Contoh Geguritan Gagrag Lawas

ABO Personality Quiz
Take a quick quiz to find out whether you‘re Alpha, Beta, or Omega.
Scent
Personality
Ideal Love Pattern
Secret Desire
Your Dark Side
Start Test

Related Books

Gelora Hasrat Sang Ipar

Gelora Hasrat Sang Ipar

Berita kematian Ayahanda membuat Gaby melangkahkan kakinya kembali ke tanah air. Meski tahun berganti, namun perasaan yang dimiliki Gaby pada Mike—sang ipar tak pernah berubah hingga membuatnya goyah dan kembali hanyut dalam asmara yang kini terlarang baginya. Semakin lama perasaan Gaby semakin tak terbendung meskipun ia tahu, ada sosok Ibu dan saudara tiri yang akan berusaha keras menghancurkan cintanya seperti yang mereka lakukan di masa lalu. Di tengah kebimbangan hatinya, Harry—sang kekasih memintanya kembali. Kini, Gaby berdiri di jembatan dengan dua sisi yang berlawanan. Apakah ia harus kembali pada sang kekasih ataupun mengejar sang ipar—cinta pertamanya.
10 30 Chapters
Gairah Liar Pembantu Lugu

Gairah Liar Pembantu Lugu

Ketika istrinya tak lagi mampu mengimbangi hasratnya yang membara, Valdi terjerumus dalam kehampaan dan kesendirian yang menyiksa. Setelah perceraian merenggut segalanya, hidupnya terasa kosong-hingga Mayang, gadis muda yang polos dan lugu, hadir dalam kehidupannya. Mayang, yang baru kehilangan ibunya-pembantu setia yang telah lama bekerja di rumah Valdi-tak pernah menduga bahwa kepolosannya akan menjadi alat bagi Valdi untuk memenuhi keinginan terpendamnya. Gadis yang masih hijau dalam dunia dewasa ini tanpa sadar masuk ke dalam permainan Valdi yang penuh tipu daya. Bisakah Mayang, dengan keluguannya, bertahan dari manipulasi pria yang jauh lebih berpengalaman? Ataukah ia akan terjerat dalam permainan berbahaya yang berada di luar kendalinya?
10 378 Chapters
Garwa, Satu Hati Sampai Nanti

Garwa, Satu Hati Sampai Nanti

Orang Jawa menyebut garwa sebagai kepanjangan dari sigarane nyowo atau yang kita kenal belahan jiwa. Disebut belahan jiwa karena memang penciptaan seorang perempuan dari tulang rusuk seorang lelaki sehingga keduanya merupakan satu kesatuan jiwa. Namun, apa jadinya jika seseorang yang disebut belahan jiwa tidak pernah menghargai pengabdian pasangannya. Menemani seseorang dari nol bukan berarti dia akan membalas dengan kesetiaan hingga akhir hayat. Ujian demi ujian dalam pernikahan itu akan selalu hadir, tetapi jika ujian yang dihadapi hanya berkutat pada masalah perselingkuhan dan perpelakoran. Akankah tetap mengukuhkan ikatan pernikahan? Ardiyanti memgalaminya. Bagaimana dia menyikapi semua baca kisahnya, yuk!
10 42 Chapters
Cinta dalam Gempita

Cinta dalam Gempita

Senja menjadi saksi kala mata elang itu membisukan saraf tubuh. Dingin ... kelam ... tatapan segelap malam menghentikan nalar kala bungkam itu tercipta di ujung gang sempit kota Gempita. Sosok lelaki sedingin angin dini hari dengan senyuman yang memikat hati. Tangannya terlepas, meninggalkan aku sendiri terperanjat dalam sensasi yang menipu. Angkuh! "Siapa kau?" Satu langkah ... dua langkah ... empat langkah. Ia menghilang tertelan malam dan kabut.
0 5 Chapters
Lingsir Wengi -Tembang jawa

Lingsir Wengi -Tembang jawa

Di sebuah desa Jawa yang masih memegang erat adat dan kepercayaan leluhur, sebuah rumah tua menjadi pusat teror yang tak pernah selesai. Rumah itu dulunya milik seorang sinden yang dikenal memiliki suara indah, namun mati dengan cara tragis saat sedang membawakan tembang "Lingsir Wengi". Arwahnya dipercaya gentayangan, menjerat siapa pun yang berani melantunkan lagu itu di malam hari. Satu per satu orang yang menyepelekannya, ditemukan mati dengan wajah pucat, telinga berdarah, dan tubuh membeku seperti sedang mendengar sesuatu yang tak kasat mata. Dan ketika seorang gadis bernama Ratna pindah ke desa itu, suara tembang "Lingsir Wengi" kembali terdengar dari rumah kosong tersebut setiap malam menjelang jam dua belas. Ratna harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi—atau ia akan menjadi korban berikutnya.
0 7 Chapters
Terjebak Gairah Siluman

Terjebak Gairah Siluman

Wulan bukanlah gadis biasa. Sejak kecil, ia hidup dalam bayangan misteri. Tanpa tahu siapa ayah dan ibunya, dia hanya dibesarkan oleh kehangatan Ningsih, ibu angkatnya. Namun, kehangatan itu berubah menjadi bara api pembalasan dendam ketika Wulan tepat berusia 20 tahun. Di suatu malam yang mengerikan, Ningsih terbunuh di antara kegelapan pekat di hutan larangan. Wulan merasa bersalah karena merasa Ningsih mati karena dirinya, dan meminta bantuan Mbah Broto, dukun sakti yang ada di kaki Gunung Halimun, tidak jauh dari desanya. Mbah Broto menjanjikan Wulan kekuatan untuk memburu sang dedemit, namun dengan satu syarat yang sangat mahal. Dia harus menyerahkan tubuhnya kepada dukun bejat itu. Bukan sebagai pemuas nafsu, tetapi sebagai alat untuk menjalankan tugas-tugas kotornya yang berkaitan dengan alam gaib dan dunia manusia. Wulan terpaksa menggunakan setiap inci pesonanya, setiap lekuk tubuhnya, untuk mengumpulkan tumbal dan harta yang diperlukan Mbah Broto dalam ritual-ritualnya yang sesat. Ia tidur dengan para penguasa, menjerat pejabat korup, dan menghisap energi pria-pria lemah demi memperkuat Mbah Broto. Setiap sentuhan, setiap desahan yang ia berikan adalah harga yang ia bayar untuk selangkah lebih dekat menuju taring sang dedemit. Ia menjadi boneka yang sempurna, pelayan nafsu dan ambisi sang dukun, namun bara dendamnya tetap menyala terang. Kecantikan dan kemolekan Wulan menjadi umpan yang lezat, dan lama-kelamaan, Wulan mulai menikmati perannya. Apakah dia akan kelak larut di dalamnya, dan lupa niat balas dendamnya?
0 185 Chapters

Apa contoh geguritan gagrag lawas paling terkenal di Jawa?

1 Answers2026-05-29 11:37:51
Geguritan gagrag lawas yang paling terkenal di Jawa mungkin adalah 'Serat Centhini'. Karya sastra Jawa klasik ini bukan sekadar kumpulan puisi, tapi semacam ensiklopedia budaya yang ditulis dalam bentuk tembang. Dibuat sekitar abad ke-18 atas perintah Sunan Pakubuwono IV dari Surakarta, isinya mencakup segala hal mulai dari spiritualitas, seksualitas, hingga resep masakan tradisional.

Yang bikin 'Serat Centhini' istimewa adalah cara penyampaiannya yang puitis namun sangat detail. Bayangkan sebuah perjalanan spiritual tiga pemuda yang mengelana sepanjang Pulau Jawa, belajar tentang kehidupan dari berbagai guru. Setiap pengalaman mereka diceritakan melalui syair-syair indah berbahasa Jawa Kuna yang sarat makna. Konon naskah aslinya mencapai 12 jilid tebal!

Kalau mau contoh geguritan yang lebih pendek, ada 'Serat Kalatidha' karya Ranggawarsita. Isinya lebih filosofis, membahas tentang zaman edan dimana orang kehilangan pegangan hidup. Bait-baitnya sering dikutip sampai sekarang karena dianggap masih relevan dengan kondisi modern. Misalnya bagian yang bilang 'amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi' - menghadapi zaman gila, serba salah dalam bertindak.

Bedanya dengan geguritan modern, karya-karya lawas ini biasanya pakai metrum macapat yang ketat. Ada aturan khusus tentang jumlah baris, suku kata, dan bunyi akhir dalam setiap bait. Tapi justru disitulah keindahannya - dibatasi aturan justru melahirkan kreativitas luar biasa. Sampai sekarang geguritan lawas tetap dipelajari bukan cuma sebagai sastra, tapi juga sebagai panduan hidup.

Bagaimana contoh geguritan gagrag anyar yang populer?

2 Answers2026-05-25 20:45:21
Geguritan gagrag anyar itu seperti puisi modern yang mengangkat isu-isu kekinian dengan bahasa yang lebih santai tapi tetap punya kedalaman. Salah satu contoh yang sempat viral di media sosial adalah karya bernama 'Ruang Rindu' yang bercerita tentang kesepian di tengah keramaian digital. Pengarangnya memakai metafora layar ponsel sebagai 'jendela tanpa tepi', menggambarkan bagaimana kita terhubung tapi tetap merasa sendiri.

Yang menarik dari geguritan semacam ini adalah permainan kata-katanya yang segar. Misalnya ada baris 'like tanpa jejak, love sekadar sticker' yang dengan jenak mengkritik hubungan permukaan di era media sosial. Beberapa pengarang muda bahkan menyelipkan istilah populer seperti 'ghosting' atau 'flexing' tapi diolah dengan indah dalam struktur tembang Jawa modern.

Di komunitas sastra daring, geguritan gaya baru seperti 'Instagramming ati' juga banyak dibicarakan. Karya ini memadukan bahasa Jawa kromo inggil dengan slang anak muda, menciptakan kontras menarik antara tradisi dan modernitas. Bait terakhirnya yang berbunyi 'dhuh instagram, mugo-mugo sing sampeyan like iku dudu wajah nanging jiwa' menjadi semacam sindiran halus tentang budaya selfie.

Bagaimana ciri-ciri geguritan gagrag lawas yang autentik?

1 Answers2026-05-29 08:24:40
Geguritan gagrag lawas itu punya karakteristik unik yang bikin kita langsung bisa ngeh, 'Oh ini karya jaman dulu banget!' Pertama, dari segi bahasa, biasanya pakai Bahasa Jawa Kuna atau Kawi yang sarat dengan kata-kata klasik. Diksi yang dipilih itu berat, filosofis, dan sering nyerempet-nyerempet sama kosakata sastra keraton. Misalnya nih, penggunaan kata 'sanghyang' atau 'pandhita' yang sekarang jarang banget dipake dalam geguritan modern.

Strukturnya juga khas, biasanya nggak terikat sama pola rima ketat seperti parikan, tapi lebih free-flowing dengan alunan yang puitis. Ada semacam 'lir-ilir' dalam bahasanya - kalau dibaca keras-keras bakal kedengeran kayak mantra atau doa. Beberapa karya lawas bahkan sengaja dibikin untuk dinyanyikan, makanya punya irama natural yang enak di kuping.

Tema yang diangkat biasanya berat-barat: filsafat hidup, hubungan manusia dengan alam, atau kritik sosial halus yang diselipin dalam simbolisme. Nggak jarang nemu referensi ke cerita pewayangan atau babad kerajaan. Ini beda banget sama geguritan modern yang lebih personal dan eksperimental. Yang lawas itu rasanya seperti dongeng yang ditulis buat generasi mendatang, bukan sekadar ekspresi individu.

Yang paling gampang dikenali sih dari 'rasa'-nya. Geguritan lawas itu selalu meninggalkan aftertaste tertentu setelah dibaca - semacam biji kopi yang nggak langsung terasa tapi meninggalkan rasa di lidah lama setelah diminum. Biasanya endingnya nggak gratisan, tapi bikin mikir dan pengen baca ulang buat nangkep makna tersembunyinya.

Di mana bisa menemukan buku kumpulan geguritan gagrag lawas?

2 Answers2026-05-29 10:50:09
Pertanyaan tentang geguritan lawas ini mengingatkanku pada perburuan harta karun sastra Jawa yang sering kulakukan di sudut-sudut kota. Ada beberapa tempat menarik untuk mencari buku semacam itu - pasar loak seperti Pasar Triwindu Solo atau Pasar Beringharjo Jogja sering menjadi surga tak terduga. Aku pernah menemukan 'Geguritan Basa Jawi' terbitan 1950-an di lapak pedagang tua yang ternyata menyimpan banyak koleksi langka di balik tumpukan koran bekas.

Kalau mau yang lebih terjamin, coba datangi perpustakaan khusus seperti Perpustakaan Sanabudaya Jogja atau Rekso Pustaka Mangkunegaran. Mereka biasanya punya arsip digitalisasi naskah-naskah kuno termasuk geguritan. Temanku yang peneliti filologi sering memesan fotokopi naskah abad 19 dari sana. Untuk pembelian online, grup-grup Facebook seperti 'Jual Beli Buku Antiquariat' atau toko daring 'Buku Langka Djoko' secara berkala menawarkan koleksi serupa.

Siapa pengarang geguritan gagrag lawas yang legendaris?

2 Answers2026-05-29 03:59:06
Membahas geguritan gagrag lawas selalu bikin aku merinding. Ada satu nama yang terus muncul dalam obrolan pecinta sastra Jawa klasik: Raden Ngabehi Ronggowarsito. Kalau ngomongin legenda, karyanya seperti 'Serat Kalatidha' atau 'Serat Sabdajati' itu bukan sekadar tulisan, tapi semacam ramalan sosial yang relevan sampai sekarang. Aku pertama kali kenal karyanya waktu masih SMP lewat guru bahasa Jawa yang super passionate. Yang bikin kagum, geguritan-gubahannya itu padat makna, penuh kritik halus terhadap pemerintahan kolonial, tapi dibungkus dengan metafora alam dan falsafah hidup yang dalam.

Dulu sempet mikir, kok bisa ya orang zaman dulu nulis sesuatu yang timeless banget? Ronggowarsito itu kayak kombinasi antara pujangga, filsuf, dan peramal. Gaya bahasanya yang khas—pakai 'basa rinengga' (bahasa berhias)—bikin pembaca harus menikmati setiap baris pelan-pelan. Aku pernah coba terjemahkan 'Serat Wedharaga' bareng teman komunitas sastra Jawa, dan rasanya kayak ngobrol sama orang bijak dari abad ke-19. Karyanya itu warisan budaya yang harusnya lebih banyak dibaca generasi muda.

Bagaimana cara menulis geguritan gagrag anyar untuk pemula?

6 Answers2026-05-25 16:45:45
Geguritan gagrag anyar itu seperti mencicipi es krim rasa baru—seru tapi butuh keberanian untuk eksplorasi! Awalnya aku bingung karena struktur tradisional Jawa biasanya ketat, tapi gaya kontemporer ini justru memberi kebebasan. Kuncinya adalah memulai dengan tema sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti 'senja di warung kopi' atau 'keriuhan angkringan'. Jangan terpaku pada guru lagu dan guru wilangan dulu, biarkan kata-kata mengalir natural seperti obrolan.

Aku sering memanfaatkan diksi modern seperti 'gawai' atau 'streaming' untuk memberi nuansa kekinian. Contohnya, geguritanku tentang mudik lebaran memadukan kata 'macet tol' dengan 'kentongan masjid'. Penting juga bermain dengan enjambemen—pemotongan baris yang menciptakan ritme tak terduga. Setelah draft jadi, baru dirapikan dengan mempertimbangkan musikalitas bahasa Jawa. Justru kejutan inilah yang membuat gagrag anyar terasa segar!

Bagaimana cara membuat contoh geguritan yang baik?

2 Answers2026-06-03 23:07:05
Geguritan itu seperti lukisan kata yang mengalir dari hati. Aku ingat pertama kali mencoba menulis satu tahun lalu—sama sekali tak mudah! Tapi setelah membaca banyak karya penyair Jawa seperti R. Ng. Ranggawarsita, baru paham bahwa rahasianya ada di permainan bunyi dan kedalaman makna. Contohnya, aku suka menulis tentang alam dengan diksi sederhana: 'Angin mbeguri/ ning wanci subuh/ kaya bisikane embun/ marang kembang kang lagi turu.' Kuncinya: biarkan kata-kata bernapas dalam irama natural, jangan dipaksa rimanya.

Yang kubaca dari buku 'Geguritan: Teori dan Praktik', struktur 4 baris per bait itu paling fleksibel untuk pemula. Baris pertama biasanya pengantar suasana, kedua-tiga inti cerita, lalu baris terakhir berisi 'sasmita' (pesan tersirat). Jangan lupa gunakan sarana sastra seperti 'sasmita gending' (kiasan musikal) atau 'purwakanthi' (pengulangan bunyi konsonan/vokal). Aku sering dengar di komunitas pecinta sastra Jawa bahwa geguritan bagus itu seperti gending—terdengar merdu bahkan sebelum dipahami artinya.

Contoh geguritan dan ciri khasnya apa saja?

4 Answers2026-05-26 19:54:44
Geguritan itu seperti puisi dalam bahasa Jawa yang punya keunikan tersendiri. Aku suka banget lihat bagaimana tiap barisnya bisa bercerita dengan irama yang khas, biasanya pakai tembang atau pola tertentu. Misalnya nih, geguritan 'Kurung Baku' karya R. Ng. Ranggawarsita itu punya ciri khas penggunaan bahasa Jawa kuno yang puitis banget, plus ada unsur filosofis kehidupan.

Yang bikin menarik, geguritan sering pakai simbol alam—kayu, angin, atau banyu—untung ngungkapin perasaan. Bedanya sama puisi modern, diksinya lebih halus dan banyak majas, kayak parikan atau sasmita. Aku selalu nemuin kedalaman makna di balik kata-kata sederhananya, kayak ada 'rasa' Jawa yang autentik.

Apa perbedaan geguritan gagrag lawas dan modern?

2 Answers2026-05-29 22:26:00
Ada sesuatu yang magis ketika membicarakan geguritan gagrag lawas—seperti menyelami sumur tua yang masih memancarkan kejernihan. Bentuknya seringkali terikat ketat dengan aturan 'tembang', dengan pola guru lagu dan guru wilangan yang saklek. Misalnya, 'Dhandhanggula' atau 'Sinom' punya pakem sendiri yang harus diikuti, dari jumlah baris hingga vokal akhir setiap suku kata. Isinya biasanya berkisar pada falsafah hidup, nasihat moral, atau kisah epik seperti 'Bharatayuddha'. Bahasanya lebih klasik, penuh dengan kiasan dan simbol-simbol budaya Jawa yang dalam. Keindahannya terletak pada disiplin strukturalnya, seolah setiap kata adalah tarian yang terukur.

Sementara itu, geguritan modern lebih seperti graffiti di tembok kota—bebas dan personal. Aturan tembang sering diabaikan demi ekspresi individu. Bahasanya lebih lentur, kadang mencampur Bahasa Indonesia atau bahkan slang. Tema yang diangkat pun lebih beragam: dari kritik sosial, keresahan pribadi, hingga absurditas sehari-hari. Contohnya, karya-karya Sosiawan Leak atau Binhad Nurrohmat sering memecah tradisi dengan metafora yang provokatif. Yang menarik, justru dalam 'pelanggaran' aturan inilah modernitas menemukan kekuatannya—sebuah pemberontakan kreatif yang masih menghormati akar, tapi tak mau terpenjara olehnya.

Siapa pencipta geguritan gagrag anyar terkenal?

2 Answers2026-05-25 12:07:25
Geguritan gagrag anyar adalah salah satu bentuk puisi tradisional Jawa yang mengalami modernisasi, dan salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam menghidupkan kembali bentuk ini adalah Mpu Tanakung. Karyanya tidak hanya mempertahankan estetika klasik tetapi juga menyuntikkan nuansa kontemporer yang membuatnya lebih mudah dinikmati generasi sekarang.

Yang menarik dari Mpu Tanakung adalah kemampuannya menggabungkan filosofi Jawa kuno dengan isu-isu modern, seperti lingkungan atau teknologi, tanpa kehilangan esensi sastra. Geguritan-guritannya sering dibawakan dalam acara budaya atau bahkan diadaptasi menjadi lagu, menunjukkan betapa karyanya masih relevan. Kreativitasnya dalam memainkan diksi dan ritme membuat karyanya cocok baik untuk dibaca sendiri maupun dipertunjukkan.

Related Searches

Popular Searches
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status