Pernah ngerasain nggak sih, betapa beratnya jadi satu-satunya orang waras di ruangan gila? Itulah Fujitora. Butanya itu tameng—dengan nggak ngeliat kekacauan dunia, dia bisa fokus pada apa yang penting: suara rakyat kecil. Waktu pertama muncul di Dressrosa, tindakannya seperti gempa buat status quo Marine. Dia nggak butuh mata buat tau Doflamingo brengsek, sama kayak dia nggak butuh izin buat bikin Luffy jadi pahlawan. Desain karakter buta tapi super kuat ini juga mungkin homage dari Zatoichi, legenda samurai tunanetra di film Jepang. Buat gue, Fujitora itu proof bahwa di 'One Piece', yang paling 'buta' justru mereka yang matanya terbuka lebar tapi nggak mau ngeliat kebenaran.
Gue selalu terpikir bahwa pilihan Fujitora untuk tetap buta itu bentuk penolakan halus terhadap sistem. Bayangin, dia punya kekuatan gravitasi yang bisa ngerusak apa aja, tapi memilih nggak ngeliat dunia yang dia 'tekan'. Itu kayak komentar Oda tentang tanggung jawab kekuasaan. Di arc Dressrosa, Fujitora nangis darah karena nggak bisa selamatkan warga—tapi air mata itu justru bukti dia lebih 'melihat' daripada Marine lain. Mungkin dengan menutup mata, dia mencoba memutus rantai kekerasan yang selama ini dipertahankan Marine dengan dalih 'keadilan'.
Yang gue suka, keputusannya ini juga bikin pertarungannya beda. Dia bergantung pada observasi Haki dan suara, jadi setiap duel jadi seperti permainan catur yang intens. Oda pinter banget ngubah disability jadi narrative strength.
Ada sesuatu yang sangat simbolis tentang Fujitora memilih kegelapan di tengah dunia 'One Piece' yang penuh warna. Sebagai Admiral yang baru, keputusannya untuk menutup mata bukan sekadar quirks karakter—itu pernyataan politik. Dalam arc Dressrosa, kita melihat bagaimana dia sengaja menghindari 'melihat' kekejaman Doflamingo, karena dia percaya sistem Marine saat ini sudah terlalu korup untuk diandalkan. Dengan menjadi buta, dia memaksa dirinya (dan kita) untuk 'merasakan' keadilan alih-alih melihat hierarki yang palsu. Ini juga jadi metafora keren buat penonton: kadang kebenaran nggak butuh mata, tapi hati yang berani.
Plus, desain karakter Oda selalu punya lapisan makna. Fujitora buta fisik tapi 'melihat' lebih jelas dari siapapun—kontras banget sama Akainu yang matanya terbuka lebar tapi ideologyenya sempit. Itu yang bikin dia salah satu Admiral paling menarik buat diikuti perkembangannya.
2026-05-17 23:53:52
9
Leer todas las respuestas
Escanea el código para descargar la App
Related Books
Si Buta Dari Sungai Ular
KSATRIA PENGEMBARA
10
52.1K
“Dalam kegelapan.. sosok seorang putra..dendam dan lara menutup kedua matanya. Dia terjerumus sebagai manusia...dan bangkit menjadi legenda.”
Dia terlahir buta, oleh ayahnya, Raja Samudra. Ia diberikan nama Manggala Samudra.
Manggala kecil lolos dari pembunuhan. Perintah pembunuhan yang langsung diberikan oleh permaisuri Raja Samudra.. Takdir kemudian membawa Manggala bertemu dengan Penguasa Sungai Ular, Raja Siluman Ular Putih yang kemudian mengangkatnya sebagai murid.
Dengan kesaktian yang dimilikinya, Manggala melanglang buana memberantas keangkara murkaan hingga kemudian dia dikenal dengan nama SI BUTA DARI SUNGAI ULAR.
Nah, Bagaimanakah kisah ini akan berjalan?
Mengapa Permaisuri Raja Samudra ingin membunuhnya?
Ada rahasia apa sebenarnya dengan diri Manggala?
Mampukah Manggala menyingkap tabir tentang jati dirinya?
Melibatkan cinta 2 perempuan paling fenomenal di Indonesia (Roro Kidul & Blorong) untuk mendapatkan cinta Manggala.
Nantikan semua jawabannya dalam ;
SI BUTA DARI SUNGAI ULAR
21++
Lila Luciana adalah gadis buta pembawa keberuntungan yang tidak pernah dianggap oleh keluarganya sendiri. Bahkan kala ia dijebak hingga tidur dengan seorang pria asing, tak ada yang peduli! Adik tirinya pun merebut tunangan Lila, hingga gadis itu terdesak dan menawarkan kerja sama dengan seorang Mafia yang bernama Lucas Francesco yang juga sepertinya... pria asing di malam itu. Lantas bagaimana nasib Lila selanjutnya?
Sebuah kecelakaan mengakibatkan mata seorang pria bernama ARVY WILSON menjadi buta. Dan kecelakaan itu diakibatkan oleh seorang wanita bernama VANILLA yang tiba-tiba menyeberang, membuat Arvy membanting setir mobilnya hingga terjadilah kecelakaan itu.
Hingga akhirnya Vanilla memutuskan untuk merawat Arvy sebagai bentuk tanggung jawabnya. Namun, Arvy yang sangat membenci Vanilla akhirnya melampiaskan kemarahannya dengan merenggut kesuciannya dan pada akhirnya mereka menikah karena paksaan dari orang tua Arvy yang mengetahui kejadian itu.
"Aku sudah membelimu, jadi jiwa dan tubuhmu adalah milikku." ~Royaldio.
________________________________
Setelah memergoki calon suaminya bertukar peluh dengan adik kandungnya sendiri, Jelita dijebak dan berakhir menghabiskan satu malam panas dengan seorang pria misterius. Saat dia kabur dari sang pria, dia malah mengalami kecelakaan dan berakhir buta. Tak hanya itu saja, dia dijual oleh keluarganya pada seorang pria misterius.
Siapakah pria asing itu? Dan mengapa dia membeli Jelita yang buta?
"Aku cuma minta satu hal sama kamu. Menikahlah dengan Abrisam, dan kamu akan mendapatkan imbalannya."
Rania Paramitha tertegun mendengar ucapan itu. Dia pun menatap saudara kembarnya, Rana Pramusita dengan tidak percaya. Wanita itu menjelaskan pada Rania, jika Grace ibunya meminta Rana untuk menikah dengan orang buta. Bagaimana bisa hidupnya di tukar dengan begitu gampang?
"Semua keputusan ada ditanganmu!! Keselamatan ayah ada ditanganmu. Kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya. Jadi aku harap, kamu memikirkan hal ini dengan benar."
Menatap punggung Rana yang telah pergi, Rania pun menjadi bimbang. Apa yang harus Rania lakukan? Menerima atau mungkin menolak ajakan Rana?
"Takkan ada wanita yang mau menikahinya. Dia itu hanya parasit yang hidup dari sisa makanan keluarga Cakra."
Sepuluh tahun dalam pengasingan, Wira kembali dengan satu tujuan, pembalasan dendam. Ia berpura-pura lemah dan tak berdaya, membiarkan dunia meludahi harga dirinya demi bisa mengungkap dalang yang telah merebut kebahagian keluarga.
"Siapa bilang?! Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Di saat semua orang mencaci Wira sebagai pria buta yang tak berguna, keberanian naif Sari justru memancing seringai di balik kacamata hitam Wira.
Gadis liar itu adalah tameng hidup yang ideal untuk memperkuat sandiwaranya sebagai pria lemah.
Ada satu karakter di 'One Piece' yang selalu bikin aku terkesan setiap kali muncul: Fujitora. Tapi tunggu, dia bukan tabib buta yang dimaksud, kan? Oh iya, yang kamu cari pasti Marco si Phoenix! Eh... bukan juga? Aku bercanda. Yang benar adalah Dr. Kureha, tapi dia perempuan. Nah, baru nyambung! Tabib buta yang legendaris itu bernama Zatoichi—eh, maksudku, Brook! Hahaha. Serius, setelah ngobrol dengan teman-teman komunitas, baru sadar yang dimaksud adalah Law. Tapi dia pakai topi, bukan buta. Oke, bercanda lagi. Jawaban sebenarnya: Zeff si 'Red Leg', meski lebih dikenal sebagai koki. Waduh, aku kocak sendiri nih. Udah deh, yang bener adalah... Fujitora! Tapi dia admiral, bukan tabib. Gila, susah amat. Ternyata setelah cek manga chapter 900-an, baru ketemu: dia adalah Toko! Eh... anak kecil itu? Haduh. akhirnya nyerah dan buka wiki Oke, ini serius: tabib buta itu... tidak ada. Mungkin kamu tertukar dengan karakter dari 'Rurouni Kenshin'?
Ada sesuatu yang menarik tentang Fujitora yang membuatku berpikir ulang tentang konsep keadilan dalam 'One Piece'. Karakter ini bukan sekadar petarung kuat, melainkan representasi dari moralitas abu-abu. Dia bergabung dengan Marines setelah abolisi sistem Warlord, menunjukkan idealismenya untuk mengubah sistem dari dalam. Yang kusuka dari Fujitora adalah keberaniannya mempertanyakan status quo—dia bahkan sengaja buta sebagai bentuk protes terhadap kekejaman dunia. Aku melihatnya sebagai simbol harapan bahwa perubahan bisa terjadi meski dari dalam institusi yang korup.
Dalam arc Dressrosa, Fujitora secara terbuka meminta maaf kepada rakyat karena Marines gagal melindungi mereka. Itu momen powerful yang jarang terlihat dari petinggi Marines. Oda sensei sepertinya sengaja menciptakannya sebagai foil untuk Akainu—sama-sama kuat tapi dengan filosofi bertolak belakang. Aku sering debat dengan teman-teman komunitas apakah keputusannya tepat, tapi menurutku justru di situlah geniousnya karakter ini: dia memilih jalan sulit untuk reformasi alih-alih revolusi berdarah.
Ada satu hal kecil soal penampilan Doflamingo di 'One Piece' yang sering kubahas di forum: sebenarnya tidak ada asal-usul resmi yang menjelaskan kenapa dia kadang terlihat tanpa kacamata. Dalam cerita, Eiichiro Oda lebih sering menggunakan kacamata itu sebagai alat visual untuk membangun persona—kacamata memberi Doflamingo aura dingin, dominan, dan sedikit tak terjamah. Ketika dia melepasnya, itu biasanya momen penting yang menonjolkan emosi atau mengungkapkan sisi lain dari karakternya.
Kalau dilihat dari flashback, versi muda Doflamingo memang sering muncul tanpa kacamata, dan itu masuk akal secara naratif: masa kanak-kanaknya sebagai mantan Celestial Dragon yang jatuh memperlihatkan rentannya dia. Jadi bukan semata-mata soal kebutuhan penglihatan, melainkan simbol—kacamata adalah topeng. Oda menggunakan aksesori itu untuk mengontrol kapan penonton melihat benar-benar matanya, yang jadi alat dramatik dalam adegan-adegan kunci.
Secara sederhana, asal-usulnya lebih ke arah desain karakter dan simbolisme emosional ketimbang penjelasan biologis atau teknis di dunia 'One Piece'. Itu yang selalu membuatku tertarik tiap kali matanya akhirnya terlihat—seolah ada babak baru dalam karakternya yang dibuka.