Awalnya nemu istilah 'orand' itu pas lagi scroll timeline Twitter sekitar 2021–2022. Tiba-tiba banyak yang pakai buat nyebut orang random dengan nada becanda, terutama di thread yang bahas tingkah lucu netizen atau kejadian viral. Lucu sih, karena kata ini kayak plesetan alay tapi beneran nyangkut di meme culture. Dulu sempet dikira cuma tren sesaat, eh ternyata dipake sampe sekarang bahkan di TikTok sama IG Reels. Asal-usulnya mungkin dari gabungan 'orang' + 'random', tapi entah siapa yang pertama kali bikin – yang jelas, fenomenanya khas banget sama cara gen Z ngeplesetin bahasa.
Yang bikin menarik, 'orand' itu nggak cuma jadi slang biasa. Dia jadi semacam inside joke yang ngerangkul rasa frustrasi sekaligus absurditas kehidupan online. Misal, pas liat komen aneh di YouTube, tinggal tweet 'orand moment' langsung relatable. Adaptasinya cepet banget karena emang cocok sama energi chaotic media sosial Indonesia.
Baru kemarin temen kantor ngajakin ngobrol pake kata 'orand' dan langsung bikin penasaran. Ternyata ini slang yang lagi ngehits di kalangan Gen Z buat nyebut orang Belanda, tapi konteksnya lebih ke candaan atau stereotip lucu aja. Asalnya dari pelafalan 'orang' + 'Belanda' yang dipendekin jadi 'orand'. Biasanya dipake buat bercanda soal kebiasaan mereka kayak suka bersepeda atau gaya bicaranya yang khas.
Lucunya, kata ini sering muncul di meme atau thread Twitter yang bahas hal-hal receh kayak 'orand pas liat harga gorengan di Indonesia langsung pingsan'. Aku sendiri suka pake buat becandaan sama temen yang suka niru aksen Belanda pas lagi nongkrong.
Kata 'orand' sebenarnya bukan bagian dari kosakata formal bahasa Indonesia, tapi sering muncul di percakapan santai atau slang online. Aku pertama kali nemu kata ini di forum diskusi game, di mana pemain pakai istilah ini buat nunjukin sesuatu yang absurd atau nggak masuk akal. Misalnya, 'Plot twist di episode terakhir itu orand banget sih!' Rasanya kata ini berkembang dari kebiasaan anak muda yang suka nyeleneh dalam berbahasa, dan sekarang udah jadi semacam ekspresi khas buat menunjukkan sesuatu yang over the top atau sulit dipercaya.
Menariknya, 'orand' juga sering dipakai dalam konteks sarkasme atau sindiran halus. Aku perhatiin di beberapa grup media sosial, orang pake kata ini buat nyindir konten yang terlalu dramatis atau dibuat-buat. Tapi karena sifatnya slang, pemakaiannya nggak konsisten—tergantung komunitas dan konteks percakapan. Justru itu yang bikin seru; tiap grup bisa punya interpretasi sendiri tentang seberapa 'orand' sesuatu hal.
Aku suka banget liat orang-orang kreatif bikin meme pakai kata 'orand' di TikTok. Misalnya ada yang nulis 'orand mode: nyantai sambil ngopi' dengan background musik chill. Lucu banget karena relatable—siapa sih yang nggak pengen hidup santai gitu? Konsepnya sederhana tapi bikin senyum-senyum sendiri, apalagi kalo dikasih twist lucu kayak 'orand setelah gajian' vs 'orand tanggal tua'.
Yang bikin menarik, kata ini tiba-tiba viral karena fleksibel dipake di banyak konteks. Dari yang awalnya cuma buat guyonan, sekarang udah jadi semacam bahasa gaul digital buat ngegambarin keadaan. Kadang malah muncul di caption Instagram story temen-temen yang lagi rebahan sambil nonton series favorit.
Tren bahasa di platform seperti TikTok sering muncul dari kreator konten yang secara tidak sengaja menciptakan viralitas. Kata 'orand' sendiri mulai ramai diperbincangkan sekitar pertengahan 2023, diduga pertama kali dipopulerkan oleh seorang kreator konten humor bernama @dikdokbang. Gaya bahasanya yang nyeleneh dan sering memainkan logat Jawa dialek Surabaya bikin banyak orang penasaran. Awalnya dipakai sebagai plesetan dari 'orange', tapi kemudian jadi meme sendiri karena diulang-ulang di video-video absurd mereka.
Yang menarik, justru komunitas regional Jawa Timur-lah yang awal-awal memakai kata ini sampai akhirnya meluas ke seluruh Indonesia. Banyak yang bilang ini fenomena serupa dengan 'sabi' atau 'ygy'—awalnya niche, lalu tiba-tiba jadi bahasa sehari-hari gen Z. Kalau ditelusuri lagi, mungkin ada akar lebih tua dari slang lokal, tapi TikTok memang ampuh mengangkat hal-hal remeh jadi budaya pop.