Sebagai orang yang sering buka KBBI online, aku appreciate banget kerja keras tim di Pusat Bahasa. Edisi terbaru itu hasil jerih payah Dendy Sugono dan kawan-kawan yang nggak cuma ngandalin referensi buku, tapi juga melacak tren bahasa di masyarakat. Mereka sampai bikin sistem crowd sourcing biar netizen bisa usulin kata-kata baru. Lucunya, beberapa slang yang awalnya dianggap 'tidak baku' malah akhirnya masuk KBBI setelah pemakaiannya meluas. Ini bukti bahwa kamus kita bukan sekadar dokumen kaku, tapi benar-benar merekam denyut nadi bahasa sehari-hari.
Dulu sempat penasaran juga soal siapa dibalik KBBI terbaru, sampai akhirnya nemuin informasi kalau edisi V diketuai oleh Dendy Sugono bersama 28 orang tim penyusun. Aku suka cara mereka mengemas bahasa formal tapi tetap relevan dengan zaman now—misalnya masukin kata-kata kayak 'gabut' atau 'baper' di tambahan kata baru. Proses penyusunannya ternyata nggak sembarangan, tiap kata harus melalui riset pakar linguistik dulu sebelum resmi masuk kamus. Bikin respect sama dedikasi timnya yang kerja di belakang layar buat ngumpulin ribuan kosakata.
Bicara soal KBBI edisi terbaru, aku langsung teringat perjalanan panjang kamus ini sejak era Badudu sampai sekarang. Edisi V yang terbit 2016 lalu memang monumental karena dikerjakan tim Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dengan penyunting utama Prof. Dendy Sugono. Tapi perlu diingat, KBBI itu karya kolektif—setiap edisi melibatkan puluhan linguis, editor, dan peneliti yang bekerja bertahun-tahun. Proses revisinya sendiri selalu dinamis, mengikuti perkembangan bahasa masyarakat. Aku pernah baca wawancara salah satu tim penyusun yang bilang mereka harus mengecek ribuan entri baru dari media sosial sampai jargon kekinian!
Yang menarik, meski Dendy Sugono sering disebut sebagai 'pengarang', sebenarnya beliau lebih berperan sebagai koordinator tim. KBBI itu seperti mozaik raksasa dimana kontribusi datang dari berbagai pihak—bahkan termasuk masyarakat umum lewat tautan 'usul kata' di laman resmi mereka. Kalau dipikir-pikir, ini membuktikan bahasa Indonesia benar-benar hidup dan terus berevolusi.
Kemarin iseng cek KBBI online dan kaget liat banyak kata kekinian yang udah masuk. Ternyata di balik edisi terbaru ini ada tim solid pimpinan Dendy Sugono. Mereka kerjanya super detail—ngumpulin data pemakaian kata dari koran sampai media sosial sebelum mutusin suatu kata layak masuk kamus. Prosesnya bisa makan waktu bertahun-tahun untuk satu edisi!
2026-04-22 05:38:17
8
Leer todas las respuestas
Escanea el código para descargar la App
Related Books
Kamu Hanya Pengganti!
nurulfitria_
10
20.1K
Allison Payne juga tidak menginginkan pernikahan ini namun semua orang menyebutnya 'Pelakor' karena menikah dengan kekasih kembarannya. Dia terpaksa menikah dengan Lucas McCarthy untuk menjaga nama baik kedua keluarga.
Kehidupan pernikahan yang dingin tanpa ada sedikit pun kehangatan membuat Allison semakin tertekan. Lucas beranggapan jika kepergian Alice ada hubungannya dengan Allison sehingga dia selalu bersikap kejam pada Allison.
Keadaan semakin memburuk saat Alice tiba-tiba muncul kembali dihadapan Lucas dengan keadaan hamil muda. Allison bersiap membereskan semua barangnya karena tahu jika Lucas akan kembali pada Alice.
Namun rencananya terhenti saat Lucas menolak untuk bercerai tanpa alasan yang jelas. Di sisi lain Allison tetap dengan pendiriannya untuk bercerai dari Lucas dan menjalani kehidupan yang diinginkannya.
Apa alasan Lucas mencegah Allison pergi? Apakah Lucas akan tetap bersama dengan Allison atau kembali pada Alice?
------
"Hampir 2 tahun hidupku berantakan dan itu semua gara-gara kamu! Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja," - Lucas McCarthy.
"Apa kamu pikir hidupku bahagia selama ini? Aku harus mendengar cacian banyak orang dan itu semua gara-gara kamu!" - Allison Payne.
Meysa, penulis idealis yang hidup pas-pasan di rusun, mendadak viral setelah novelnya meledak di pasaran. Namun kegembiraannya runtuh ketika ia mengetahui editornya, Wildan, diam-diam mengubah novelnya menjadi novel erotis yang kini jadi fenomena.
Marah, malu, tapi diam-diam menikmati popularitas yang datang tiba-tiba, Meysa terjebak antara benci dan penasaran pada editor dingin itu. Pertengkaran mereka berubah menjadi ketertarikan yang tak diakui, hingga masa lalu Meysa, mantan pacar toxic yang obsesif kembali menghantui.
Saat reputasi Meysa goyah, terungkap pula bahwa Wildan masih terikat pernikahan dengan Alya, memicu drama dan fitnah yang mengguncang semuanya.
Dalam dunia kreatif yang penuh intrik, Meysa dan Wildan harus memilih antara, bertahan pada kenyamanan lama, atau memperjuangkan cinta yang tumbuh dari kekacauan, kejujuran, dan luka masa lalu.
"Tak ada yang lebih indah dari kejujuran dan kesetiaan, sedangkan aku adalah perempuan yang tidak rela dimadu." (Fatma)
***
Fatma memergoki suaminya selingkuh dengan seorang wanita yang jauh lebih muda darinya. Namun Rizki, suaminya, tidak mengakui hal itu karena hubungannya dengan Fani hanyalah hubungan FWB saja. Ketika Fatma sudah tiada, nasib Rizki pun seperti jalan terjal. Ia kehilangan istri dan juga selingkuhannya sekaligus.
Sauqi dan Bia adalah sepasang sahabat yang sudah bersama sejak mereka masih berada di bangku kanak-kanak.
Namun, setelah remaja, tiba-tiba Bia berubah secara mendadak, mulai dari penampilan, perilaku, dan sifatnya.
Bia yang semula adalah gadis yang tomboi dan senang berkelahi, tiba-tiba menjadi seorang muslimah yang menutup diri.
Bahkan, tiba-tiba Bia juga mulai menjauhi Sauqi.
Sauqi dibuat bingung dengan perubahan yang terjadi pada sahabatnya itu.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Bia?
Setelah 6 tahun dalam peperangan, Kekaisaran kembali. Dengan badanku yang kuat ini, aku akan mengalahkan gerombolan bajingan bajingan itu. Aku dapat mempertahankan para gadis perawan...
Kemarin aku lagi asik nongkrong di komunitas pecinta bahasa, terus ada yang nanya gini nih. Jadi penasaran, aku langsung cek ke sumber resminya. Ternyata, proses pengarang KBBI itu dikelola langsung oleh Badan Bahasa, Kemdikbud. Masyarakat bisa kasih usulan sih, tapi lewat jalur formal. Misalnya lewat penelitian linguistik atau forum akademis.
Yang keren, Badan Bahasa sering buka ruang diskusi sama pakar dan komunitas. Jadi usulan dari bawah emang didengerin, tapi tetep harus lewat filter ketat. Aku pernah baca laporan tim KBBI, mereka ngecek frekuensi pemakaian kata di masyarakat baru masukin ke kamus. Jadi walopun ada usulan, tetep harus ada datanya dulu.
Geli sendiri rasanya setiap kali aku menelusuri definisi kata 'sastra' di KBBI — sederhana tapi membuka banyak pintu pemahaman.
Menurut KBBI, 'sastra' pada intinya adalah karya tulis yang meliputi puisi, prosa, drama, dan bentuk-bentuk sejenis yang mengandung nilai estetika serta ungkapan imajinatif. Definisi itu menekankan bentuk tulisan dan nilai seni bahasa: bukan sekadar menyampaikan fakta, melainkan meramu kata untuk menimbulkan pengalaman estetis, perasaan, atau pemikiran.
Buatku, yang sering menyelami novel dan cerpen, penjelasan KBBI ini terasa seperti peta awal — jelas dan praktis. Dia tidak membahas teori sastra yang rumit atau batasan sekolah kritik tertentu; KBBI lebih pada menjelaskan apa yang umum dimaksud masyarakat ketika menyebut 'sastra'. Jadi, ketika aku membaca sebuah novel yang membuat dada berdebar atau puisi yang bikin merinding, aku tahu itu layak disebut sastra menurut pengertian kamus: karya tulisan penuh estetika dan imajinasi. Itu saja, simpel tapi memuaskan sebagai titik mula memahami kenapa kita mencintai kata-kata.
Wah, pertanyaan yang menarik — aku juga sempat bingung waktu pertama kali nyari informasi soal edisi terbaru 'Madilog'. Aku biasanya langsung cek halaman hak cipta/kolofon di buku fisiknya karena di situ selalu tercantum siapa penerjemah atau penyunting untuk edisi tertentu. Tapi hal penting yang harus dicatat: 'Madilog' aslinya ditulis oleh Tan Malaka dalam bahasa Indonesia, jadi banyak edisi sebenarnya adalah teks asli yang disunting ulang, bukan hasil terjemahan. Jadi kalau edisi yang kamu pegang itu berjudul 'Madilog' dan teksnya bahasa Indonesia, besar kemungkinan tidak ada penerjemah yang dicantumkan — hanya editor atau penyunting yang melakukan pengantar, catatan kaki, atau anotasi.
Kalau kamu tetap ingin memastikan siapa yang mengerjakan edisi terbaru itu, cara paling cepat adalah: lihat kolofon, periksa ISBN di katalog Perpustakaan Nasional RI atau WorldCat, atau cek halaman produk di toko buku online besar seperti Gramedia/Tokopedia karena biasanya mereka cantumkan detail penerbit dan nama penyunting/penerjemah. Kalau kamu punya fotonya, kirimkan foto halaman hak cipta ke grup baca di Facebook atau forum—biasanya kolektor lain cepat bantu identifikasi. Aku sering pakai trik ini waktu lagi melacak edisi spesifik buku klasik — kadang butuh sedikit detektif, tapi hasilnya memuaskan.