akun dengan jutaan pengikut. Kalau dia memang suka siaran langsung, aku akan membuat semua orang melihat wajah asli dari "wanita mandiri" ini.
Ada sesuatu yang magis dari 'I miss butterfly era with you' yang membuatnya viral. Mungkin karena nostalgia yang dibawanya—era ketika segalanya terasa lebih sederhana, penuh dengan kemungkinan, dan belum tercoreng oleh kompleksitas kehidupan dewasa. Ungkapan ini seperti mengajak kita kembali ke masa ketika kupu-kupu di perut adalah hal biasa, dan setiap momen bersama seseorang terasa seperti petualangan baru.
Media sosial, dengan sifatnya yang cepat dan visual, adalah tempat sempurna untuk konten seperti ini. Orang-orang suka berbagi momen sentimental, dan frasa ini memberikan cara yang puitis untuk mengungkapkannya. Ditambah lagi, estetika 'butterfly era'—dengan warna pastel, filter vintage, dan musik lo-fi—sangat cocok dengan tren visual yang sedang populer. Ini bukan sekadar kata-kata, tapi pengalaman yang divisualisasikan.