Pemberontakan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan pada 1950-an meninggalkan jejak yang dalam baik secara sosial, politik, maupun ekonomi. Gerakan yang awalnya berangkat dari kekecewaan terhadap pemerintah pusat ini berkembang menjadi konflik bersenjata yang memakan banyak korban jiwa dan mengganggu stabilitas daerah. Yang cukup menarik, pemberontakan ini tidak hanya soal separatisme, tapi juga punya nuansa ideologis karena Kahar sempat terlibat dengan DI/TII. Konflik ini bikin masyarakat lokal terjebak dalam ketakutan, apalagi dengan maraknya kekerasan dan pembakaran desa yang terjadi saat itu.
Dari sisi politik, pemberontakan ini memaksa pemerintah pusat untuk mengambil pendekatan keras sekaligus diplomasi. Operasi militer digencarkan, tapi di sisi lain ada juga upaya rekonsiliasi seperti tawaran amnesti. Sayangnya, polarisasi antara pendukung pemberontak dan pro-pemerintah menciptakan ketegangan sosial yang bertahan lama. Banyak keluarga terpecah belah karena berbeda pandangan, dan trauma kolektif ini masih bisa dirasakan oleh generasi tua di Sulawesi Selatan sampai sekarang.
Ekonomi daerah juga kena imbasnya. Aktivitas perdagangan dan pertanian mandek karena ketidakamanan, dan infrastruktur banyak yang hancur. Daerah-daerah basis pemberontakan seperti hutan dan pegunungan jadi sulit dijangkau, memperparah isolasi masyarakat. Dampak jangka panjangnya, pembangunan di Sulawesi Selatan sempat tertinggal dibanding daerah lain di Indonesia.
Yang sering dilupakan, pemberontakan ini juga memengaruhi hubungan antar-etnis. Kahar Muzakkar berasal dari suku Bugis, dan gerakannya sempat dicurigai sebagai 'gerakan Bugis', meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Hal ini bikin muncul prasangka-prasangka yang tidak perlu antara kelompok etnis di Sulawesi. Di sisi lain, konflik ini juga memicu migrasi besar-besaran warga yang mencari tempat lebih aman, mengubah demografi beberapa wilayah.
Terlepas dari semua dampak negatifnya, pemberontakan Kahar Muzakkar menjadi pelajaran penting tentang kompleksnya integrasi nasional di Indonesia pasca-kemerdekaan. Konflik ini menunjukkan bagaimana ketidakpuasaan daerah bisa membesar ketika ditangani dengan pendekatan yang kurang tepat. Uniknya, beberapa tahun setelah pemberontakan padam, Sulawesi Selatan justru berkembang jadi salah satu daerah yang cukup stabil di Indonesia.
2026-04-06 09:59:04
13
Lihat Semua Jawaban
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Buku Terkait
Terjerat Gairah Sahabat Kakakku
Anonara
10
16.7K
Dikhianati oleh tunangan dan sahabatnya, membuat Jasmine Dominic tidak bisa berpikir jernih. Ia mendekati sahabat kakaknya yang tampan dan mempesona. Jasmine tidak menyadari bahwa Damian Smith bahkan memiliki kemungkinan untuk menyakitinya lebih dalam daripada mantan tunangannya. Satu kalimat yang ia tawarkan pada pria tersebut nyatanya mampu menyeretnya ke dalam bahaya dan gairah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Di usia yang baru menginjak sembilan belas tahun, Kamila harus menjalani bahtera rumah tangga dengan sang ahli waris keluarga Dewangga.
Sementara Aron, mimpinya untuk menikahi kekasihnya terhenti kala menuruti permintaan terakhir dari sang kakek.
Tak ada pernikahan impian, justru Aron menjadikan Kamila sebagai sasaran untuk menumpahkan segala kekecewaan serta kemarahannya.
Namun, bagaimana jika rahasia masa lalu perlahan mulai terkuak, serta alasan di balik sang kakek menikahinya dengan Kamila. Mampukah Aron memperbaiki semuanya di saat Kamila sudah menyerah dengan pernikahan mereka?
Kisah ini adalah sekuel dari novelku yang berjudul, Cintaku Bersemi di Masa Remaja.
Perjalanan cinta salah satu personil Geng ARJOFA bernama, Arnold dan sahabat masa kecilnya, Marsha Livia.
Arnold yang sudah lama menjomlo membuat kedua orang tuanya merasa cemas kepada putra tunggalnya tersebut karena tak kunjung menikah. Apalagi kedua sahabat Arnold yang tergabung dalam Geng ARJOFA, yaitu Joseph dan Farez telah menikah dengan pasangan mereka masing-masing.
Oleh karena itu sang mami mulai mengatur siasat untuk menjodohkan Arnold dengan putri dari sahabatnya, yang ternyata adalah teman Arnold saat sekolah dulu.
Mungkinkah perjodohan itu berhasil?
Ataukah Arnold memiliki kriteria tersendiri tentang seorang perempuan yang akan menjadi calon istrinya?
Bagaimana pula reaksi gadis yang akan dijodohkan dengan Arnold?
Penasaran? Yuk ikuti kisahnya!
Plagiarisme melanggar undang-undang hak cipta nomor 28 tahun 2014.
Xiao Ji akhirnya melaksanakan ujian akhir itu, yang tak diduga akan mengantarkannya pada gerbang kematian. Ilmu kebatinannya dimusnahkan dan ia hanya bisa mengandalkan kungfunya sebagai pertahanan diri, juga dibawah pengawasan kerajaan Xing Guang yang begitu ketat.
"Kau adalah anggota sekte Yue Yin bukan?"
_Wang Ju Long, Kaisar Agung_
"Apa kau ingin kesempatan kedua, Xiao Ji?"
_Wang Li Fu, Putra Mahkota_
"Tidak banyak yang bisa kulakukan untukmu, kecuali kesempatan untuk melarikan diri."
_Wang Lu Han, Pangeran kedua_
_Dia hanya sampah tak berguna, berani menjajakkan diri pada semua Pangeran di kerajaan!"
_Mei Ying, putri Panglima Lien Hua_
Ayara diminta untuk menggantikan sepupunya menjadi pelayan di keluarga kaya raya Nawang Nehan. Tugasnya khusus melayani Tuan Muda Arlo Raynar, putra sulung yang terkenal dingin dan tidak butuh perempuan. Selain itu Ayara juga dihadapkan pada dua putra Nawang Nehan lainnya. Cashel Anargya dan Rhys Victor yang mengincarnya. Belum lagi Birdella Xavera yang mengancam. Bagaimana Ayara menghadapi hari-harinya di rumah Nawang Nehan? Bagaimana ia menghadapi Putra Sulung yang konon mengerikan?
Siska harus terjebak oleh Musuh dari Kakaknya dan gilanya, pria dengan nama Arga itu mengetahui semua kekurangan Siska membuat Siska benar-benar menyerah dibawah kendali Arga. Mampukah Siska terlepas dari jerat Arga yang mematikan atau ia tenggelam dalam permainan musuh Kakaknya itu?
Dari sudut pandang seorang yang tertarik dengan sejarah lokal, pemberontakan Kahar Muzakkar memang meninggalkan jejak yang dalam. Gerakan DI/TII pimpinannya berakhir sekitar tahun 1965 setelah operasi militer besar-besaran. Ada cerita-cerita menarik tentang bagaimana pasukan pemerintah menggunakan taktik pemisahan antara Muzakkar dengan basis massanya.
Yang bikin aku selalu penasaran adalah detail akhir hidupnya. Beberapa sumber bilang dia tewas dalam baku tembak, tapi ada juga yang menyebut sempat terjadi negosiasi sebelum akhirnya situasi memanas. Aku sendiri lebih percaya versi pertama karena dokumen resmi militer cenderung konsisten mencatat demikian. Tertarik banget sama dinamika perlawanan daerah di era itu – penuh nuansa politik dan loyalitas kultural.
Dari sudut pandang sejarah lokal, pemberontakan Kahar Muzakkar tidak bisa dilepaskan dari kekecewaan mendalam terhadap pemerintah pusat pasca kemerdekaan. Banyak bekas pejuang kemerdekaan di Sulawesi Selatan merasa diabaikan, termasuk dalam integrasi tentara lokal ke TNI. Kahar sendiri adalah simbol dari frustrasi ini—dia melihat Jakarta sebagai terlalu Jawa-sentris dan mengkhianati semangat federalisme awal.
Ditambah lagi, ketidakpuasan terhadap pembagian kekuasaan dan sumber daya memicu sentimen separatis. Gerakannya awalnya bukan tentang Islamisasi, tapi lebih pada perlawanan terhadap ketimpangan struktural. Baru di fase akhir pemberontakan, narasinya bergeser ke pembentukan negara Islam, yang justru mengurangi dukungan rakyat.
Pemberontakan Kahar Muzakkar memang salah satu babak sejarah yang menarik untuk dibahas, terutama bagi yang tertarik dengan dinamika politik dan sosial di Indonesia era 1950-1960an. Gerakan yang dipimpin oleh Abdul Kahar Muzakkar ini punya akar kuat di Sulawesi Selatan, dengan wilayah operasi utama berpusat di sekitar hutan-hutan dan pegunungan di Kabupaten Luwu, Kolaka, dan Poso. Daerah-daerah ini dipilih karena faktor geografisnya yang mendukung perang gerilya—jarang terjamah pemerintah, penuh jalur rahasia, dan punya dukungan komunitas lokal.
Yang membuat pemberontakan ini unik adalah bagaimana Kahar Muzakkar memanfaatkan jaringan masyarakat Bugis-Makassar yang sudah frustrasi dengan kebijakan pusat. Basis utamanya ada di Soroako (sekarang dikenal karena tambang nikelnya), tapi aktivitasnya menyebar sampai ke Wawondula dan Mekongga. Kawasan pegunungan sekitar Enrekang juga jadi tempat persembunyian strategis, terutama setelah operasi militer besar-basaran dilancarkan.
Pemberontakan ini tidak hanya soal separatisme, tapi juga punya nuansa ideologis—Kahar sempat mengaitkan perjuangannya dengan DI/TII Kartosuwiryo. Yang menarik, meski markas besar fisiknya di Sulawesi, pengaruh pemikirannya sampai ke Kalimantan via jaringan diaspora Bugis. Beberapa catatan bahkan menyebut adanya 'pos komando' kecil di Barabai, Kalimantan Selatan, sebagai titik transit logistik.
Dari segi dampak geografis, pemberontakan ini meninggalkan jejak paling dalam di sekitar Danau Matano dan Teluk Bone. Hingga sekarang, masyarakat lokal masih punya cerita turun-temurun tentang 'pasukan Kahar' yang bisa menghilang di hutan atau muncul tiba-tiba via sungai-sungai kecil. Peninggalan era itu kadang masih ditemukan—benteng darurat dari batu atau lubang persembunyian bawah tanah yang sekarang jadi spot explorasi anak muda.
Terlepas dari kontroversi di sekitarnya, pemberontakan Kahar Muzakkar menunjukkan bagaimana lokasi geografis bisa jadi faktor penentu dalam konflik bersenjata. Sulawesi Selatan dengan topografinya yang unik memberikan ruang gerak sempurna bagi gerakan gerilya semacam ini, sekaligus jadi bukti bahwa medan pertempuran tidak selalu berupa kota atau garis depan yang jelas.