Yang bikin 'Mengejar Sia' special itu cara mereka ngangkat sisi Jakarta yang jarang diliat. Tau nggak, pasar loak dimana adegan klimaks itu terjadi? Lokasinya di daerah Cikini yang udah jarang difilmkan! Bahkan beberapa scene flashback diambil di rumah-rumah tua di kawasan Blok M yang arsitekturnya masih vintage. Keren banget kan, daripada selalu tunjukin mall-mall megah, series ini justru ngasih panggung ke sudut kota yang punya karakter unik. Jadi pengen hunting lokasi syutingnya!
Pernah denger rumor bahwa beberapa bagian 'Mengejar Sia' difilmkan di Malaysia? Well, itu cuma mitos aja! Seluruh shooting dilakukan di Indonesia, terutama di Jabodetabek. Beberapa adegan outdoor seperti chase scene di terminal bus itu syutingnya di pool Busway Kalideres. Asli deh, waktu tahu spot-spot biasa deket rumah bisa jadi set film keren, jadi pengen eksplor Jakarta lebih dalem lagi. Bahkan gang kecil di Kemang yang sering dilewat buat kuliah pun jadi lokasi syuting adegan investigasi. Production designernya emang level dewa bisa transformasi tempat biasa jadi cinematic gitu!
Kalo ngomongin lokasi syuting 'Mengejar Sia', gue langsung kepikiran sama scene rooftop yang epik banget itu. Tau nggak sih, ternyata itu diambil di apartemen sekitar SCBD! Tim produksi emang jago nyari spot yang visually striking. Adegan warung kopinya sendiri aslinya dibangun khusus di studio, tapi background-nya adalah real footage daerah Tebet. Yang bikin series ini immersive itu detail-detail kecil kayak plang jalan atau grafiti di tembok—beneran diambil dari real location biar feel Jakartanya kuat.
Baru saja aku ngeh kalau banyak yang penasaran sama lokasi syuting 'Mengejar Sia'! Series ini ternyata diambil gambarnya di beberapa spot iconic Jakarta, terutama daerah Menteng dan Senopati. Adegan-adegan di kantor polisi itu syutingnya di bekas gedung perkantoran yang disulap jadi set. Yang paling keren sih scene kejar-kejaran di pasar tradisional—itu shot di Pasar Mayestik, loh! Nuansa semrawut pasarnya bener-bener nambah atmosfer cerita.
Uniknya, beberapa adegan malam hari malah difilmkan di kawasan Kota Tua, meskipun di ceritanya settingnya bukan situ. Production team-nya pinter banget memanfaatin cahaya lampu jalan buat ciptain vibe misterius. Jadi penasaran kan, ternyata di balik layar, lokasi-lokasi biasa bisa jadi begitu cinematic dengan angle kamera yang tepat!
Watching 'Mengejar Sia' feels like a visual love letter to Jakarta's urban landscape. The production team utilized so many lesser-known alleys in Palmerah for those tense walking scenes. Fun fact: the 'villain's hideout' is actually a repurposed warehouse near Pejompongan! What's impressive is how they mixed real locations with set builds—like the interrogation room scenes were shot in a soundstage, but the exterior shots matched real police stations in South Jakarta. Makes you appreciate location scouting as an art form!
2026-07-17 12:26:28
6
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Sisi Liar Mas Nanang
MassAzfa
10
4.8K
"Ayo Nang, Lepaskan Pakaianmu." Pintanya lembut, suaranya mengandung perintah yang tak terbantahkan.
"Maksud Tante?" Nanang tergagap, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"Kamu mesti tanggung jawab." Risa menjelaskan, sambil menunjukan area selangkangannya.
Nanang adalah pemuda tampan yang mempunyai badan atletis,
Dia terpaksa selalu melayani para Wanita yang menggodanya, Karena Sisi Liarnya yang sangat kuat.
Setelah ibunya meninggal dan seluruh harta habis untuk pengobatan, Cindy tidak punya tempat pulang. Kontrakan sudah jatuh tempo, tabungan ludes. Satu-satunya pintu yang masih bisa ia ketuk hanyalah… rumah mantan suaminya.
“Jangan lagi-lagi kamu lari pakai handuk doang. Kalau lepas gimana?!” bentaknya.
Cindy membalas, “Kayak kamu gapernah liat aku gapakai aja!”
Tinggal serumah lagi membuat pertanyaan perceraian lama muncul, tatapan Nathan yang terlalu panas, sentuhan yang tidak sengaja, jarak yang makin tipis setiap malam, dan kebiasaan Nathan yang tidak pernah Cindy tahu selama menikah.
Selama bertahun-tahun, Rosalyn Anderson menjadi istri yang penurut. Namun, kematian sang ibu seperti pembebasan untuknya. Ia membuang semua topeng kepatuhan, menuntut cerai dari suaminya yang berselingkuh, dan memulai misi balas dendamnya.
Apakah setelah bercerai, Rosalyn mampu untuk membalaskan dendamnya? atau malah terjerat dengan pria lain yang lebih sampah ketimbang suaminya dulu?
"Sekarang kalian boleh buang aku, tetapi selangkah saja aku pergi, aku tak akan pernah menoleh ke belakang lagi."
"Mari kita lihat, siapa yang akan kalab."
~Mutia Zahira
Seorang anak dengan tanda lahir berupa sisik emas di punggungnya terlahir sebagai putra mahkota pasangan raja Qi You dan ratu Xian Lian dari kerajaan Qi.
Yu Ping, sang putra mahkota dengan tanda lahir keramat itu ditimpa berbagai cobaan dengan kehilangan ayah dan ibu kandungnya di usia masih tiga hari karena sebuah aksi makar yang didalangi oleh sang paman.
Kelahiran sang putra mahkota ternyata berhubungan dengan seruling sakti sang naga. Sebuah seruling sakti, benda pusaka hadiah dari naga Ying Long untuk raja Qi ribuan tahun yang lalu.
Konon seruling tersebut dapat memberikan kekuatan yang sangat luar biasa tiada tanding bagi penggunanya sehingga dapat mengalahkan segala musuhnya dalam pertempuran.
Namun entah bagaimana seiring berjalannya waktu seruling sakti sang naga menghilang.
Konon katanya benda pusaka itu akan muncul kembali bila terlahir seorang anak laki-laki dengan sisik emas di tubuhnya.
Tanda sisik emas di punggung Yu Ping adalah sebuah takdir. Karenanya, ia dihadapkan dengan berbagai cobaan, diburu sang paman untuk dibunuh, dan dimanfaatkan beberapa tokoh dunia persilatan untuk menemukan seruling sakti sang naga.
Semua cobaan hidup yang dihadapi Yu Ping membawanya dalam sebuah petualangan yang mengantarkan dirinya menjadi pendekar tanpa tanding.
Mampukah sang putra mahkota membalaskan dendam orang tuanya? Benarkah seruling sakti sang naga akan muncul kembali dan menemukan tuannya yang sejati, sang putra mahkota, Yu Ping?
Anatha Jesse
Seorang mahasiswa kedokteran gigi di salah satu universitas negri. Lahir dari keluarga sederhana membuat Anet harus berusaha lebih keras untuk mengejar mimpinnya. Mempunyai pacar sama sekali tidak ada dalam pikiran Anet. Tapi bagaimana kalo seorang laki-laki memaksa masuk kedalam kehidupannya?
Bray Anggara
Tampan bak dewa Yunani, seorang Billioner perusahaan besar itulah yang menggambarkan seorang Bray. Di balik wajah tampannya tersimpan sosok dingin yang tidak tersentuh, sosok yang tidak mengenal kata cinta sejak kedua orangtuannya meninggal, neneknya merupakan satu-satunya keluarga yang Bray miliki. Tapi bagaimana jika seorang gadis kecil berhasil mengubah pandangannya mengenai cinta?
" kamu berhasil membuatku tertarik gadis kecil"
" aku bahkan tida mengenalmu atau bertemu denganmu, berhenti mengikutiku"
kisah cinta antara seorang Co-Ass dokter gigi dengan miliyader kaya
Ada sesuatu yang magis tentang lokasi syuting 'Memilih Mertuaku' yang bikin aku selalu penasaran. Setelah ngubek-ngubek forum dan baca beberapa wawancara kru, ternyata sebagian besar adegan diambil di daerah Bogor dan sekitarnya. Pemandangan hijau perbukitan yang jadi latar belakang rumah keluarga itu adalah Taman Wisata Matahari di Puncak. Nuansanya adem banget, cocok banget sama vibe keluarga harmonis tapi penuh drama dalam ceritanya. Beberapa adegan pasar tradisional difilmkan di Pasar Sukahaji, Bogor, yang masih menjaga suasana autentik. Aku suka gimana produksinya pilih lokasi yang nggak cuma estetis tapi juga bawa 'jiwa' ke cerita.
Yang bikin lebih seru, ternyata ada juga beberapa scene yang diambil di Jakarta, khususnya di daerah Menteng buat adegan-adegan kantor yang lebih metropolitan. Kontras antara suasana pedesaan dan perkotaan ini bener-bener nangkep konflik budaya dalam cerita. Aku bahkan sempet nyari spot persisnya di Google Street View buat liat langsung—ternyata rumah megah ala kadarnya itu memang dibuat khusus di tengah kebun teh!
Ada sesuatu yang magis tentang bagaimana sebuah lokasi syuting bisa membawa cerita menjadi hidup. Untuk 'Lupakan Aku Sayang', sebagian besar adegannya diambil di sekitar Jakarta dan Bandung. Aku ingat betul suasana jalanan Menteng yang jadi latar beberapa adegan romantis, sementara pemandangan pegunungan di Lembang memberikan nuansa melankolis yang pas untuk adegan-adegan emosional.
Yang menarik, beberapa scene juga difilmkan di kawasan Puncak, di mana hamparan teh dan udara sejuknya menciptakan atmosfer yang sangat intim. Rasanya lokasi-lokasi ini bukan sekadar backdrop, tapi seperti karakter tambahan yang memperkaya cerita.
Film 'Setelah Segalanya Hancur' punya nuansa urban yang kental banget, dan itu nggak lepas dari lokasi syutingnya yang mostly di Jakarta. Beberapa scene iconic diambil di sekitaran SCBD yang futuristik, terus ada juga shot malam hari di kawasan Kemang yang aesthetic banget. Yang bikin menarik, ada beberapa lokasi 'tersembunyi' seperti gedung-gedung art deco di Menteng yang dipakai buat adegan flashback.
Yang paling bikin penasaran itu scene klimaks di tepi tol dalam kota—ternyata syutingnya sempat bikin heboh warga karena ngeblokir akses sementara. Tapi hasilnya worth it sih, cinematography-nya bener-bener nangkep essence Jakarta sebagai kota yang paradox; megah tapi rapuh.
Penasaran banget sama lokasi syuting 'Setelah Semuanya Pergi'? Awalnya gw kira film ini diambil di Jakarta doang, tapi ternyata lebih kompleks dari itu. Beberapa adegan outdoor yang iconic itu difilmkan di Bandung, khususnya sekitar Dago dan Lembang yang suasananya pas banget buat nuansa melankolis filmnya.
Yang bikin surprise, beberapa scene malah shot di Yogyakarta – liatin aja adegan kereta apinya yang estetik banget itu di Stasiun Tugu. Tim produksinya pinter banget memadukan urban vibes Jakarta dengan ketenangan Jawa buat bikin atmosfer ceritanya lebih 'bernafas'.