Ada sesuatu yang memikat dari 'Rindu Menanti' yang membuatku terus memikirkannya bahkan setelah selesai membaca. Novel ini bukan sekadar cerita cinta biasa, tapi lebih seperti perjalanan emosional yang dalam. Karakter utamanya digambarkan dengan begitu detail, membuatku merasa seperti benar-benar mengenal mereka. Alur ceritanya mungkin terkesan lambat bagi sebagian orang, tapi justru di situlah keindahannya—setiap detil, setiap percakapan, punya arti tersendiri.
Namun, aku juga mengerti mengapa beberapa orang mungkin merasa novel ini overrated. Beberapa bagian memang terasa terlalu melodramatis, dan endingnya bisa dibilang agak klise. Tapi menurutku, justru kesederhanaan itulah yang bikin ceritanya relatable. Kalau kamu suka novel dengan depth karakter dan emosi yang kuat, 'Rindu Menanti' layak dicoba. Tapi jika lebih suka cerita dengan pace cepat dan twist mengejutkan, mungkin kamu akan sedikit kecewa.
Awalnya aku skeptis dengan hype di sekitar 'Rindu Menanti', tapi setelah memberinya kesempatan, aku harus akui novel ini punya pesona tersendiri. Gaya penulisannya sangat puitis, hampir seperti membaca puisi panjang yang mengalir lembut. Setting ceritanya juga digambarkan dengan sangat vivid, sampai-sampai aku bisa membayangkan setiap lokasi seolah-olah pernah ke sana.
Yang bikin menarik, konflik dalam cerita ini tidak melulu tentang percintaan, tapi juga tentang perjuangan personal dan keluarga. Ini memberikan dimensi tambahan yang membuat cerita lebih berbobot. Di sisi lain, beberapa temanku mengeluh bahwa karakter utamanya terlalu pasif dan kurang berkembang. Memang benar sih, tapi menurutku itu justru realistis—tidak semua orang berubah drastis dalam hidupnya.
Dari semua novel romance lokal yang pernah kubaca, 'Rindu Menanti' termasuk yang paling membekas. Bukan karena plotnya yang spektakuler, tapi karena kemampuannya menyentuh sisi emosional pembaca. Adegan-adegan sederhana seperti percakapan di warung kopi atau pertengkaran kecil terasa sangat hidup dan authentic. Penulis benar-benar paham bagaimana membuat pembaca merasakan apa yang dirasakan karakter.
Tapi jujur, novel ini mungkin tidak untuk semua orang. Kalau kamu mencari cerita dengan banyak action atau twist, mungkin akan merasa bosan. 'Rindu Menanti' lebih seperti slow burn yang indah—butuh kesabaran untuk benar-benar menghargainya. Aku sendiri memberi nilai 4/5, karena meskipun beberapa bagian bisa lebih ketat, secara keseluruhan ini adalah pengalaman membaca yang memuaskan.
2026-02-26 20:10:44
2
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Rindu yang Terluka
Lis Susanawati
9.9
187.9K
Kesabarannya tinggal setipis tisu saat melihat sang suami bermesraan dengan kekasih gelapnya. Rin menyerang secara brutal wanita itu. Namun akhibat perbuatannya, dia harus berakhir di penjara. Banyak yang ia pertaruhkan, karirnya juga kesempatan bertemu putranya.
"Aku akan membebaskanmu." Daffa.
"Nggak perlu, Mas. Urus saja kekasih gelapmu itu." Dokter Rin.
"Kamu harus bertanggungjawab, Mas Daffa. Aku sudah dibuat cacat oleh istrimu. Kamu nggak bisa ninggalin aku begitu saja. Kamu janji akan menikahiku, kan?" Abila.
Aku seorang wanita dengan hasrat seksual yang sangat kuat. Meski tidak melakukan pemeriksaan di rumah sakit, aku tahu kalau diriku pasti kecanduan seks.Terutama pada masa ovulasi, aku harus lakukan setidaknya dua atau tiga kali sehari. Kalau tidak, aku bakal terasa gatal di sekujur tubuh. Awalnya, suamiku yang tinggi dan kuat bisa mengisi kesepian tubuhku. Namun, dia sangat sibuk akhir-akhir ini dan sedang dalam perjalanan bisnis selama lebih dari setengah bulan...
Di ambang usia pernikahan yang dianggap sempurna, Laras mendapati kenyataan pahit yang tak pernah terbayangkan. Seorang wanita datang membawa kabar bahwa suaminya, Dimas, telah mengkhianatinya dan memiliki anak dari wanita tersebut. Laras dihadapkan pada pertanyaan besar: Apakah ia akan bertahan demi cinta dan keluarganya, atau melepaskan suami yang telah mengkhianati kepercayaannya?
Luna terjebak dalam pernikahan yang penuh luka. Hendri, suaminya, selalu memperlakukannya dengan kasar, baik secara fisik maupun emosional. Dalam hati, Luna menyimpan kerinduan pada hidup yang bahagia, tetapi rasa takut dan kewajibannya sebagai istri membuatnya bertahan.
Namun, segalanya berubah saat Luna menghadiri acara reuni sekolah dan bertemu kembali dengan Adrian, mantan kekasihnya yang dulu pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Pertemuan itu membawa kembali kenangan indah yang sempat terkubur. Percakapan yang dimulai dengan canggung perlahan berubah menjadi kehangatan yang mengingatkan Luna pada siapa dirinya sebelum semua luka itu datang.
Keakraban Luna dan Adrian tak luput dari perhatian Hendri. Cemburu yang memuncak membuat Hendri semakin kasar, hingga memicu pertengkaran besar di antara mereka. Dalam kemarahannya, Hendri tak sengaja membongkar rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan—skandal yang tak hanya menghancurkan kepercayaan Luna, tetapi juga membuatnya harus mempertimbangkan kembali apa arti pernikahan dan kebahagiaan.
Luna kini dihadapkan pada pilihan sulit: terus bertahan dalam pernikahan yang melukainya, atau mencari keberanian untuk mengejar kebahagiaan, meski itu berarti meninggalkan segalanya dan merangkai kembali jejak rindu yang tak pernah usai.
"Jejak Rindu yang Terlarang" adalah kisah tentang cinta lama yang kembali menyala, keberanian untuk melawan ketidakadilan, dan perjalanan seorang wanita menemukan kembali dirinya di tengah badai kehidupan.
Aku rindu suami orang?
Percayalah, perselingkuhan itu manis di depan pahit di belakang. Bagaimana setelah kamu melakukan perselingkuhan, lalu endingnya cerai. Setelah itu pasanganmu menikah lagi dengan wanita yang lebih baik darimu. Kemudian, mereka lebih sukses, si mantan memperlakukan istrinya dengan kasih sayang, dan endingnya kamu pasti akan rindu sosok mantan suamimu itu, yang sudah menjadi suami orang.
Seorang menantu yang semula bersikap mengalah kepada ibu mertua ia menerima meskipun dihina dan di rendahkan. Namun, sikapnya itu justru dimanfaatkan oleh mereka-mereka yang tidak tahu malu. Membuat sang menantu berubah haluan. Ia menjadi pemberontak dan juga berubah menjadi tegas.
Bagaimana kisahnya? Kita ikuti cerita selengkapnya di cerita saya yang berjudul BANGKITNYA MENANTU YANG DIHINA
Ada sesuatu yang menggigit di setiap halaman 'Belenggu Rindu' yang membuatku sulit meletakkannya. Buku ini bukan sekadar kisah cinta biasa—ia mengorek relung-relung psikologis karakter dengan cara yang jarang kutemui di karya lokal. Aku terkesan dengan bagaimana penulis membangun ketegangan emosional antara dua tokoh utamanya, seolah kita sebagai pembaca ikut terseret dalam pusaran perasaan mereka.
Yang bikin buku ini istimewa adalah dialog-dialognya yang terasa sangat manusiawi, tidak dibuat-buat. Adegan-adegan kecil seperti pertengkaran di warung kopi atau diam-diaman di halte bus justru meninggalkan bekas lebih dalam daripada konflik besar. Untuk harga sekitar Rp80-an ribu, menurutku worth it banget buat yang suka exploring dinamika hubungan manusia yang kompleks. Endingnya pun nggak cliché—justru meninggalkan space buat pembaca berimajinasi.
Membicarakan 'Rindu Slalu' itu seperti membuka album foto lama—ada nostalgia, getar emosi, dan pertanyaan apakah ceritanya masih relevan atau justru jadi lebih bermakna sekarang. Novel ini memang punya ciri khas yang bikin banyak orang penasaran: alur melodramatis, konflik keluarga yang rumit, dan karakter-karakter yang rasanya nyata banget. Tapi apakah worth it dibaca sampai tamat? Tergantung seberapa jauh kamu siap terhanyut dalam dunia yang dibangun Tereliye.
Kalau dilihat dari segi bahasa, Tereliye selalu jago banget merajut kata-kata jadi semacam lukisan emosi. Dialognya natural, deskripsi settingnya detail tanpa berlebihan, dan pace cerita di 'Rindu Slalu' cukup terjaga meski ada beberapa bagian yang terasa agak melambat. Justru di slow pace itu, karakter-karakter seperti Bujang dan Laisa berkembang dengan cara yang bikin kita sebagai pembaca bisa benar-benar merasakan pergolakan batin mereka. Nggak cuma sekadar baca, tapi kayak ikut hidup dalam ceritanya.
Yang bikin novel ini unik adalah cara Tereliye membangun chemistry antar karakter utama tanpa terjebak klise romansa biasa. Konfliknya bukan cuma soal cinta segitiga atau salah paham receh, tapi lebih dalam—tentang pengorbanan, harga diri, dan bagaimana masa lalu membentuk seseorang. Ada scene-scene tertentu yang bakal nempel di kepala lama setelah buku ditutup, terutama bagian-bagian where characters had to make impossible choices. Ini yang bikin beberapa pembaca bilang ‘Rindu Slalu’ lebih berat secara emosional dibanding karya Tereliye lainnya.
Tapi balik lagi ke pertanyaan awal: worth it nggak? Kalau kamu suka drama keluarga dengan sentuhan realism dan nggak masalah dengan ending yang nggak selalu manis, pasti worth it. Justru keindahan 'Rindu Slalu' ada di ketidaksempurnaan karakternya dan bagaimana ceritanya berani nggak memberi resolusi mudah. Buku ini nggak cuma dibaca, tapi dirasakan—dan itu yang bikin dia punya tempat khusus di hati banyak orang. So, buat yang penasaran, coba aja masuk dulu ke chapter-chapter awal… siapa tau kamu ketagihan seperti aku dulu.