Aku inget banget waktu pertama liat adegan latar belakang 'Eiji Gym', langsung terpikir ini pasti shot di daerah Kanto yang masih terjaga atmosfer retro-nya. Ternyata setelah liat dokumenter NHK tentang lokasi syuting, mereka pake bekas gudang penyimpanan di Kawagoe—dikenal sebagai 'Little Edo' karena arsitektur tradisionalnya. Bedanya sama setting asli manga, mereka nambahin detail seperti poster boxing tahun 80-an dan peralatan fitness jadul buat ngedukung karakter Eiji yang nostalgik.
Yang unik, beberapa scene outdoor diambil di jalur belakang stasiun Tamako Line yang sepi, biar matching sama vibe kesepian si protagonist. Production designer-nya bahkan bilang di wawancara kalo mereka sengaja hindari modernisasi set, sampe-rel kereta dekat gym aja dibuat keliatan tua pake efek praktikal!
Kebetulan banget aku pernah ngulik soal lokasi syuting 'Eiji Gym' karena penasaran sama estetikanya yang vintage banget! Setelah ngecek beberapa forum Jepang sama laporan behind-the-scenes, ternyata tempatnya diambil di kota kecil bernama Hanno, Saitama. Yang bikin menarik, gedung gymnya sebenernya bekas sekolah dasar yang udah direnovasi jadi studio semi-permanen. Nuansa kayu dan lantai parketnya itu asli dari era Showa, bukan set buatan!
Yang lucu, pas aku coba cari di Google Street View, sekitaran gymnya malah dipenuhi vending machine warna-warni—kontras banget sama suasana dalam series yang lebih gelap dan nostalgic. Kayaknya production team sengaja milih lokasi yang secluded biar gampang dikontrol lightingnya, apalagi adegan malam di 'Eiji Gym' itu dominan banget.
Dari DVD commentary series 'Eiji Gym', salah satu staff bilang kalo mayoritas interior difilmkan di Studio Hibari di Tokyo, tapi facade gymnya itu gedung nyata di prefektur Chiba—tepatnya dekat stasiun Sakura. Aku sempet compare sama manga-nya, dan arsitektur jendela besar sama tangga besinya persis! Yang bikin greget, ternyata tempat aslinya sekarang udah jadi kafe retro, jadi fans bisa main ke sana buat ngerasain atmosfer yang mirip. Beberapa prop seperti heavy bag dan dumbbell di series malah dipajang di kafe sebagai homage!
2026-05-11 18:21:33
17
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Kehidupan Edo yang Menakjubkan
Galang Damares
9.4
1.2M
Kakak iparku ingin punya anak, tapi belum bisa hamil. Aku ingin sekali membantu kakak iparku ....
TAMAT. Demi bisa membeli rumah cash, aku diperintahkan suami untuk bertahan hidup dengan sangat hemat dan terkadang tak masuk akal. Namun FAKTANYA, ternyata selama ini aku DIPELITI!
Secara rahasia, aku pun membuat pembalasan yang setimpal. Andai dia tahu siapa yang telah diam-diam menguras hartanya hingga tak tersisa, apakah yang akan terjadi?
“Kak, kenapa bisa ada yang timbul di bagian sana? Sepertinya berbeda dengan punyaku.”
Gadis polos berusia 18 tahun yang merupakan tetanggaku itu menatap selangkanganku dengan penuh penasaran. Sorot matanya mengandung nafsu tersirat.
Aku berpura-pura bodoh. “Coba aku lihat punyamu seperti apa.”
Tak disangka, dia langsung melepas rok mini putihnya tanpa ragu sedetik pun, memperlihatkan bagian selangkangannya yang seputih salju.
“Lihat, punyaku rata. Tidak ada apa-apa di sini.”
Di dalam lift yang tertutup rapat, pria itu terkekeh sambil mengunciku erat dalam pelukannya. Setiap gesekan tubuhnya membuatku gemetar tanpa bisa ditahan.
Aku merasa frustasi saat mendengar desahan manjaku, berpadu dengan napas pria yang memburu. Setiap detiknya benar-benar membuatku gila.
“Bu Selly sensitif sekali… tapi jangan takut, aku akan membantumu.”
Meski dia berbicara begitu, jarinya yang lincah malah perlahan-lahan meruntuhkan seluruh akal sehatku.
Aku tahu betul kalau kecanduanku ini tak akan sanggup menahan kenikmatan ini. Aku sudah hampir gila.
Namun… suamiku….
“Hmm… tunggu sebentar… jangan begini….”
Saat sedang diajari yoga secara privat oleh adik iparku, dia malah menekan pinggangku dan memaksaku dalam posisi merangkak di atas matras. Kemudian, tangan besarnya itu mulai meraba tubuhku dengan bebas.
Aku merasa malu, sekaligus kesal. Tapi, di saat yang sama, api dalam tubuhku seolah terbakar dan tak bisa dikendalikan. Aku hanya bisa menungging dan berusaha menahan gelombang gairah yang menyerang.
Namun, aku tak menyangka sentuhan itu perlahan semakin dalam, membuatku hampir menyerah sepenuhnya.
Pada saat aku menyadarinya, tubuhku sudah terkulai lemas dalam pelukannya, terombang-ambing antara nafsu dan rasa bersalah….
"Hmm... pelan-pelan... suamiku masih menelepon..."
Aku tengkurap di lantai dengan bokongku terangkat tinggi, gelisah dan berganti posisi sesuai instruksi suamiku.
Sedangkan pelatih gym di seberang telepon memegang pinggangku dan menepuk bokongku dengan keras. Lalu sesuai arahan suamiku, dia mendorong dengan kuat...
Saat melihat Eiji Gym, yang langsung terlintas adalah dedikasinya yang luar biasa. Dia tidak hanya berlatih keras, tapi juga sangat disiplin dalam pola makan dan istirahat. Dalam beberapa wawancara, dia sering menekankan pentingnya konsistensi—bukan sekadar latihan berat sekali-sekali, tapi rutinitas harian yang terencana. Misalnya, dia menggabungkan latihan beban dengan cardio, dan selalu memastikan protein intake-nya cukup untuk recovery otot.
Yang menarik, Eiji juga tidak anti terhadap cheat day. Dia percaya bahwa mental health sama pentingnya dengan physical health, jadi sesekali makan burger atau es krim tidak jadi masalah selama kembali ke track setelahnya. Pola berpikir seperti ini membuat fitness journey-nya sustainable, bukan sekadar obsesi jangka pendek.