Garis-garis puisinya sering kupikirkan saat berdiri di antara makam-makam tua, dan itu membuatku tertarik ke tempat peristirahatan Ahmad Syauqi. Jawabannya singkat: makam Ahmad Syauqi berada di Kairo, di salah satu kompleks pemakaman bersejarah.
Khususnya, banyak sumber menyebutkan Maqbarat al-Qarafa—yang sering disebut 'City of the Dead'—sebagai lokasi umum untuk makam-makam tokoh besar Mesir, termasuk penyair-penyair terkenal. Kompleks itu seperti labirin sejarah: makam-makam tua, mausoleum, dan plakat yang menceritakan kisah-kisah dari masa Ottoman hingga modern. Untuk pengunjung modern, biasanya ada penunjuk atau peta kecil di pusat-pusat informasi tur yang membantu menemukan makam tokoh-tokoh terkenal. Aku membayangkan ziarah ke sana seperti membaca antologi hidup, di mana tiap batu nisan punya cerita.
Sekilas, mengetahui makamnya di Kairo memberi nuansa yang lebih mendalam saat membaca karyanya—seolah puisinya menempati kembali kota tempat ia tumbuh dan berkarya.
Langsung saja: makam Ahmad Syauqi ada di Kairo, Mesir, dan biasa dikaitkan dengan kawasan pemakaman al-Qarafa (Maqbarat al-Qarafa), yang juga dikenal sebagai 'City of the Dead'.
Tempat itu menyimpan banyak makam figur bersejarah Mesir, jadi makam Ahmad Syauqi termasuk dalam konteks pemakaman yang lebih besar dan berlapis sejarah. Jika kamu ingin menemukannya secara fisik, rute wisata sastra atau pemandu lokal di Kairo biasanya tahu di mana mencarinya—kompleks ini cukup besar sehingga bantuan lokal sering berguna. Untukku, gagasan bahwa ia beristirahat di tengah kota tua Kairo terasa pas: puisinya sangat terikat pada identitas dan sejarah Mesir, sehingga makamnya di sana memberi sentuhan simbolis yang kuat.
Nama Ahmad Syauqi membawa ingatan tentang Kairo yang berdebu dan kaya sejarah, jadi lokasinya tidak benar-benar mengejutkanku: ia dimakamkan di Kairo.
Lebih rinci, makamnya berada di area pemakaman yang dikenal sebagai al-Qarafa atau Maqbarat al-Qarafa, sering disebut juga 'City of the Dead' oleh wisatawan. Tempat ini memang luas dan berlapis-lapis, menyimpan makam para sultan, cendekiawan, dan seniman; makam Ahmad Syauqi termasuk di antara situs yang kerap dikunjungi oleh pecinta sastra. Aku pernah membaca biografi singkatnya yang menyebutkan penghormatan publik setelah wafatnya, jadi makamnya relatif dikenal dan bisa dicari lewat rute wisata budaya di Kairo.
Kalau tujuanmu adalah ziarah sastra atau sekadar ingin melihat tempat yang menyimpan sejarah hidup sang penyair, al-Qarafa adalah nama kunci yang perlu kamu catat—dan jangan lupa bertanya pada pemandu lokal agar lebih mudah menemukannya.
Berlari melalui halaman-halaman puisi Ahmad Syauqi membuatku penasaran tentang di mana ia beristirahat.
Makam Ahmad Syauqi memang berada di Mesir, tepatnya di Kairo. Secara lebih spesifik, nisannya ada di kompleks pemakaman tradisional yang sering disebut Maqbarat al-Qarafa atau 'City of the Dead'—sebuah kawasan pemakaman tua yang membentang di kawasan Kairo tua. Aku pernah membaca catatan sejarah dan panduan kunjungan budaya yang menyinggung bahwa banyak tokoh sastra dan budaya Mesir beristirahat di daerah itu, dan Ahmad Syauqi termasuk di antaranya.
Kalau kamu merencanakan ziarah budaya, biasanya lokasi makamnya dapat ditemukan dalam peta wisata sastra Kairo atau dengan menanyakan ke pemandu lokal; beberapa sumber menyebutkan makamnya terawat sebagai bagian dari penghormatan nasional terhadap sang penyair. Untukku, bayangannya tetap kuat: puisi yang megah dan sebuah makam yang mengingatkan pada masa keemasan kesusastraan Mesir.
Akhirnya, mengetahui letak makamnya membuat puisinya terasa lebih hidup — seperti ada hubungan langsung antara kata-kata yang ditinggalkannya dan tanah di mana ia beristirahat.
2025-11-12 20:15:34
4
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Terjerat Hasrat Ayah Mertua
Cececans
10
123.3K
Warning 21+!
Dalam pernikahannya yang dingin, Aina Maharani justru menemukan kehangatan dari sosok ayah mertuanya. Raja Wisnu Baskoro.
Aina pun memulai permainan terlarang yang tidak seharusnya dia sulut.
Ketika api gairah membakar keduanya, akankah Aina bisa berhenti atau memilih melanjutkan hubungan mereka yang bisa menghancurkan rumah tangganya yang sudah terlanjur rusak?
Anita yang mencintai Bayu sejak remaja merasa beruntung dijodohkan dengan pria itu. Sayangnya, Bayu belum menerima Anita sepernuhnya karena hatinya masih terikat dengan kekasihnya yang juga teman satu kantornya. Namun, Anita tak akan menyerah untuk mendapatkan cinta Bayu.
Sebagai seorang istri, Ana tak pernah menuntut gaji suaminya, Arya, karena gaji suaminya sudah habis dipotong cicilan hutang bank. Ana pun diam-diam membantu tugas Arya memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, bahkan kebutuhan mertua serta adik iparnya dengan penghasilannya sebagai seorang penulis novel online.
Sebagai seorang penulis novel yang cukup produktif berkarya, penghasilan Ana memang cukup besar yang semua itu dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Sayang, Arya yang tak tahu pekerjaan dan bantuan keuangan dari istrinya itu menganggap bahwa gajinya masih banyak sehingga diam-diam ia pun ingin menikah lagi.
Perbuatannya itu tentu saja membuat Ana yang selama ini tulis ikhlas membantu suaminya menjadi marah dan tak mau lagi menanggung biaya rumah tangga mereka, juga biaya hidup ibu dan adiknya sehingga akhirnya Arya sadar dan menyesal.
"A... Ayah Mertua, ja... jangan gini, ini... ini sangat memalukan."
Ayah mertua menahanku di depan jendela besar, dia mengangkat salah satu kakiku dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menekan dan meremas payudaraku dengan kuat.
"Apa yang memalukan? Lihat orang-orang di bawah sana, betapa mengasyikkannya ini."
Setelah diculik dan menghilang selama lima tahun, Elara Khansa akhirnya kembali. Dia sempat membayangkan suaminya akan meneteskan air mata bahagia dan menyambutnya dengan penuh haru.
Namun siapa sangka, sang suami justru sudah melaporkannya sebagai orang hilang dengan alasan kecelakaan, bahkan mengurus surat kematian atas namanya, lalu menikah lagi dengan seorang putri keluarga kaya untuk membangun keluarga baru.
Di sebuah pesta, wanita kaya itu mempermalukan Elara di depan banyak orang, membuka kembali luka lamanya, menyebarkan fitnah, menghina, bahkan mengutuknya agar mati di luar sana. Sementara itu, mantan suaminya tetap bungkam, tidak mau membela satu kata pun untuknya.
Saat Elara merasa putus asa dan ingin pergi, pewaris tunggal keluarga nomor satu di Kota Hadata menariknya ke dalam pelukan, dengan tatapan penuh goda dan ejekan. "Elara, kalau dia tidak mau kamu, aku yang mau."
Mak Acih, seorang pemandi jenazah yang berasal dari Desa Cialas, dusun kecil di kaki Gunung Salak. Bersama Neneng, sang keponakan, ia menjalani profesi yang enggan dilakoni oleh para penduduk di desanya.
Berbagai kisah dari beberapa jenazah yang ia urus, memberi banyak pelajaran moral bagi siapa pun yang menjadi saksi hidup.
Pernah penasaran gak sih sama latar belakang megah yang jadi setting di 'Hajatan Mewahku'? Aku dulu sempat kepo banget pas liat adegan pesta di episode terakhir itu, terus iseng nyari info detailnya. Ternyata, sebagian besar syutingnya dilakukan di Bali, tepatnya di beberapa resort mewah di area Uluwatu. Pemandangan tebingnya yang dramatis pas banget sama vibe glamor acaranya, apalagi waktu scene sunset di tepi kolam infinity pool—itu beneran diambil di 'The Ungasan Clifftop Resort'. Kalo mau liat lebih jelas, coba cek angle kamera pas adegan Zayn ngobrol sama Rara di gazebo, background lautnya persis spot foto iconic resort itu.
Beberapa scene indoor kayak di ballroom dan ruang preparasi actually difilmkan di Jakarta, lho. Tim produksi pake gedung perkantoran di SCBD yang dimodif jadi set mewah, biar lebih praktis buat syuting harian. Yang lucu, ternyata ada juga beberapa shot kecil di Lembang, Bandung—aku recognize pohon pinusnya pas adegan BBQ episode 5. Keren banget kan cara mereka mix-and-match lokasi buat ciptain ilusi satu acara mewah yang cohesive? Setelah tau detailnya, jadi makin apresiasi kerja di balik layar deh.
Malam itu aku teringat betapa kuatnya jalinan budaya antara Dunia Arab dan Nusantara, dan Ahmad Syauqi sering muncul dalam ingatanku sebagai salah satu penghubung penting.
Aku merasakan pengaruh Syauqi terutama dalam cara sastrawan Indonesia mulai memandang puisi sebagai alat perjuangan dan identitas. Gaya bahasanya yang menggabungkan bentuk klasik dengan isi modern—nasionalisme, kritik sosial, dan tema religius—memberi contoh nyata bahwa tradisi lama bisa dipakai untuk menyuarakan tuntutan zaman baru. Ini resonan dengan sastrawan pergerakan kebangsaan yang mencari bahasa puitik yang kuat tapi tetap bernapas modern.
Selain itu, ada jalur konkret: pelajar dan ulama dari Nusantara yang menuntut ilmu di Mesir membawa pulang buku, majalah, dan ide-ide sastra yang kemudian diterjemahkan atau diadaptasi. Aku membayangkan mereka membaca puisi Syauqi dalam perkumpulan, lalu menirukan retorika dan ritme puisinya di bahasa Melayu/Indonesia, sehingga membentuk gaya puitik baru di kepulauan kita. Pengaruhnya terasa bukan hanya dalam bentuk, tapi dalam semangat puisi sebagai suara publik. Itu yang membuatku terus menelusuri jejaknya sampai hari ini.
Kisah Nabi Yusuf AS yang dipenjara di Mesir selalu bikin aku merenung tentang betapa rumitnya jalan hidup seseorang. Dalam 'Surah Yusuf', diceritakan bahwa beliau difitnah oleh istri sang pembesar Mesir, Zulaikha, yang menginginkannya tapi ditolak. Yusuf memilih menjaga kesucian diri, tapi Zulaikha malah menuduhnya berbuat mesum. Akibatnya, meski sebenarnya tak bersalah, Yusuf dijebloskan ke penjara. Yang menarik, penjara justru jadi titik balik kehidupan Yusuf—di sanalah dia bertemu dengan dua pelayan raja dan mulai menafsirkan mimpi, yang akhirnya membawanya ke posisi penting di Mesir.
Aku suka bagaimana cerita ini menggambarkan bahwa kadang, penderitaan justru jadi batu loncatan menuju takdir yang lebih besar. Yusuf tidak membenci Zulaikha atau mengutuk nasibnya; dia tetap sabar dan percaya pada rencana Allah. Ini mengingatkanku pada banyak protagonist di anime seperti 'Monster' atau 'Les Misérables' yang juga harus melewati kegelapan sebelum menemukan cahaya.